Selama dua tahun, Elara Vasiliev bekerja sebagai ART di rumah keluarga Moretti. Diam, patuh, dan selalu menerima hinaan, ia dianggap hanya wanita miskin yang tak punya harga diri. Tidak seorang pun tahu bahwa Elara menyimpan rahasia besar tentang jati dirinya.
Saat Madam Seraphina Moretti menuduhnya mencuri kalung berlian dan mengusirnya di depan semua orang, deretan mobil mewah tiba di depan gerbang mansion keluarga itu. Seorang pria tua turun, membungkuk hormat, lalu berkata,
“Nona Elara, Tuan Octavian menjemput Anda. Seluruh Vasiliev Group menunggu pewaris sahnya.”
Keluarga Moretti seketika pucat. Wanita yang selama ini mereka hina ternyata cucu tunggal pemilik kerajaan bisnis terbesar di Eropa.
Kini Elara kembali… bukan sebagai pelayan, melainkan wanita berkuasa yang siap membuat semua orang yang meremehkannya menyesal. Namun di tengah balas dendamnya, Damian Moretti—pria dingin yang dulu tak pernah membelanya—mulai mengejar cinta yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThiaSulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Moretti Jadi Bahan Tertawaan
Pagi itu nama keluarga Moretti menjadi hiburan seluruh kota.
Berita utama di portal bisnis, gosip sosialita, kanal hiburan, sampai forum investor memuat topik yang sama:
KELUARGA MORETTI DIHANTAM SKANDAL INTERNAL
PUTRI SOSIALITA AKUI MENUKAR KALUNG BERLIAN
PEWARIS MORETTI BUNGKAM SOAL MANTAN ART YANG TERNYATA KONGLOMERAT
Tak semua berita benar.
Namun dalam dunia elite, fakta sering kalah cepat dari bahan tertawaan.
Di sebuah klub eksklusif pusat kota, tiga pengusaha tua sedang sarapan sambil membaca tablet.
“Lihat ini.”
Salah satu menunjukkan headline sambil tertawa.
“Moretti? Yang selalu bicara soal kehormatan keluarga?”
Pria lain menyeringai.
“Sekarang kehormatan mereka dijual seperti kalung itu.”
Mereka tertawa bersama.
Di meja lain, dua wanita sosialita berbisik sambil memegang cappuccino.
“Kasihan Seraphina.”
“Kasihan? Aku iri.”
“Iri kenapa?”
“Setidaknya dia pernah dekat pewaris Vasiliev. Meski sebagai majikan gagal.”
Gelak kecil terdengar lagi.
Di mansion Moretti, Seraphina melempar majalah ke lantai.
“Siapa yang membocorkan ini?!”
Pelayan menunduk gemetar.
“Madam, semua media mengutip sumber anonim.”
“Cari tahu!”
Tak ada yang bergerak.
Dulu satu teriakan cukup membuat seluruh rumah berlari.
Kini semua staf menunduk hanya karena kewajiban, bukan takut.
Seraphina sadar perubahan itu.
Dan itu membuatnya semakin marah.
Damian turun tangga dengan wajah tenang.
“Berhenti berteriak pada staf.”
Seraphina menoleh tajam.
“Rumah ini sedang dihancurkan!”
“Rumah ini dihancurkan lama sebelum berita keluar.”
“Kau membelanya lagi?”
“Aku membela kebenaran.”
Seraphina tertawa pahit.
“Sekarang kau jadi pria bermoral?”
Damian menatap lurus.
“Tidak.”
Ia berhenti sejenak.
“Aku hanya terlambat.”
Selene masuk sambil memakai kacamata hitam besar meski di dalam rumah.
“Ada yang punya uang tunai?”
Seraphina hampir pingsan.
“Masih berani bicara soal uang?”
“Kartu-kartuku diblokir Kak Damian.”
“Bagus.”
Selene mengambil buah dari meja.
“Kalau begitu aku jual tas.”
Damian berkata dingin,
“Kau akan menjual lebih banyak kalau tidak mengembalikan nilai kalung.”
Selene mendecih.
“Kakak membosankan sejak sadar dosa.”
Di kantor pusat Moretti Holdings, situasi tak lebih baik.
Dua investor membatalkan makan siang.
Satu bank menunda pembahasan kredit.
Saham perusahaan turun tipis bukan karena fundamental, tetapi karena reputasi.
Direktur senior masuk ke ruang Damian.
“Tuan, media meminta komentar resmi.”
“Tidak ada komentar.”
“Mereka menulis bahwa keluarga tidak stabil.”
“Kalau kita menyangkal, mereka akan tambah menulis.”
“Lalu?”
Damian menutup laptop.
“Kita jawab dengan angka. Percepat laporan kuartal.”
Direktur ragu.
“Ini soal citra.”
“Justru karena itu. Orang bisa menertawakan keluarga… tapi uang membuat mereka diam.”
Di rumah besar Vasiliev, berita yang sama diputar di layar ruang sarapan.
Cassian tersenyum sambil membaca.
“Lihat mantan rumah keduamu.”
Elara meminum teh tenang.
“Mansion mereka tak pernah jadi rumah.”
“Kejam.”
“Jujur.”
Cassian memutar tablet ke arahnya.
Foto Seraphina terpampang dengan judul besar.
RATU SOSIALITA JATUH DARI SINGGASANA
Cassian tertawa kecil.
“Kota memang haus drama.”
Elara menatap sebentar lalu mengalihkan pandangan.
“Orang yang hidup dari penilaian publik selalu mati oleh penilaian publik.”
Octavian yang baru masuk mengangguk puas.
“Itu kalimat bagus. Simpan untuk rapat.”
Menjelang siang, Seraphina nekat datang ke klub sosialita tempat biasanya ia disambut bak ratu.
Begitu masuk, percakapan beberapa meja mereda.
Beberapa tersenyum terlalu manis.
Beberapa pura-pura sibuk.
Itu lebih menyakitkan daripada hinaan langsung.
Ia berjalan ke meja sahabat lamanya, Miranda.
“Mira.”
Wanita itu berdiri canggung.
“Sera… kau datang.”
“Tentu.”
Ia duduk tanpa diundang.
“Kopi seperti biasa.”
Pelayan tak bergerak cepat seperti dulu.
Seraphina merasakannya.
Miranda berdehem.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Baik.”
“Bagus.”
Hening canggung.
Lalu dari meja sebelah terdengar bisikan sengaja dikeraskan.
“Pastikan kalungmu asli sebelum duduk dekat dia.”
Tawa kecil pecah.
Seraphina membeku.
Miranda pura-pura tak dengar.
Itu penghinaan paling jelas:
bahkan teman-temannya tak mau membelanya.
Seraphina berdiri.
“Kopi tak jadi.”
Ia keluar dengan kepala tegak… tetapi mata berkaca-kaca.
Di jalan pulang, mobilnya berhenti di lampu merah.
Di trotoar seberang, layar iklan digital menampilkan berita hiburan.
Wajah keluarganya muncul lagi.
MORETTI JADI MEME TERPANAS MINGGU INI
Seraphina memalingkan wajah.
Ia tak pernah membayangkan suatu hari nama keluarganya menjadi lelucon publik.
Sementara itu, Damian mendapat pesan dari nomor tak dikenal.
Tertawaan hari ini bisa jadi bangkrut besok. Mau bicara?
Tak ada nama.
Ia tahu gaya itu.
Cassian.
Damian menghapus pesan tanpa balas.
Beberapa menit kemudian pesan kedua masuk.
Sepupuku takkan menoleh lagi. Tapi aku bisa bantu perusahaanmu tetap hidup.
Damian tersenyum dingin.
Ia membalas singkat.
Lebih baik ditertawakan daripada berutang pada ular.
Tak ada balasan lagi.
Sore hari, Marta sedang menata dapur ketika dua pelayan muda bergosip.
“Madam tadi pulang marah besar.”
“Katanya diketawain di klub.”
Marta meletakkan piring agak keras.
“Kalian kerja, bukan siaran.”
Keduanya langsung diam.
Salah satu memberanikan diri bertanya,
“Bu Marta… dulu Nona Elara sering diketawain juga ya?”
Marta menatap mereka lama.
“Tidak.”
“Tapi dia sering direndahkan…”
“Direndahkan beda dengan diketawain.”
Ia mengelap tangan.
“Orang besar tak butuh keramaian untuk menghina. Cukup sikap.”
Kedua pelayan terdiam.
Marta menambahkan pelan,
“Dan sekarang rumah ini sedang menerima balikannya.”
Malamnya, Damian pulang lebih larut.
Di ruang utama, ia menemukan Seraphina duduk sendirian tanpa lampu besar, hanya cahaya samping sofa.
Gaun mahalnya masih dipakai, tapi bahunya jatuh.
Ia tampak lebih tua beberapa tahun.
“Kau puas?” tanya Seraphina tanpa menoleh.
“Dengan apa?”
“Melihat ibumu dipermalukan.”
Damian berdiri beberapa langkah jauhnya.
“Aku tidak pernah ingin Ibu dipermalukan.”
“Lalu?”
“Aku hanya ingin Ibu berhenti merasa tak tersentuh.”
Seraphina tertawa kecil, getir.
“Aku membesarkanmu untuk kuat.”
“Ibu membesarkanku untuk takut mengecewakanmu.”
Ia mendekat.
“Dan lihat hasilnya.”
Seraphina menatapnya.
Untuk pertama kali ia melihat putranya bukan sebagai anak yang patuh, tetapi pria yang sedang menjauh.
Di rumah besar Vasiliev, Viktor masuk ke perpustakaan.
“Nona, media menghubungi kami. Mereka ingin komentar tentang Moretti.”
Elara menutup dokumen.
“Jawaban?”
“Kami tidak berkomentar soal urusan pribadi pihak lain.”
“Bagus.”
Viktor ragu sejenak.
“Tapi satu reporter bertanya apakah Anda menikmati mereka jadi bahan tertawaan.”
Elara berdiri dan berjalan ke jendela.
Lampu kota menyala indah di kejauhan.
“Tidak.”
“Benarkah?”
Ia menjawab tenang.
“Orang yang pernah direndahkan tahu rasa dipermalukan.”
Ia berhenti sejenak.
“Namun kadang… itu satu-satunya bahasa yang dipahami sebagian orang.”
Larut malam, Damian duduk di ruang kerjanya.
Monitor menampilkan grafik perusahaan.
Satu layar lain menampilkan frame CCTV lama.
Elara berjalan keluar di bawah hujan.
Ia mematikan layar grafik.
Membiarkan hanya gambar itu yang menyala.
Perusahaannya bisa dipulihkan.
Reputasi keluarga bisa dibangun lagi.
Tertawaan publik akan lewat.
Namun ada satu hal yang tak bisa diperbaiki dengan strategi:
wanita yang pergi sambil menanggung hinaan… kini melihat keluarganya dihina dari tempat yang jauh lebih tinggi.
Dan Damian tak tahu mana yang lebih menyakitkan—
Moretti jadi bahan tertawaan…
atau kenyataan bahwa mereka pantas mendapatkannya
tu nnek lmpir blm kapok jg rupanya,stlh dlu ftnah elara skrng pun mlkukn hal yg sma....tp syangnya dia bkln apes kali ni....tnggu aja blasannya....
biarlh wktu yg mmbuktikn sglanya,kl dia bnr2 mmpu jd pmimpin.....smngtttt....
jd pnsran....sbnrnya elara ada prsaan ga y sm damian????mskpn dia psti kcewa sih sm skpnya dlu yg sllu diam,tp htinya spa yg tau.....
kl udh tau spa dia sbnrnya,bru mrsa brslah dn mnyesal....dlu kmna aja wooyyyyy.... 🙄🙄🙄