Nella, si cewek yang barbar banget. Dari sikap absurd, tingkah yang paling tepok jidat.
Siapa yang akan peduli, kalau Nella itu punya segala alasan buat orang-orang terpingkal tertawa, bahkan jungkir balik.
Seorang pria yang rupawan cukup dibilang kayak artis china. Ternyata punya ke tarikan terhadap Nella.
Dari omongan Nella ke Edy. Semua pun terjalin begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lsaywong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemaksa
Di luar Nella duduk sambil meratapi layar komputer. Tidak ada yang bisa di kerjakan, apalagi semua bahasa Inggris. Nella paling bodoh dengan huruf inggris.
Kring... kring... kring...
Bunyi telepon bikin Nella terperanjat, di angkatnya.
"Halo, dengan Sekertaris Nella ada yang bisa saya bantu," sambutnya ramah.
"Nella,"
"Iya, Pak."
"Sudah makan?"
"Belum, Pak."
"Mau makan bersama?"
"Tidak perlu, Pak."
(Mau dong Om! Ah, Om ini, Lala kangen!)
"Benaran? Temani aku makan,"
"Maaf, Pak. Nanti saya makan di kantin saja."
"Aku kangen kamu..."
Nella diam tak menjawab telepon sebelahan, padahal Edy tengah mengintip di pantulan cermin gelap itu, memperhatikan ekspresi Nella.
"Kangen? Kangen siapa, Pak?" balas Nella nada datar
"Kangen cewek barbarku, yang sudah dewasa, jauh berbeda pertama bertemu dua tahun yang lalu. Kangen sama barbar yang konyol minta dihamili terus," kata Edy mengingatkan kembali kenangan manis itu.
Nella kembali diam, sebenarnya senang sih, kalau Edy mengingatnya.
"Nel, jadikan, makan bareng?" suara Toni membuyarkan melamun Nella yang masih menempel telepon.
Edy mendengarnya loh, cewek barbar itu senyum pada Toni.
"Jadi dong, sebentar, ya. Aku rapikan dulu. Kamu duluan saja. Nanti aku menyusul." jawab Nella belum mematikan telepon di tangannya.
Edy mendengarnya jelas kata-kata itu. Ia pun bangkit dari duduknya. Tak akan biarkan Nella bersama yang lain.
Nella baru saja akan melangkah satu cekalan lengan menghentikannya, Nella turut menoleh, Om Edy?
"Ikut, aku!" tegasnya buat Nella tertekun diam dan heran sama sikap Edy itu.
"Tapi, Om.. eh... Pak, saya sudah janji sama teman-teman makan di---"
"Ikut saja, jangan membantah!" potong Edy buat Nella bungkam.
Toni sudah menunggu di parkiran, kesempatan dia mendekat dengan Nella adalah waktu yang pas. Menembak perasaan padanya, Edy keluar dari tempat lobi saat akan menyapa oleh Toni.
Edy merangkul Nella begitu mesra, membuat Toni tidak berkutik malah memicingkan mata, Ada hubungan apa Nella sama Pak Bos? pertanyaan di kepala Toni.
Nella merasa aneh sama Om Edy-nya. Kenapa dulu enggak seperti ini. Sekarang ingin jual mahal sama dia, malah perlakukan kayak hubungan spesial. Dua pasang mata sudah perhatikan dirinya dan Bos-nya. Gosip akan beredar nih.
"Pak Bos sebenarnya mau bawa saya kemana..."
Oh-Oh... Kedua mata Nella mendelik lebar sempurna tanpa kedip sedikit pun. Edy mencium Nella agar diam, hanya ini bisa dia lakukan agar cewek barbar ini tahu kalau dia lagi cemburu sama Toni, anak bawang enggak punya apa-apa.
"Jangan panggil Pak Bos, aku ini Om Edy-mu," katanya lembut mengelus rambut yang panjang itu.
Nella tidak bisa berkata-kata, ingin melayang kemana saja biar bisa hilang dari tubuhnya sekali pun.
"Makin imut kalau kamu seperti ini." Di cubitnya hidung mungil milik Nella.
Dagdigdug, jantungku, kenapa lagi nih. Padahal aku sudah janji tidak akan berpaling. Aduh.. Om Edy kok makin hari, bukan, sekian lama dia menghilang, bikin jantungku berhenti saja. - Batin Nella menahan degupan jantung di tubuhnya.
Suasana di dalam mobil sedang memanas, sepertinya Nella akan meledak, terus di kipas - kipas mukanya yang memanas kepiting rebus.
"Stop! sepertinya saya enggak bisa makan dengan Bapak, saya sedang tidak sehat hari ini." Nella jadi gugup seketika kalau sudah begini Edy yakin buat cewek barbar bakalan kembali di pelukannya.
"Tidak sehat? Apa perlu saya bawa kamu ke dokter cinta?" Sekarang giliran Edy menggombali Nella.
"Hah? Dokter cinta? Memang ada?" Nella makin bingung sama sikap Edy bisa gombal itu, kan, kekonyolan darinya dulu.
"Ada, dong," balas Edy senyum tipis panjang.
•••••
S
ekarang mereka berada di salah satu kafe tea garden yang pertama kali bertemu itu. Nella masih milih diam, Edy juga.
"Kamu mau eskrim?" tanya Edy basa-basi
"Enggak, saya tidak suka eskrim," jawabnya cepat.
"Benarkah? Bukankah kamu selalu mengotot minta di berhentikan di sini, hanya beli eskrim alice." Edy kembali memutar memori dua tahun yang lalu.
"Itu dulu, beda dengan sekarang," kata Nella dingin.
Lala pengin banget eskrimnya, Beliin dong Om. Jangan asyik tanya mulu! - teriak Nella dalam hati.
"Begitu, ya." Edy keluar dari mobilnya. Nella menatap arah kemana Edy pergi.
Edy menuju salah satu tempat penjual eskrim. Nella senang banget di beliin, gengsi itu benar berat banget deh.
Tak lama kemudian, Edy kembali dengan beberapa bungkusan eskrim berbeda rasa, ia pun kembali masuk meletakan di atas depan setir pengemudi.
Edy buka satu bungkus eskrim rasa jagung menjadi kesukaannya. Karena eskrim jugalah cinta untuk cewek barbar ini tidak bisa hilang lagi.
Nella masih diam asyik dengan ponselnya permainan game dropdom puzzle masih belum berubah. Edy lirik sebentar dengan cewek barbar ini.
"Nella," panggil Edy
"...." tak ada tanggapan
"Nella," panggilnya lagi.
Nella masih fokus dengan gamenya, tinggal sedikit lagi, dia mencapai angka tinggi.
"Nanti dulu, tang---" Debaran jantung Nella terhenti seketika. Tidak ada degupan lagi dalam organnya.
wangi jagung, manis, dingin dan meleleh di lidah setelah satu butir eskrim masuk kedalam mulut Nella. Di telan tanpa ada sisa. Belum sampai di sini saja, meskipun sudah mencair eskrim itu.
Edy semakin melumat bibir Nella begitu dalam, membuat Nella tidak bisa menolak ada kebahagian di dalam tubuhnya. Edy makin hari, makin gila saja. Tidak tanggung - tanggung ciuman panas itu.
Wajah Edy menjauh dari wajah Nella yang sudah kehabisan napas tinggal satu dua hembusan. Nella menunduk tidak berani menatap wajah Edy. Nella mendongak eskrim rasa durian, kesukaan darinya sendiri.
"Saya sudah bilang, tidak suka eskrim." Nella bersih kekeh menolak eskrim itu. Padahal ia sudah ingin banget menyantap habis.
"Ini tidak ada racunnya, nikmati saja," kata Edy seperti pernah dengar kata-kata itu.
Nella masih ragu untuk menerima kalau ia ambil, gengsinya hilang dong. Serba salah deh, kan ia mau lihat seberapa jauh Om Edy memperjuangin cintanya. Masa hanya eskrim doang sudah luluh di pelukannya. Bukan Nella jaman now lagi nih.
"Jangan di lihatin saja, La! Sudah di bilang nggak ada racun. Palingan, racun di jantung aku," lanjut Edy bersuara kemudian membuka bungkus eskrim berbentuk durian, di sodorkan ke mulut Nella.
Bikin Nella terperanjat karena dingin luar biasa. Ia menatap Edy geming, Nella menerima eskrim itu dengan sekali gigit, rasanya benar manis dan kerinduan terdalam.