Li Yunru tiba-tiba bertransmigrasi ke zaman kuno setelah memakai cincin naga perak berisi ruang spiritual misterius. Bukan itu saja, dia juga menjadi koki spiritual yang mampu menyembuhkan segala jenis penyakit dan keracunan.
Berkat cincin naga perak juga, Li Yunru ditakdirkan menjadi pasangan sang raja naga putih penguasa wilayah utara—Bai Muzhi. Pria berwajah dingin yang jiwanya terluka akibat pedang antar benua ratusan tahun lalu itu, akhirnya menemukan satu-satunya penyembuh yang mampu mengobatinya. Perlahan, perasaan cinta tanpa sadar tumbuh di antara keduanya.
Rupanya kemunculan Li Yunru bukan hanya mengungkap banyak rahasia masa lalu, tapi juga membuat musuh di kegelapan mulai mengincar kekuatan tersembunyi dalam dirinya. Menghadapi misteri ribuan tahun lalu yang mulai tersingkap, mampukah Li Yunru melewati cobaan tersebut sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Asing
Lan Peijun segera menangkap burung hitam sebesar ayam jago yang tanpa sengaja menabrak wajahnya. Burung itu ternyata seekor elang hitam berparuh kuning yang sangat dikenalnya. Bulu-bulu hitamnya tampak sedikit kusut.
Begitu mengenalinya, Lan Peijun langsung kesal. "Hei Sanfeng?! Apa yang kamu lakukan di sini? Masih sempat-sempatnya menabrakku?"
"Bersyukurlah yang menabrakmu adalah raja ini. Siapa tahu wajah putih kecilmu jadi lebih maskulin sepertiku."
"...."
Bukankah Bai Muzhi lebih pantas disebut wajah putih kecil daripada aku? pikir Lan Peijun.
Namun ia tidak berani mengucapkannya. Jika Bai Muzhi sampai mengetahuinya, mungkin nasibnya akan lebih buruk daripada sekadar ditabrak burung. Tatapannya lalu beralih ke kepala elang itu. Setelah mengamatinya beberapa saat, sudut bibirnya perlahan terangkat.
"Oh, benar saja. Kamu masih botak."
Kata botak menjadi hal paling sensitif bagi Hei Sanfeng saat ini. Tubuhnya langsung bergetar kecil, lalu meronta di tangan Lan Peijun seperti ikan yang dilempar ke darat.
"Diam! Siapa yang kamu bilang botak? Seluruh keluargamu botak!" teriaknya.
Bukannya Hei Sanfeng tidak ingin segera menumbuhkan bulu di puncak kepalanya yang gundul. Masalahnya, ia terlalu malu meminta bantuan siapa pun.
Jika raja elang hitam wilayah Heishin ketahuan mencari obat penumbuh bulu, orang-orang di wilayahnya pasti mengira ia kalah bertarung hingga kehilangan bulu. Lebih parah lagi, mereka mungkin diam-diam menertawakannya.
Sungguh memalukan!
Lan Peijun akhirnya melepaskan elang hitam itu karena khawatir ikut tertular kesialan. "Mengapa kamu di sini?" tanyanya datar.
"Humph! Wajar jika raja ini mengunjungi sepupunya sendiri."
Lan Peijun menatapnya tidak percaya. Alisnya sedikit terangkat. Sejak dulu Hei Sanfeng selalu sombong dan gemar berdebat dengan Bai Muzhi. Bagaimana mungkin sekarang tiba-tiba mengaku sebagai sepupu dengan penuh kasih sayang?
Lan Peijun langsung menyimpulkan bahwa elang jelek itu pasti memiliki niat terhadap Li Yunru, tetapi terhalang hubungan kekerabatannya dengan Bai Muzhi. Semakin dipikirkan, ia semakin yakin.
"Hei Sanfeng, jangan kira raja ini tidak tahu. Kamu pernah menculik gadis manusia itu, tapi tetap tidak bisa menjadi selirnya. Sayangnya, aku berbeda. Aku tidak punya hubungan darah dengan Bai Muzhi, jadi raja ini masih punya kesempatan mendekatinya. Kamu, elang kepala botak, benar-benar bernasib sial."
Baru saja selesai pamer, Lan Peijun merasakan hawa di sekitarnya berubah. Saat menoleh, Hei Sanfeng sudah bertengger di atas pagar gazebo sambil menatapnya tajam.
Sesaat Lan Peijun tertegun. "... Kenapa kamu menatapku begitu? Bukankah itu fakta? Jangan marah—AHHH!!!" Ia langsung melompat dari kursinya sambil mengelus punggung tangan yang memerah. "Botak, apa yang kamu lakukan? Mengapa mematuk tanganku?!" protesnya marah.
Rupanya Hei Sanfeng sudah lama menahan amarah. Ia langsung menyerang membabi buta tanpa belas kasihan dan kembali melayangkan beberapa patukan.
"Sudah kubilang jangan panggil aku botak! Apa telingamu tuli? Lagi pula, Hong Maxing saja tidak masuk ke mata gadis manusia itu, apalagi burung merak yang hanya tahu bertelur sepertimu!"
Lan Peijun buru-buru melindungi wajahnya dari serangan elang yang menggila. Tak tahan lagi, ia langsung keluar dari gazebo dan menjauh. "Saudaraku, kita para jantan tidak mungkin bertelur!" serunya.
Hei Sanfeng tak mau kalah. Ia langsung terbang mengejar. "Siapa saudaramu?! Kamu merak dan aku elang. Suku kita bahkan berbeda!"
"Bukankah kita sama-sama burung?"
"Hanya satu kelompok burung! Jangan mengaku saudara!"
Keduanya sama sekali tidak sadar bahwa Bai Muzhi dan Li Yunru sudah meninggalkan gazebo menuju tepi sungai. Ruu juga enggan berurusan dengan dua raja narsistik itu dan diam-diam mengikuti Li Yunru.
Sementara di belakang mereka, suara teriakan dan makian masih terus bersahutan. Saat Lan Peijun dan Hei Sanfeng akhirnya menyusul, Bai Muzhi sudah selesai membersihkan dua ekor ayam besar.
Di sisi lain, Li Yunru mulai menyiapkan bumbu untuk melumuri ayam. Dua ekor ayam itu masing-masing berbobot lebih dari delapan jin, sehingga bumbu yang dibutuhkan juga cukup banyak.
"Tidak mungkin memarinasi ayam selama lebih dari dua batang dupa. Jadi kita panggang saja sambil dioles bumbu," kata Li Yunru setelah memikirkan beberapa cara.
"Selama kamu yang memasak, tidak masalah," jawab Hei Sanfeng.
Baginya, ayam panggang tetaplah ayam panggang. Mana mungkin rasanya bisa seperti ayam goreng?
Tanpa membuang waktu, Li Yunru mencampurkan saus tomat, cuka, gula, kecap asin, dan bawang putih cincang ke dalam mangkuk besar. Setelah diaduk rata, terbentuk saus merah kecokelatan dengan aroma asam-manis yang menggugah selera.
Ia langsung melumurkan saus marinasi ke seluruh permukaan ayam hingga tampak mengilap. Sesekali tangannya membalik ayam agar bumbu merata sampai ke bagian bawah. Sambil menunggu api unggun menghasilkan bara, bumbu itu dibiarkan meresap sejenak.
Tak jauh dari gadis itu, Hei Sanfeng dan Lan Peijun bertugas menambah kayu bakar ke api unggun. Keduanya memastikan bara tetap cukup untuk memanggang dua ekor ayam.
Lan Peijun diam-diam memperhatikan wajah Li Yunru cukup lama. Semakin lama dilihat, semakin kuat pula perasaan aneh di hatinya. Ia merasa pernah melihat wajah seperti itu, tetapi tidak mampu mengingat di mana.
"Cantik, pernahkah aku melihatmu di suatu tempat? Mengapa rasanya kamu tampak familier?"
Li Yunru langsung menggeleng yakin. Ia baru tiba di dunia ini belum lama, jadi tidak mungkin pernah bertemu Lan Peijun. "Kita tidak pernah bertemu," jawabnya.
Lan Peijun masih tampak tidak percaya. "Oh, benarkah? Memangnya dulu kamu tinggal di mana?"
"... Sangat jauh. Jangan tanya," jawab gadis itu sengaja menghindar. Hanya Bai Muzhi dan Ruu yang tahu dari mana ia berasal, ditambah Nenek Caolan yang mengenali nenek kandungnya.
Melihat Lan Peijun terus mengajak Li Yunru berbicara, Bai Muzhi mulai mempertimbangkan mengusir burung merak itu setelah makan malam. Tatapannya sempat melirik pria itu sebelum kembali memperhatikan api unggun.
Langit semakin gelap dan udara dingin mulai menggigit kulit. Li Yunru dan yang lain berkumpul mengelilingi api unggun yang menerangi wajah mereka.
Elang hitam jelmaan Hei Sanfeng mendorong sepotong kayu bakar ke dalam api hingga percikan bara beterbangan. Ia masih kesal dengan rasa percaya diri konyol Lan Peijun.
"Burung jambul, jangan-jangan kamu mau bilang dia adalah pasangan takdirmu?" tuduhnya.
Sudut mulut Lan Peijun berkedut. "Jangan samakan aku dengan si tukang rayu Hong Maxing. Serius, Si Cantik ini terasa tidak asing bagiku."
Tiba-tiba Lan Peijun teringat sesuatu. Jika Li Yunru berambut hijau muda, gadis itu akan sangat mirip dengan seseorang yang pernah dilihatnya saat kecil. Namun ingatan itu sudah hampir memudar hingga wajah orang itu tidak lagi jelas di benaknya.
Hei Sanfeng sama sekali tidak merasa Li Yunru mirip siapa pun. "Jangan bohong! Aku tidak percaya!"
Lan Peijun memutar bola matanya. Lupakan saja. Berbicara dengan burung jelek itu hanya membuatnya ikut bodoh. Namun instingnya tidak pernah salah. Ia tetap merasa Li Yunru mirip dengan orang itu.
Saat itu usianya masih sangat kecil dan lebih sering menghabiskan waktu bermain, sehingga banyak kenangan masa kecilnya mulai kabur. Samar-samar, ia teringat seorang wanita tua bertelinga runcing dari ras peri hutan yang pernah datang ke suku merak ratusan tahun lalu. Meski wajahnya telah dipenuhi keriput, beberapa kemiripannya dengan Li Yunru sulit diabaikan.
Wanita tua itu juga pernah memasakkan hidangan spiritual untuknya. Masakannya sangat lezat. Bahkan setelah ratusan tahun berlalu, Lan Peijun masih mengingat cita rasanya.
Ia kembali menatap Li Yunru yang sibuk melumuri ayam dengan bumbu di dekat api unggun. Aroma bumbu yang mulai dipanggang perlahan membangkitkan kenangan lama di benaknya.
Mungkinkah semua ini hanya kebetulan?
Bisakah seseorang benar-benar memiliki kemiripan yang nyaris sama dengan orang lain?
mungkin kita juga bisa mencoba resepnyaa 😂