Kecelakaan pesawat mengakhiri hidup Aruna Maheswari— perempuan independent yang menolak akan adanya cinta dan pernikahan di hidupnya. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Sekar Calista Pranawijaya, seorang istri yang dibenci… dan memiliki dua suami.
Sekar dikenal sebagai perempuan temperamental yang membuat rumah tangganya berubah menjadi neraka. Dua pria yang seharusnya menjadi pelindungnya justru menunggu saat ia pergi dari hidup mereka.
Namun kini, wanita yang sama memilih diam.
Tidak marah. Tidak menuntut. Tidak meminta cinta.
Perubahan itu membuat segalanya terasa salah.
Karena di rumah penuh kebencian itu, bukan cinta yang paling berbahaya— melainkan rahasia di balik kematian Sekar, dan fakta bahwa istri yang mereka benci… telah berganti jiwa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandri Ratuloly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
******
"Kamu suka tempatnya? " Damar bertanya sambil mengelus pelan rambut pendek Calista yang sibuk menatap hamparan laut malam dari jendela besar di depannya.
"Suka, pemandangan laut di malam hari dengan di hiasi lampu terlihat begitu indah dan menakjubkan. " senyum manis namun tidak begitu lebar itu selalu Calista tampilkan saat memasuki area restaurant.
Kedua suaminya itu sangat pengertian sekali sampai memesan ruang VIP di restaurant ini di lantai atas dengan view menghadap langsung pada hamparan laut dan pernak perniknya.
Makan malam ini terlihat begitu menakjubkan dan sedikit romantis Calista rasakan. Jujur, ini kali pertamanya ia merasakan hal seperti ini.
"setelah ini mau berjalan jalan sebentar di area sekitar pantai?" Arkana menawarkan, ia menyuapi makanan ke mulut Calista yang masih sibuk menatap pemandangan hamparan laut di bawah sana dengan mata berbinar bahagia.
"Boleh kah? Aku mau! " Calista menjawab dengan penuh semangat.
"Kamu makan terlebih dahulu, nanti kamu akan sepuasnya menatap pemandangan laut di bawah. " ujar Arkana yang di angguki mengerti oleh Calista.
******
Selepas makan malam dan sedikit duduk bercerita untuk meredakan rasa sesak kenyang di perut. Akhirnya, Calista, Damar dan Arkana kini tengah berjalan santai di area pantai yang cukup ramai.
"Mau ku pesankan air kelapa untukmu?" Arkana menawarkan, melihat ada penjual air kelapa dan banyak pengunjung yang membelinya.
Rasanya pasti menyegarkan sekali menikmati air kelapa dengan pemandangan laut yang memanjakan mata ini.
"Sini kita cari tempat duduk, pasti lelah setelah terus berjalan. "
Damar menggandeng pinggang Calista dengan posesif menuju deretan kursi kayu yang di sediakan pantai Moonveil Shore untuk para pengunjung, keduanya duduk di kursi paling ujung yang disebelahnya ada seorang perempuan yang terlihat berbaring sambil memejamkan matanya.
"Apa kaki mu terasa pegal karena terus berjalan? Mau ku pijat kan? " tanya Damar beruntun, ia melirik penampilan Calista dengan tatapan memuja.
Istrinya itu terlihat begitu cantik dan menawan dengan pakaian dress sebetis berwarna cream itu.
‘Rasanya aku ingin sekali mengurungnya di dalam kamar hanya untukku seorang.’ Pikir posesif Damar, ia tidak boleh terlalu menunjukkan bagaimana sisi posesif nya ini.
Ia takut Calista malah menjauhinya.
"Tidak perlu, Damar. Kaki ku tidak terasa pegal sedikitpun, aku malah begitu senang berjalan jalan dengan pemandangan menakjubkan ini. " tolak halus Calista. Matanya melirik sejenak pada seorang perempuan yang terbaring nyaman di sebelahnya lalu mengalihkannya.
Model kursi di pantai ini bukan seperti kursi biasanya, ia berbentuk memanjang dengan sandaran lumayan tinggi, makanya perempuan disebelah ini bisa berbaring dengan nyaman.
"Istriku, aku datang dengan segelas air kelapa segar untukmu. " Arkana berseru semangat dan menghampiri Calista, "mau kamu minum langsung atau ku letakkan terlebih dahulu di atas meja sini? "
"Letakkan di atas meja saja dulu, Arkana. Nanti akan ku minum, terimakasih karena sudah berinisiatif membelikanku air kelapa itu. "
"Apapun untukku istriku... " Arkana meletakkan gelas berisikan air kelapa itu di atas meja, ia menatap lama segelas air kelapa seseorang di atas meja itu dan melirik sebentar pada perempuan disebelah yang tengah berbaring lalu meletakkan gelas air kelapa milik Calista di sebelas gelas air kelapa milik perempuan yang tengah memejamkan mata itu.
"Bagaimana, apa kamu senang dengan pemandangan malam laut ini? " tanya Arkana, ia ikut di depan Calista.
Tempat duduk yang mereka duduki ini berbeda model dengan kursi perempuan sebelahnya, Damar memilih tempat bangku biasa agar ia dan Arkana bisa begitu dekat dengan Calista.
"Indah sekali, besok aku ingin sekali melihat matahari di pagi hari lalu siangnya ingin berenang di laut, aku sudah menyiapkan pakaian renang. "
Arkana melirik sebentar pada Damar lalu menatap pada Calista yang terlihat begitu antusias sekali.
"Ya, kita lihat saja besok bagaimana. " ujar Arkana dengan senyum lebar yang ia tampilkan.
"Minuman siapa ini? Maaf aku tidak sengaja meminumnya, ku kira tadi ini adalah minuman ku. "
Suara perempuan terdengar membuat Calista, Damar dan Arkana sontak menoleh di sebelah mereka. Menampakkan sang perempuan yang tadi tengah berbaring nyaman kini terlihat menggarukan kepalanya sambil menunjuk pada gelas di atas meja yang memang terlihat sama karena tempat penjualnya adalah orang yang sama.
"Maaf atas keteledoran ku, aku benar-benar tidak menyadari bahwa tadi aku tidak sengaja mengambil gelas air kelapa yang salah—
—tapi aku akan menggantikannya dengan milikku yang ini, ini belum ku minum sedikitpun, percayalah. " Perempuan itu memberikan gelas air kelapa miliknya. "Maafkan aku. " ujarnya sekali lagi meminta maaf dengan tulus dan merasa begitu bersalah.
"Ah, tidak apa-apa. Aku memaklumi, gelas minuman itu juga terlihat begitu sama dan isinya juga sama, tidak apa-apa aku menerima minuman itu dan permintaan maaf mu. " ujar Calista, ia merasa tidak mempermasalahkan itu.
Hanya hal kecil, bukan apa-apa.
"Sekali lagi maafkan aku. " Perempuan itu bangun dari tempatnya, ia membungkukkan sedikit badannya lalu pergi berlalu dengan perasaan bersalah yang masih terbenam di dalam hatinya.
"Dasar ceroboh, sebaiknya tidak perlu kamu meminum minumannya itu, aku akan membelikan yang baru untuk mu sekarang. " Arkana mendengus kasar melihat kepergian perempuan yang yang ia katai ceroboh itu dengan kesal.
"Tidak perlu, Arkana. Aku meminum yang ini saja, terlihatnya juga ini barusan ia pesan dan belum tersentuh, kebetulan juga aku merasakan begitu haus sekali sekarang. " Calista menahan tangan Arkana yang hendak membuang isi air kelapa itu di bawah pasir pantai.
Dengan cepat ia mengambil alih dan meminumnya langsung hingga tak tersisa.
Arkana yang melihat Calista meminum habis air kelapa itu sontak menatap sejenak pada Damar yang terlihat tengah menelan ludahnya dengan susah payah.
"Ah, Calista. Rasanya aku mengantuk dan lelah sekali, badanku juga agak sedikit sakit karena menyetir mobil selama tiga jam tadi. " ujar Damar tiba-tiba, ia merenggang tubuhnya sambil menguap lebar.
"Kalau begitu mari kita langsung ke penginapan saja, waktu juga sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. "
Sementara di tempat lain masih di sekitaran pantai, perempuan yang tadinya tidak sengaja meminum minuman Calista terlihat tengah berdiri santai sambil menyenderkan tubuhnya di batang pohon.
Ting!
Notifikasi dari aplikasi M-baking dan menunjukkan beberapa nominal angka membuatnya tersenyum lebar.
"Selamat bersenang-senang kawan. "
******
"Damar mau ku pijat kan tubuhmu yang terasa pegal itu? Kali saja bisa meredakan sedikit rasa sakitnya. "
"Boleh." Damar dengan cepat melepaskan pakaian atasan di kenakanannya, ia berbaring terlentang dan membiarkan Calista untuk memijat nya.
"Aku ke kamar mandi dulu, ingin membersihkan tubuh. " pamit Arkana, ia melirik sebentar pada kasur king size itu lalu nyelonong masuk ke dalam kamar mandi.
Calista yang tengah sibuk memijat tubuh Damar, tiba-tiba saja tersentak saat merasakan reaksi aneh pada tubuhnya.
Ada rasa panas dan tak nyaman yang ingin di selesaikan.
Menarik napas dalam, ia menelan ludah dengan susah payah saat menatap punggung tegap kekar telanjang milik Damar di bawahnya.
Pijitan itu tiba-tiba saja terganti dengan elusan ringan yang begitu sensual.
Damar menyadari itu, ia sedikit mengangkat kepalanya untuk menatap Calista yang terlihat gelisah. "Kamu kenapa sayang? " tanya Damar pelan, namun tangannya mengelus pelan pinggang Calista yang terbalut dress.
Calista tidak menjawab, dengan tiba-tiba ia langsung menyerbu bibir tebal Damar yang terlihat menggoda itu.
"Pelan pelan saja, Sweetie. Tubuhku hanya untukmu seorang. "
Bertepatan dengan itu, pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan Arkana yang bertelanjang dada dengan bawahan menggunakan handuk saja.
"Wow, panas sekali. Boleh aku bergabung, bung? " Arkana bersiul panjang lalu mendekat pada dua manusia yang terlihat begitu panas itu.
"C'mon, ini adalah santapan malam kita berdua, bro. " kekeh Damar dengan senyum miring ia berikan pada Arkana.
"Hahaha, selamat menikmati santapan nikmat untuk kita berdua, bung. "
******
😒😒😒😒
lanjuut kak ,,
sad tu bukan berarti calista meninggal ,, buat dy menghilang aj ,,
Aruna di tubuh calista
apa kah arkana juga terlibat???
krn waktu damar kerjaa di kmr mereka arkana pun melihat apa yg di kerjakan damar ,,
ad sesuatu niih ,,
aaaaa kak author jgn di gantung dooonk ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
makin seruuu niiih ,,
ad rahasia yg Blum terungkap niii ,, ap yg lgi di kerjakan damar😁😁😁🤭🤭🤭🤭
terkadang kesalahan org tua justru ank yg jd pelampiasan ,,
semangat trus arkana ,,
bukti ny skrang km sukses ,,
jgn yg aneh2 yx damar ,, 👍👍👍
next kak
waaaah Atharva km slah org ,,
dy buukan. sekar yg cengeng dn manjaaa ,,
dy arunaaa si ratu bisnis ,,
jgn maen maen ,, jgn maen maen ,, 🤭🤭🤭
gx lanjuut 21 ,, 🤭