"Katanya, sebelum semua ilmu nya lepas.. nenek nggak akan bisa mati."
"Jadi sekarang nenek dimana?"
"Nenekmu sedang menjalani semua hukuman sebelum akhir nya dia mati. Selama 40 hari, dia akan dalam pengaruh Iblis."
"Tapi kan nenek udah meninggal!?"
Sebuah ilmu tua membuat seorang nenek mengalami hal di luar nalar ketika akan mendapatkan ajalnya.
Elma, gadis biasa yang baru saja datang dari Jakarta itu harus menelan bulat - bulat atas semua rentetan kejadian tak masuk akal yang dia alami selama mencari jasad nenek nya, dalam waktu 40 hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS.18. Sakaratul maut nenek.
Setelah kebingungan itu, Elma di beri segelas air yang sudah di doakan oleh pak Ustad, Elma pun meminum nya meski entah kenapa rasa air nya aneh.
"Kok pait, pak Ustad?" Tanya Elma, pak Ustad tersenyum.
"Ndak apa - apa, pelan pelan minum lagi, habiskan yo." Ucap pak Ustad, Elma hanya mengangguk saja.
Elma meminum lagi, dia makin keheranan karena rasa air nya benar - benar pahit. Padahal jelas - jelas itu hanya air putih biasa yang sudah di doakan.
"Nanti di bersihkan dulu ya, mbak. Mandi pake air yang sudah di doakan, nanti ibunya njenengan (kamu) akan bantu." Ucap pak Ustad, Elma mengangguk.
"Ayo kak." Ajak ibunya, setelah segelas air yang Elma pegang habis.
Elma pun bangun, dia merasa seluruh tubuh nya sakit terutama kepala dan telapak tangan nya. Baru saja dia keluar dari rumah sakit sekarang sudah mendapat luka yang baru.
Elma lalu di antar ke kamarnya, ibunya menyiapkan air untuk Elma mandi dan kmeudian Elma yang penasaran pun bertanya..
"Ma, sebener nya tadi aku kenapa?" Tanya Elma, ibunya sekilas melirik Elma lalu kembali menyiapkan baju Elma.
"Kamu tadi kerasukan, kak. Kata pak Ustad yang masuk ke badan kamu itu sosoknya kuat." Ucap ibunya Elma.
"Tadi kamu.."
Ibunya Elma lalu menceritakan apa yang sebenar nya terjadi di alam nyata ketika Elma sedang kerasukan. Lain dengan yang Elma rasakan di pengelihatan nya, di alam nyata Elma yang semula tangan nya tidak bisa lepas dari nenek nya tiba - tiba terlepas. Tian pikir itu Elma, sampai ketika Elma menarik paksa tangan nya dari cekalan tangan nenek.. Barulah Tian sadar, Elma kesurupan.
Elma tersenyum, tapi entah kenapa senyum nya seolah mengisyaratkan sesuatu. Elma lalu bangun dan berjalan masuk ke arah dapur, Elma berlari tanpa bisa siapapun sempat mencegah nya, dan kemudian Elma menggores pisau yang dia pegang ke telapak tangan nya sambil meracau.
Tentu semua orang di sana pun menjadi panik, panik karena darah Elma sudah menetes di lantai tapi Elma malah cekikian. Untung nya di saat itu abah Surip dan pak Ustad bisa datang dan kemudian menolong Elma. Setelah mendengar itu, Elma benar - benar terkejut..
"Aku pikir tadi aku cuma lagi mimpi.." Gumam Elma.
"Ma, tadi tuh aku kayak mimpi.. mimpi in nenek. Tapi nenek di mimpi aku masih muda, aku liat nenek duduk di depan sesajen terus gores tangan nya sendiri pake tusuk konde." Ucap Elma, ibunya tertegun.
"Nggak tau nya ternyata di sini aku kerasukan dan malah aku yang ngelukain tangan aku sendiri." Imbuh Elma..
"Nanti kamu ceritakan ulang ya kak, di depan pak Ustad dan abah Surip, sekarang kamu mandi." Ucap ibunya Elma, karena ibunya merasa ada sesuatu yang terkoneksi antara mimpinya Elma dengan momen saat Elma kerasukan.
Akhirnya Elma pun mandi, ibunya menunggu Elma di dalam kamar sementara Elma mandi. Tak lama Elma pun keluar, dan ibunya membantu Elma berpakaian karena luka di telapak tangan Elma dan di kepala nya.
Setelah sudah kembali rapi, Elma lalu kembali keluar.. Barulah dia menyadari nenek nya tidak ada di ruang tengah..
"Nenek mana, bang?" Tanya Elma pada Tian.
"Nenek di ruang depan." Ucap Tian, sambil buru - buru membawa air.
Elma yang melihat itu pun keheranan, kenapa Tian sampai lari - lari pikirnya. Elma pun menyusul dan ternyata di sana terlihat nenek sedang kembali mengeluarkan suara ngorok nya dan kejang - kejang.
"Hhhh!!! Khhhh!!"
"Ibu.. Ibu.. Istigfar dalam hati buk, ikuti aku ya buk.."
Di sana bude sedang memangku kepala nenek Tri yang entah kenapa seperti kesakitan, bude berulang kali menuntun nenek mengucap syahadat.. Tapi nenek sama sekali tidak bisa mengucap apa - apa, hanya terdengar suara ngorok saja.
Elma mendekat, dia menggenggam tangan nenek nya dan saat itu pula adiknya Elma.. Salsa, dia menangis.
"Aaa!! Mama! Mama! itu apa, mama!" Salsa menangis sambil menunjuk ke arah luar pintu.
"Mana? Nggak ada apa - apa, sayang." Ucap ibunya Elma, tapi Salsa makin histeris.
"Mama itu!! Itu apa gede banget, ma! Dia serem, matanya merah, ma!" Ucap Salsa, dia sembunyi di balik tubuh ibunya.
"Kkkhhh!!!"
"Kkkkhhh!"
Suasana di sana semakin kian menegang, tangisan Salsa, nenek yang kejang - kejang dan terus mengeluarkan suara ngorok, chaos sekali.
"Dalam hati yuk bu, ikuti aku bu.. Ashadu.."
Bude masih membantu nenek Tri, Elma juga ikut membantu nenek nya dengan doa - doa. Tian, pak Ustad dan abah Surip ikut mengiringi juga membantu berdoa.
"Aaaaaa!!!! Aaaaaaa!!!" Salsa menjerit ketakutan sampai membuat ibunya ikut panik.
"Jangan takut sayang, nggak ada apa - apa." Ucap ibunya.
"Ada maaa!! Ituuuu!!! Dia mau masuk, dia mau cekik nenek!!" Teriak Salsa histeris sambil menangis, seketika ibunya tertegun.
"Lanjut mbak, tuntun ibunya sampean (kamu) lagi." Ucap abah Surip pada bude.
"AAAA!!!"
"KHhhh!!"
Saat bersamaan Teriakan Salsa dan suara ngorok nenek bersamaan, dan saat itu entah kenapa Elma merasakan mual yang luar biasa. Elma yang semula sedang ikut berdoa untuk mendoakan nenek nya tiba - tiba mengalami gejolak yang tidak bisa di tahan lagi, Elma pun..
"HOEK!!"
"HOEKK!!"
Elma muntah, tapi bukan muntah makanan atau apapun, dia muntah darah. Elma sampai syok melihat dirinya muntah darah, dia mengusap bibir nya dan tangan nya kini berlumur darah.
"HOOEKK!!" Elma kembali memuntahkan darah yang kali ini lebih kental.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.."
Elma terkejut mendengar pak Ustad mengucapkan itu, dia menoleh melihat ke arah nenek nya dan ternyata nenek nya sudah tidak bergerak dengan mulut terbuka dan mata yang membelalak.
Seketika semua orang di sana diam, kecuali Salsa yang di bawa masuk ke dalam kamar oleh ibunya. Elma menangis, tapi tanpa suara. Meski sebenar nya dia sedih tapi sejujur nya dia juga lega karena akhir nya nenek nya bisa pergi setelah sekian lama dalam kondisi itu.
"Hiks! Hiks! Hiks!" Bude nya Elma menangis karena dia yang memeluk jasad nenek.
"Sudah mau malam dan kondisi di luar juga sedang hujan, pemakaman ibunya njenengan (anda) mungkin di lakukan besok." Ucap abah Surip.
"Bah, pak Ustad, untuk kali ini aku minta tolong kalian temani kami di sini, apa boleh?" Tanya Elma spontan.
Elma takut kejadian terakhir kali kembali terjadi pada mereka, kejadian ketika nenek nya di nyatakan meninggal tapi akhir nya pakde nya yang meninggal. Dan seolah mengetahui kekhawatiran Elma, abah Surip dan pak Ustad pun mengangguk.
"Bang, malem ini nggak ada yang boleh pergi kemanapun. Sedia lilin atau penerangan apapun, supaya kalo mati lampu lagi kita nggak harus nyari - nyari lilin." Ucap Elma, Tian mengangguk.
'Malem ini, nggak boleh ada ganti nyawa lagi.' Batin Elma.
BERSAMBUNG!