Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 - Sedan Hitam dan Markas Darurat di Tirta Kencana
Sedan hitam mewah milik keluarga Anta melaju mulus membelah kemacetan sore kota Yogyakerto. Kaca film yang gelap gulita menyembunyikan dua remaja di bangku belakang dari pandangan dunia luar. Di dalam kabin yang kedap suara dan sejuk oleh embusan AC, keheningan justru terasa sangat memekakkan telinga.
Rama menatap lurus ke depan, pura-pura memperhatikan punggung jok Pak Maman. Namun, seluruh kesadarannya terpusat pada telapak tangannya yang masih bertaut erat dengan tangan mungil Nayla. Awalnya, genggaman itu adalah bentuk refleks protektif untuk menenangkan ketakutan gadis itu. Tapi sekarang, sepuluh menit berlalu sejak mereka meninggalkan gerbang SMA Taruna Citra, dan tak satu pun dari mereka yang berniat melepaskan tautan tersebut.
Ada kehangatan aneh yang menjalar dari jemari Nayla, mengalir langsung ke dada Rama, meredakan amarah dan kepanikan yang sedari tadi mendidih di otaknya.
Nayla berdehem pelan, memecah kecanggungan yang mulai membuat pipinya terasa panas. Ia melirik tangan mereka yang bertautan, lalu menatap profil samping wajah Rama.
"Ehem. Bos, ini tangan gue mau dipegangin terus sampai besok pagi atau gimana? Nggak pegal apa?" goda Nayla dengan suara pelan, berusaha menutupi nada salah tingkahnya dengan kejahilan andalannya.
Rama tersentak pelan. Ego laki-lakinya langsung meronta. Dengan gerakan agak kaku, ia melepaskan genggaman itu dan buru-buru memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana abu-abunya. Ia memalingkan wajah menatap jendela di sisi kanannya, sementara telinganya terasa memerah hebat.
"G-gue cuma mastiin lo nggak gemetaran ketakutan kayak kemarin," kilah Rama cepat, suaranya dibuat sedatar dan secuek mungkin. "Lagian tangan lo dingin banget, kayak habis megang es batu. Kurang gizi lo ya?"
Nayla mendengus sebal, memukul lengan Rama cukup keras hingga cowok itu mengaduh pelan. "Enak aja! Ini karena AC mobil lo yang kelewat dingin, tahu! Dasar babu nggak peka. Udah bagus majikannya mau dipinjemin tangan buat pegangan."
Rama terkekeh pelan, tawa yang seketika mencairkan suasana tegang di antara mereka. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menepuk pundak sopirnya. "Pak Maman, nanti berhentinya di depan minimarket simpang tiga Tirta Kencana aja ya. Teman saya mau turun di sana."
"Siap, Mas Rama," jawab Pak Maman patuh.
"Lo yakin turun di sana aman? Mau gue antar jalan kaki sampai depan pagar rumah lo sekalian?" tawar Rama, kembali menatap Nayla dengan raut khawatir.
Nayla menggeleng tegas. "Nggak usah lebay. Minimarket itu ramai, terang, dan jaraknya cuma beberapa meter dari blok rumah gue. Kalau lo nganterin gue sampai depan pagar, nanti emak gue heboh ngelihat anak gadisnya diantar pulang pakai mobil mewah. Bisa-bisa lo disidang dan ditanya bibit bebet bobot."
Membayangkan dirinya disidang oleh ibu Nayla membuat Rama bergidik ngeri. Ia sudah cukup pusing menghadapi musuh di aspal, ia belum siap menghadapi interogasi calon mertua—eh, maksudnya, ibu dari majikannya.
Mobil akhirnya menepi dengan mulus di depan minimarket simpang tiga. Nayla membuka pintu mobil, namun sebelum melangkah keluar, gadis itu menoleh kembali ke arah Rama. Sorot matanya kembali melembut, menyiratkan kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan.
"Lo... hati-hati, Ram. Jangan kepancing emosi, dan jangan nekat ke markas sendirian. Motor lo yang di sekolah biarin aja dulu, besok baru kita pikirin cara ngambilnya," pesan Nayla, nadanya terdengar seperti seorang gadis yang sedang menasihati preman kesayangannya.
Rama mengangguk, membalas tatapan itu dengan senyum tipis yang menenangkan. "Gue tahu apa yang harus gue lakuin. Lo masuk rumah, langsung kunci pintu, dan jangan keluyuran keluar biarpun cuma mau beli seblak. Kalau ada apa-apa, langsung telepon gue."
"Siap, Bos Besar," Nayla memberikan hormat ala militer dengan jenaka, lalu menutup pintu mobil.
Rama menatap punggung gadis berjilbab ungu itu dari balik kaca jendela sampai Nayla benar-benar menghilang di belokan blok perumahannya. Setelah memastikan gadis itu aman, raut wajah Rama berubah drastis. Senyumnya lenyap, digantikan oleh tatapan sedingin es.
"Langsung pulang ke Wana Asri, Pak," perintah Rama dengan suara berat.
Sesampainya di rumah megahnya yang sepi, Rama tidak membuang waktu. Kedua orang tuanya sedang berada di luar kota menghadiri acara kolega, menyisakan kebebasan mutlak bagi Rama malam ini. Ia masuk ke kamarnya, melepas seragam putih abunya, dan langsung menggantinya dengan atribut kebesarannya. Kaus oblong hitam, celana jin gelap, sepatu bot yang sedikit aus, dan tentu saja, jaket kulit hitam kebanggaannya.
Ia meraih ponsel khususnya dan mendial nomor Galang.
"Lang, jemput gue di belakang tembok komplek sekarang. Bawa motor lo yang paling kencang. Kita kumpul, tapi jangan di Sakti Jaya," ucap Rama tanpa basa-basi begitu panggilan tersambung.
"Terus kita kumpul di mana, Bos?" tanya Galang dari seberang, terdengar sedikit bingung.
"Di pabrik semen tua arah utara Wana Asri. Markas darurat. Gue nggak mau ngambil risiko Kobra Besi ngirim lebih banyak anjing pelacak ke bengkel kita. Suruh anak-anak inti aja yang kumpul, jangan bawa rombongan sirkus. Malam ini kita susun strategi."
Setengah jam kemudian, deru mesin motor Galang sudah terdengar di balik tembok tinggi perumahan elit Rama. Dengan kelincahan yang sudah terlatih, Rama memanjat tembok dan melompat turun dengan mulus, langsung mendarat di jok belakang motor Galang. Keduanya melesat membelah angin malam Yogyakerto, menuju ke sebuah pabrik semen terbengkalai yang letaknya jauh dari pemukiman warga.
Pabrik tua itu gelap, berdebu, dan dipenuhi coretan grafiti usang. Hanya ada penerangan dari lampu senter dan beberapa batang lilin yang dinyalakan di atas tumpukan bata ringan. Di sana, Bagas, Cakra, dan lima anggota inti The Ghost lainnya sudah menunggu dengan wajah tegang.
Begitu Rama melangkah masuk, aura kepemimpinannya langsung mendominasi ruangan berdebu itu. Langkahnya mantap, jaket kulitnya berkibar pelan tertiup angin malam yang masuk dari celah jendela yang pecah.
"Gimana laporannya, Gas? Yakin mereka anak buah Tora?" Rama langsung membuka suara, berdiri di tengah-tengah lingkaran pasukannya.
Bagas mengangguk cepat. "Yakin seratus persen, Bos. Tiga motor sport tanpa plat nomor. Jaket mereka emang dibalik jadi hitam polos, tapi gue sempat lihat sekilas ritsleting jaket salah satu dari mereka. Ada gantungan kunci lambang kobra merah. Mereka nongkrong di warung kopi depan gerbang belakang sekolah lo dari jam istirahat sampai bel pulang bunyi."
Rama mengusap rahangnya yang mengeras. "Mereka nyari motor gue. Tora tahu gue parkir di sana. Dia mau nyergap gue pas gue keluar gerbang sendirian."
"Bangsat bener si Tora," umpat Galang, menendang kerikil di tanah dengan kasar. "Dia udah nggak peduli sama aturan jalanan. Ngincer lo di area sekolah itu namanya ngajak perang terbuka, Ram! Kalau kita diam aja, mereka bakal mikir The Ghost udah ciut nyalinya!"
"Siapa bilang kita bakal diam aja?" suara Rama merendah, terdengar sangat berbahaya. Matanya memantulkan cahaya lilin, membuat kilat amarahnya semakin nyata. "Tapi kita nggak bakal nyerang markas mereka kayak preman kampung yang nggak punya otak. Tora ngirim anjingnya ke tempat gue, jadi kita tangkap anjing-anjing itu hidup-hidup."
Anak-anak The Ghost saling berpandangan, seringai buas mulai terbentuk di wajah mereka. Kalau bos mereka sudah merencanakan sesuatu, hasilnya pasti selalu epik.
"Besok, gue nggak bakal bawa mobil jemputan. Gue bakal keluar dari gerbang belakang pakai motor gue yang masih ada di parkiran sekolah," jelas Rama, mulai membeberkan strateginya. "Gue bakal mancing mereka buat ngikutin gue. Arahin mereka ke jalur sepi dekat kawasan industri yang belum jadi. Di sana, kalian semua standby bawa pasukan. Begitu mereka masuk ke jalur itu, tutup jalan depan dan belakang. Kita jepit mereka."
"Terus, Bos? Kita abisin di tempat?" tanya Cakra bersemangat.
Rama menggeleng pelan. "Nggak. Kita interogasi. Gue mau tahu seberapa banyak informasi yang udah Tora dapat soal sekolah gue. Setelah itu, kita kirim mereka balik ke Tora dalam keadaan hancur lebur, bareng pesan dari The Ghost. Biar Tora tahu, kalau dia berani nyentuh area siang gue lagi, gue bakal ngancurin seluruh sisa kerajaannya di aspal."
Sorak pelan dan tepukan tangan menggema di pabrik tua itu. Rencana yang bersih, brutal, dan tepat sasaran.
Di tengah diskusi yang semakin memanas mengenai pembagian posisi penyergapan besok, benda pipih di saku dalam jaket kulit Rama bergetar pelan. Hanya ada satu orang yang memiliki nomor tersebut dan berani menghubunginya di jam-jam rawan seperti ini.
Rama melipir sedikit dari kerumunan, berjalan ke arah jendela yang pecah sambil mengeluarkan ponselnya. Ada satu pesan masuk dari aplikasi chat.
Nayla (Majikan Rese): Woy preman. Udah makan belum lo? Awas aja kalau besok lo sakit gara-gara begadang ngurusin geng lo itu, tugas drama kita bagian penutupnya belum kelar ngetik. Oh ya, thanks ya tumpangannya tadi sore. Kapan-kapan gue mau numpang lagi kalau AC mobilnya udah lo benerin biar nggak bikin beku.
Rama membaca deretan kalimat ketus namun penuh perhatian itu berulang-ulang. Di tengah pabrik berdebu, di kelilingi oleh berandalan yang siap bertaruh nyawa untuknya, sebuah senyum yang sangat lembut dan tulus terbit di wajah Rama.
Dunia gelap yang selama ini menjadi satu-satunya tempat pelariannya, kini terasa berbeda. Dulu, ia bertarung di jalanan hanya untuk membuktikan eksistensi dan memberontak pada ekspektasi ayahnya. Ia tak peduli jika ia pulang dengan tulang patah atau tubuh memar, karena tak ada yang benar-benar peduli pada kondisi fisiknya.
Namun kini, setiap kali ia melangkah ke aspal, ada sepasang mata bulat milik gadis cerewet yang selalu mengingatkannya untuk kembali pulang dengan selamat. Ada seseorang yang mengomelinya jika ia terluka. Ada Nayla.
Rama mengetik balasan dengan ibu jarinya yang masih sedikit memar.
Rama: Bawel. Lo tidur sana. Besok pagi gue beliin bubur ayam yang porsinya dobel biar lo diam. Dan soal mobil, besok gue suruh sopir gue bawa selimut tebal khusus buat majikan.
Setelah menekan tombol kirim, Rama memasukkan kembali ponselnya. Ia menarik napas panjang, menghirup udara malam yang dingin. Ia berbalik, kembali menghadapi pasukannya dengan tatapan yang kini jauh lebih mematikan dari sebelumnya.
"Persiapkan mesin dan mental kalian buat besok sore," perintah Rama dengan suara menggelegar, membakar semangat anak-anak The Ghost. "Besok, kita ajarin anjing-anjing Kobra Besi tata krama jalanan yang sebenarnya!".