NovelToon NovelToon
Mahendra'S Possessive Love

Mahendra'S Possessive Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:720
Nilai: 5
Nama Author: Sonya_860

Dunia akan hancur ketika kita tidak menemukan pemilik hati yang sebenarnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonya_860, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

​"Hay best friend kuhh, cantik kuhh," Sapa Karlota yang duduk di dekat pintu masuk ke kelas dengan tersenyum lebar melihat ke arah Ziva.

​Ziva menyergitkan alisnya ada apa dengan bocah ini? "Ngapain lo senyum - senyum gitu? Kesambet lo? " Tanya Ziva,

​"Ya kali Ziva gue kesambet" Kesal Karlota merengut kesal,

​"Alah Ziv, Karlota nggak mungkin kesambet pada nggak mau tuh setan ngerasukin tubuh Karlota yang ada tuh Setan sebelum ngerasukin tubuh Karlota udah di buat kena mental duluan hahaha" Sahut Daniel dari belakang,

​"Sialan lo kudanil! " Daniel hanya acuh dan kembali memainkan game di ponselnya.

​"Ziv, nanti anterin gue ke mall yuk gue mau beli make up nih, make up gue udah pada kosong momplong nggak ada isinya ya ya ya?? " Bujuk Karlota dengan senyum.

​"Sorry Lot gue nggak bisa, lo kan tau sendiri gue pulang sekolah langsung ke Cafe" Tolak Ziva dengan tak enak hati, sebenarnya dirinya Oke Oke saja untuk menemani Karlota ke mall tapi apa daya, dirinya juga punya pekerjaan lain.

​Karlota mendesah lesu, " Ouh iya lo kan harus ke Cafe yah, yaudah hari minggu aja gimana lo bisa kan? Kan minggu lo libur juga pasti bisa dong? " Tak patah semangat Karlota kembali menanyakan,

​"Iya, kalau weekend gue bisa gue juga libur kerja. "

​Karlota tersenyum antusias akhirnya ada yang menemani dirinya di mall " Oke, nanti gue hubungin lo yah "

​"Iya" Sahut Ziva, dan dirinya kembali melangkahkan kakinya menuju bangku dimana dirinya duduk, Ziva menelungkupkan kepalanya di lipatan kedua lengan tangannya di atas meja. Jujur dirinya masih ngantuk dan butuh tidur sejenak.

​"Lot nanti bangunin kalau udah bell, " Ucap Ziva pada Karlota dan di balas acungan jempol oleh Karlota.

​"Shit! Lo demam."

​Tanpa basa-basi, Mahendra langsung menggendong Ziva ala bridal style menuju UKS.

​"Turunin gue, brengsek!" Sentak Ziva.

​"Gak."

​"Gue bisa jalan sendiri." Mahendra tak menjawab perkataan Ziva, ia fokus membawa gadisnya ke ruang UKS.

​Sesampainya disana, ia membaringkan tubuh Ziva diatas brankar yang tersedia disana.

​"Penjaga!" Teriak Mahendra memanggil penjaga yang seharusnya ada di UKS, tetapi tak ada yang menemuinya satu pun.

​"Gak usah teriak teriak, nggak bakal ada yang kesini juga." Sahut Ziva berusaha duduk bersandar dikepala brankar.

​"Ngapain sih duduk sayang?! Tiduran aja." Ketus Mahendra memegang kedua bahu Ziva.

​"Suka suka gue lah, gue pengennya duduk." Tegas Ziva menyingkirkan tangan Mahendra.

​Mahendra menatap tajam Ziva. "Bentar kamu tunggu sini, aku ambil kompresan dulu."

​Ziva memutar bola mata malas, ia mengambil handphonenya dan menjawab pesan yang baru baru ini masuk.

​"Letakin hp nya sayang, mau aku kompres dulu." Titah Mahendra membawa sebungkus obat penurun demam bayi di tangannya.

​Ziva melirik kompresan yang dibawa oleh Mahendra, matanya melotot apa apaan ini? "Dih, lo pikir gue bayi?" Sinis Ziva.

​Mahendra mengambil handphone Ziva. "Iya kamu bayi, Bayi gue ah lebih tepatnya bayinya Mahendra. " Ucap Mahendra sambil tersenyum manis.

​"Apa sih, garing tau gak? Sini balikin hp gue."

​"No no no, pakai ini dulu, bayi." Bian membuka bungkus kompresannya.

​"Gak usah panggil kek gitu, geli tau nggak. Lagian gue juga bukan bayi, dan satu lagi gue nggak sakit. " Ketus Ziva bersedekap dada.

​"Oh ya? Kalau nggak sakit kenapa tubuhnya bisa panas gini sayang? Mau bohong hm? " Mahendra menempelkan kompresan itu di dahi mulus milik Ziva.

​"Bayi siapa sih inii Kok lucu banget sih? Bayik nya Mahendra lah." Ucap Mahendra mengunyel-unyel pipi gembul Ziva.

​Ziva menatap datar Mahendra, bisa - bisanya Mahendra memperlakukan dirinya seperti ini. "Jadi, sekarang bayik harus bobo dulu, biar cepet sembuh." Ucap Mahendra menidurkan badan Ziva ke ranjang UKS.

​"Ck, gue nggak ngantuk, Mahendra," Sentak Ziva, apa apaan ini?

​"Hm ... Kalau gitu, bayi makan aja gimana? Mau makan bubur sun atau bubur ayam hm? " Tanya Mahendra kembali.

​Ziva melotot kan matanya saat mendengar tawaran dari Mahendra, bisa - bisanya dirinya di tawari bubur bayi segala.

​"Mau makan apa sayang? Mau nasi goreng hm?" Tanyanya kembali,

​Ziva memikirkannya sejenak, kemudian ia menganggukkan kepalanya, karena kebetulan ia juga merasa lapar.

​"Ya udah, tunggu bentar ya, aku ke kantin dulu." Mahendra melangkahkan kakinya keluar UKS.

​"Tunggu!" Cegat Ziva.

​"Hp gue?" Sambung Ziva dengan menyodorkan telapak tangannya.

​Mahendra menggeleng. "Tidur dulu, sambil nunggu aku kesini lagi."

​Ziva mendengus kesal, mau tak mau ia memejamkan matanya, kepalanya terasa lebih berat dari sebelumnya.

​"Sayang," Panggil Mahendra lembut memasuki ruang UKS. Ia tersenyum mendapati Ziva gadisnya tengah tertidur pulas di atas ranjang.

​Tangannya mengelus lembut rambut Ziva yang tak terikat. "Gue nggak bisa diem aja liat lo kayak gini terus sayang, gue pasti bakal bales apa yang mereka lakuin ke kamu sayang."

​"Kalau gue nggak bisa berhentiin para monster itu, seenggak nya gue harus bisa bawa lo pergi dari rumah neraka itu, honey."

​"Sorry, Ziv. Gue lalai lagi jagain lo. " Monolog Mahendra memandang Ziva sendu.

​Ziva perlahan-lahan membuka matanya, gadis itu sepertinya terusik dengan monolog Mahendra. "Udah? Lo beli apa?" Tanya Ziva mengubah posisinya menjadi duduk.

​Mahendra mengangguk. "Ini! Gue beliin lo bubur ayam spesial " Ujar Mahendra menunjukkan bubur yang ia bawa dari kantin sekolah.

​Bahu Ziva seketika merosot lesu. "Gue kira lo beliin gue nasi goreng pedes beneran tapi ternyata lo beliin gue bubur." Ucap Ziva lesu.

​Mahendra menatap tajam Ziva. "Aku nggak akan kasih kamu makanan pedas di saat kamu lagi sakit sayang."

​"Gue sehat tau, lo aja yang alay." Ketus Ziva membuka bungkusan berisi bubur ayam itu.

​"Ubah bahasa kamu sayang! " Ucap Mahendra dingin serta menatap tajam Ziva,

​Gluk,

​"Eh euhm.. keknya enak buburnya, kok cuma satu doang?" Ucap Ziva mengalihkan pembicaraan, ayolah dirinya juga takut akan tatapan tajam Mahendra.

​"Loh emanggnya satu nggak cukup sayang? Mau aku beliin lagi?? " Mahendra bersiap - siap akan berdiri dari duduknya,

​"Buat l- em buat kamu mana? " Ucap Ziva yang hampir mengeluarkan kata larangan.

​"Aku sudah kenyang sayang, sekarang kamu makan biar cepet sembuh. Mau aku suapin hm? " Tawar Mahendra,

​"Nggak, nggak perlu gu– aku bisa sendiri" Ziva langsung meralat perkataannya ketika Mahendra memandang tajam dirinya.

​"Oke, cepat di makan keburu dingin" Ziva mengangguk pelan dan mulai memakan bubur ayam yang tadi di beli oleh Mahendra di kantin, sementara Mahendra dirinya tengah asik sendiri dengan ponsel Ziva yang ada di genggaman tangannya entah apa yang dia lakukan di ponsel Ziva.

​"Aku e udah selesai, " Ucap Ziva yang baru memakan beberapa suap bubur ayam, Mahendra menghentikan kegiatannya sejenak dan menatap bubur yang masih tersisa setengah di piring.

​"Nggak di habisin? "

​"Nggak, udah kenyang" Ucapnya, kini piring berisi bubur itu telah berpindah tempat di tangan Mahendra,

​"Udah kenyang banget?? " Tanya Mahendra kembali,

​"He'em Mahendra aja yang ngabisin ya" Ucap Ziva sayang rasanya jika bubur itu tak di habiskan dan berakhir terbuang sia - sia.

​"Mau aku habisin bubur ini ? "

​"Iya, " Ziva menganggukkan kepalanya.

​"Oke, aku bakal habisin bubur ini tapi dengan satu syarat gimana? "

​"Syarat? Cuma habisin bubur tinggal setengah aja pakai syarat segala. Yaudah buruan apa syarat nya! " Ucap Ziva malas, sangat - sangat malas jika lama - lama berada di sisi Mahendra.

​"Cium" Singkat, padat, dan jelas dan lagi membuat Ziva melotot kan matanya, apa tadi cium?

Big no tidak akan pernah yakali cuma di suruh habisin sisa bubur harus di cium dulu.

​"Udah deh nggak usah, di buang aja nggak papa nggak ada yang tahu" Bujuk Ziva,

​"Tapi yang di atas tahu sayang, jadi gimana? "

​Ziva Mendelikkan matanya" Nggak mau cium" Cicit Ziva pelan,

​Mahendra menghembuskan nafasnya, dirinya juga tak bisa untuk memaksakan gadisnya untuk memberikan ciuman, cukup Ziva menjadi kekasihnya saja Mahendra sudah sangat beruntung.

​"Hm, Oke tak masalah. Tapi janji harus cepat sembuh hm? " Mahendra memandang Ziva dengan tatapan lembutnya.

​"Hm iya janji" Tak di pungkiri senyuman yang Mahendra menular pada dirinya Ziva sendiri, entah kenapa perlakuan manis dari Mahendra membuat Ziva merasa nyaman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!