Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGADILAN HENING DAN DERITA SANG GUS
Pagi itu, Pesantren Al-Hidayah tidak terbangun dengan kedamaian seperti biasanya. Meskipun burung-burung berkicau dan sinar matahari mulai menyusup di antara celah pohon bambu, atmosfer di dalamnya terasa mencekam. Kabar tentang insiden semalam telah menyebar seperti api di atas rumput kering di kalangan pengurus senior, meski santri biasa belum sepenuhnya tahu apa yang terjadi.
Di dalam kamar asrama, Mentari terbangun dengan kepala yang terasa seperti dihantam palu godam. Matanya bengkak, dan saat ia mencoba duduk, rasa mual langsung menyerangnya. Namun, yang lebih sakit dari fisiknya adalah ingatannya yang mulai kembali sedikit demi sedikit.
Wajah terkejut Gus Zikri.
Sentuhan bibirnya yang dipaksakan.
Tatapan luka yang sangat dalam dari pria itu.
"Oh, God... apa yang udah gue lakuin?" gumam Mentari, suaranya serak. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, gemetar hebat.
Hafizah duduk di kursi kayu di samping tempat tidurnya, matanya merah seolah tidak tidur semalaman. Bondan dan Fahma berdiri di pojok ruangan dengan wajah yang sangat serius sebuah pemandangan langka bagi mereka.
"Tari," suara Hafizah dingin namun bergetar. "Kamu diminta menghadap Kyai sekarang juga. Di kediaman utama."
Mentari berjalan menuju kediaman Kyai dengan langkah yang sangat berat. Ia mengenakan gamis hitam dan kerudung yang ia tarik hingga menutupi sebagian wajahnya yang sembab. Sepanjang jalan, ia merasa seolah-olah pohon-pohon di pesantren itu sedang menghakiminya.
Di dalam ruangan yang beraroma kayu jati dan dupa itu, telah duduk Kyai (Ayah Zikri) dengan wajah yang sangat tenang namun memiliki otoritas yang menggetarkan. Dan di pojok ruangan, duduk Gus Zikri.
Mentari tidak sanggup melihat ke arah Zikri. Namun, dari sudut matanya, ia melihat pria itu tampak sangat berbeda. Wajahnya pucat, ia tidak mengenakan peci, dan matanya terlihat sangat kosong seolah-olah ada sesuatu yang berharga dalam dirinya yang baru saja mati.
"Duduklah, Mentari," ucap Kyai dengan suara yang dalam.
Mentari duduk bersimpuh di lantai, kepalanya tertunduk dalam. Air mata mulai menetes ke pangkuannya. "Kyai... maaf... saya... saya nggak sadar..."
"Minuman itu, Mentari," Kyai memotong dengan lembut namun tegas. "Bukan hanya merusak akalmu, tapi ia telah merusak kesucian tempat ini. Dan lebih dari itu, kamu telah mencoba melukai kehormatan putra saya."
Kyai menghela napas panjang. "Zikri telah meminta saya untuk tidak menghukummu secara fisik. Namun, pesantren memiliki aturan. Kamu harus meninggalkan tempat ini hari ini juga."
Mentari tersentak. Ia mengira ia akan senang jika dikeluarkan, tapi kenyataannya, hatinya justru terasa diremas. "Kyai... tolong... jangan usir saya dalam kondisi seperti ini..."
Tiba-tiba, Gus Zikri bersuara. Suaranya tidak lagi teduh seperti biasanya. Suaranya terdengar patah, penuh dengan duka yang tidak terlukiskan.
"Abah," Zikri bicara tanpa melihat siapapun. "Jangan salahkan dia sepenuhnya. Ini adalah ujian bagi iman saya yang masih sangat lemah. Saya yang gagal menjaga lingkungan ini agar tetap bersih."
Zikri akhirnya mendongak, dan untuk pertama kalinya, ia menatap langsung ke arah Mentari. Tatapannya tidak mengandung kemarahan, melainkan kekecewaan yang sangat menyakitkan bagi Mentari.
"Ukhti Mentari," ucap Zikri dingin. "Kamu ingin perhatian saya? Kamu sudah mendapatkannya. Tapi bukan sebagai wanita yang saya hormati, melainkan sebagai peringatan bagi saya tentang betapa berbahayanya mengikuti nafsu. Kamu telah menghancurkan sujud saya semalam."
Setelah berkata begitu, Zikri berdiri dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Punggungnya terlihat begitu rapuh, seolah beban dunia baru saja jatuh di bahunya.
Kembali ke kamar asrama, Mentari mendapati koper-kopernya sudah disiapkan. Orang tuanya sudah dihubungi dan sedang dalam perjalanan untuk menjemput.
"Tari... beneran lo harus pergi?" Bondan mendekat, kali ini tidak ada nada genit dalam suaranya. Ia terlihat sangat sedih. "Meski lo bar-bar, lo bikin kamar ini jadi berwarna tahu nggak."
Fahma memegang tangan Mentari. "Eh... jadi kita nggak jadi beli seblak bareng ya?" tanyanya polos, namun matanya berkaca-kaca. "Nanti kalau aku lemot, siapa yang mau marahin aku lagi?"
Hafizah memberikan sebuah bungkusan kecil kepada Mentari. "Ini Al-Qur'an kecil yang sering kamu pakai. Kyai berpesan agar kamu tetap membawanya. Jangan biarkan satu kesalahan semalam menghentikan langkahmu untuk belajar."
Mentari memeluk ketiga sahabatnya itu dengan erat. "Gue minta maaf... gue udah ngerusak semuanya. Gue jahat banget sama Gus Zikri..."
"Gus Zikri orang baik, Tari. Dia pasti memaafkan," bisik Hafizah. "Tapi dia butuh waktu. Kamu juga butuh waktu untuk menyembuhkan dirimu di luar sana."
Saat mobil mewah Papanya tiba di gerbang, Mentari berhenti sejenak. Ia melihat ke arah balkon kediaman Gus Zikri. Di sana, dari kejauhan, ia melihat sosok pria tinggi itu berdiri mematung, menatap ke arah gerbang namun tetap dengan jarak yang terjaga.
Mentari mengeluarkan sapu tangan biru milik Zikri dari sakunya. Ia mencium aroma kayu gaharu yang mulai memudar, lalu mendekapnya di dada.
"Gue pergi, Gus. Tapi gue janji... saat gue balik lagi nanti, gue bukan Mentari yang mabuk dan haus perhatian. Gue bakal jadi wanita yang layak buat lo jaga pandangannya," gumam Mentari penuh tekad.
Mobil itu bergerak menjauh, meninggalkan debu dan kenangan pahit di Pesantren Al-Hidayah. Mentari pulang, namun hatinya tertinggal di dalam bait-bait doa dan keteduhan tatapan seorang pria yang baru saja ia hancurkan hatinya.
Perjalanan hijrah Mentari yang sesungguhnya... baru saja dimulai di luar sana.