Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya Sonya Munic terpaksa harus membatalkan pernikahannya dengan Sagara Sardi tepat saat akan mengucapkan janji pernikahan. Batara Moretti datang merampas pengantin atas alasan utang keluarga. Padahal keluarga Munic telah mengatur pernikahan Batara dengan Talitha Munic, adik tiri Sonya. Di bawah ancaman nyawa ketua mafia paling berbahaya, Sagara terpaksa menyerahkan calon istrinya.
Tak mudah bagi Sonya, gadis yang terkenal lemah lembut hidup di lingkungan mafia dan sikap dingin Batara yang hanya menganggapnya sebagai istri pelunas hutang. Selain menagih hak suami istri Batara selalu diam dan acuh, saat Sonia mulai berdamai dengan keadaan, satu persatu kebenaran mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Celah Yang Salah
Asap rokok yang tebal dan aroma alkohol murah memenuhi udara di dalam ruang pimpinan markas utama Scattershot, klan mafia saingan yang telah lama mendominasi wilayah pinggiran Kota Qislan. Di balik meja kayu ek besar yang dipenuhi dengan peta wilayah dan berkas-berkas intelijen, Adam Maherson, sang ketua Scattershot duduk dengan gundah. Guratan frustrasi tercetak sangat jelas di keningnya yang berkerut dalam. Matanya yang merah karena kurang tidur menatap tajam ke arah peta, di mana wilayah yang ditandai dengan warna merah milik klan The Inferno tampak terus meluas, mendesak sisa-sisa wilayah kekuasaannya hingga ke sudut-sudut mati.
Brakk!
Pintu ruang pimpinan didorong terbuka dengan hentakan yang cukup keras. Wakil ketua Scattershot, Eldric Waltz, melangkah masuk ke dalam ruangan dengan langkah kaki yang tergeser buru-buru. Wajahnya tampak tegang, membawa sebuah map kulit berwarna hitam di bawah lengannya.
"Jadi pendapatan bulan ini menurun drastis lagi?!" bentak Adam, bahkan sebelum Eldric sempat menduduki kursi di depan mejanya. "Lalu bagaimana tentang pengiriman pasokan senjata kita yang tertahan di pelabuhan timur? Apa belum ada solusi dari para pengawas sialan itu?!"
Eldric menghela napas berat, menjatuhkan map kulit itu di atas meja Adam. "Belum ada solusi, Adam. Sial! Orang-orang Inferno selalu saja bergerak selangkah di depan kita dan membuatku naik darah. Mereka telah menyuap kepala otoritas pelabuhan dengan nominal yang tidak bisa kita tandingi."
Adam memukul permukaan meja dengan kepalan tangannya yang kokoh hingga cangkir kopi di dekatnya bergetar. "Brengsek! Batara Moretti benar-benar ingin mengubur kita hidup-hidup!"
"Benar, Adam. Jika kita terus-menerus berada dalam posisi pasif seperti ini, kita akan semakin terdesak dan habis," lanjut Eldric, suaranya merendah, sarat akan kecemasan yang mendalam. "Apalagi setelah beberapa hari lalu orang-orang Inferno meluncurkan serangan mendadak dan menghancurkan markas cabang kita di distrik utara. Semakin banyak wilayah bisnis dan jalur penyelundupan kita yang kini secara resmi dikuasai oleh Inferno."
"Batara sialan! Kenapa iblis itu seolah-olah tidak memiliki kelemahan sedikit pun?!" Adam mengepalkan tangannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak amarah yang membakar dadanya. Selama bertahun-tahun bersaing, Batara dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, tidak tersentuh oleh wanita, harta, ataupun ancaman politik. Pria itu bergerak seperti mesin pembunuh yang sempurna.
Eldric terdiam sejenak. Sebuah senyuman licik perlahan-lahan terukir di sudut bibirnya yang tipis. Dia membuka map hitam tersebut, lalu mengeluarkan selembar foto berukuran sedang dan menggesernya ke hadapan Adam. "Iblis tetaplah makhluk yang bisa jatuh, Adam. Dan kali ini, kurasa kita telah menemukan titik jatuhnya."
Adam menurunkan pandangannya, menatap foto yang tergeletak di atas meja. Foto itu menampilkan seorang wanita muda berambut panjang dengan pakaian bermerek yang sedang turun dari sebuah mobil mewah. "Siapa wanita ini?" tanya Adam, keningnya mengkerut.
"Tunangan resmi Batara Moretti," jawab Eldric dengan nada suara yang penuh kemenangan. "Aku baru saja mendapatkan informasi maha penting ini dari salah satu mata-mata terbaik kita yang berhasil menembus dan bekerja sebagai pelayan dalam di Mansion Moretti."
Adam mengambil foto tersebut, mendekatkannya ke arah lampu meja untuk mengamati detail wajah wanita di dalamnya. "Cantik. Sangat berkelas," gumam Adam, seulas senyum tipis mulai mengikis ketegangannya. "Apakah informasi ini benar-benar valid, Eldric? Kita tidak bisa bermain-main dengan rumor jika menyangkut urusan pribadi seorang Moretti."
"Tenang saja, Tuan," sahut Eldric dengan penuh percaya diri, menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. "Selama ini mata-mata yang kita tempatkan di dalam mansion sana sudah sangat berhati-hati dalam menyaring informasi. Dia melihat sendiri bagaimana wanita ini datang ke mansion dua hari lalu, dan seluruh pelayan di sana membicarakannya sebagai calon pendamping sang ketua."
Eldric tentu saja tidak tahu, dan mata-matanya yang berada di kasta pelayan terendah juga tidak memahami konspirasi internal yang terjadi, bahwa wanita di dalam foto itu justru sedang disiksa setengah mati di ruang bawah tanah karena kelancangannya, sementara posisi Nyonya Moretti yang asli telah ditempati oleh wanita lain. Mispersepsi yang fatal telah terjadi di kubu Scattershot.
"Cukup menarik," ucap Adam, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan foto dengan ritme yang konstan. Matanya berkilat penuh kelicikan yang mengerikan. "Jadi... kita akan menggunakan wanita ini sebagai sandera untuk melemahkan posisi kekuasaan Batara."
"Betul sekali, Adam," dukung Eldric, matanya berbinar penuh kelicikan. "Jika kita berhadapan langsung di medan tempur terbuka dengan pasukan bersenjata Inferno, kita pasti akan kalah dalam hal jumlah dan persenjataan. Maka dari itu, kita harus menyerang dari dalam. Jika kita memegang jantung hatinya, pasti mereka tidak akan mampu membalas atau meluncurkan serangan balik kepada kita."
Adam tertawa rendah, sebuah tawa iblis yang menggema dingin di dalam ruang kerja yang pengap itu. "Skenario yang sangat indah. Perintahkan tim alpha untuk mengamati wanita ini setiap kali dia melangkah keluar dari gerbang mansion. Begitu ada kesempatan terkecil saat dia lengah, langsung kita culik dia tanpa jejak, bawa ke markas rahasia, dan kita gunakan dia untuk mengancam Batara agar menyerahkan seluruh wilayah kekuasaan Inferno di sektor timur kepada kita."
Eldric merubah posisi duduknya, sedikit ragu. "Namun ada satu kendala kecil, Adam. Saat ini, menurut laporan terbaru, wanita itu sedang berada terus di dalam lingkungan Mansion Moretti. Penjagaan di sana sangat ketat, mustahil bagi kita untuk menyusup ke dalam."
Adam mengibaskan tangannya di udara, membuang puntung rokoknya ke asbak kaca dengan santai. "Tak perlu terburu-buru, Eldric. Kartu As milik Batara kini telah kita pegang dalam genggaman informasi kita. Cepat atau lambat, kartu itu pasti akan kita gunakan."
Adam berdiri dari kursinya, berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah jalanan kota yang kelam. "Cukup amati dari jauh dan tunggu dengan sabar sampai waktunya tiba nanti. Selama mereka belum melangsungkan pesta pernikahan resmi secara publik, pasti wanita dari keluarga kaya seperti dia akan keluar dari mansion untuk kembali mengunjungi keluarganya di Laviata atau sekadar berbelanja. Di saat itulah kita akan menerkamnya."
"Perintah Anda akan segera aku laksanakan dengan sempurna, Adam," jawab Eldric sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Sudah terlalu lama aku menahan sabar. Aku sudah sangat ingin memenggal kepala jalang Batara itu dengan tanganku sendiri, lalu menggantungnya tepat di tiang depan markas utama kita sebagai peringatan bagi siapa pun yang berani mengusik Scattershot."
Eldric mengambil kembali foto di atas meja, menyimpannya ke dalam saku mantelnya. "Wanita sial mana yang akan menjadi sasaran empuk kita kali ini? Sungguh hari yang tidak beruntung bagi hidupnya."
"Siapa nama lengkap wanita di foto itu?" tanya Adam tanpa berbalik.
"Dia adalah Talitha Munic, nona kedua dari keluarga besar Munic di Laviata," jawab Eldric lugas.
Adam membalikkan badannya, memperlihatkan senyuman lebar yang sangat mengerikan, seperti sesosok iblis yang sudah siap mencekik leher korbannya hingga kehabisan napas. "Sayang sekali... wanita secantik dan semolek dia harus berakhir menjadi umpan matang di tengah perang darah ini. Tapi demi hancurnya klan Moretti, pengorbanannya akan sangat berharga."
kasihan Sonya gx pnrh bahagia ,,
lgan si Sonya lemah amat kak ,,
kasih kekuatan super kek si Sonya ,, 🤭🤭🤭🤭