Sheza diculik ketika usianya 7 tahun, dan bibinya meninggal diduga karena telah menyelamatkannya saat itu. Karena dianggap berhutang nyawa, dia benar-benar harus merelakan tempat dan posisinya digantikan sang sepupu Karen. Kedua orang tuanya mengabaikannya, memprioritaskan Karen.
Bahkan tunangannya Alex, juga melakukan hal yang sama. Hingga malam itu, satu minggu sebelum bertunangan, Sheza melihat Alex dan Karen berciuman di villa mereka, villa yang katanya dibeli Alex untuk Sheza.
Sejak saat itu, Sheza sudah tak berharap lagi pada keluarga dan tunangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Khawatir
Malam harinya, sepulang kerja dan setelah semua pekerjaannya selesai. Alex pun pergi ke kediaman Hadiwinata.
Karen bahkan sudah merias diri dengan menarik supaya Alex meliriknya lagi. Dan sebagai seorang pria, yang memang pernah memiliki malam panjang bersama Karen. Alex bahkan membalas pelukan dari Karen, ketika wanita itu memeluknya setelah membuka pintu.
"Alex, kamu sudah datang. Aku senang kamu datang. Bibi dan aku sudah memasak untukmu!" Karen bergelayut manja di lengan Alex.
"Nak Alex..."
Nella yang juga mendengar dari pelayan, kalau Alex sudah datang segera bergegas ke ruang tamu. Begitu Nella muncul, Alex dengan cepat melepaskan tangan Karen darinya.
"Bibi, sebenarnya bantuan apa yang bibi butuhkan?" tanya Alex.
"Makan malam dulu ya nak, nanti bibi baru ceritakan semuanya!"
Semuanya berjalan ke arah meja makan. Sementara Pras memang sudah memberitahu pada Nella, kalau dia memang tidak bisa pulang cepat, karena ada banyak pekerjaan di perusahaan. Dampak dari gagalnya pertunangan waktu itu dan kedatangan Jendra Alvaro Kenz juga mempengaruhi perusahaan Hadiwinata. Hingga memang mereka mengalami krisis yang cukup besar. Demi menghindari sesuatu yang tidak baik dan tidak diinginkan, Pras harus bekerja lebih keras.
Di meja makan, setelah Alex menghabiskan makanannya. Nella segera menceritakan tentang apa yang terjadi ketika dia dan Karen ingin datang minta maaf ke rumah Sheza.
"Bibi tidak percaya Sheza bisa sampai seperti itu. Nak Alex, tolong bibi nak. Bawa Sheza pulang, kita kurung saja dia. Dia dulunya juga tidak seperti ini, sejak dia pergi dari rumah, jalannya jadi salah kaprah begitu!"
Alex menangkap maksud Nella. Tapi kata-kata menjadi simpanan pria beristri. Membuat Alex sendiri tidak senang.
"Sheza jadi simpanan? bukankah itu artinya dia sudah tidur dengan pria itu?" tanya Alex.
Nella tersentak diam. Sedangkan Karen yang memang sangat ingin menjatuhkan Sheza. Tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Benar kak, pasti dia sudah tidur dengan pria tua itu. Jika tidak, mana mungkin dia diberi rumah, uang yang banyak..."
"Karen!" Nella menyela Karen, bagaimana pun Sheza adalah anaknya.
Karen bicara seperti itu, bukankah sama saja mengatakan kalau Sheza sungguh tidak bermoral. Tidur dengan pria, sebelum dia menikah. Bahkan pria itu adalah suami orang. Itu terdengar nyelekit sebenarnya di hari Nella.
"Bibi, maaf! aku salah bicara!"
"Nak Alex, itu juga belum tentu kan! yang penting bawa Sheza pulang dulu. Kita bisa periksa masalah itu nanti!"
Alex mengangguk paham. Sheza selama ini juga sulit untuk dia sentuh. Dia rasa, mustahil Sheza mau disentuh pria tua yang sudah punya istri.
Alex setuju dengan permintaan Nella.
"Aku akan bawa Sheza kembali ke rumah ini, Bi. Bagaimana pun caranya, tapi setelah aku bawa dia kembali, aku mau langsung menikah dengannya!"
"Alex..." sela Karen yang sangat tidak terima dengan keputusan Alex itu.
Tapi ketika Nella menoleh ke arah Karen. Wanita itu langsung menutup mulutnya rapat.
"Bibi, jangan salah paham. Maksudku, Alex aku dan bibi sangat percaya padamu. Kami yakin kamu bisa membawa Sheza kembali!"
Karen bicara seperti itu, tapi hatinya memekik kesal.
'Kenapa sudah aku jelek-jelekan, Alex masih saja mau menikahi Sheza? aku kesal sekali!'
Nella yang mendengar ucapan Karen, mengangguk senang.
"Iya nak Alex. Lagipula kalian sudah dijodohkan sejak kecil. Tentu saja Sheza akan menjadi istrimu!"
Alex mengangguk dan tersenyum senang. Setelah itu dia pergi dari rumah itu.
Di tempat berbeda, Sheza masih berada di balkon lantai dua rumahnya. Setelah makan malam, Jendra mendapat panggilan telepon. Dan pria itu mengatakan padanya kalau malam ini mungkin tidak akan kembali.
Tapi meskipun begitu, dari balkon tempatnya duduk di sofa single sambil membaca buku. Sheza bisa melihat bagaimana suaminya sangat melindunginya.
Ada banyak pengawal di bawah. Ada yang berjaga di pintu gerbang, di pintu halaman belakang. Dan beberapa berpatroli beberapa jam sekali berkeliling rumah besar itu.
Sheza merasa dirinya sangat dilindungi oleh Jendra. Tapi, setelah menikah dengan pria itu. Dia juga merasa ada yang canggung. Jendra tahu apapun tentang dirinya. Tapi, Sheza tidak tahu apapun tentang Jendra. Rasanya itu kurang adil. Bukan untuk Sheza, tapi untuk Jendra.
Hingga seorang pelayan yang memang sudah mau pamit istirahat, pergi menghampiri Sheza.
"Nyonya, maaf! apa ada yang nyonya butuhkan lagi?" Tanya pelayan wanita itu.
Sheza menggeleng kepalanya.
"Tidak, kamu dan yang lain bisa istirahat!"
"Baik nyonya!" jawab pelayan itu.
Bahkan di rumah besar ini, ada banyak pelayan yang melayani Sheza. Dia sungguh tidak perlu melakukan apapun. Terkadang justru Jendra yang memasak untuknya.
Sheza tersenyum, jika memang Jendra ingin menceritakan semuanya. Suatu saat dia pasti akan menceritakannya pada Sheza.
Beberapa hari berlalu. Sheza cukup cemas, karena Jendra belum juga memberinya kabar. Sudah tiga hari, dan Paul juga Vins tak tampak batang hidungnya. Bertanya pada anak buahnya yang lain, mereka tidak tahu apapun. Mereka hanya tahu melindungi Sheza dan tidak boleh membiarkan siapapun masuk ke.pagar rumah besar itu.
Sheza mulai khawatir. Apalagi dihubungi juga nomor Jendra tidak bisa.
"Dia kemana?" gumam Sheza cemas.
Sheza meraih tasnya. Dia tidak tahu apapun tentang suaminya. Dia sendiri tidak tahu harus mencari Jendra kemana. Tapi, seingatnya dokter yang malam itu merawat Jendra bekerja di rumah sakit besar di kota ini.
Ketika Sheza turun dan menuju ke arah mobil. Anak buah Jendra menghampirinya.
"Nyonya, tuan bilang nyonya tidak boleh..."
"Aku mau keluar, minggir!"
"Nyonya...!"
Sheza melotot, dan anak buah Jendra itu sudah berani melarang. Pria itu mundur, sambil memberikan isyarat pada yang lain untuk siap-siap mengikuti Sheza.
Sheza mengendarai mobilnya itu menuju ke rumah sakit tempat Devan bekerja. Anak buah Jendra, segera mengikuti dari belakang.
"Jendra, aku harap kamu baik-baik saja" gumamnya sangat khawatir.
Bagaimana pun juga, meski Sheza tadinya sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada Jendra. Namun semua yang dilakukan oleh pria itu, membuatnya merasa tak akan sanggup kalau terjadi sesuatu pada Jendra.
***
Bersambung...
Lebih merasa gak enakan seolah-olah punya hutang budi, dan memperlakukan anak sendiri bagai orang lain..
Denial dengan ucapan anak sendiri, dan lebih percaya dengan omongan orang lain.. 🤦🏻♀️
ditendang sambil duduk katanya 😂😂
Sedangkan aku aja pernah ketimpa paksu sewaktu masih berat 88kg, mataku melotot seperti mau keluar.. Astaghfirullah..🤣🤣
Kau orang tua nya..
Kau ibunya, yg seharusnya lebih paham akan karakter anaknya..
Seharusnya kau mencari tau sendiri dulu yg sebenarnya..
Kau bisa menghubungi nya, tanpa harus berkoar-koar dulu dengan siapa²..
Bahkan dengan Karen pun, kau harus menyimpan rahasia & fakta..
Agar kesalahan pahaman yg terjadi ketemu jawabannya..
Agar kau bisa melihat sendiri seperti apa Karen & seperti apa Sheza..
Namun kau berbeda, kau justru memilih buta untuk mencari fakta..
Kini sesal mu pun tiada guna..
Kau pun telah kehilangan putri terbaik mu, dan menantu terkaya..
Rasakan kurma pahit buat kalian semua..
Untuk kau Pras, Karen, dan Nella..
Dan kau Pras, saham mu pada perusahaan akan menyusul kejatuhannya..😏
Bukan kah kau benar² wanita licik & menjijikkan, benar kan..? 🤣🤣
Gak usah merasa jd wanita terzolimi kau sebagai perempuan..
Sebab hanya hati yg kotor, yg hanya melihat mu yg jd korban..
Mereka yg bisa melihat wujud asli mu, pasti tau bahwa kelakuan mu bagai setan..
Memanipulasi, menghasut, bahkan tega playing victim asal terwujud keinginan..
Kau menghalalkan segala cara untuk mencari simpatisan..
Agar terlihat seperti anak baik, padahal akhlaknya bagai siluman.. 😏