Andra yang jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu dengan Mila, perempuan yang telah bersuami itu mampu menggetarkan hatinya hingga membuat dia mencari tahu seperti apa kehidupan yang sedang di jalani Mila bersama suaminya. "Mila, kau tak pernah bahagia kan hidup bersama suamimu itu?" tanya Andra menatap serius Mila. "Bapak tidak perlu tahu urusan rumah tanggaku!" sentak Mila. "Ceraikan saja suamimu dan jadilah istriku, kau akan kujadikan ratu dalam hidupku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PandaMaiden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Mencari Bantuan
Bab 8
Mencari Bantuan
Bab 8
"Ma, ngapain sih kita di suruh ke rumah pak RT?" Tanya Vio begitu mereka tiba di halaman rumah pak RT.
"Kamu nggak denger tadi, katanya mau di kasih bantuan." Bu Lisa dengan senyum lebar bersiap mengetuk pintu.
"Kita kan nggak pernah dapet bantuan apa pun. Memangnya bantuan apa? Sembako?" Omel Vio yang selalu saja menggerutu kalau melakukan hal yang tidak dia suka.
"Udah diem aja dulu," sahut bu Lisa.
Ketika hendak mengetuk pintu, ternyata asisten rumah tangga di rumah itu membuka pintu sembari membawa ember pel.
Reflek, karena terkejut ember itu terlepas dari tangan bi Irah.
"Aduh, ada maling, ada maling, eh maling!" latah bi Irah.
"Sembarangan aja situ ngatain saya maling. Wajah secantik ini mana ada tampang kriminal," sungut bu Lisa.
"Eh, maaf Bu. Lagian kenapa nggak ketuk pintu atau salam kek minimal biar orang nggak kaget." Bi Irah mengomelin tamunya.
"Saya kan mau ketuk pintu tapi situ malah nongol duluan. Huh, liat nih sepatu saya basah gara-gara air kotor ini," tunjuk bu Lisa ke kakinya yang di genangi air pel.
"Ya, maaf Bu. Saya nggak sengaja, tapi ... Ibu ke sini mau ada perlu apa?" tanya bi Irah memastikan. Karena warga yang datang pasti ada perlu dengan pak Rt.
Bu Lisa menoleh ke kanan dan ke kiri sebentar, lalu bertanya, "saya ke sini karena dapet kabar mau di kasih bantuan. Apa saya datangnya ke pagian ya, kok masih sepi di sini," ujar bu Lisa.
"Bantuan opo to Bu?" Heran bi Irah. Pasalnya dia tidak mendapat berita apa pun dari tuannya.
"Ya karena itu saya ke sini buat mastiin. Bantuan apa yang mau di kasih," tukas bu Lisa.
"Setahu saya sih nggak ada deh Bu. Ibu pasti salah informasi." Bi Irah mencoba meyakinkan.
"Coba situ telpon pak rt dulu buat pastiin. Saya udah capek-capek datang ke sini, loh." Bu Lisa sedikit memaksa.
"Kok ngeyel sih, kalau ada pasti pak rt di rumah. La wong pak rt aja lagi pergi liburan kok."
Bi Irah mulai jengah meladeni tamu mode ngeyel seperti bu Lisa. Wanita paruh baya itu mengambil embernya dan hendak mengisi airnya kembali.
"Eh, telponin dulu biar saya tahu. Kalo nggak, say akan tungguin sampe pak rt pulang." Bu Lisa memaksa tanpa ingin di tolak.
"Astagfirullah," ucap bi Irah seraya mengelus dadanya.
Berharap jantungnya tetap aman menghadapi situasi buruk di pagi hari. Dia pun masuk ke dalam untuk mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor bu rt.
Sengaja di loudspeaker agar sang tamu bisa mendengar sengan jelas apa saja yang akan di katakan oleh pak rt melalui telepon tersebut.
Sahutan dari seberang telepon pun terdengar sangat jelas. Pak rt mengatakan tidak ada info bantuan apa pun saat ini. Melainkan harus membayar pajak tepat waktu.
"Sialan! Ngibulin tuh orang," geram bu Lisa pada satpam komplek yang pagi-pagi sekali sudah berlari ke rumah Arjun.
"Gimana Ma, apa yang mau di kasih ke kita?" Tanya Vio menghampiri. Sejak tadi gadis itu sibuk ber teleponan dengan seseorang.
"Angin!" Sewot bu Lisa.
Wanita itu menarik lengan Vio keluar dari pekarangan rumah pak rt. Tanpa pamit atau pun salam pada bi Irah selaku wakil tuan rumah.
"Awas aja tuh satpam. Ku tumbuk nanti dia," kesal bu Lisa.
"Jadi kita di kibulin satpam itu ya Ma?" Vio memastikan dengan hati-hati. Takut ibunya akan menyembur wajahnya dengan ceramah.
"Iya, berani-beraninya dia nipu kita. Awas aja, akan ku hajar dia nanti."
*
Arjun telah sampai di halaman kantor Mila bekerja, tapi tak ada tanda-tanda karyawan berlalu lalang.
Karena ini adalah hari libur, jadi yang berjaga hanya yang piket. Arjun menghampiri satpam untuk memastikan apakah melihat istrinya lewat atau pun hanya beraktifitas di dalam gedung.
"Loh masnya yang semalam, kan? Apa belum ketemu sama istrinya?" Tanya security tersebut yang masih berjaga menjelang shift nya habis.
"Belum. Dia nggak ke kantor pagi ini?"
"Kan hari libur mas. Sepertinya sih nggak ke sini,"
Arjun pun ingin masuk ke dalam untuk memastikan sekali lagi. Dengan syarat di temani oleh pak satpam.
Begitu sampai di dalam, benar saja. Tidak ada sosok Mila didalam sana. Arjun mengepalkan tangan karena geram.
"Masak dia kabur dari rumah sih," gumamnya untuk pertama kali berpikir ke sana.
Arjun memutuskan untuk pergi ke tempat dia biasa nongkrong. Dia akan meminta bantuan teman-temannya mencari istrinya.
*
"Napa muka lu, Jun. Kusut amat," ejek Bastian.
"Bini gue nggak pulang semalaman. Gue lagi nyariin ini." Ketusnya.
"Hah? Gue nggak salah denger nih, tumbenan ada kejadian begini," timpal Roy.
"Gue minta bantuan kalian buat kasih info kalo liat dia. Bantuin juga nyari kemana aja yang penting ketemu."
"Oh, aman. Bagi duit bensin, kita langsung gas." Bastian dengan gaya sok oke.
"Ntar gue tarik duit dulu, sekarang cari dia." Pinta Arjun dengan segera.
"Ya nggak bisa dong. Kita tungguin deh lu ambil duit." Jawab Roy.
Arjun berdecak sebal, dia ingat betul sisa uang di atm itu tinggal seratus ribu. Hanya bisa di tarik lima puluh ribu doang dan itu rencananya mau dia pake buat beli rokok siang nanti.
Tapi demi mendapatkan sumber mata uangnya kembali, dia pun merelakan uang rokoknya untuk teman-temannya.
"Ya udah, bentar." Arjun pun meninggalkan tempat tongkrongan menuju ke gerai atm terdekat.
Setelah itu dia langsung kembali dan memberikan uang tersebut ke Bastian.
"Nih, bagi dua kalian." Arjun menaruh uang selembar ke telapak tangan Bastian.
"Hah, lima puluh doang dan ini bagi dua? Yang bener aja, Jun." Ejek Bastian.
"Ya ini adanya, ntar gue tambah kalo udah ketemu bini gue. Dia pasti ada uang kok.
"Ya udah, sebagai teman yang baik. Kita bantuin lu." Roy merasa kasihan sedikit.
Mereka pun berangkat untuk mencari keberadaan Mila. Ada yang ke arah selatan, ada yang ke timur dan ke barat.
Di tengah perjalanan, ponsel Arjun berdering nyaring. Wajahnya semringah dan dia yakin bahwa yang menelepon pasti Mila.
"Akhirnya inget suami juga dia," ucap Arjun girang.
Pria itu segera merogoh ponselnya yang ada di saku jeansnya. Setelah menepi dia melihat layar ponselnya dan dia langsung memasang wajah masam begitu melihat nama yang muncul di layar.
"Hais, kenapa pula mama nelpon. Ku pikir Mila," decaknya kesal.
"Ya ma, kenapa?" Tanya Arjun langsung to the point.
"Kau di mana Jun?"