IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"Berangkat kerja, Nin"
May buru-buru menyapa Anin, ketika melihat gadis itu keluar dari rumahnya.
"Iya"
Anin hanya menjawab singkat, tidak selera menimpali panjang lebar sapaan yang ia tahu berujung dengan pertanyaan-pertanyaan tidak perlu.
"Jalan kaki sekarang? Kok nggak motoran?" imbuh May.
"Nggak" jawab Anin singkat.
"Kenapa, di tarik leasing ya motornya? Nunggak berapa bulan emang?" May bertanya, tapi nadanya sengaja mencibir.
Anin memutar bola matanya dengan malas, kesal dengan pertanyaan yang sebenarnya hanya ingin menjatuhkan.
"Udah lunas kok, Tante nggak usah khawatir." timpal Anin, kesal.
"Masa? Siapa yang bayar?"
"Gue lah, masa suami Tante!" jawab Anin, sewot.
"Eh ... Anin, jadi anak perawan jangan judes-judes gitu. Nanti jauh jodohnya, jadi perawan tua. Mentok-mentok di lamar duda, atau kalo nggak suami orang!" May masih belum berhenti bicara, sengaja bikin hidup Anin nggak tenang.
"Biarin, asal bukan suami Tante!" cetus Anin, kesal.
"Kurang ajar ya, kalo di bilangin orang tua. Gue sumpahin nggak laku-laku lu!" pekik May, tersinggung dengan sikap sewot Anin.
"Bodo amat!" seru Anin, dan secepat mungkin pergi menjauh.
Anin pun sudah sampai di depan gang menuju rumahnya. Lantas di kejutkan dengan suara klakson mobil yang begitu dekat dengan tempatnya berdiri.
"Hi, Cantik!" catcalling yang di lancarkan oleh pria yang tadi sengaja membunyikan klaksonnya.
Anin kenal dengan pria itu, bahkan setiap malam sebelum tidur ia sering memikirkannya. Siapa lagi kalo bukan Naufal Adhitama, sang kekasih yang berwajah tampan anak konglomerat pula.
Namun Anin tidak menggubris panggilan Naufal padanya. Mood nya sudah berantakan, perkara May yang keterlaluan menyumpahinya.
Naufal pun menyerah, lantas membukakan pintu mobil tanpa banyak bicara. Tapi Anin masih berjalan, tanpa memperdulikannya.
Naufal terus mengikutinya dengan jalan lambat menjajari langkah kekasihnya. "Sayang, udah sih naik. Pagi-pagi udah ngambek aja?"
Anin menoleh, lantas mendelik ke arah Naufal. "Makanya, jadi orang yang sopan! Apaan catcalling begitu, pelecehan tau nggak!"
Naufal terkejut, lantas terkekeh pelan. "Galak amat Bu Manajer ini, Red day ya?"
Anin pun duduk di sebelah Naufal, dan tak lupa membanting pintu mobilnya, hingga membuat Naufal terlonjak. "Buset, galak amat! Nggak kangen apa semaleman nggak ketemu pacarnya?"
"Nggak! Ngapain kangen sama orang yang kerjaannya asusila. Ganjen!"
"Ha? asusila?!"
"Iya lah, asusila. Apa tuh tadi, flitring nggak jelas!"
"Ya Allah, sayang ... Itu tadi becanda, becanda! Gimana sih kamu tuh!" terang Naufal.
Anin masih cemberut, lantas Naufal menjawil hidung bangirnya. Naufal suka dengan si jutek tapi manis ini. Baginya cemberutnya Anin justru suguhan yang manis untuknya memulai hari. Aneh, tapi memang begitu adanya. Selera Naufal mengenai tipe cewek, memang beda dengan cowok lainnya.
"Sayang, mau sarapan dulu nggak?" tawar Naufal.
Lantas Anin menimbang-nimbang. Ia melirik ponselnya, masih sempat untuk sekedar sarapan nasi uduk atau nasi goreng, pikirnya.
"Kita makan nasi uduk di sebelah sana yuk" ajak Anin, yang kini mulai melunak.
"Boleh, ya udah kita makan dulu." Naufal setuju.
Mobil yang mereka tumpangi pun berhenti, tepat di depan warung nasi yang Anin tunjuk tadi. Dan kini mereka sudah duduk di dalamnya.
"Bu nasi uduk dua, nggak pake sambel ya." ucap Naufal pada Ibu-ibu penjual.
"Eh ... Pake sambel, nggak enak tahu nggak pake sambel." sergah Anin.
"Ih ... Nggak boleh sayang, pagi-pagi jangan makan sambel dulu. Nanti lambung kamu bisa kena iritasi. Asam lambung bisa naik loh. Kalo mau makan sambel nanti aja pas makan siang" terang Naufal.
"Ck, nggak enak!" timpal Anin, tapi ia menurut. Pasalnya, yang bicara itu adalah seorang dokter. Jadi ya dia percaya dengan yang di sarankan pacarnya.
"Kamu tuh, harus aware sama kesehatan. Kalo nggak kita sendiri yang jaga siapa cobak? Aku nggak mau kalo kamu sampe kenapa-napa."
"Memangnya kenapa, kalo aku kenapa-napa?"
"Bisa mati aku sayang, mana bisa aku nggak ada kamu!"
Anin pun tersenyum dengan penuturan kekasihnya itu.
Dan ia pun semakin sadar, Naufal memang sudah berhasil membuatnya jatuh cinta. Apa iya? Apa benar ini yang di namakan cinta? Entahlah, Anin juga kadang masih menyangkal.
Nasi uduk pun tersaji, perlahan-lahan mereka menikmatinya.
" Sayang, ada yang mau aku bicarakan sama kamu soal hubungan kita." ujar Naufal di sela makan mereka.
"Apa?"
"Aku pengen kita segera nikah, tapi situasinya kayanya sulit sayang." imbuh Naufal hati-hati.
"Aku tahu kesulitannya, restu orang tua kamu kan?" tebak Anin.
Naufal pun tercekat, betapa kekasihnya ini begitu pas menebak.
"Gini sayang, kemarin kan Papa sama Mama sampe Indonesia. Dia kumpul sama sahabat-sahabatnya di rumah. Dan membahas tentang kriteria mereka dalam menyeleksi calon mantu."
"Terus?"
"Ada yang namanya Tante Megan, dia dokter spesialis forensik. Ngasih statement kalo, beberapa kasus yang dia tangani seringnya berasal dari keluarga yang berantakan. Mereka jadi mikir ulang untuk mempunyai menantu dengan background keluarga begitu. Terus aku jadi kepikiran sama hubungan kita." tutur Naufal pelan.
Anin menghela nafas, ia menghargai kejujuran Naufal dalam problem hubungan mereka. Mau tidak mau, cepat atau lambat masalah ini pasti akan mereka hadapi. Jadi untuk apa menunda-nunda untuk tidak jujur, toh semuanya juga akan di jalani.
"Sayang, kamu tahu kan aku pengen hubungan kita tetap berlanjut. Nah masalahnya sekarang di restu orang tua. Jadi aku pengen kamu tahu, supaya kita semakin kuat buat memperjuangkan hubungan kita ini. Karna kita ngadepinnya sama-sama. Kamu paham kan maksud aku?"
Anin mengangguk, ia paham. Bahkan ia sudah siap sedari awal kalau hubungan mereka pasti akan di tentang. Tapi benar kata Naufal, mereka harus bersama agar kekuatan hubungan tidak keropos dan mudah rapuh jika ada penghalang.
"Terimakasih sayang, kamu udah ngertiin posisinya. Aku bener-bener pengen kita nikah, dan nggak mau nunda-nunda. Takut, nanti kamu nya malah di ambil orang kalo aku kelamaan. Tapi gimana?!" timpal Naufal pasrah.
"Nikah emang gampang, tapi restu orang tuamu yang nggak gampang!" imbuh Anin, kesal.
Naufal menoleh lebih dalam, menatap lekat manik mata kekasihnya. "Sayang, apa kita kawin lari aja?!"
tuk!
Anin menjitak dahi Naufal, hingga pria itu sedikit meringis kesakitan.
"Di kira gampang apa kawin lari?!" pekik Anin, "Capek tau nggak!"
Naufal pun terkekeh, "Ya nggak kawin sambil lari-larian juga sayang, kamu nih ada-ada aja!"
"Kamu yang ada-ada aja, pikirannya malah kawin lari. Malu sama gelar, dokter spesialis loh kamu itu. Masa iya pikirannya cetek begitu." sahut Anin.
"Ya gimana, orang kalo udah kecintaan emang jadi bego sayang. Makanya dulu-dulu aku nggak pernah kecintaan. Males bego."
"Dih, tapi kamu nikmatin kan?!"
"Dikit..."
"Najis!"
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍