Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.
Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.
Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?
Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Telepon Posesif
"Eh? Calon suami?" tanya Bu Melati yang mendengar perkenalan Angkasa kepada Sukma. Angkasa, lagi-lagi, tersenyum tipis.
"Takdir terkadang memang lucu ya, Buk?" kata Angkasa lalu kembali ke meja dimana dia meletakkan plastik berisi lima box kue spekuk.
Bu Melati menatap Nia seolah meminta penjelasan. Nia tersenyum kikuk.
"Ayok, kita makan kue spekuk dulu. Kalian pasti laper kan abis belajar?" kata Nia sambil sibuk membuka box kue spekuk dan membagikannya pada anak-anak panti yang mengerumuninya.
Angkasa menatap Nia sambil ikut membagikan kue spekuk pada anak-anak. Bu Melati menatap Nia dan Angaksa bergantian. Keduanya terlihat tak seakrab dulu. Ada jarak yang terasa di antara keduanya.
"Bukankah kalian selama ini selalu berkabar?" tanya Bu Melati pada Nia saat dirinya berdiri di dekat Nia.
"Eh?"
"Kamu dan Angkasa. Kenapa terkesan asing?" tanya Bu Melati. Nia menatap Angkasa yang masih sibuk membagikan kue spekuk.
"Kan Nia tadi udah bilang, Buk. Nia nggak bisa menghubunginya lalu kehilangan kontak. Ternyata dia dikirim sekolah ke Jepang," jawab Nia.
"Dan kami juga baru bertemu lagi —secara kebetulan— di jalan," lanjut Nia.
Bu Melati manggut-manggut.
"Tuan Mahendra selalu mengingatkan Ibuk untuk tidak mengatakan tentang Angkasa pada siapapun," kata Bu Melati. Nia mengerutkan alisnya.
"Ibuk bilang, kalau Ibuk bisa menjaga rahasia. Tapi, Ibuk nggak tau gimana dengan anak-anak yang tumbuh bersama Angkasa saat itu," lanjut Bu Melati.
"Mengapa mereka menutupi fakta, Buk?" tanya Nia. Bu Melati menggeleng.
"Awalnya Ibuk kira mereka punya niat jahat. Tapi melihat Tuan Mahendra yang sering berkunjung dan sesekali main bersama anak-anak, membuat pikiran buruk itu menghilang," kata Bu Melati.
"Dan sekarang Ibuk melihat sendiri, Angkasa tumbuh dengan sangat baik," lanjut Bu Melati sambil menatap Angkasa.
Nia ikut menatap Angkasa. Kali ini dia melihat tawa lebar Angkasa saat bercanda bersama anak-anak. Dering ponsel Nia mengejutkan Nia. Angkasa melirik ke arah Nia yang mengangkat telepon sambil berjalan keluar menuju teras samping rumah panti.
"Ya, Kak?"
"Kamu dimana?" suara Bayu terdengar khawatir.
"Aku di panti ini. Kenapa, Kak?"
"Hah?! Di panti? Sama siapa? Kakak jemput,"
Nia membeku. Bukan karena Bayu akan menjemputnya, melainkan karena Angkasa tiba-tiba mendekatkan telinganya ke telinga Nia untuk menguping teleponnya. Angkasa mengambil ponsel Nia. Nia hanya mematung bagai terhipnotis oleh keberadaan Angkasa yang begitu dekat.
"Nia sama aku. Nggak perlu dijemput. Dia nginep di panti malam ini," kata Angkasa pada Bayu lalu memutuskan sambungan teleponnya. Nia tersadar.
"Eh? Nginep?" tanya Nia.
"Hm," jawab Angkasa sambil menyodorkan ponsel Nia kembali.
"Kenapa?" tanya Angkasa yang melihat reaksi cemas Nia.
"Bukannya tadi bilang cuma sebentar?" tanya Nia heran dengan perubahan rencana Angkasa yang tiba-tiba.
"Besok tanggal merah. Aku yakin kampus se-Indonesia libur," kata Angkasa kembali menyodorkan ponsel Nia.
"Eh? Iya kah?" tanya Nia sambil meraih ponselnya dan melihat kalender di dalamnya.
"Pantesan," kata Nia.
"Pantesan?" tanya Angkasa.
"Eh? Oh! Itu. Pantesan Kak Bayu telepon. Dia pasti udah di kos ku, mau jemput aku buat pulang ke rumah," kata Nia.
"Lagian, dari rumah kamu ke kampus cuma tiga puluh menit naik mobil. Ngapain ngekos?" tanya Angkasa. Nia terdiam.
Nia tidak mungkin mengatakan pada Angkasa alasan yang sebenarnya mengapa dia memilih tinggal di kos daripada di rumah.
Kini ponsel Angkasa yang berdering. Angkasa menatap layar ponselnya dengan tatapan datar.
"Ya, Ma?"
"Kamu kemana sih? Nggak pamit Mama, nggak pamit Pak Ujang," kata Nyonya Mahendra. Ada kekhawatiran dalam nada suaranya.
"Angkasa ke panti, Ma,"
"Hah?! Panti?! Cepet pu..."
"Sama Nia," potong Angkasa.
"Sama Nia? Sayang, nggak ada orang yang..."
"Tapi Nia tau, Ma. Dari awal Nia ketemu Angkasa di acara jamuan itu," lagi-lagi Angkasa memotong kalimat Nyonya Mahendra.
"Nia tau? Jangan bilang..."
"Memang, Ma. Kami satu panti,"
"Serius? Mana Nia? Mama pengen ngomong. Eh, ganti video call dulu. Mama pengen liat Nia," kata Nyonya Mahendra.
"Nyonya Besar mau ngomong," kata Angkasa sambil menyodorkan ponselnya.
"Eh?"
"Calon mama mertua kamu mau ngomong," ulang Angkasa dengan nada dingin. Pipi Nia merah seketika. Nia meraih ponsel Angkasa.
"Niaaa," sapa Nyonya Mahendra dengan ceria seperti biasa.
"Ya, Tante," kata Nia.
"Kamu beneran ke panti sama Angkasa?" tanya Nyonya Mahendra.
"Iya, Tante. Maaf, tadi Nia yang ngajak. Soalnya udah deket sama panti, jadi pengen mampir," kata Nia.
"Udah deket? Emang kalian darimana?" tanya Nyonya Mahendra.
"Ngedate, Ma," kata Angkasa yang tiba-tiba sudah berdiri sangat dekat di samping Nia. Nia terkejut.
"Aduuuh... Kamu ini. Lain kali bilang kalo mau ngedate sama Nia," kata Nyonya Mahendra.
"Nggak. Ntar Mama ikut," kata Angkasa datar.
"Itu calon isteri Mama yang nyariin ya. Udah kamu minggir. Mama mau ngomong sama Nia," kata Nyonya Mahendra gemas. Nia tersenyum melihat tingkah Angkasa dan Nyonya Mahendra.
"Nia, besok main ke rumah ya? Mama mau ngobrol banyak," kata Nyonya Mahendra.
"Eh? I-iya, Tante,"
"Panggil Mama aja sekarang. Kan udah jadi calon mantu Mama," kata Nyonya Mahendra.
"Eh?"
"Mana tadi Angkasa? Mama mau ngomong,"
Nia menyodorkan ponsel ke arah Angkasa.
"Kamu pulangnya jangan malem-malem. Kasian Nia,"
"Angkasa sama Nia nginep sini, Ma. Besok Angkasa bawa Nia ke rumah," kata Angkasa. Nia menatap Angkasa yang menatap layar ponselnya.
"Nginep? Tapi bener ya kamu besok pulang," kata Nyonya Mahendra. Ada nada khawatir dalam suaranya.
"Angkasa janji. Angkasa pulang besok," kata Angkasa, serius.
"Bawa Nia?"
"Bawa Nia,"
"Oke. Have fun ya!"
Panggilan video terputus. Angkasa menatap Nia.
"Besok kamu ikut aku pulang dulu, baru aku anter ke rumah," kata Angkasa lalu berlalu membaur dengan anak-anak panti.
Nia menatap ke langit malam. Hari itu cerah. Banyak bintang berkedip seolah melambai pada Nia dari langit. Nia tersenyum lalu menoleh ke arah Angkasa yang sedang asyik bercengkerama bersama anak-anak panti.
Ada banyak hal yang Nia sembunyikan dari Angkasa. Nia yakin, Angkasa pun mempunyai satu dua hal yang dia rahasiakan. Namun, bisa kembali bertemu dengan Angkasa sudah cukup bagi Nia. Meski Angkasa kini telah jauh berubah, Nia cukup bahagia Angkasa tumbuh dalam keluarga yang —menurut Nia— hangat.
Nia kembali masuk ke panti. Anak-anak menghambur padanya seketika. Banyak yang meminta Nia menggambar. Nia tertawa lepas. Angkasa memperhatikannya. Senyum Nia sekarang tak seperti senyum Nia dulu yang lepas dan ceria. Angkasa tahu, ada sesuatu yang Nia sembunyikan dalam senyum itu.
'Ada luka. Aku tau. Sepertinya kamu terluka cukup dalam hingga membuat senyum mu berubah jadi kaku dan... dingin,'
***