Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.
" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.
Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.
_
Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20 : arwah yang ingin mencekik Naya
Ruang rawat itu dingin. Terlalu dingin untuk malam hari. Bau obat menyengat pelan di udara. Pintu terbuka, Rosa masuk lebih dulu, langkahnya pelan tapi pasti. Di belakangnya, Teh Intan berjalan dengan wajah datar.
Pandangan Rosa langsung tertuju pada satu titik yaitu, Naya.
Tubuh Naya terbaring lemah di atas ranjang. Kepalanya diperban. Selang infus terpasang di tangannya. Mesin di samping tempat tidur berbunyi pelan dengan ritme teratur.
Rosa berhenti beberapa langkah dari ranjang. Matanya menatap Naya tanpa berkedip. Agus yang duduk disofa berdiri saat kehadiran Rosa dan juga Teh Intan.
"Naya belum sadar dari tadi pagi." Jelas Agus.
Teh Intan langsung mendekat ke sisi ranjang. Tangannya gemetar saat menyentuh lengan Naya.
"Nay ini Teh Intan." Suaranya terdengar sangat lirih.
Tidak ada respon dari Naya. Hanya suara mesin yang menjawab. Rosa akhirnya melangkah mendekat.
Tatapannya turun ke wajah Naya menatapnya beberapa detik lalu pandangannya teralih pada Teh Intan yang terlihat menghapus air matanya. Tatapan Rosa kembali tertuju pada Naya lebih tepatnya ke arah tangan Naya.
Jari-jari Naya bergerak seperti ingin mencakar sesuatu, kedua mata Naya terbuka tiba-tiba. Urat-uratnya bingkas terlihat akan keluar.
"Naya?" Teh Intan kaget bukan main begitu juga Mang Agus yang nampak melihat ada sesuatu yang janggal dari Naya.
Naya tubuhnya langsung bangkit membuat Teh Intan sampai terhempas, "ROSAAA!" Teriakannya pecah ingin membunuh.
Naya melompat menerjang ke depan kedua tangannya langsung mengarah ke leher Rosa.
BRAK!
Agus langsung menahan dari belakang memeluk tubuh Naya sekuat mungkin.
"NAYA! SADAR NAY!" Teriak Agus.
Naya meronta tenaganya terasa tidak wajar untuk ukuran seorang perempuan.
"LEPASIN!!" Teriak Naya.
"AAAA..!!" Jeritannya semakin melengking.
Kedua matanya menoleh ke arah Rosa. Matanya melotot penuh kebencian.
"GUE BUNUH LO!" Teriak Naya.
Teh Intan kaget bukan main sampai mundur menabrak meja. Entah apa yang sudah terjadi kepada Naya, seperti ada yang merasukinya.
Rosa tidak bergerak, dia hanya menatap dingin lurus ke mata Naya, ada sesuatu yang membuat Rosa tidak mengerti.
Tatapan mata itu berbeda.
Agus mulai kewalahan, karna tubuh Naya terus meronta, hampir lepas, "YA ALLAH, KUAT BANGET!"
BRAK!!
Kaki Naya menendang ranjang, infus sudah tercabut, darah juga sudah menetes dari punggung tangan.
Pintu kamar terbuka lebar seorang suster muncul, wajahnya langsung pucat.
"YA AMPUN! SATPAM! SATPAM!"
Suasana menjadi semakin kacau langkah kaki terdengar dari lorong.
"ROSAAA!! TOLONG!!" Naya menjerit lagi suaranya pecah dengan tangisan. Seperti dua suara bertumpuk jadi satu saling menyerang.
Dua satpam masuk cepat langsung membantu menahan tubuh Naya.
"PEGANG TANGANNYA!" Naya mengamuk menjerit bahkan menendang satpam itu. Tapi matanya tidak pernah lepas dari Rosa.
"LO HARUS MATI.." Teriak Naya terus menerus kepada Rosa.
Rosa akhirnya melangkah satu langkah maju mendekat. Semua orang kaget.
"ROSA! JANGAN DEKET! NAYA UDAH GILA!!" teriak Teh Intan.
Rosa tetap maju dan berhenti tepat di depan Naya yang sedang ditahan, "Kamu bukan Naya." Tegas Rosa.
Naya tiba-tiba diam matanya berkedip sekali senyum itu muncul lagi lebih lebar dan lebih menyeramkan, "Hahahaha..!!"
Ketawa itu terasa menggelegar.
"Si Naya harus di ruqiah ini." Ujar Agus melihat jika Naya sudah kerasukan.
"Maksud lo?" Tanya Teh Intan tidak mengerti dengan rencana Agus.
"Gue coba buat ruqiah Naya." Ucap Agus cepat, jantungnya berdetak cepat, tangannya gemetar, tapi dia tetap mendekat.
Rosa memperhatikan Agus.
Agus menelan ludah lalu mulai membaca, "Bismillahirrahmanirrahim.." Suaranya pelan di awal. Agus masih ragu, entah dia bisa atau enggak untuk menghilangkan setan didalam diri Naya yang sedang merasuk sekarang.
Naya langsung bereaksi tubuhnya menegang, kepalanya menoleh paksa ke arah Agus.
"JANGAN!!" Teriak Naya keras.
Agus kaget, tapi tetap lanjut, suaranya mulai dia keraskan, "Alif lam mim.."
Rosa keluar dari ruangan kamar itu, merasakan tubuhnya yang panas.
"DIAM!!"
Jeritan Naya menggema sampai keluar ruangan, Rosa melihat banyak yang mengintip, menyaksikan didepan kamar.
Rosa sekilas mengingat arwah yang ingin mencekik Naya pada tengah malam itu seandainya saja Rosa tidak datang untuk mencegah hal itu.
"Arwah itu ingin membunuh Naya tapi juga ingin membunuhku?" Tanya Rosa masih tidak mengerti, dia harus mencari tahu.
"Wulan, Dinda, Yuni tidak lagi bergentayangan. Apa itu Sari?" Rosa kembali bertanya pada dirinya.
"Jika itu Sari dia tidak akan membunuh Naya, aku tahu pasti itu. Abel?" Rosa merasa panik karna dia baru ingat Abel yang baru mati.
"Arwah itu Abel karna sebelumnya hal ini tak pernah terjadi sampai Abel mati." Gumam Rosa nampak menyetujui hal itu, pasti Abel yang telah melakukan semua ini.
"Butuh 7 hari sampai Abel bisa dikunci." Desis Rosa, dia harus mengunci Abel sepenuhnya, jangan sampai apa yang terjadi pada Sari terjadi pada Abel juga. Abel harus menerima kematiannya secepatnya jika tidak Naya akan meninggal karna tidak kuat menopang arwah Abel yang jahat.
_
Dua satpam hampir kehilangan pegangan tubuh Naya melengkung, punggungnya terangkat dari ranjang seperti ada yang menariknya dari dalam.
Agus terus membaca keringat mulai jatuh dari pelipisnya, "ALLAHU LA ILAHA ILLA HUWA--"
"AAAAAARRRGGHH!!"
Naya menjerit.
Lampu kamar kembali berkedip terus menerus monitor jantung berbunyi tidak beraturan.
Teh Intan masih terpaku.
Agus tidak berhenti justru semakin keras membacakan ayatnya.
"LA TA’KHUDZUHU SINATUN WA LA NAUM--"
Sampai pada akhirnya tubuh Naya melemah, kedua matanya terpejam. Satpam membaringkan tubuh Naya ke atas ranjang, dan Dokter mulai masuk memeriksa Naya, Suster pun memasang kembali infusnya.
Agus merasakan jantungnya berdetak kencang, "Allahu Akbar, Allahu Akbar."
Teh Intan memperhatikan Agus lalu memperhatikan Naya.
"Bu, Pak.. Apa boleh menunggu diluar saja? Pasien sedang dalam kondisi kritis." Ujar Suster kepada Agus dan Intan.
"Enak aja panggil gue Bu." Ketus Teh Intan.
Agus tanpa berbicara banyak keluar dari ruangan Naya begitu pun dengan Intan yang mengikuti dari belakang mereka.
"Agus, apa yang terjadi sama Naya?" Tanya Teh Intan penasaran.
"Naya kerasukan setan rumah sakit kali." Jawab Agus ngasal.
"Hebat juga ilmu lu." Kagum Intan pada Agus yang berhasil mengusir setannya.
"Memang, lulusan pesantren gue." Jawab Agus dengan bangga sekarang.
Teh Intan langsung nyinyir karna Agus nampak membanggakan dirinya sendiri membuat Teh Intan jadi males sekarang...
"Rosa?"
"Gak kuat pas lu baca do'a tadi mungkin, dia kan setannya juga." Ujar Teh Intan.
Agus tidak mengatakan apa-apa, jika saja dia melakukan ini di rumah makan bisa saja dia yang terbanting. Karna rumah makan adalah sarang dari ilmu gelap yang sulit untuk Agus sendiri lawan jika saja ilmunya masih dasar.