Saat langit retak dan hukum purba kembali berkuasa, manusia jatuh ke dasar rantai makanan. Di tengah keputusasaan itu, Rifana bangkit dengan luka yang tak kunjung sembuh dan ingatan yang perlahan terasa asing.
Di dunia di mana para Superhuman mulai membangun tatanan baru di atas reruntuhan, Rifana hanyalah anomali yang membawa aroma maut ke mana pun ia melangkah. Dia tidak memiliki kekuatan yang memukau, hanya kemampuan adaptasi yang gila dan perasaan bahwa dirinya bukan lagi manusia yang sama.
Berapa lama dia bisa bertahan di dunia yang tak lagi mengenali keberadaannya? Dan apa yang sebenarnya mengawasi dari balik fajar yang tak kunjung tiba?
Jadwal Up : 18.30 WIB
6-7 Ch/minggu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lloomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesadaran
Langit penuh retakan dirobek dengan kasar, layaknya luka baru yang mengalirkan darah keluar.
Lingkungan, berubah.
Jarak pandang Rifana, perlahan-lahan berkurang dengan drastis saat partikel merah yang turun berintegrasi dan menguap menjadi kabut merah tebal misterius.
Semua yang Rifana lihat, telah menghilang sepenuhnya.
Jarak pandang efektifnya hanya sejauh beberapa meter, mungkin 3-4 meter tepatnya. Saat kabut perlahan merembes menuju jendela yang terbuka, Rifana dengan refleks menarik daun pintunya dengan paksa menutup jendela itu dengan keras.
Brak... Rifana mengembalikan tirai kembali dalam keadaan semula dan berjalan mundur '... ' Dalam keheningan, dia menarik kursi dan duduk di mejanya.
'Gua.. Harus catet' Lengannya diangkat ke atas meja, mencoba meraih pulpen dengan tangan yang bergetar; Masalah terus berdatangan, Rifana menahan tangan kanannya yang bergetar mengarahkannya ke kertas.
Dengan gerakan yang kaku, dia kembali menulis.
'Aneh.. ' Kata demi kata ditulisnya, saat pikirannya berkecamuk dalam badai 'Kenapa gua bisa tenang.. ' wajahnya dipenuhi keraguan, gerakan menulis berhenti sejenak.
'...' Reaksi tubuhnya bekerja dengan wajar, namun. Rifana mengangkat tangannya kehadapannya.
Jemarinya gemetar tak karuan, seakan telah mengalami kegerian yang tak terhitung jumlahnya, reaksinya sangat wajar.
Namun, pikirannya berbanding terbalik.
Rifana dapat berpikir dengan jernih, seolah tak pernah ada hal yang terjadi tadi, sangat tenang.
Terlalu tenang hingga membuat Rifana merinding.
Mengingat pemandangan di luar, membawa rasa muak dan jijik pada Rifana. Partikel merah yang menyatu bergabung dengan udara menciptakan ilusi kabut yang sangat tebal.
Dengan sedikit tekanan Rifana mendorong dirinya untuk terus mencatat.
"Langit yang berdarah.."
"Sesuatu dari retakan di langit tumpah, menciptakan kabut tebal di seluruh tempat."
Pulpen berhenti digerakkan, dengan satu tangan di kepala dia bangun dari kursi.
Berjalan terhuyung ke cermin yang ditempatkannya di sudut. Dunia berputar di matanya saat rasa sakit konstan menyerang otak Rifana.
'Ugh.. ' Matanya berkedut, berdiri di hadapan cermin Rifana memandang dirinya sendiri.
Dengan pencahayaan tipis, sosok Rifana dipantulkan kembali kepadanya. Rambut hitam panjangnya terurai berantakan dengan perban lusuh yang dipenuhi bercak darah melingkari kepalanya,
Rasa pedih yang luar biasa terkonsentrasi tepat di pelipisnya, cairan gelap merembes keluar dari lukanya. Membasahi perban lusuh itu, Rifana menarik ikatan, perban di dahinya.
Perih.. Seakan pelipisnya ditusuk oleh ribuan pisau di saat yang sama, perban itu dilepas dari kepalanya.
Luka mengerikan ditarik dari pelipisnya hingga ke belakang telinga, engan pandangan yang kabur Rifana melihat pantulan cermin dimana bekas penuh darah itu terungkap.
Cairan hitam mengalir turun dari dalamnya, mencari jalan hingga menetes, jatuh ke lantai.
Matanya menjadi hitam, mengalirkan fluida hitam berdarah layaknya air mata yang menangis.
Dunia perlahan terbalik saat visi Rifana dipenuhi kekacauan, kesadarannya berangsur-angsur pudar darinya.
Dalam keheningan, Rifana pingsan.
Tubuhnya jatuh dengan keras, membenturkan tubuhnya ke lantai tak berdaya.
...
Ha... Hah... Rifana membuka matanya, nafasnya tersengal-sengal di tenggorokannya.
'Tadi itu.. ' Dia melihat dengan cepat ke sekelilingnya, tubuhnya dipenuhi oleh keringat dingin. Ruang kamar itu masih sama seperti sebelumnya, Rifana duduk kewalahan di meja, matanya terus bergerak kesulitan untuk fokus.
Kertas dan pulpen tetap tergeletak di meja dengan berantakan, Rifana beranjak dari kursinya dan berlari mendekat ke jendela.
Tangannya menarik tirai ke samping, dipenuhi dengan kengerian gerakannya kaku saat tarikan itu dilakukan.
Dengan suara seretan yang cepat, tirai ditarik terbuka.
Rifana melihat keluar dengan cepat, pemandangan mengerikan dari partikel merah yang diselimuti kabut tebal masih terpatri dalam benaknya, dan saat dia membuka tirai.
Rifana seharusnya bisa melihat itu.
Namun, tidak.
Pemandangan langit retak yang familiar, masih terbentang jauh di cakrawala. Meninggalkan Rifana tertegun dalam kesunyian.
'Kemana perginya?' Dia mendorong jendela terbuka mencoba melihat lebih jelas 'Jangan bilang gua mimpi!' Matanya terus menganalisis lingkungan di luar, namun sayang.
Semuanya tampak normal, sama seperti sebelumnya.
Bahkan seolah, tak pernah terjadi apapun.
Rifana menarik jendela, menutupnya dan menghalanginya kembali dengan tirai.
Dia berjalan menghampirinya cermin dan berkaca, perban yang sama, rambut yang sama, luka yang sama. Semuanya cocok, tidak mungkin baginya untuk bermimpi.
Rifana mengangkat tangannya, dengan telunjuknya dia mendekat ke cermin itu.
Crack.. Kaca itu retak secara tiba tiba, dengan kilatan cahaya asing bersinar dari kehampaan. Figur di cermin kini telah digantikan sepenuhnya.
Sosok pemuda dengan rambut hitam panjangnya telah hilang sepenuhnya, digantikan dengan orang asing yang tak diketahuinya.
Cahaya terang menyilaukan cermin menciptakan sosok asing di dalamnya, seorang pria asing muncul dalam kedipan mata.
Rambut peraknya disisir rapih kebelangkang, fitur wajahnya sempurna dengan sedikit lemak wajah dan garis rahang yang memukau.
Tubuhnya yang atletis dapat telihat, bahkan dari balik pakaiannya yang tebal. Menyaksikan ini Rifana mengerutkan alisnya 'Lah, siapa?' benaknya dipenuhi pertanyaan.
Belum sempat melakukan apapun, gelombang susulan telah tiba.
Sakit kepala yang mengerikan menyelimutinya layaknya ombak yang berkecamuk. Memunculkan memori memori asing yang entah bagaimana familiar bagi Rifana.
'Argh...' Dia melemparkan dirinya sendiri kebelakang, kedua tangannya berada di kepala berusaha melindunginya dari rasa sakit, namun itu tak bekerja.
Otaknya seakan dibor oleh seseorang, dan ditambal dengan baut baut memori tak dikenal secara paksa.
Rifana meronta di lantai, sekali lagi mengalami penyiksaan tanpa henti dari kepalanya sendiri.
Dengan lemah dia meringkuk 'Sialan.. '
Perlahan, fragmen-fragmen memori ditanam di dalam kepalanya.
Memutar adegan tak biasa di dalam benaknya.