Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Fajar baru saja menyingsing, menyisipkan cahaya abu-abu di antara celah gorden mansion Karadağ.
Jam dinding menunjukkan tepat pukul lima pagi saat Emirhan terbangun dengan perasaan tidak tenang yang menghimpit dadanya.
Tanpa mengganti pakaian tidurnya, ia langsung melangkah keluar, berniat memastikan Aliya sudah bangun untuk bersiap-siap menyambut acara makan siang keluarga.
Ia memutar knop pintu kamar Aliya dengan perlahan.
"Aliya, kau sudah bangun?" bisiknya lembut.
Namun, tidak ada jawaban. Emirhan melangkah masuk dan seketika jantungnya seakan berhenti berdetak.
Tempat tidur itu kosong. Selimutnya tersingkap berantakan, dan bantalnya masih menyisakan lekukan kepala, namun sang pemilik tidak ada di sana.
"Aliya...?" panggilnya lagi, kali ini dengan nada yang bergetar.
Ia memeriksa kamar mandi, balkon, hingga balik tirai, namun hasilnya nihil.
Panik mulai merayap di nadinya. Emirhan berlari menuruni tangga dengan langkah seribu, menuju dapur—tempat yang biasanya menjadi tujuan pertama Aliya jika terbangun pagi.
Di sana, para pelayan baru saja memulai aktivitas mereka.
"Di mana Aliya? Apa kalian melihatnya keluar?" tanya Emirhan dengan napas tersengal.
Para pelayan saling pandang dengan wajah bingung.
"Tidak, Tuan Muda. Kami sejak tadi di sini, tapi nona Aliya tidak terlihat sama sekali."
Mendengar itu, dunia Emirhan terasa berputar. Ia menyadari ada sesuatu yang sangat salah.
Tanpa pikir panjang, ia berlari menuju kamar ayahnya dan menggedor pintu kayu jati yang besar itu dengan keras.
Tok! Tok! Tok!
"Ayah! Bangun, Ayah! Aliya hilang!" teriak Emirhan, suaranya pecah memenuhi lorong mansion yang sunyi.
Pintu terbuka, menampakkan Onur yang tampak terkejut dengan wajah bantalnya.
"Apa maksudmu hilang? Dia pasti sedang di taman atau—"
"Tidak ada, Ayah! Dia tidak ada di mana pun!" potong Emirhan.
Ia segera merogoh saku dan mengambil ponselnya dengan tangan gemetar, mencari satu nama yang bisa ia andalkan dalam situasi seperti ini.
"Zartan! Aliya hilang dari kamar!" ucap Emirhan begitu telepon diangkat, suaranya penuh dengan keputusasaan.
"Periksa semua CCTV di sekitar mansion sekarang juga. Aku punya firasat seseorang membawanya pergi saat kita semua tertidur."
Di seberang telepon, suara Zartan langsung berubah dingin dan waspada.
"Tetap tenang, Emir. Aku akan segera ke sana. Jika ada yang berani menyentuhnya, mereka tidak akan melihat matahari terbenam hari ini."
Emirhan menutup telepon, matanya tertuju pada pintu belakang yang sedikit terbuka.
Di sana, ia menemukan sebuah gelas kaca yang tergeletak di lantai, seolah-olah terjatuh dari tangan seseorang yang kehilangan kesadaran.
Amarah dan ketakutan kini bersatu dalam dirinya; ia tahu badai yang lebih besar baru saja dimulai.
Kemarahan Emirhan kini mencapai puncaknya. Instingnya membawa langkah kakinya menuju sayap bangunan tempat kamar Hakan berada.
Tanpa mengetuk, ia mendobrak pintu kamar adiknya itu dengan satu tendangan keras.
"Hakan! Keluar kau!" teriak Emirhan.
Namun, ruangan itu kosong. Udara di dalamnya terasa dingin, seolah penghuninya sudah pergi cukup lama.
Emirhan melangkah masuk, matanya menyisir setiap sudut kamar yang berantakan, hingga langkahnya terhenti tepat di depan dinding samping tempat tidur Hakan.
Emirhan mematung. Napasnya tercekat melihat pemandangan di depannya.
Di dinding itu, terpampang foto Aliya yang diambil secara diam-diam.
Tidak hanya satu, tapi beberapa foto Aliya saat sedang tersenyum, sedang belajar, bahkan foto saat Aliya baru keluar dari rumah sakit.
Di tengah foto-foto itu, terdapat coretan tanda silang merah yang besar.
"Sakit, kamu benar-benar sakit, Hakan," desis Emirhan dengan suara bergetar.
Ia menyadari bahwa kebencian adiknya telah berubah menjadi obsesi yang mengerikan.
Dengan tangan gemetar, Emirhan mencoba menghubungi ponsel Hakan.
Tuut... tuut... Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi.
"Sial!" Emirhan membanting ponselnya ke atas kasur Hakan sebelum mengambilnya kembali dengan kasar.
"Hakan, awas saja kalau kamu berani menyentuh seujung rambutnya pun, aku tidak akan menganggapmu adik lagi!"
Tanpa membuang waktu, Emirhan berlari kembali ke kamarnya.
Ia menyambar jaket kulit dan kunci mobilnya, lalu menuruni tangga dengan kecepatan penuh, mengabaikan panggilan ayahnya, Onur, yang masih bingung di ruang tengah.
Mobil sport milik Emirhan menderu memecah keheningan pagi di halaman mansion.
Ia melesat meninggalkan gerbang Karadağ, memacu kendaraan itu dengan kecepatan tinggi menuju titik pertemuan yang sudah dijanjikan dengan Zartan.
Di sepanjang jalan, rahang Emirhan mengeras. Sorot matanya tajam dan penuh amarah.
Baginya, ini bukan lagi sekadar urusan keluarga; ini adalah perang untuk menyelamatkan nyawa wanita yang ia cintai dari kegilaan adiknya sendiri.
Ia hanya berharap Zartan sudah menemukan petunjuk ke mana mobil Hakan mengarah sebelum semuanya terlambat.
Guncangan ombak dan aroma garam yang tajam menusuk indra penciuman Aliya, memaksanya untuk kembali ke alam sadar.
Perlahan, ia membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat.
Pandangannya masih kabur, namun ia segera menyadari bahwa dirinya tidak lagi berada di atas tempat tidur empuk di mansion Karadağ.
Ia berada di dalam sebuah kabin kapal yang sempit dan berbau kayu lembap.
Kedua tangannya terikat kuat di belakang kursi kayu, begitu juga dengan kakinya.
Sebuah kain hitam masih membungkam mulutnya dengan erat.
"Mmmmpphh... Mmmpphh!" Aliya meronta, mencoba melepaskan ikatan yang menyayat kulit pergelangan tangannya.
"Ssttt... tenanglah. Jangan merusak suasana pagi yang indah ini," sebuah suara yang sangat ia kenali terdengar dari sudut gelap ruangan.
Aliya membelalakkan matanya saat sosok itu melangkah maju ke bawah sorot lampu yang remang-remang. Namun, Hakan yang ia lihat sekarang bukanlah pemuda ramah yang menawarkan pesta makan siang kemarin; matanya tampak gelap, kosong, dan dipenuhi kebencian yang dalam.
"Selamat pagi, Cantik," ucap Hakan dengan nada suara yang tenang namun mengerikan.
Hakan mendekat, mencondongkan tubuhnya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
Tanpa memedulikan tatapan ketakutan Aliya, Hakan mendaratkan ciuman di pipi Aliya—sebuah kecupan dingin yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
Aliya menangis sesenggukan, air matanya mengalir deras membasahi kain yang membungkam mulutnya.
Bahunya berguncang hebat, rasa takut yang luar biasa menghimpit dadanya. Namun, di balik isak tangis itu, jauh di dalam hatinya, Aliya masih menyimpan satu keyakinan kecil: Emirhan pasti sedang mencarinya.
Ia tahu pria itu tidak akan membiarkan kegilaan Hakan menghancurkan masa depan yang baru saja mereka bangun.
Hakan mengusap air mata Aliya dengan ibu jarinya, lalu tersenyum tipis.
"Menangislah sepuasmu. Di tengah laut ini, tidak akan ada Kak Emirhan atau Zartan yang bisa mendengarmu.
Hari ini, hanya ada aku, kamu, dan pembalasan dendamku atas apa yang mereka lakukan pada Ibuku."
Hakan perlahan menarik kain yang membungkam mulut Aliya.
Begitu kain itu terlepas, Aliya terbatuk-batuk, menghirup udara sebanyak mungkin dengan napas yang memburu.
Hakan kemudian mengambil sebuah botol air mineral, membukanya, dan menyodorkannya ke bibir Aliya dengan gerakan yang hampir terlihat perhatian.
"Minumlah. Aku tidak ingin kamu mati kehausan sebelum acara utamanya dimulai," ucap Hakan tenang.
Aliya memalingkan wajahnya sejenak, namun rasa haus yang membakar tenggorokannya memaksa dia untuk meminum air itu meski dengan tangan gemetar.
Setelah beberapa teguk, Aliya menatap tajam ke arah Hakan dengan mata yang sembab.
"Lepaskan aku, Hakan! Apa yang kamu lakukan ini salah. Emirhan dan Ayah akan sangat marah padamu," jerit Aliya dengan suara parau.
Hakan hanya menggelengkan kepalanya perlahan, memamerkan senyum miring yang mengerikan.
Ia meletakkan botol itu ke lantai kapal, lalu mengulurkan tangannya untuk membelai rambut panjang Aliya.
Jemarinya melilitkan helaian rambut itu, menikmatinya seolah-olah Aliya adalah barang rampasan yang berharga.
"Melepaskanmu? Setelah semua rencana yang kususun?" Hakan tertawa kecil, suara tawanya tenggelam oleh deru mesin kapal.
"Sepertinya aku juga jatuh cinta dengan kamu, Aliya. Kamu sangat cantik sekali saat ketakutan seperti ini. Benar-benar permata yang pantas diperebutkan."
"Kamu gila, Hakan! Kamu adik Emirhan!" teriak Aliya, mencoba menarik kepalanya menjauh dari sentuhan Hakan.
"Adik?" Hakan menarik sedikit rambut Aliya hingga gadis itu mendongak paksa.
"Dia sudah membuang ibuku! Dia dan Zartan menghancurkan duniaku. Jadi, kenapa aku tidak boleh mengambil miliknya yang paling berharga sebagai gantinya? Kamu akan tetap di sini bersamaku, Aliya. Sampai Emirhan merasakan hancur yang sama seperti yang aku rasakan."
Aliya memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan air mata baru jatuh membasahi pipinya.
Ia merasa jijik dan ngeri menyadari bahwa pria di depannya ini sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya.
Di tengah lautan luas itu, ia hanya bisa berdoa agar Emirhan segera menemukannya sebelum kegilaan Hakan melangkah lebih jauh.