Nasib Shafiya terjebak dalam pernikahan yang dimulai dengan niat dendam dari seorang pria bernama Arash. Kematian kekasihnya yang tidak mendapat pertanggungjawaban dari keluarga Shafiya membuat pria tempramental itu menikahi kekasih yang seharusnya menjadi istri dari tunangannya.
Shafiya harus menerima takdirnya menjalani pernikahan dengan laki-laki yang tidak mencintainya, rumitnya pernikahannya dengan lika-liku drama pernikahan yang dia alami.
Apakah Shafiya akan bertahan dalam pernikahannya? atau justru pada akhirnya Shafiya menyerah karena lelah? tetapi apakah Arash akan melepaskannya?"
Jawabannya hanya ada di bab-bab berikutnya...
Jangan lupa di follow Ig saya.
ainunharahap 12
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 Mulai Perhatian.
Setelah Shafiya meminum jus tersebut bahkan sampai separuh, kemudian Arash melanjutkan dengan memberikan makanan berupa soup yang baru saja dibuatkan oleh Bibi.
Arash juga berniat ingin menyuapi Shafiya dengan terlebih dahulu meniup soup tersebut dengan posisi Arash duduk bersila di depan Shafiya.
Setelah memastikan bahwa soup itu sudah dingin, kemudian Arash menyuapi Shafiya. Shafiya perlahan membuka mulut, menerima suapan itu dengan tenang dan tanpa ada rasa takut sama sekali.
Entah mengapa Arash merasa lega dengan respon baik yang diberikan Shafiya, istrinya itu terlihat nyaman.
"Aku boleh makan sendiri?" suara Shafiya akhirnya keluar untuk pertama kali setelah cukup lama dia sakit.
"Baiklah," jawab Arash menganggukkan kepala, tampak senyum tipis di wajah tampannya, sepertinya dia sangat menyukai suara Shafiya yang sudah cukup lama tidak diperdengarkan di telinganya.
Shafiya akhirnya mengambil alih untuk menikmati makanan itu sendirian, Arash melihat istrinya sedikit mengalami kesulitan karena rambutnya yang dibiarkan di gerai sehingga disaat kepala Shafiya tertunduk saat makan sudah pasti sangat mengganggu.
Arash tiba-tiba saja berpindah ke belakang Shafiya dengan mengikat rambut tersebut sembarangan. Shafiya sampai menoleh kearah Arash.
"Begini jauh lebih baik agar makan kamu tidak terganggu," ucap Arash.
Shafiya mengangguk dan melanjutkan makannya.
Arash ternyata memperhatikan istrinya itu saat menikmati makanan tersebut, sepertinya perkembangan kesehatan Shafiya sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya dan juga sepertinya sudah kembali menyesuaikan dirinya dengan Arash, pria yang selama ini dia takuti.
"Apa mungkin selama ini aku keterlaluan kepadanya?" batin Arash tiba-tiba saja ada bisikan malaikat untuk menyadarkan dirinya atas tindakan kepada istrinya.
Tetapi kembali lagi, hati dan mulut Arash adalah dua hal yang berbeda. Dendam yang masih tersimpan di dalam hatinya tidak mudah untuk meluluhkannya, tapi terkadang rasa simpatik yang dia torehkan justru mampu menegaskan dendam yang dilakukan sudah tidak berarti lagi.
*****
Shafiya duduk di pinggir ranjang. Arash terlihat berjalan menuju lemari dan membawa satu stel pakaian yang lengkap dengan hangernya dan kemudian melangkah menghampiri Shafiya dengan berdiri di hadapan Shafiya.
"Gantilah pakaian kamu! saya akan membawa kamu ke Dokter," ucap Arash menyodorkan pakaian tersebut yang hanya dilihat terus oleh Shafiya.
"Ada apa?" kamu tidak berniat untuk memakainya?" tanya Arash tidak melihat respon dari Shafiya.
Shafiya perlahan mengambil pakaian itu dan kemudian langsung berdiri. Shafiya terlihat begitu santai ingin melepas pakaian sebelumnya. Arash mendadak kaget dan menghentikan Shafiya.
"Kamu mau apa?" tanya Arash.
"Mana mungkin memakai pakaian sekali dua," jawab Shafiya.
Arash mencoba untuk tenang dengan menghela nafas.
"Saya tahu itu, tetapi tidak harus dilepas di depan saya!" tegas Arash.
"Kata Nenek, kamu adalah suami saya," ucap Shafiya.
Arash memejamkan mata, ternyata cukup berat menghadapi istrinya yang kesadarannya tidak sepenuhnya membaik.
"Gantilah di kamar mandi," ucap Arash dengan tersenyum terpaksa.
Percuma menjelaskan ini dan itu Shafiya sudah pasti tidak muda mudah mengerti. Lagi pula apa yang harus dijelaskan Arash tentang pernikahan mereka yang begitu rumit.
Shafiya menurutmu apa yang dikatakan Arash membuat gadis linglung itu berjalan menuju kamar mandi dan untunglah dia mengetahui di mana letak kamar mandi.
"Hah!" Arash seketika keringat dingin mengusap wajahnya menggunakan kedua tangannya. Padahal itu memang istrinya dan tidak ada salahnya jika mengganti pakaian di depannya, mungkin saja Arash takut tidak mampu mengendalikan diri.
Tetapi untunglah dalam kondisi seperti itu dia tidak mengambil keuntungan, padahal dulu dia pernah sempat memaksa istrinya untuk melayaninya.
****
Shafiya dan Arash sama-sama keluar dari rumah, Shafiya juga menggunakan hijabnya, terlihat cantik dan anggun menggunakan atasan pink dengan rok berwarna putih dan hijab putih. Arash membuka pintu mobil untuknya terlebih dahulu.
Shafiya duduk dengan santai. Arash memakaikan sabuk pengaman pada Shafiya yang hanya diam saja, kedekatan semakin percaya dengan posisi mereka yang semakin dekat membuat Arash melihat wajah istrinya hanya berjarak beberapa cm saja dari wajahnya.
Shafiya awalnya hanya melihat lurus ke depan, tetapi perlahan mata itu melihat ke arah Arash yang menatapnya sehingga mereka saling beradu pandang dengan jarak yang berdekatan dan nafas saling menerpa.
Arash sendiri yang tersadar terlebih dahulu dan mengalihkan pandangannya. Arash menyelesaikan pekerjaannya dan kemudian langsung berlalu mengeluarkan kepalanya dari mobil tersebut dan menutup pintu mobil, kemudian Arash menyusul dengan duduk di kursi pengemudi.
Arash mulai gelisah, tidak tenang dan berkali-kali menarik nafas dengan membuang perlahan sampai akhirnya Arash mengemudikan mobil tersebut.
Amelia baru saja keluar dari rumah dan melihat kepergian pasangan suami istri itu.
"Jika seperti ini terus. Arash akan mulai jatuh hati pada Shafiya. Rasa simpatik kasihan penyesalan adalah awal dari jatuh cinta. Aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi, Arash tidak boleh melupakan Chantika. Arash tidak akan jatuh cinta pada Shafiya yang akhirnya meluluhkan hatinya dan membuat dendam Arash hilang," ucap Amelia terlihat sudah mulai panik.
"Lalu kenapa jika semua itu terjadi?" Amelia menoleh ke belakang, melihat Nenek melangkah menghampirinya.
"Kenapa jika pada akhirnya Arash akan menyesali semua perbuatannya dan perlahan jatuh hati pada istrinya? Bukankah dunia nyata juga hampir sama dengan dunia dalam film, novel dan drama?" tanya Nenek dengan tersenyum.
"Saya sangat mengenal bagaimana Arash yang begitu sangat mencintai Chantika, sudah pasti tidak mudah bagi Arash untuk melupakan Chantika wanita yang paling dia cintai!" tegas Amelia.
"Tetapi semua kejadiannya terjadi di depan mata kamu? Kamu melihat sendiri bagaimana Arash sudah mulai memperlakukan Shafiya dengan baik? Memperlakukan dengan sangat baik dan bahkan memberikan perhatian, oh iya saya juga mendengar kemarin keributan yang terjadi di ruang tamu dan melihat bagaimana cucu saya sampai membuang minuman yang sudah kamu campurkan sesuatu, sudah pasti dia tidak terima jika ada yang menyakiti istrinya," ucap Amelia.
"Saya kasihan dengan Shafiya atas apa yang terjadi selama ini, saya kasihan melihat gadis tidak tahu apa-apa itu berubah menjadi wanita kehilangan arah, diam dan seperti wanita mengalami gangguan jiwa, tetapi siapa sangka yang terjadi padanya adalah awal dari semuanya dan pada akhirnya saya mendapatkan hikmah. Shafiya akan berakhir berakhir bahagia dicintai secara ugal-ugalan oleh Arash," ucap Nenek menekankan dan penuh keyakinan.
"Selama Shafiya sakit, saya selalu berada di sisinya dan hanya terus mengingatkannya bahwa dia sudah menikah, dia memiliki suami dan tidak perlu takut pada suaminya, usaha yang saya lakukan tidak akan sia-sia meski kamu terus mencampurkan obat-obatan ke dalam minuman Shafiya untuk memperburuk keadaannya, karena lihatlah perlahan dia sembuh," ucap Nenek.
"Amelia, jika kamu memiliki dendam dengan masa lalu kamu tidak selesai dengan Abi Shafiya. Kamu jangan melibatkan Chantika yang sudah tenang di alam sana dan juga menambah dengan melibatkan gadis yang tidak berdosa!" tegas Nenek.
"Kamu juga harus berdamai dengan masa lalu kamu, berdamai dengan kehidupan kamu agar kondisi kamu tidak seperti ini, ketika orang sudah berdamai dengan masa lalunya, maka dia akan mendapatkan kehidupan yang sangat baik. Jadi mulai sekarang terima semua dan berdamailah!" tegas Nenek tersenyum kemudian berlalu dari hadapan Amelia.
"Tidak akan! kalian tidak memiliki hak apapun untuk mengaturku, kehidupanku dan semua rencanaku tidak akan pernah berubah, orang-orang yang menyakitiku akan mendapatkan balasan dari perbuatan mereka!" tegas Amelia tetap pada pendiriannya dan terus-keras kepala.
Bersambung.....