Zayyan Mahendra membawa Lolly ke Swiss untuk merayakan kelulusannya sekaligus melamar wanita itu. Namun di saat Zayyan berharap cinta mereka berakhir bahagia, Lolly justru memilih pria lain.
Dengan hati hancur, Zayyan memutuskan pulang ke Indonesia. Tak disangka, di bandara ia bertemu kembali dengan teman lamanya dan membuat keputusan gila. Dia menikah Alin, teman lamanya itu.
Pernikahan tanpa cinta itu awalnya hanya pelarian. Tapi siapa sangka, takdir justru mempertemukan mereka pada cinta yang sebenarnya. Namun, keberadaan Lolly selalu mengganggu rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Pagi hari, Zayyan duduk di tepi ranjang dengan mata sembab, seolah tidak benar-benar tidur semalaman. Jaketnya masih tergantung di kursi, koper terbuka lebar di lantai, dan isi kamar tampak sedikit berantakan, seperti pemiliknya yang juga tidak baik-baik saja.
Dengan malas, Zayyan mulai mengemasi barang-barangnya. Satu per satu pakaian dilipat, dimasukkan ke dalam koper. Tangannya bergerak pelan. Tidak ada lagi perasaan antusias seperti saat pertama kali ia membuka koper ini.
Dia sempat membayangkan liburannya akan di penuhi tawa bersama Lolly. Berjalan berdua. Mengabadikan momen. Dan mungkin… pulang dengan status yang berbeda. Namun kenyataannya, Ia justru pulang dengan luka yang tidak pernah ia rencanakan.
Zayyan menghentikan gerakannya sejenak. Tangannya menekan pakaian di dalam koper, seolah menahan sesuatu yang berusaha keluar dari dalam dadanya.
Matanya memanas. Tapi ia tidak menangis. Karena rasanya… sudah terlalu lelah untuk bahkan sekadar menangis.
Koper itu akhirnya ditutup. Bunyi klik terdengar pelan, namun terasa seperti penutup dari semua harapannya.
Zayyan melangkah masuk kedalam kamar mandi, dia membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Lima belas menit kemudian dia keluar dari dalam kamar mandi, lalu memakai pakainnya.
Zayyan berdiri, menarik gagang koper, lalu melangkah keluar dari kamar hotel.
Lorong hotel masih sepi. Hanya terdengar langkah kaki Zayyan yang menggema pelan di antara dinding-dinding yang dingin.
Namun langkahnya terhenti saat ia sampai di depan kamar Lolly.
Zayyan berdiri diam beberapa detik. Tatapannya tertuju pada pintu itu, seolah ada banyak hal yang ingin ia katakan… namun tidak satu pun mampu keluar.
Meski hatinya terluka, meski kecewa itu masih menganga, ia tetap datang. Bukan karena ia lemah. Tapi karena ia merasa bertanggung jawab. Ia yang mengajak Lolly ke sini, maka ia juga yang harus memastikan gadis itu pulang dengan selamat.
Zayyan menghela napas panjang. Tangannya perlahan terangkat, bersiap untuk mengetuk pintu. Namun, belum sempat tangannya menyentuh permukaan pintu, pintu itu justru terbuka dari dalam.
Ceklek.....
Tangan Zayyan menggantung di udara. Matanya membeku. Lolly berdiri dengan seorang lelaki asing. Tinggi, rapi, dengan wajah yang jelas bukan seseorang yang baru dikenal dalam hitungan menit.
Suasana sejenak menjadi hening, Namun hening kali ini terasa seperti ledakan yang tertahan. Tatapan Zayyan perlahan berubah. Dari terkejut, menjadi paham. Senyum tipis terukir di bibirnya. Senyum yang tidak membawa kehangatan apa pun.
“Jadi ini… alasanmu menolak lamaranku kemarin” ucap Zayyan pelan, suaranya datar namun penuh luka yang tak tertahan.
Lolly membelalak.
“Zay—”
“Kamu sudah punya laki-laki lain di belakangku,” lanjut Zayyan, memotongnya. Tatapannya beralih sekilas ke pria di samping Lolly, lalu kembali menatap gadis itu.
"Atau tujuanmu ke negara ini… karena ingin menemui laki-laki ini?” sambungnya.
Setiap kata yang keluar terdengar tenang. Namun terasa lebih menyakitkan.
“Zay, aku bisa—” Lolly mencoba menjelaskan, suaranya gemetar.
Namun sekali lagi, Zayyan tidak memberinya kesempatan. “Aku tidak butuh penjelasanmu, Lolly,” potongnya tegas.
Matanya menatap lurus ke arah Lolly, tanpa lagi menyembunyikan luka di dalamnya. “Penolakanmu kemarin… dan pemandangan saat ini… sudah cukup menjelaskan semuanya.”
Kalimat itu seperti palu yang menghantam. Lolly terdiam, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.
“Awalnya aku ke sini… mau ngajak kamu pulang,” ucapnya pelan. “Aku masih punya tanggung jawab, karena aku yang bawamu ke sini.”
Suara Zayyan sedikit serak, tapi ia tetap melanjutkan. “Tapi sepertinya… sudah ada laki-laki lain yang menjagamu.”
Setelah mengatakan itu, Zayyan secara perlahan menarik kopernya. Ia tidak lagi menatap Lolly. Tidak lagi melihat ke arah pria itu. Karena ia tahu, jika ia bertahan lebih lama, mungkin ia akan kehilangan sisa harga dirinya.
Tanpa mengucapkan apa pun lagi, Zayyan berbalik. Langkahnya mantap… meskipun hatinya hancur.
Setiap langkah terasa berat, namun ia tidak berhenti, tidak menoleh, dan tidak kembali.
Dan di belakangnya, Lolly hanya bisa berdiri terpaku, dengan air mata yang terus mengalir, menyadari bahwa kali ini…ia benar-benar telah kehilangan seseorang yang tulus mencintainya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bandara pagi itu dipenuhi lalu lalang penumpang. Suara pengumuman penerbangan terdengar bersahutan, koper-koper bergulir di lantai, dan orang-orang berjalan dengan tujuan masing-masing. Namun di tengah keramaian itu, Zayyan justru merasa semakin sendirian.
Ia melangkah pelan sambil menarik kopernya. Wajahnya datar, tatapan lurus ke depan seperti tidak peduli dengan sekitar. Semua yang terjadi sejak kemarin masih berputar di kepalanya tanpa henti.
Penolakan itu, dan pemandangan di depan kamar tadi pagi.
Zayyan menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Ia berhenti sejenak di dekat area check-in, memandangi layar besar yang menampilkan jadwal penerbangan.
“Ternyata dia menyukai laki-laki lain" gumamnya lirih.
Ia melangkah lagi, mencari tempat duduk untuk menunggu waktu boarding.
Zayyan akhirnya memilih duduk di salah satu kursi tunggu dekat jendela besar bandara. Dari sana, ia bisa melihat pesawat-pesawat yang terparkir di landasan, bersiap terbang menuju negara yang berbeda-beda.
Dulu, ia membayangkan akan pulang bersama Lolly sambil membawa banyak cerita indah. Namun sekarang, ia pulang sendirian.
Zayyan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Kedua tangannya bertaut di depan wajah. Kepalanya terasa penuh. Bahkan suara ramai di sekitarnya terdengar samar.
Beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar.
Drttt......drttt...
Zayyan menatapnya cukup lama sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.
“Iya, Mom...” jawabnya pelan.
“Zayyan, kamu sudah di bandara?” tanya sang mommy dari seberang sana.
“Sudah, sebentar lagi pesawatnya akan berangkat"
“Kamu sendiri atau sama Lolly?"
Pertanyaan itu membuat dada Zayyan terasa sesak lagi.
“Dia nggak ikut pulang sama aku, dia sama kekasihnya"
“Mama nggak akan maksa kamu cerita sekarang,” ucap wanita itu lembut. “Pulang dulu aja.”
“Iya, Mom.”
“Dan satu lagi.”
“Apa?”
“Mau seberapa hancur pun hati kamu... jangan sampai kamu kehilangan diri kamu sendiri.”
Kalimat itu membuat Zayyan menunduk diam.
Setelah panggilan berakhir, ia menghembuskan napas panjang lalu memasukkan kembali ponselnya ke saku.
Pengumuman boarding mulai terdengar. Zayyan berdiri pelan, menarik kopernya, lalu berjalan menuju pintu keberangkatan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah melalukan perjalanan berjam-jam lamanya, akhirnya pesawat yang di tumpanginya mendarat.
Langit Indonesia terlihat mendung ketika Zayyan keluar dari dalam pesawat bersama penumpang lain. Langkahnya pelan sambil menarik koper hitamnya.
Bandara terasa jauh lebih familiar dibanding Swiss. Namun anehnya, ia tetap merasa asing.
Baru beberapa langkah keluar dari area kedatangan, seseorang tiba-tiba menabraknya cukup keras dari samping.
Brukk!
“Ah, astaga!”
Suara perempuan terdengar panik.
Sebuah map berisi kertas-kertas langsung berjatuhan ke lantai. Beberapa lembar bahkan terbang sampai dekat kaki Zayyan.
“Maaf! Maaf banget!” gadis itu buru-buru jongkok sambil memunguti dokumen yang berserakan.
Zayyan refleks ikut membantu. Ia mengambil beberapa lembar yang jatuh tak jauh dari kopernya.
Namun saat menyerahkan kertas itu, tangannya berhenti sesaat.
Matanya tanpa sengaja menangkap tulisan besar di salah satu dokumen.
SURAT KESEPAKATAN KERJA
Alis Zayyan sedikit berkerut.
Perempuan itu langsung merebut kertas tersebut dengan wajah panik. “Jangan dibaca!”
Zayyan mengangkat sebelah alisnya, lalu menatap gadis di depannya untuk pertama kali dengan jelas.
Perempuan itu tampak berantakan. Rambutnya sedikit acak-acakan, napasnya ngos-ngosan, dan sepatu hak tingginya bahkan berbeda warna. Yang satu hitam, yang satu krem.
Entah karena buru-buru atau memang ceroboh.
Zayyan hampir tidak percaya saat melihatnya. Di tengah kehancuran hatinya... ia justru bertemu perempuan aneh seperti ini.
“Maaf, aku lagi buru-buru” ucap gadis itu lagi sambil memeluk mapnya erat-erat.
Zayyan menatap sepatu perempuan itu sekilas, lalu kembali ke wajahnya. “Kamu sadar sepatu kamu beda sebelah?”
Perempuan itu langsung membelalak, menunduk melihat kakinya sendiri.
Dan detik berikutnya, “YA AMPUN!”
Suara teriakannya membuat beberapa orang di sekitar menoleh.
Untuk pertama kalinya sejak patah hati itu...Sudut bibir Zayyan bergerak tipis. Hampir seperti senyum.
lanjut Thor 💪💪💪
lanjut Thor 🔥🔥🔥