NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kaisar Pedang Yang Terlupakan

Kebangkitan Kaisar Pedang Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Fantasi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: hajdhts

"Seribu tahun lalu, aku adalah puncak dari segala ilmu pedang. Kini, aku hanyalah sampah yang dihina oleh keluargaku sendiri."

Ling Chen adalah seorang pemuda dari keluarga cabang yang lemah dan tidak memiliki bakat dalam kultivasi pedang. Di dunia di mana kekuatan pedang adalah segalanya, ia menjadi bulan-bulanan, dikhianati oleh tunangannya, dan hampir tewas di tangan saudara sepupunya sendiri.

Namun, di ambang kematian, segel kuno di dalam jiwanya hancur. Ingatan sebagai Kaisar Pedang Surgawi, penguasa semesta yang pernah ditakuti oleh para dewa dan iblis, bangkit kembali. Dengan teknik "Sembilan Tebasan Langit" yang telah lama hilang dan pedang karatan yang ia temukan di gudang tua, Ling Chen memulai langkahnya untuk menagih hutang darah.

Satu per satu genius yang sombong akan ia tebas. Kerajaan yang dulu mengkhianatinya akan berlutut di bawah kakinya. Langit mungkin melupakannya, tapi dunia akan segera tahu bahwa sang penguasa telah kembali untuk merebut tahtanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hajdhts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nona Muda yang Merepotkan dan Sekeping Giok yang Bergetar

Cairan obat dari botol yang dilemparkan Ling Chen ternyata bekerja dengan sangat luar biasa.

Hanya beberapa menit setelah Mu Rong'er mengoleskannya ke luka di lengan kanannya, rasa perih yang membakar akibat racun belati Sekte Tengkorak Hitam perlahan memudar, digantikan oleh rasa sejuk yang nyaman.

Kulitnya yang robek bahkan mulai merapat, meninggalkan garis merah muda tipis yang samar.

"Obat... obat apa ini? Kenapa khasiatnya bahkan lebih hebat dari Pil Penyembuh tingkat rendah milik keluargaku?" gumam Mu Rong'er dengan mata berbinar takjub.

Ia mendongak, bersiap untuk mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Namun, pemuda yang baru saja menyelamatkannya itu sudah kembali duduk santai di kursinya.

Tangan kanannya sibuk menuangkan teh melati yang baru ke dalam cangkir cadangan yang untungnya tidak pecah, sementara tangan kirinya dengan santai mengelus serigala perak yang kini tidur tengkurap di bawah meja seperti anjing rumahan biasa.

Di atas kepala pemuda itu, makhluk hitam berbulu yang mirip kucing bersayap sedang asyik mengunyah sisa potongan bakpao daging yang terjatuh di meja.

"Jika kau sudah selesai mengagumi obat itu, duduklah. Kau membuat pemandangan di depanku menjadi tidak rapi," ucap Ling Chen tanpa menoleh, suaranya terdengar malas namun memiliki daya tekan yang membuat Mu Rong'er secara refleks menuruti perintahnya.

Gadis berbaju merah marun itu segera berdiri, membersihkan debu di celananya, dan duduk di hadapan Ling Chen dengan sikap yang jauh lebih sopan dari sebelumnya.

Keangkuhan sebagai seorang nona muda yang biasa ia miliki mendadak menguap entah ke mana.

"Namaku Mu Rong'er," gadis itu memulai percakapan, mencoba mencairkan keheningan.

"Aku adalah putri dari... dari sebuah keluarga pedagang di wilayah barat. Terima kasih banyak telah menyelamatkan nyawaku, Tuan Muda..."

Mu Rong'er menggantung kalimatnya, berharap pemuda di depannya akan menyebutkan namanya.

"Ling Chen," jawabnya singkat, lalu menyeruput tehnya perlahan.

"Dan aku tidak berniat menyelamatkan nyawamu. Mereka hanya mengganggu waktu makanku, itu saja."

Mu Rong'er mendengus kecil di dalam hati. Dingin sekali pria ini, pikirnya.

Namun, ia tidak berani mengatakannya keras-keras.

Mengingat bagaimana dua pembunuh Alam Pengumpulan Energi kehilangan tangan mereka hanya dengan satu jentikan jari Ling Chen, Mu Rong'er tahu pemuda di depannya ini adalah paha emas yang harus ia peluk erat-erat jika ingin tetap hidup.

"Lalu... tentang gulungan kulit itu..." Mu Rong'er melirik ke arah dada jubah Ling Chen, tempat peta kuno itu disimpan.

"Tuan Muda Ling, peta itu sebenarnya adalah kunci menuju makam kuno Penguasa pedang tiruan yang terletak di pegunungan perbatasan Ibukota. Sekte Tengkorak Hitam menginginkannya karena di dalam makam itu konon terdapat teknik rahasia yang bisa membangkitkan pasukan mayat."

Ling Chen meletakkan cangkir tehnya. Mendengar kata 'Penguasa pedang tiruan', jiwanya yang merupakan reinkarnasi Kaisar Pedang sejati tidak bisa menahan diri untuk tidak mencibir.

"Penguasa pedang tiruan? Nama yang konyol," ucap Ling Chen dingin.

"Di dunia ini, tidak ada yang boleh menyebut diri mereka penguasa pedang jika belum bisa memotong aliran sungai bintang dengan bilah senjatanya."

Mu Rong'er mengerutkan kening, tidak mengerti apa yang dimaksud dengan 'sungai bintang'. Ia menganggap pemuda ini hanya sedang membual dengan gaya yang puitis.

"Yah, bagaimanapun juga, tempat itu sangat berbahaya. Dan karena sekarang peta itu ada padamu, Sekte Tengkorak Hitam pasti akan memburumu juga. Bagaimana kalau... bagaimana kalau kita pergi bersama ke Ibukota? Aku tahu jalan pintas yang aman!"

"Pergi bersamamu?" Ling Chen menatap Mu Rong'er dari atas ke bawah, membuat gadis itu mendadak merasa salah tingkah.

"Kau terluka, basis kultivasimu baru berada di Alam Pengumpulan Energi tahap awal, dan kau sedang dikejar oleh sekte pembunuh.. Mengajakmu berjalan bersamaku sama saja dengan membawa lonceng yang berisik."

"Hei! Aku tidak seberisik itu!" protes Mu Rong'er, wajahnya merona merah karena kesal.

"Lagipula, aku tahu banyak informasi tentang Ibukota! Ayahku adalah seorang pedagang informasi, aku bisa membantumu mencari apa pun yang kau butuhkan di sana!"

Mendengar kata 'informasi', gerakan tangan Ling Chen terhenti sejenak. Ia teringat pada liontin giok ibunya yang memiliki segel misterius.

Untuk membuka rahasia di balik segel itu, ia memang membutuhkan jaringan informasi yang luas yang tidak mungkin ia dapatkan jika hanya berjalan sendirian tanpa arah di Ibukota yang asing.

Tiba-tiba, dari dalam balik jubah Ling Chen, kotak kayu berisi liontin giok ibunya mengeluarkan getaran halus.

Getaran itu sangat samar, namun Ling Chen bisa merasakannya dengan jelas. Energi dari giok itu seolah bereaksi terhadap sesuatu yang ada di dekatnya.

Ling Chen melirik ke arah Mu Rong'er, lebih tepatnya ke arah leher gadis itu. Di sana, tergantung seuntai kalung dengan liontin batu permata merah darah yang berukuran kecil.

‘Energi yang sejenis? Apakah keluarga gadis ini ada hubungannya dengan asal-usul ibuku?’ batin Ling Chen, matanya menyipit penuh selidik.

Melihat perubahan ekspresi Ling Chen yang mendadak menjadi sangat serius, Mu Rong'er merasa merinding.

"T-Tuan Muda Ling? Kenapa kau menatapku seperti itu? Apakah ada sesuatu di wajahku?"

Kuro yang berada di meja tiba-tiba melompat ke pangkuan Mu Rong'er, mengendus-endus kalung batu merahnya sebelum akhirnya mengeluarkan suara "Kyuu~" yang manja dan melingkarkan tubuhnya di sana.

"Eh? Lucu sekali..." Mu Rong'er yang dasarnya menyukai hewan berbulu tidak bisa menahan diri untuk tidak mengelus punggung Kuro.

Anehnya, Kuro yang biasanya galak pada orang asing, membiarkan dirinya dielus oleh gadis itu.

Ling Chen menghela napas pendek, ketegangan di wajahnya menghilang berganti dengan kepasrahan yang langka.

"Kuro tampaknya menyukaimu. Baiklah, kau boleh ikut denganku sampai ke perbatasan Ibukota. Tapi ingat satu hal, jika kau tertinggal di jalan, aku tidak akan berbalik untuk mencarimu."

"Setuju!" Mu Rong'er tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan lesung pipit di pipi kirinya yang membuatnya tampak sangat manis.

Ling Chen berdiri dari kursinya, melemparkan beberapa keping koin perak ke atas meja untuk membayar teh, bakpao, dan cangkir yang pecah kepada pelayan kedai yang masih gemetar di bawah meja kasir.

"Jalan," perintah Ling Chen singkat sambil melangkah keluar dari kedai yang telah berantakan itu.

Mu Rong'er segera menggendong Kuro di lengannya, sementara Serigala Perak Langit menguap lebar sebelum berdiri dan berjalan di samping Ling Chen.

Matahari sore mulai condong ke barat, memanjangkan bayangan mereka di atas jalan tanah.

Langkah menuju Ibukota kini tidak lagi sepi, dan Ling Chen tahu, badai yang sesungguhnya sedang menunggu mereka di ujung jalan sana.

1
Nanik S
Giliranku menunjukan permainan yang sesungguhnya👍👍👍
Nanik S
Ganggu orang makan saja... Dasar Pak Tua ..ganti baju dulu🤣🤣🤣
Nanik S
Ceritanya bagus tapi gak hidup sama sekali karena susunan kata saja ditulis aja ..banget .... Loh.....harusnya ditulis yang pas Tor
Siti Hodijah: makasih masukannya
total 1 replies
Nanik S
Lanjutkan dan kata katanya banyak kurang pas
Nanik S
Dikit dikit kata banget... cari kata lain yang Pas Tor
Siti Hodijah: contohin dong kak
total 2 replies
Nanik S
Sebagai masukan .. kata subuh dijaman dulu itu tidak ada Tor
Siti Hodijah: jadi sarannya gmnaa kaka
total 2 replies
Nanik S
Kemana lagi Lin Chen dan Mu Rong
Nanik S
Ada kata yang kurang .. salah satunya Oky dan adalagi Tot
Nanik S
Shiiip
Nanik S
Sang Kapten yang mau menyetor Nyawa ke Lin Chen
Nanik S
Jelas Beda Jiwa Kaisar yang berada didalam tubuh Lin Chen
Nanik S
Maaantaap Poooool
Nanik S
IPasukan bayangan yang berkhianat di kekaisaran
Nanik S
Keluarga Kekaisaran...benua Tengah
Nanik S
Kyuuuuu habis semua
Nanik S
Liontin Mu Rong bersonasi dengan batu peninggalan ibunya
Nanik S
Mu Rong... siapa gadis ini sebenarnya
Nanik S
Segel di Liontin Giok
Nanik S
Habis sudah harapan hidup Yan Ran wanita licik dan Munafik
Nanik S
Bantai semua Aliansi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!