Seorang wanita zaman kuno yang mati akibat di bunuh oleh kekasihnya saat ia sedang membuat pil naga suci untuk menjadi abadi.
Tapi ia malah berpindah ke tubuh seorang wanita modern, seorang istri lemah, yang setiap hari di siksa oleh suaminya seorang pemabuk, KDRT dan seorang penjudi.
Yang lebih membingungkan, ia malah sudah memiliki seorang gadis kecil cantik berusia 6 tahun.
"Dasar suami sampah! Ini saatnya aku membalas suami brengksek itu karena sudah menyakiti pemilik tubuh asli ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
Ghaizka pun menerima uang satu juta itu. Mata Gelsya berbinar, ini pertama kalinya ia melihat uang yang banyak di dapatkan oleh ibunya, biasanya ibunya hanya dapat 50-100 ribu per hari, itu pun langsung habis buat kebutuhan pokok yang semakin mahal.
Ghaizka menyimpan uang itu dengan rapi di saku celananya, lalu membersihkan sedikit debu di bajunya.
"Baiklah, pekerjaan selesai. Sekarang waktunya aku berangkat ke tempat tujuan," batin Ghaizka mantap.
"Gelsya, di mana rumah pak Baskara?" tanya Ghaizka lupa ingat karen ingatannya bercampur aduk.
"Di sana Ma, ayo ikut aku," ajak Gelsya dengan senyum semeringah menarik tangan ibunya dengan semangat.
Setelah 6 menit berjalan, mereka pun sampai.
"Itu ma rumahnya," kata Gelsya menunjuk ke arah rumah tersebut.
Matanya menatap ke arah perumahan elit. Itulah tempat tinggal Pak Baskara, salah orang terkaya di daerah itu yang anaknya sedang sakit keras.
Di Kediaman Pak Baskara...
Rumah besar dan mewah itu kini dipenuhi orang-orang yang datang menjenguknya termasuk para karyawan pak Baskara.
Di teras depan, beberapa bodyguard dan tetangga berdiri membicarakan kejadian aneh yang menimpa anak majikan mereka.
Tiba-tiba...
Seorang ibu muda yang cantik tapi tertutup oleh berpakaian sederhana, sedikit lusuh karena habis memanen sawit, berjalan santai mendekati gerbang utama. Itu adalah Ghaizka.
Belum sempat ia melangkah masuk, dua orang satpam langsung menghadang dengan wajah garang.
"HEH! KEMANA KAU MAU?! INI BUKAN TEMPAT PENGEMIS ATAU ORANG MISKIN! MINGGIR SANA SEBELUM KAMI PUKUL!" teriak salah satunya kasar.
Mereka menatap Ghaizka dengan jijik. Dari penampilannya yang bau tanah dan berpakaian seadanya.
"Aku bukan pengemis," jawab Ghaizka tenang tanpa rasa takut sedikitpun. "Aku datang kemari untuk menyembuhkan anak Tuan Baskara."
Mendengar ucapan Ghaizka itu, bukan hanya satpam, tapi semua orang yang ada di sana langsung tertawa terbahak-bahak, mana mungkin mereka percaya kalau wanita ini datang untuk mengobati.
"Hahaha! Dengar itu kawan! Dia mau menyembuhkan anak Tuan! Hahaha!"
"Dasar gila! Orang pintar dan dukun sakti saja sudah kewalahan dan menyerah, masa kau si buruh sawit ini bisa? Mau cari perhatian atau mau minta uang ya?" cibir salah satu tamu dengan nada sinis.
Bahkan Kang Madi, orang pintar yang tadi disebut-sebut gagal mengobati itu pun maju dan menatap Ghaizka dengan pandangan meremehkan.
"Hei buk, jangan sok tahu dan cari muka di sini. Penyakit anak Tuan itu bukan main-main, itu gangguan makhluk halus kelas tinggi. Ilmu seupritmu mana mungkin bisa mengatasinya. Lebih baik kau pulang sebelum kau sendiri yang kesurupan!" hardiknya sombong.
Ghaizka hanya tersenyum tipis. Ia tidak marah, ia tahu memang begini nasib orang kalau penampilannya biasa saja.
"Bolehkah saya bicara dengan Pak Baskara langsung?" tanya Ghaizka datar. "Biar saya buktikan sendiri. Kalau gagal, saya tidak akan minta bayaran sepeser pun. Tapi kalau berhasil... tolong hargai kemampuan saya."
Tiba-tiba, dari dalam rumah keluar seorang pria paruh baya berwajah lelah dan sedih. Itu adalah Pak Baskara.
"Ada keributan apa ini?" tanyanya lemah.
"Begini Tuan, orang ini mengaku-ngaku bisa menyembuhkan Tuan Muda," lapor satpam.
Pak Baskara menatap Ghaizka dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Ia sudah putus asa. Anaknya semakin hari semakin parah, dokter dan orang pintar sudah tidak ada yang sanggup.
"Biarkan dia mencoba," kata Pak Baskara pelan. "Apa lagi yang harus kita takutkan? Keadaan sudah terburuk begini. Silakan Buk, cobalah apa yang kau bisa," kata Tuan Baskara mempersilahkan.
Semua orang ternganga. "Apa?! Tuan serius?! Biarkan orang asing ini menyentuh anak Tuan?!"
"Sudah saya bilang biarkan! Kalau dia berhasil, saya akan berikan hadiah sebesar apapun yang dia mau!" tegas Pak Baskara.
Ghaizka mengangguk. "Terima kasih, Pak. Tunggu sebentar, saya akan buktikan bahwa ilmu saya bukan main-main."
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...