Perempuan bernama Angel yang tengah kecelakaan kini meninggalkan jasadnya dan menjadi hantu, dia diberi kesempatan untuk mengumpulkan 3 tetes airmata orang yang tulus mencintainya selain keluarga kandungnya.
"Itu gampang, aku akan mendapatkan nya dengan muda" Jawabnya dengan penuh keyakinan.
"Bagus jika seperti itu, dapatkanlah".
Angel dengan semangat untuk mendatangi orang-orang yang dia cintai namun dia lah yang mendapat kan kejutan tak terduga.
Akankah Angel bisa hidup kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Keesokan harinya, Erwin datang kekantor seperti biasa, kali ini dia datang tepat waktu bahkan lebih awal, dia harus mencari beberapa file cadangan untuk pegangannya agar ketika ayah Angel mengusirnya dari perusahaan dia bisa aman.
"Aku tidak akan membiarkan kamu menghancurkan ku tua bangka". Ucapnya dalam hati saat memasuki ruangan direktur utama tempat ruangan ayah Angel berada.
Dia memiliki akses itu karena Angel pernah memberitahukan dirinya tentang pasword dan yang lainnya itu sebabnya dia merasa sangat senang dan merasa menang.
Dia tidak pernah tahu jika didalam ruangan ayah Angel itu terdapat CCTV canggih yang merekam baik secara keseluruhan baik orangnya maupun suaranya walau sangat kecil sekalipun begitu juga ruangannya.
Ayah Angel sengaja memasangnya untuk menjerat Erwin sanksi hukum yang sangat berat tanpa bisa berkompromi.
Dia bergegas mencari laporan-laporan penting perushaan dan kini mendapatkan nya tanpa tahu itu adalah jebakan yang dibuat oleh ayah Angel untuknya, itu hanya dokumen palsu bukan yang asli.
Ayah Angel yang masih berada dirumah kini menyunggingkan senyum sinis melihat layar laptopnya yang menampilkan Erwin yang tengah mengacak-acak ruang kerjanya dan bagaimana tawanya seakan menghinanya.
"Hahah dasar tua bangka bodoh, aku akan memiliki perusahaan ini, jika aku tidak bisa mendapatkan nya mana aku hanya akan mendapatkan keuntungan dengan menjual rahasia perusahaan kepada pesaing mereka".
Dia bergegas keluar dari ruangan itu kemudian kembali keruangannya seolah tidak terjadi apapun saat ini.
Sedangkan ayah Angel kini tersenyum sinis, rencana dirinya dan Steven kini tengah berhasil menjebak lelaki itu. Dia mengambil handphone nya untuk menghubungi seseorang.
"Besok bekukan semua aset anak saya yang diberikan kepada Erwin, ambil kembali aset itu karena itu semua atas nama anak saya begitu juga dengan apa yang diberikan putri saya kepada Mentari ambil kembali tanpa sisa". Perintahnya kepada orang suruhannya itu.
"Baik tuan akan segera saya laksanakan".
"Kamu mau bermain-main dengan saya rupanya, kamu hanya anak kemarin sore yang terlalu silau dengan kemewahan padahal kamu hanya parasit yang tidak tahu diri".
Dia segera menutup laptopnya setelah mengirim bukti itu kepengacara kepercayaannya, dia akan memasukkan Erwin kedalam penjara nantinya tanpa sisa, dia tidak akan membiarkan lelaki sialan itu mengambil apa yang bukan miliknya.
Erwin yang berada di ruangannya kini diliputi kebahagiaan tiada tara karena menganggap dirinya sudah berhasil memiliki kartu As dari perusahaan itu.
"Sekarang aku akan menjadi orang kaya raya, mereka tidak akan bisa lagi meremehkan dan juga menghinaku, dan ayah Angel itu akan menerima akibatnya". Sinisnya menatap map laporan yang berada dihadapannya kini.
Mentari yang sudah datang kini berjalan memasuki ruangan Erwin, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Erwin yang tengah bahagia itu langsung terperanjat begitu pintu dibuka lebar-lebar tanpa ketukan lebih dulu.
"Kamu ini, aku pikir siapa". Ucapnya meninggi.
Dia memegang dadanya yang berdebat kencang karena hempasan pintu itu, dia khawatir jika ada orang yang melihat laporan yang dia pegang itu.
"Memang siapa lagi yang bermain masuk kedalam ruangan kakak tanpa mengetuk pintu selain aku bahkan Angel saja mengetuk pintunya sebelum masuk". Jawab Mentari jengkel.
Dia masih belum siap dengan keadaan ini, dia sudah mendapatkan teguran besar dan sekali lagi dia membuat kesalahan maka dirinya akan dipecat.
"Sudahlah, mau apa keruangan ku?, bukannya kamu sedang kesal padaku? ". Ucap Erwin kembali duduk kemudian memasukkan berkas-berkas itu kedalam tas kerjanya.
Mata Mentari menyipit melihat apa yang dimasukkan oleh Erwin kedalam tas kerjanya itu.
"Apa yang kakak masukkan kedalam tas kakak itu? ". Tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Erwin barusan.
Dia harus mematikan Erwin tidak berbuat nekat karena dia sangat tahu lelaki yang bersamanya lebih dari 9 tahun ini akan melakukan apa saja jika dirinya sedang terdesak, dia tidak mau Erwin menambah masalah mereka dengan tindakannya.
"Bukan urusanmu, cukup kamu tetap pada rencana kita diawal jangan ikut campur urusanku".
Erwin berusaha untuk terlihat tidak gugup untuk menutupi kebohongannya karena dia tahu Mentari akan tahu kebohongannya sekecil apapun.
"Jangan bertindak yang aneh-aneh kak, kakak tahu sendiri kita sekarang dalam keadaan bahaya apalagi Steven sudah tahu tentang kita, aku yakin dia akan bertindak membalas kita entah kapan itu". Ucapnya memperingatkan.
Dia sangat mengenal baik watak lelaki ini, dia tidak akan membiarkannya bertindak lebih jauh lagi.
"Diamlah, biarkan aku bertindak sendirian, cukup kamu pantau saja dari jauh, kita sudah sejauh ini aku tidak akan membiarkan orang-orang itu terus menginjak-injak aku hanya karena aku berasal dari kalangan bawah sebelumnya".
Dia menatap Mentari dengan mata berkilat murka, hilang sudah tatapan sayang dan penuh cinta kepada gadis itu, entah mengapa rasa itu terasa kosong.
"Aku hanya memperingatkan kamu kak, aku tidak mau kamu menghancurkan dirimu sendiri, ingat tante sedang butuh biaya perawatan besar jika kamu terlibat masalah besar dan tidak memiliki dana maka dia akan menjadi korbannya". Bentak Mentari dengan kesal.
Mata Erwin meredup seketika, kalimat itu seakan menampar dirinya dengan sangat keras, Mentari benar ibunya membutuhkan biaya yang sangat besar untuk penyakitnya. Penyakit Ginjal kronis dan harus melakukan transplantasi ginjal nantinya dan biayanya tidak sedikit.
"Tolong kak, kalau kakak mau bertindak diluar kekuasaan kita lebih baik jangan, kasihan tante jika terjadi sesuatu padamu, aku juga tidak siap dengan itu".
Mata Mentari kini berkaca-kaca, dia memang tidak akan bisa jika harus kehilangan lelaki yang begitu dia cintai itu.
Erwin menunduk, kemudian mengangkat kepalanya menatap Mentari yang kini meneteskan air matanya, dia berjalan mendekati nya kemudian memeluknya.
Gadis yang begitu sangat mencintai dan menyayanginya belum lagi dia juga begitu menjaga ibunya selama ini, dia berhutang budi padanya.
"Maaf, aku sudah menyimpan dana untuk ibu jika terjadi sesuatu padaku nanti, tolong aku titip dia untuk kamu jaga". Ucapnya sambil membelai punggung Mentari dengan pelan.
"Jangan seperti ini kak, aku memang ingin memiliki segalanya tapi aku juga tidak mau kehilangan kamu tolong jangan lakukan hal yang merugikan".
Tangis Mentari akhirnya pecah, dia tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan dirinya nanti jika terjadi sesuatu pada Erwin, dia tidak akan sanggup untuk itu.
Sejak mereka remaja, dia sudah begitu ketergantungan dengan lelaki ini, dia begitu memuja dan mencintainya apalagi sejak mereka kabur waktu itu dia sudah tidak punya siapapun lagi.
"Biarkan hari esok seperti apa, aku sudah menyiapkan semuanya sebelum aku bertindak, aku hanya minta jaga ibuku dan cintai dia".
Pembicaraan mereka terhenti saat terdengar tepuk tangan keras dari belakang mereka
"Wah.. wah.. Pemandangan yang sangat bagus ternyata".