Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raditya / desa margalaya
Bab 27
Nayla menyadarinya pertama kali jam tujuh pagi.
Bukan karena ia mencarinya, tetapi ia tidak melihatnya. Biasanya Raditya selalu ada di lapangan pukul tujuh. Berdiri di depan barisan, atau di pos komando dengan peta di tangan. Pagi ini Raditya tidak terlihat.
Nayla melanjutkan perjalanannya keliling desa— Ibu Ratmi, Pak Darmo, tiga anak yang masih batuk dari minggu lalu. Tangannya bekerja seperti biasa.
Pukul sepuluh, Nayla kembali ke tenda medis.
Terlihat Sari sedang merapikan rak obat. Nayla meletakkan tasnya.
"Sar, kamu lihat Letnan Raditya nggak?" tanyanya, suaranya kecil sambil menunduk, terlihat ia menggigit bibir bawahnya.
"oh iya ya dok"
Sari berhenti sebentar. Seperti sedang mengingat, tangannya masih memegang botol antiseptik. "Hmm... saya juga enggak lihat sejak subuh, Dok."
"Oh gitu ya," balas Nayla.
sari mengangguk. "Mungkin patroli dok."
"iya sih." Tapi nada suaranya menggantung sedikit — seperti orang yang tidak yakin.
Nayla tidak bertanya lagi.
Pukul dua belas, ia bertemu Dimas di dekat dapur lapangan.
Sersan itu sedang makan siang — nasi dan tempe goreng di piring plastik, ekspresinya terlalu santai untuk situasi yang Nayla mulai rasakan tidak biasa.
"dim." suara Nayla memanggil dimas.
Dimas menoleh. Senyumnya naik otomatis.
"oh ada Dokter kenapa ya dok" tanya Dimas, terlihat Dimas meletakkan piring.
"saya enggak melihat Letnan dim, kamu tahu kemana dia?"
"biasa dok Urusan lapangan,"
Nayla menatapnya. "Urusan lapangan yang mana?"
"Yang... lapangan." Dimas mengetuk piringnya dengan sendok. "Bapak sering keluar urusan lapangan. Biasa."
"Dim." potong Nayla.
Dimas berhenti mengetuk piring.
ia melihat tatapan mata Nayla yang mengatakan ia sedang serius.
"Dari tadi pagi saya enggak lihat dia. Tidak ada di lapangan, tidak ada di pos komando, tidak ada di mana-mana." Nayla melangkah satu langkah lebih dekat. Suaranya pelan tapi tidak memberi ruang. "Kamu tahu di mana dia."
Dimas menghela napas. Meletakkan sendoknya. "Dok, ini urusan—"
"Militer, saya tahu." Nayla memotong. "Tapi saya juga bagian dari tim ini. Dan kalau terjadi sesuatu dengan dia, saya yang harus tahu duluan — bukan terakhir."
Dimas menatapnya sebentar. Lalu mengalihkan pandangan ke piring kosongnya.
"Dia ke Margalaya," ucapnya akhirnya. Pelan.
"Sendirian?" tanya Nayla lagi.
"i iya dok sendirian Dimas terlihat mulai gugup"
"Kenapa" tanyanya, suaranya mulai terdengar tidak senang.
Dimas tidak menjawab.
"Aish" Suara Nayla, lalu ia berbalik melangkah berjalan meninggalkan dapur.
Nayla menemui Aldi di pos komando.
Terlihat di sana Aldi sedang berdiri di depan peta — peta yang sama yang semalam jadi medan perdebatan. Tangannya di belakang punggung, matanya menelusuri garis-garis yang sudah ia hafal.
Ia mendengar langkah Nayla masuk tapi tidak langsung menoleh.
"Dokter."
"Letkol." Nayla menutup pintu di belakangnya. "benarkah ia pergi ke Margalaya sendirian."
Aldi menoleh. Wajahnya tenang — terlalu tenang untuk situasi ini. "benar dok ada urusan yang harus ia selesaikan di sana."
"sendirian Dan anda membiarkannya?"
"Saya tidak bisa melarangnya, Dok." Aldi berbalik sepenuhnya, menghadap Nayla. "Dia pimpinan tim. Keputusannya—"
"Keputusannya pergi sendirian ke desa yang sedang berkonflik dengan kita." Suara Nayla mulai naik, ia tidak menyadarinya. "Tanpa bilang ke siapapun. Tanpa membawa backup," sambungnya.
Aldi diam.
"apaka anda tidak mengingat bagaimana Pak Sunaryo terluka di ladangnya sendiri kemarin." Nayla melangkah ke depan peta, menunjuk titik di pojok kiri. "Satu orang. Sendirian. Di siang hari. Di wilayah kita sendiri." Jarinya bergeser ke kanan. "sedangkan Margalaya bukan wilayah kita. Dan anda membiarkannya pergi ke sana — sendirian — tanpa ada yang tahu."
"Dia tahu risikonya, Dok," ucap Aldi pelan.
"Saya tahu dia tahu risikonya." Nayla menurunkan tangannya. Menatap Aldi langsung. "Tapi kalau terjadi sesuatu di sana dan kita tidak tahu posisinya, tidak tahu kondisinya — berapa lama sampai ada yang bergerak mencarinya? Dan waktu seperti itu, Pak — di lapangan — bisa jadi beda antara tertangani dan terlambat."
Aldi menatap Nayla cukup lama. Perempuan yang beberapa minggu lalu masih terlihat seperti orang kota yang tidak tahu harus bagaimana di desa tanpa sinyal. Sekarang menjadi Perempuan yang berdiri di depan peta lapangan militer dan berbicara soal waktu respons dan posisi dengan cara yang tidak bisa ia bantah.
"Saya mengerti kekhawatiran Dokter," ucapnya akhirnya.
"Nayla mengambil tasnya dari lantai. "Ini prosedur medis dasar letkol. Saya butuh tahu di mana anggota tim berada. Semua anggota." Ia melangkah ke pintu. "Lain kali — tolong beritahu saya."
Aldi tidak menjawab.
Di luar pos komando, angin Karang Wilis menerpa wajahnya.
Nayla berdiri sebentar. Matanya menatap ke arah jalan yang menuju keluar desa — jalan yang entah jam berapa tadi dilewati seorang letnan dengan langkah yang tidak kenal ragu.
Sari muncul dari arah tenda medis, menghampiri dengan langkah hati-hati. "Dok... bagaimana?"
"Dia ke Margalaya." Nayla tidak menoleh.
Sari diam sebentar. "Sendirian?"
"iya."
Sari tidak berkata apa-apa. Ia hanya berdiri di samping Nayla, menatap ke arah yang sama.
Angin lewat lagi.
"Sok pahlawan," gumam Nayla akhirnya.
Sari melirik ke samping — dan melihat sesuatu yang jarang ia lihat di wajah dokternya. Bukan marah. Bukan kesal.
Khawatir. Murni dan tanpa bisa disembunyikan.