Li Yunru tidak pernah menyangka, bahwa cincin perak berukir naga yang menjadi hadiah saat membeli seekor kelinci akan mengubah seluruh hidupnya—menyeretnya ke dunia kuno tempat manusia dan beastmen hidup berdampingan.
Belum sempat memahami situasi, Li Yunru malah terikat sebagai pasangan hidup Raja Naga Putih wilayah utara, Bai Muzhi. Berkat cincin misterius itu, mimpi Li Yunru untuk menjadi koki akhirnya terwujud. Namun, kedatangannya ke dunia itu ternyata bukan kebetulan.
Sedikit demi sedikit, tabir asal-usulnya mulai terbuka. Dan musuh-musuh yang selama ini bersembunyi ikut bergerak. Di tengah bahaya, rahasia dan takdir yang menantinya ... mampukah Li Yunru bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Asing
Lan Peijun segera menangkap burung hitam sebesar ayam jago yang tak sengaja menabrak wajahnya. Yang tak lain—seekor elang hitam berparuh kuning yang terlihat akrab di matanya. Bulu-bulu hitamnya tampak sedikit kusut.
La Peijun akhirnya kesal setelah mengenali sosoknya. "Hei Sanfeng?! Apa yang kamu lakukan dengan datang ke sini dan masih menabrakku?"
"Bersyukurlah karena yang menabrakmu adalah raja ini. Siapa tahu wajah putih kecilmu akan menjadi lebih maskulin sepertiku."
"...."
Bukankah Bai Muzhi lebih terlihat seperti wajah putih kecil dibandingkan aku? pikir Lan Peijun.
Namun, ia tidak berani mengucapkannya. Jika Bai Muzhi mendengarnya, mungkin nasibnya akan lebih buruk lagi daripada ditabrak seekor burung.
Akhirnya, Lan Peijun melihat kepala elang itu dengan saksama. Setelah mengamatinya beberapa saat, sudut bibirnya perlahan terangkat.
"Oh, benar saja, kamu masih botak," ucapnya.
Kata botak menjadi hal paling sensitif bagi Hei Sanfeng saat ini. Tubuhnya bergetar kecil, lalu mulai meronta di tangan Lan Peijun seperti ikan yang dilempar ke daratan.
"Diamlah! Siapa yang kamu bilang botak? Seluruh keluargamu botak!" teriaknya.
Bukannya Hei Sanfeng tidak ingin buru-buru menumbuhkan bulu di puncak kepalanya yang gundul—itu karena ia malu untuk meminta bantuan pada siapa pun.
Katakanlah dia ingin sejenis obat mujarab untuk menumbuhkan bulu di kepalanya yang botak. Orang-orang di wilayahnya mungkin mengira dia bertarung dan kalah hingga kehilangan beberapa bulu. Mereka juga mungkin diam-diam menertawakannya di belakang.
Ini memalukan!
Lan Peijun akhirnya melepaskan elang hitam itu karena khawatir mendapatkan kesialan yang sama. "Mengapa kamu di sini?" tanyanya datar.
"Humph! Normal jika raja ini mengunjungi sepupunya sendiri."
Lan Peijun menatapnya dengan tidak percaya. Alisnya terangkat tinggi. Dari dulu, Hei Sanfeng terkenal sombong dan sering berdebat dengan Bai Muzhi setiap kali bertemu. Bagaimana bisa tiba-tiba mengaku sebagai sepupu dengan penuh kasih sayang?
Lan Peijun berpikir bahwa elang jelek ini pasti memiliki niat tidak murni kepada Li Yunru, namun terhalang oleh hubungan kekerabatannya dengan Bai Muzhi. Elang hitam itu pasti hanya bisa diam-diam mengamati dari kegelapan dan iri setengah mati pada Bai Muzhi. Memikirkan kemungkinan ini, Lan Peijun menjadi lebih percaya diri.
"Hei Sanfeng, jangan pikir raja ini tidak tahu. Kamu menculik gadis manusia itu sebelumnya tapi tidak bisa menjadi selirnya. Sayangnya, ini berbeda denganku. Aku tidak memiliki hubungan darah apa pun dengan Bai Muzhi. Setidaknya aku masih punya kesempatan untuk mendekatinya. Kamu, elang kepala botak, nasibmu benar-benar tidak beruntung."
Lan Peijun yang pamer tiba-tiba saja merasa hawa di sekitarnya berubah. Ia melihat elang hitam jelmaan Hei Sanfeng yang bertengger di pagar pembatas gazebo, menatapnya dengan tajam. Selama beberapa saat, dia tertegun.
"... Mengapa kamu menatapku seperti itu? Bukankah itu fakta? Jangan marah—AHHH!!!"
Lan Peijun langsung melompat dari tempat duduknya. Jelas sekali bekas patukan merah terlihat di punggung tangannya.
Rupanya elang hitam itu sudah lama menahan amarah, langsung menyerangnya secara membabi-buta. Ia sama sekali tidak berbelas kasihan dan kembali memberinya beberapa patukan lain.
"Sudah kubilang jangan panggil aku botak! Tidakkah kamu dengar sejak awal? Lagi pula, Hong Maxing saja tidak bisa masuk ke mata gadis manusia itu, apa lagi seekor burung merak yang hanya tahu cara bertelur sepertimu!"
Lan Peijun mencoba melindungi wajahnya agar tidak terkena serangan elang yang menggila. Ia tidak tahan lagi dan akhirnya menjauh dari elang itu, lalu mulai berlari mengitari gazebo dengan panik.
"Saudaraku, kita para jantan tidak mungkin bertelur!" serunya memperingati.
Hei Sanfeng juga tak mau kalah, dia terbang dan mengejarnya. "Siapa saudaramu?! Kamu merak dan aku adalah elang. Suku kita bahkan berbeda!"
"Bukankah kita sama-sama burung?"
"Hanya kelompok burung! Jangan mengaku-ngaku sebagai saudara!"
Keduanya tidak menyadari bahwa Bai Muzhi dan Li Yunru sudah meninggalkan gazebo dan menuju tempat di dekat sungai. Ruu tidak mau berurusan dengan kedua raja narsistik itu dan diam-diam mengikuti Li Yunru.
Sementara itu, di belakang mereka, suara teriakan dan makian masih terus terdengar tanpa henti.
Saat Lan Peijun dan Hei Sanfeng menyusul, Bai Muzhi sudah membersihkan dua ekor ayam besar. Bulu-bulu yang tadi menempel di tubuh ayam telah dibersihkan seluruhnya.
Sedangkan Li Yunru menyiapkan bumbu untuk melumuri ayam. Dua ekor ayam kemungkinan besar memiliki berat lebih dari delapan jin, sehingga bumbu yang digunakan juga harus banyak.
"Tidak mungkin untuk memarinasi ayam selama lebih dari dua batang dupa. Jadi kita panggang saja sambil dioles dengan bumbu," kata Li Yunru setelah memikirkan beberapa solusi.
"Selama kamu yang masak, tidak masalah," kata Hei Sanfeng.
Baginya, ayam panggang rasanya sama saja. Tidak mungkin memiliki rasa ayam goreng, bukan?
Tanpa berpikir lebih banyak, Li Yunru segera mencampurkan saus tomat, cuka, gula, kecap asin dan bawang putih cincang ke dalam mangkuk besar. Setelah diaduk rata, terbentuklah saus merah kecokelatan dengan aroma asam-manis yang menggugah selera.
Ia segera melumurkan saus tersebut ke seluruh permukaan daging ayam hingga tampak mengilap. Sambil menunggu api unggunnya menghasilkan arang, marinasi saja sebentar.
Hei Sanfeng dan Lan Peijun memiliki tugas untuk menambahkan kayu bakar ke dalam api unggun. Keduanya memastikan api unggun memiliki arang yang cukup untuk memanggang dua ekor ayam.
Lan Peijun memperhatikan wajah Li Yunru cukup lama. Semakin lama dilihat, maka semakin kuat pula perasaan aneh itu. Ia sepertinya pernah melihat sorot mata yang sama di masa lalu.
"Cantik, pernahkah aku melihatmu di suatu tempat sebelumnya? Mengapa rasanya kamu tampak familier?"
Li Yunru menggelengkan kepala dengan sangat yakin. Dia belum lama tiba di dunia ini, jadi tidak mungkin bertemu dengan Lan Peijun sama sekali.
"Tidak, bukan?"
Lan Peijun terlihat tidak percaya. "Oh, benarkah? Memangnya di mana kamu tinggal sebelumnya?"
"... Sangat jauh. Jangan tanya," jawab gadis itu dengan sengaja menghindar.
Hanya Bai Muzhi dan Ruu saja yang tahu dari mana dia berasal. Dan satu lagi, Nenek Caolan yang tahu karena mengenali nenek kandungnya.
Bai Muzhi yang melihat Lan Peijun begitu aktif berbicara dengan Li Yunru, mulai mempertimbangkan untuk mengusirnya segera setelah makan malam selesai.
Tak terasa, langit semakin gelap dan udara dingin di utara mulai menggigit kulit. Li Yunru serta yang lainnya berkumpul di sekitar api unggun. Cahaya jingga yang berkedip-kedip menerangi wajah mereka.
Elang hitam jelmaan Hei Sanfeng mendorong potongan kayu bakar ke api unggun dengan salah satu cakarnya. Ia masih kesal dengan rasa percaya diri yang konyol dari si burung merak Lan Peijun sebelumnya.
"Burung jambul, kamu tidak akan bilang bahwa dia dan kamu ditakdirkan untuk menjadi pasangan, bukan?" tuduhnya.
Sudut mulut Lan Peijun berkedut. "Jangan menyamakan aku dengan si tukang rayu Hong Maxing itu. Seriuslah, aku merasa Si Cantik ini tidak asing."
Ah! Lan Peijun akhirnya mengingat sesuatu. Jika Li Yunru memiliki rambut hijau muda, ia pasti akan sangat mirip dengan seseorang yang dilihatnya saat masih kecil dulu. Tapi dia sendiri tidak yakin dan bahkan hampir lupa dengan orang itu.
Hei Sanfeng sama sekali tidak merasa Li Yunru mirip seseorang. "Humph! Aku tidak percaya!"
Lan Peijun memutar bola matanya. Lupakan saja, bicara dengan burung jelek itu hanya akan membuatnya bodoh. Tapi instingnya tidak pernah salah. Ia selalu merasa Li Yunru memiliki penampilan yang sama dengan seseorang.
Saat itu, ia masih kecil. Mungkin umurnya baru beberapa tahun dan lebih sering menghabiskan waktunya untuk bermain. Samar-samar, dia teringat seorang wanita tua bertelinga runcing dari ras peri hutan yang pernah datang ke suku merak ratusan tahun lalu.
Nah, dia ingat bahwa wanita tua itu memiliki kemiripan dengan Li Yunru. Meski pun kemiripan itu berasal dari matanya saja.
Bahkan wanita tua itu juga memasak hidangan spiritual untuknya. Masakannya juga sangat enak. Bahkan setelah bertahun-tahun berlalu, Lan Peijun masih mengingat rasa makanan yang dimasak olehnya. Ia kembali menatap Li Yunru yang sedang sibuk memarinasi daging ayam di dekat api unggun.
Mungkinkah semua ini hanya kebetulan?
Bisakah seseorang memiliki kemiripan yang sama persis dengan orang lain?
ayo Yunru botakin aja Lan Peijun🤣🤣
Yunru hrs tetap sm Tuan Naga satu²nya.. ga boleh ada yg lain.. apalagi Merak bau.. bikin botak aj itu Merak...
Yunru kamu udah mulai berani ya minta cium dulu 🤣/Facepalm//Facepalm/
Klo kata Yunru, Narsistik sekali kelinci gendut ini 😒😒😒
Liatin aj noh pantatnya si Ruu yg montok dan seksih