Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.
" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.
Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.
_
Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26 : Karma yang menghampiri
Pagi itu taman bermain dipenuhi garis polisi. Pita kuning membentang di antara ayunan yang diam tak bergerak. Embun masih menempel di besi-besi karat, dan tanah terlihat basah oleh sisa malam. Rosa berdiri di luar garis, langkahnya terhenti. Matanya terpaku ke dalam. Beberapa polisi mondar-mandir, sebagian berjongkok, sebagian lagi mencatat. Suara kamera terdengar sesekali.
"Korban perempuan kondisi tidak utuh." Suara seorang petugas terdengar pelan, tapi cukup jelas di telinga Rosa.
Rosa menelan ludah, jantungnya berdegup lebih cepat.
"Mulutnya direkatkan hampir hancur."
Rosa langsung memejamkan mata, napasnya tertahan. Bayangan Nesya muncul begitu saja di kepalanya tertawa kecil di dapur dan mengeluh saat kerja terlalu banyak, dan cara dia memanggil nama Rosa dengan santai. Namun pikiran Rosa langsung tertuju pada suatu kejadian yang membuat hubungannya dengan Nesya terasa renggang.
Flashback:
"Terus? Kamu bangga jadi anj1ng yang nyari tumbal?" Tanya Nesya.
"Aku bangga karena aku kepake, Mbak. Mbak sama Mang Agus cuma dipelihara. Kalau gentong enggak laper, Mbak kira Pak Dermawan masih butuh Mbak?" Tanya Rosa waktu itu.
Rosa ngambil mangkok sendiri dari rak. Naruh di meja. "Jadi mending Mbak ngaduk aja. Yang rajin. Biar besok-besok nama Mbak nggak ada di dalam mangkok itu."
_
Sekarang, Rosa membuka mata lagi. Tatapannya kosong. Di balik garis polisi yang masih nampak sibuk dan wartawan yang ramai ikut merekam investigasi polisi.
Seolah hidup seseorang bisa diringkas jadi laporan singkat. Rosa mengepalkan tangan. Ada sesuatu yang naik di dadanya bukan sekadar sedih. Tapi juga takut, dan rasa bersalah hanya yang dia sendiri tahu.
Dia tahu tempat itu tidak normal. Dia tahu sesuatu yang buruk sedang terjadi. Tapi dia diam. Langkah Rosa mundur satu. Matanya masih tertuju ke lokasi itu.
"Maaf." Bisiknya sangat pelan.
Angin pagi berhembus. Ayunan bergerak sedikit.
'Semua sudah terlambat.'
Rosa tersentak, matanya menajam. Untuk sesaat dia merasa tidak sendirian di sana. Namun saat dia menoleh tidak ada siapa-siapa. Hanya taman kosong, dan perasaan yang tidak ikut pergi.
"Suara Naya? Ini bukan suara Nesya." Ujar Rosa yang masih bingung.
_
Di kamar hotel terasa lebih sempit dari biasanya. Laptop di depan Salsa menyala sejak tadi malam. Layarnya dipenuhi tab yang tidak terhitung jumlahnya berita, forum, arsip lama, sampai halaman yang bahkan hampir tidak memiliki pengunjung.
Salsa tidak tidur sejak semalam. Matanya lelah, tapi pikirannya terus berlari.
"Rumah makan Dermawan.”
Enter.
Beberapa hasil muncul.
Salsa langsung membuka salah satunya. Judul berita lama pada 2 tahun lalu.
"Rumah Makan Dermawan Cabang BSD Dilaporkan Warga."
Alis Salsa langsung mengernyit, saat akan membuka halaman kedua yang sudah terbuka, tapi terasa aneh tidak lengkap. Beberapa bagian seperti hilang, namun cukup untuk dibaca. Ada laporan, karyawan hilang. Warga sekitar mencurigai aktivitas mencurigakan di malam hari.
Salsa menahan napas. Scroll. Scroll lagi.
Dan berita itu berhenti. Tidak ada kelanjutan. Tidak ada update. Tidak ada hasil penyelidikan. Seolah dipotong paksa.
"Kenapa berhenti di sini?" Gumam Salsa.
Dia membuka tab lain mencari lebih dalam. Forum bahkan blog kecil. Komentar yang dibaca satu persatu. Semakin digali, semakin aneh. Ada yang bilang kasusnya ditutup. Ada yang bilang saksi menghilang.
Salsa terdiam beberapa detik lalu kembali mengetik.
"Pemilik rumah makan Dermawan Depok."
Enter.
Kali ini hasilnya berbeda. Bersih. Rapi. Foto-foto formal, artikel penghargaan. Prestasi. Senyum ramah seorang pria yang tampak sempurna di mata publik.
"Juara nasional pencak silat."
"Karier gemilang sejak muda."
"Harapan besar dunia olahraga."
Scroll.
"Cedera fatal mengakhiri karier atlet muda berbakat, Atlet Dermawan."
Salsa klik.
Isinya sederhana. Pak Dermawan mengalami patah kaki parah saat pertandingan. Harus pensiun di usia 26 tahun. Dan berita beberapa tahun kemudian hanya tentang keberhasilan Pak Dermawan membangun bisnis kulinernya yang dengan cepat menaikkan UMKM.
Salsa memundurkan sedikit dari kursinya. Memandang layar.
"Ada sesuatu yang aneh tapi apa?" Matanya kembali ke layar.
Dan untuk pertama kalinya sejak tadi dia merasa dia sedang melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat. Lampu kamar berkedip sekali.
Salsa terdiam. Dia menoleh ke belakang dan tidak ada siapa-siapa. Namun perasaan itu datang lagi. Seperti ada yang sedang memperhatikannya.
Salsa menoleh kembali ke layar namun tiba-tiba ada pesan dari nomor Naya.
'Kak, jangan lanjut.'
Deg.
Tubuh Salsa langsung menegang.
Dia dengan cepat membuka pesan itu dan langsung menghubungi nomornya namun anehnya hanya memanggil. Salsa membuka hpnya membuka aplikasi chat hijau dan membuka kontak Naya dan pesan yang memang terkirim. Salsa pun semakin kaget karna Naya terakhir membuka hpnya satu minggu yang lalu, lalu siapa yang mengirimkan pesan ini padanya?
_
Di rumah makan Dermawan, Rosa tanpa peduli padahal rumah makan masih belum buka. Tempat yang biasanya ramai sekarang terasa aneh, terlalu tenang. Entah dimana Mang Agus sekarang.
Zuan berdiri di dekat meja, tangannya sibuk memotong sayur seolah tidak terjadi apa-apa.
"Zuan." Suara Rosa tegas.
Zuan tidak langsung menoleh.
"Iya?"
"Gue tau lu tau sesuatu, apa yang terjadi sama Mbak Nesya?" Tanya Rosa serius.
Baru kali ini Zuan berhenti, tatapannya datar.
"Nesya masih hidup."
Deg.
Alis Rosa langsung mengernyit.
"Jangan bohong."
Zuan tidak menjawab hanya menggeser pandangannya ke arah belakang.
Refleks Rosa ikut menoleh. Dan di sana di dekat kompor seseorang berdiri. Mengaduk masakan, Perempuan. Seragam yang sama. Jilbab yang sama, itu Nesya.
Napas Rosa tertahan langkahnya maju satu masih kaget, "Mbak?"
Sosok itu tidak menoleh terus mengaduk.
Rosa berhenti matanya menyipit. Gerakan itu tidak alami. Tidak ada jeda.
Tubuh Rosa menegang.
Zuan tersenyum tipis, "Akhirnya kamu sadar."
Rosa langsung menoleh cepat ke arah Zuan.
"Nesya sudah mati." Lanjut Zuan.
Hanya suara sendok yang terus berputar di wajan.
"Terus itu apa?!" Suara Rosa mulai bergetar.
"Kekuatan Pak Dermawan sudah berada di puncaknya Rosa." Jelas Zuan.
Rosa mundur satu langkah, jantungnya berdetak keras "Ini sudah kelewatan."
Matanya kembali ke sosok itu.
Nesya yang masih mengaduk tanpa jiwa, tanpa sadar hanya seperti wadah kosong.
Rosa mengepalkan tangan, napasnya tidak stabil. Semua potongan mulai tersambung.
"Naya juga bisa hidup kembali jika Pak Dermawan butuh." Ujar Zuan lagi yang sudah tahu lebih banyak.
"Maksud lo?"
"Naya sudah mati." Balas Zuan.
"Darimana lo tau?" Tanya Rosa.
"Aku adalah pemilik cabang baru, dan Pak Dermawan ngasih aku kekuatan yang belum bisa aku stabilkan, aku bisa ngeliat sesuatu yang gak bisa kamu liat Rosa." Balas Zuan.
BRAK!!!
Tiba-tiba semua pintu rumah makan terbanting bersamaan.
Keras.
Lampu langsung mati.
Gelap.
Rosa tersentak.
PRANG!!!
Suara kaca pecah dari berbagai arah.
Serpihan jatuh berserakan.
Angin masuk kencang dari jendela yang terbuka sendiri. Menusuk. Suara petir dan hujan keras bersahutan.
Zuan mencari tombol lampu dan menghidupkannya saat Rosa membuka pintu dapur, mereka keluar bersama. Zuan mencari tombol lampu luar dan menghidupkannya, namun alangkah terkejutnya mereka saat melihat Naya sudah berdiri memegang pisau. Terlihat juga luka di leher Naya membuat Rosa sadar jika itu seperti luka yang pernah dia sayatkan pada leher Sari.
"Karmamu sudah datang Rosa."
Hasil rekomendasiku secara pribadi: Cocok untuk yang pengen baca horor tapi singkat. Suka alur cepat. Atau gak terlalu mentingin narasi yang penting ceritanya bagus.
Banyak banget yang mau aku ungkapin. [Kemungkinan bakal kepanjangan komennya. Jadi kelanjutannya aku lanjutkan di komen]
Cerita: Menarik. Tadinya kukira suasananya bakal penuh kecurigaan, ternyata tetep friendly dan asik. Langsung bikin penasaran di bab 1.
Pacing: Enak dibaca. Kupikir 10 bab awal bakal penuh ketegangan yang kayak mainin tensi aja. Eh ternyata langsung masuk konflik berat. Padahal biasanya horor/thriller pelan-pelan baru menuju konflik. Tapi karena ceritanya emang mau dibuat pendek, pacing segini udah pas.
Karakter: Ditulis bagus banget, berasa manusia dan punya hati. Beda sama cerita sejenis MC kerja di tempat gak bener dan seringkali semua karyawannya juga jahat selain MC, di sini mereka korban keadaan (kecuali Rosa, Zuan, Gian, dll yang memang pilih salah).
Tapi emang ada caranya? Emang gak ada caranya... atau ada caranya tapi Rosa udah nyerah dan takut ambil resiko??
Tapi... ini Abel dengan kesadaran penuhnya sendiri? Kalau Teh Intan taju Naya mati... harusnya dia berhenti ’kan?? Atau dia gak tahu tapi bohongin Kak Salsa doang? Hmmm...
baguslah, setidaknya ada yg tahu Nesya mati. 😃😭
iblis? Atau karena apa?