NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Panglima TNI.

Terjebak Cinta Panglima TNI.

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Cintapertama
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nakorang

Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Tapi semua cara yang ia lakukan itu justru tidak membuahkan hasil sama sekali. Axel justru semakin menyukai dirinya, dan memberikan apapun yang dia mau. Bagaimana kelanjutan kisahnya? ikuti terus hanya disini..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 : Godaan Aruna.

Suasana terlihat tenang dan damai. Axel mengantar Aruna pulang ke rumahnya dengan perasaan yang jauh lebih baik dibandingkan kemarin. Kini dirinya sudah berada di depan rumah Aruna, menikmati suasana tenang di sana, sambil mengamati sekitar. Namun, ketenangan itu seketika buyar saat ponsel di sakunya bergetar.

Ia mengeluarkannya dan membuka pesan yang masuk. Pengirimnya adalah nomor tak dikenal, namun isi pesan itu cukup membuat darah Axel mendidih seketika.

 

____________________&&&____________________

"Selamat atas pertunanganmu dengan Ratuku, Axel...

Dia sekarang mungkin milikmu secara resmi, dan aku tak akan mengganggu kalian berdua lagi. Tapi ingatlah satu hal...

Sekali kamu buat dia menangis, aku jamin hidupmu akan sengsara. Satu tetes air mata saja yang jatuh dari mata Aruna... itu sudah cukup bagiku untuk turun tangan dan bertindak.

Selamat menempuh kehidupan baru, Axel... jaga Aruna baik-baik."

_____________________&&&_____________________

Axel mencengkeram ponsel itu begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan urat-urat tangannya menonjol. Napasnya memburu. Ia tahu persis siapa pengirim pesan ini. Zayn.

Pria itu benar-benar menganggap Aruna sebagai miliknya, bahkan setelah pertunangan selesai. Ancaman itu terdengar santai namun sangat mematikan.

"Awas kau Zayn... bisa-bisanya kau sebut Aruna Ratumu... dasar brengsek!!" geram Axel dalam hati, matanya menyala tajam.

Tiba-tiba, sebuah tubuh hangat memeluknya dari belakang dengan sangat manja. Kedua lengan mungil itu melingkar di perutnya, dan kepala itu bersandar nyaman di punggungnya.

"Kamu lagi ngapain sih berdiri di sini? Aku nungguin loh di dalem..." rengek Aruna manja. "Kamu kok malah kaku banget kayak patung gitu?"

Suara lembut itu seketika meluluhlantakkan amarah dan aura gelap yang baru saja muncul di diri Axel. Perlahan, Axel membalikkan tubuhnya. Ia menatap wajah polos Aruna, lalu menarik gadis itu masuk ke dalam pelukannya dengan sangat erat, jauh lebih posesif dan penuh rasa memiliki dari sebelumnya.

'Jangan ajari aku soal menjaga, Zayn...' batin Axel berteriak, menantang pesan di ponselnya tadi. 'Karna aku akan pertaruhkan apapun, bahkan nyawaku sendiri, demi menjaga wanita ini. Dia milikku.. Dia Ratuku, bukan Ratumu!!'

Axel mengecup kening Aruna lama, lalu tangannya mengelus lembut helai rambut panjang gadis itu.

"Axel..." panggil Aruna manja.

"Kenapa, sayang?" jawab Axel lembut.

"Mana hadiahku? Kamu kan janji mau kasih hadiah kalau acara pertunangan selesai?" tanya Aruna dengan mata berbinar-binar.

Axel tersenyum tipis. Ia baru sadar, tapi sebenarnya ia tak pernah lupa sedikitpun. Semua hadiah itu sudah ia siapkan jauh-jauh hari, termasuk kalung cantik yang sempat hilang karena dipakai ibunya pun kini sudah ada kembali di tangannya siap ia berikan pada sang pemilik hati.

"Aku sudah siapkan semuanya di kamarmu, sayang. Ayo lihat sendiri," ucap Axel menggoda.

Wajah Aruna langsung bersinar cerah. Namun tiba-tiba ia berhenti dan menatap Axel serius.

"Ngomong-ngomong Axel... kapan kita menikah?" tanyanya tiba-tiba.

Pertanyaan itu membuat Axel sedikit terkejut, tapi ia segera tersenyum lebar dan mencubit gemas pipi mulus gadis itu.

"Satu bulan lagi sayang... atau kalau kamu mau dipercepat juga boleh. Asal kamu siap saja. Lagipula persiapannya sudah mulai selesai, dikerjakan orang tuaku dari jauh hari," jawab Axel sabar.

"Hm... gimana ya..." Aruna mendengus pelan sambil memalingkan wajah. "Kamu sendiri gak ada inisiatif buat mempercepat... jadi ya... aku ikut alur saja lah."

"Kamu ini bisa aja ya... kalau ngomong!" Axel tertawa kecil gemas. "Ya sudah, aku percepat jadi satu minggu lagi gimana? Cukup cepet kan? Atau mau lebih cepat?"

"Wahh serius? Nanti orang tua kamu malah kewalahan dan repot lo." sahut Aruna kaget tapi senang.

"Tenang saja. Semuanya hampir selesai. Soal acara pernikahan, memang sudah dipersiapkan rapi bahkan sebelum acara tunangan ini berjalan. Aku memang sudah berniat membawamu ke pelaminan secepat mungkin," ungkap Axel jujur.

"Ah ya sudah kalau begitu... soal tanggalnya aku serahin sama kamu aja deh pokoknya." Aruna mengangkat bahu santai. "Sekarang minggir dulu... aku mau lihat hadiahku dulu."

Dengan semangat, Aruna berlari kecil masuk ke dalam rumah, meninggalkan Axel yang berdiri mematung di sana menatap punggung kecil itu dengan senyum bahagia yang tak pernah pudar.

"Akan aku jaga senyuman itu selamanya, Aruna kamu milikku dan akan selalu begitu..." bisik Axel pelan penuh tekad.

"Akan aku pastikan kau tak pernah, meneteskan air mata sedih selamanya."

 

Aruna melangkah masuk ke dalam kamarnya. Di atas kasur king size-nya, tumpukan hadiah indah sudah tersedia rapi. Ada kotak-kotak perhiasan mewah, buket mawar merah raksasa yang wangi, dan di sana juga tergeletak kalung antik peninggalan nenek buyut Axel, yang sempat dipakai ibunya itu, juga ada disana.

Namun, mata Aruna tertuju pada satu benda lain yang diletakkan di atas kado berwarna putih bersih. Sebuah gelang perak yang sangat indah, bertabur batu-batu langka yang berkilauan memikat mata.

Dengan hati-hati ia mengambil secarik kertas kecil yang terselip di sana.

_____________________&&&__________________

"Selamat atas pertunanganmu Ratuku..

Ini harta karun kedua yang kamu minta... hadiah pertunanganmu.

Sstt... hanya kita yang tahu.

Zayn..."

______________________________________________

Jantung Aruna mencelos. Ternyata, ini dari Zayn. Tangannya gemetar memegang kertas itu. Tanpa pikir panjang, dengan tangan gemetar itu, ia buru-buru menyambar gelang pemberian Zayn dan menyembunyikannya jauh di bawah tempat tidur, di sudut paling gelap dan tersembunyi. Tak boleh ada yang tahu. Tak boleh sampai Axel tahu.

Kertas pesan itu pun ia bakar hingga habis menjadi abu, memusnahkan semua bukti.

Tapi rasa bersalah itu... rasanya seperti pisau yang mengiris-iris hatinya perlahan.

"Ah... aku gak kuat begini terus..." isaknya pelan, air mata mulai membasahi pipinya tanpa bisa ia cegah. "Ini terlalu menyakitkan... bermain dengan dua hati... aku merasa seperti wanita yang sangat jahat..."

Tangannya lemas, tubuhnya lunglai. Ia terduduk di sofa dekat jendela, memeluk lututnya sendiri, hancur oleh rasa bersalah yang luar biasa.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Axel masuk.

Melihat wajah Aruna yang basah oleh air mata, pria itu langsung panik dan bergegas menghampiri.

"Sayang?! Kamu kenapa?! Kenapa menangis?" tanya Axel cemas, tangannya langsung mengangkat wajah gadis itu dan menghapus air mata di pipinya dengan ibu jari yang hangat. Perlahan ia duduk di samping Aruna.

"Hanya... terharu..." jawab Aruna cepat, berbohong dengan suara parau. "Terharu lihat semua hadiah yang kamu berikan... Aku sadar, kamu sangat menyayangiku."

Axel tersenyum lega, lalu menarik tubuh Aruna masuk ke dalam pelukannya erat-erat.

Tiba-tiba... suasana berubah. Suara Aruna berubah menjadi sangat manja, lembut, dan terdengar seksi menggoda. Tangisnya sudah hilang sepenuhnya.

"Axel..." panggilnya pelan tepat di telinga pria itu.

"Aruna... kamu..."

Belum sempat Axel menyelesaikan kalimatnya, kedua tangan mungil Aruna langsung melingkar di lehernya. Wajah mereka kini sangat dekat. Dan tanpa aba-aba, bibir ranum itu mulai menggigit pelan dan menjilati area leher dan rahang Axel.

"Aruna... ah... kamu ngapain sih sayang..." desah Axel terputus-putus, tubuhnya menegang merasakan sensasi listrik yang menyebar ke seluruh tubuh. Kedua tangannya meremas pinggang ramping tunangannya.

"Mau makan kamu..." bisik Aruna nakal, matanya menatap tajam penuh hasrat, tangannya mulai meraba dan menelusuri perut six pack pria itu, sambil terus mencumbu area leher sensitif itu dengan rakus.

"Ah... jangan begini sayang... Aruna... ini keterlaluan..." ucap Axel dengan napas yang mulai memburu tak karuan. Ia bisa merasakan darahnya berdesir kencang, hasrat yang selama ini tertahan karena kesedihan dan kemarahan kini meledak kembali, dipicu oleh godaan manja sang kekasih. Tubuhnya makin merosot, bersandar di ujung sofa. Merasakan betapa gilanya dia saat ini, dengan sentuhan dari gadis yang dicintainya.

Jari-jari lentik Aruna bergerak semakin berani dan nakal, tak lagi sekadar menyentuh, tapi benar-benar mempermainkan setiap inci tubuh pria di hadapannya. Telapak tangannya yang hangat meremas lembut namun pasti dada bidang itu, sesekali kuku-kukunya yang pendek menggores pelan kulit di balik kain kemeja, membuat Axel mendesis panjang menahan sensasi listrik yang menyebar ke seluruh urat sarafnya.

Gerakan tangannya turun perlahan, kembali menyusuri garis perut six pack yang kokoh itu, lalu berhenti di pinggang, mencengkeramnya erat seolah menandakan kepemilikan. Aruna bahkan dengan sengaja menggeser-geser tubuhnya di pangkuan Axel, membuat gesekan yang sangat menyiksa bagi pria itu.

"Aruna... jangan main-main sayang, ini tidak lucu sama sekali..." desak Axel parau, suaranya berat dan terdengar putus asa. Napasnya memburu tak karuan, matanya menatap gadis itu dengan tatapan gelap penuh hasrat yang tertahan. Ia tak kuat lagi melihat dan merasakan semua itu. Dengan sisa tenaga dan kesabarannya, Axel mencoba bangkit, ingin membalikkan posisi mereka, ingin merebut kembali kendali yang dicuri curi oleh sang kekasih.

Namun, baru saja tubuhnya bergerak maju...

DOR!

Kedua tangan mungil itu mendorong bahunya dengan kuat hingga tubuh tegap itu terhempas kembali ke sandaran sofa dengan keras.

"Aruna, ini keterlaluan... sayang... aku tak akan tahan." Axel mendesis karena frustrasi.

"Diam di tempat!" seru Aruna manja tapi nadanya tegas, matanya berkilat nakal dan penuh kemenangan. "Stttt.. rilex tuan Panglima..."

"Ah, jangan begini sayang. Aku mau kamu..." geram Axel rendah, mencoba sekali lagi mendekatkan wajahnya, ingin menghisap bibir seksi itu hingga puas. "Beri aku ciuman, Aruna... kumohon..."

Saat wajah mereka nyaris bersatu, saat Axel sudah siap menyambar... Aruna justru menoleh sedikit, hanya memberikan kecupan sekilas di ujung bibir. Sangat singkat, sangat cepat, hanya sentuhan angin, lalu wajah cantik itu menjauh lagi dengan senyum jahil yang mengembang.

"Kita lihat sejauh mana kamu bertahan..." gumam Aruna puas, seolah menikmati rasa frustrasi di wajah Axel. Tangannya kembali beraksi, kini lebih liar. Ia mulai membuka kancing kemeja Axel satu per satu dengan santai, jemarinya bermain-main di kulit bidang yang terbuka, meremas, mengelus, hingga menarik tubuh Axel semakin menempel padanya.

"Aku suka lihat kamu lagi gelisah begini..." bisik Aruna tepat di telinga Axel, lalu menggigit pelan cuping telinga pria itu. "Lihat deh... tangan kamu yang gemetar, dan wajah merah ini?" jarinya bermain lembut namun nakal di wajah tampan Axel, makin membuat sang pujaan hati frustasi.

"Sialan... kau benar-benar menyiksaku, Ratu kecilku..." gerutu Axel, tangannya mengepal sangat kuat di kedua sisi tubuhnya hingga buku-buku jarinya memutih, berusaha sekuat tenaga tidak menyerang balik. Air matanya hampir keluar menahan hasrat yang menggelegak. "Itu bukan ciuman... aku mau yang sebenarnya... jangan main-main lagi sayang, aku nggak kuat..."

"Nanti dulu... aku belum puas main sama kamu," jawab Aruna jahil, tak peduli dengan penderitaan kekasihnya. Ia kembali menunduk, menyambuti leher dan rahang Axel dengan ciuman-ciuman basah dan gigitan kecil yang membuat pria itu nyaris meledak, namun tetap tak memberinya apa yang benar-benar ia inginkan.

"Aruna hentikan... Aku... menyerah." Ucap Axel makin mengila, dadanya naik turun menahan gejolak dan setiap hasrat yang siap meledak kapan saja. Sedangkan Aruna malah semakin menikmati setiap ekspresi yang diperlihatkan Axel padanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!