Aliya mencintai Ibas dengan tulus, namun Ibas membalasnya dengan luka. Demi kekasihnya, Nadia, Ibas menceraikan Aliya secara rahasia. Ia kemudian membayar Aliya satu miliar rupiah agar tetap tinggal serumah demi menipu keluarga besar mereka.
Namun, sandiwara itu justru membuat Ibas terjebak dalam rasa yang tak semestinya. Saat kebenaran terungkap dan Aliya memilih pergi selamanya, Ibas baru menyadari bahwa ia telah membuang permata demi kerikil.
Kini, Ibas harus berjuang mengejar maaf Aliya. Sialnya, ia bukan lagi satu-satunya pria yang menunggu. Ada Aufar, sepupunya sendiri, yang sudah lama menyiapkan hati untuk melindungi Aliya.
Siapakah yang akan Aliya pilih? Pria yang menghancurkannya, atau pria yang menyembuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sah bercerai?
Satu bulan kemudian...
"Bas, kinerja kamu benar-benar luar biasa. Saya bangga sama kamu. Terus pertahankan kinerja kamu yang seperti ini, ya! Jangan sampai jadi Ibas yang nakal dan keras kepala kayak dulu," puji Bu Inggar dengan bangga kepada bawahannya.
Perempuan berusia 42 tahun itu tersenyum. Dia menepuk pundak Ibas penuh penghargaan. Akhirnya... seorang Ibrahim Asyraf akhirnya memperlihatkan sikap sebagai seorang penerus.
"Terima kasih, Bu. Semua berkat bimbingan Bu Inggar juga," balas Ibas tersenyum.
"Kalau gitu, saya duluan ya!" pamit Bu Inggar kemudian.
"Nggak mau saya antar aja, Bu?"
"Oh, nggak usah," geleng Bu Inggar. "Saya sudah pesan taksi, kok. Tuh..." telunjuknya mengarah pada sebuah taksi yang sedang berhenti tepat di depan mereka. "...taksinya sudah datang."
Ibas pun mengangguk. "Kalau begitu, Bu Inggar hati-hati, ya!"
"Ya, kamu juga, Bas!" balas Bu Inggar sembari masuk ke dalam taksi.
Ibas masih memperhatikan taksi yang membawa Bu Inggar dengan tatapan tak berkedip . Setelah bokong mobil tidak terlihat lagi, barulah dia memutuskan untuk berjalan menghampiri mobilnya sendiri.
Rumah adalah tujuan utamanya. Ibas sudah tak sabar untuk segera menginjakkan kaki di tempat penuh kenangan itu. Ada seseorang yang sudah membuat Ibas tersiksa rindu selama satu bulan terakhir.
Begitu sampai, Ibas langsung mengucap salam dengan tak sabaran. Tak lama kemudian, sosok sang Ibu tampak muncul dari arah dapur.
"Ibas..." seru Saraswati dengan wajah dihiasi senyuman.
Sedikit terburu-buru, dia menghampiri putranya. Dipeluknya sang putra erat lalu mencium pipinya dengan penuh kasih sayang.
"Bunda apa kabar? Sudah sehat, kan?" tanya Ibas.
"Alhamdulillah. Bunda sudah sehat, Nak. Kondisi Bunda sudah sangat prima," jawab Saraswati.
"Ayah masih di kantor, ya?"
"Iya. Tapi, sebentar lagi juga pulang."
Ibas mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Jam pulang kantor memang tinggal sebentar lagi.
"Kalau Aliya... dimana?" tanya Ibas lagi.
Degh!
Ekspresi bahagia sang Ibu mendadak berubah muram. Perempuan paruh baya itu sama sekali tak bisa menyembunyikan perasaan sedihnya saat nama itu akhirnya disebut oleh Ibas.
"Bun, kok malah diem aja?" lanjut Ibas. "Aliya ada dimana?"
Saraswati masih terdiam. Bagaimana caranya dia harus menjawab tanpa mematahkan hati putranya?
"Dia... diatas ya?" tebak Ibas. "Kalau gitu, aku ke atas ya."
Tanpa bisa dicegah oleh Saraswati, Ibas langsung berlari kecil menaiki tangga. Jantungnya mulai berdegup kencang. Dia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Aliya.
"Aliya..." panggil Ibas. Pria itu membuka pintu didepannya dengan tidak sabaran.
Namun, pemandangan dihadapannya membuat Ibas seketika mematung. Kamar itu sudah kosong. Parahnya lagi, di kamar itu seolah tak pernah ada yang menempati. Semuanya kembali seperti semula. Sepi.
"Ibas... Kenapa lari-lari, sih? Kalau jatuh, bagaimana?"
Susah payah, Saraswati berhasil menyusul putranya.
"Bun, Aliya dimana?" Ibas mulai terlihat gelisah. "Bukannya, dia tinggal di kamar ini?"
"Aliya sudah pindah, Bas," jawab sang Ibu seraya menghela napas panjang.
"Pindah kemana?" tanya Ibas lagi. "Apa ke kamar aku?" lanjutnya seraya berjalan cepat menuju ke arah kamarnya.
Dia pun kembali membuka pintu didepannya dengan tak sabaran. Namun, sama seperti sebelumnya. Kamar miliknya juga kosong. Tak ada tanda-tanda jika Aliya pernah kembali menempatinya.
"Kok, nggak ada juga? Jadi, Aliya pindah ke kamar yang mana, Bun?"
"Aliya sudah keluar dari rumah ini, Bas. Dia sudah tidak tinggal di sini lagi."
Jawaban itu membuat tungkai Ibas langsung lemas.
"Kok, bisa?" lirih Ibas. "Kenapa dia nggak nunggu aku dulu?"
"Untuk apa?" tanya Saraswati. "Perceraian kalian sudah disahkan oleh pengadilan agama. Jadi, nggak ada alasan untuk Aliya tetap bertahan di rumah ini."
"Sudah disahkan pengadilan?" pekik Ibas terkejut. "Siapa yang ngurus? Kenapa cepat sekali? Dan, kenapa nggak ada yang kasih tahu aku?"
"Semua ini keinginannya Aliya, Bas. Jadi, Ayah sendiri yang mengurus semuanya demi Aliya."
"Nggak. Ini nggak adil, Bun," ucap Ibas dengan senyum penuh kecewa. Dia melangkah mundur. "Seharusnya, aku juga dilibatkan dalam masalah ini. Perceraian nggak bisa dilakukan tanpa aku, Bun."
"Sudah, Bas!" kata Saraswati dengan nada sedikit meninggi. "Hargai keputusan Aliya! Kalau dia mau pergi, biarkan! Bukannya, kamu juga sudah mendapatkan keinginan kamu? Kamu mau sama Nadia, kan? Ayah dan Bunda sudah merestui kalian. Kami ikhlas kalau pilihan kamu memang perempuan itu."
"Tapi, Bun..."
"Aliya memang terlalu baik untuk kamu, Bas," potong sang Ibu. "Jadi, terima saja! Nggak usah mengeluh apalagi protes kalau semua ini nggak adil. Aliya sudah banyak memberi kesempatan. Kamu saja yang selalu menyia-nyiakannya."
pelacur teriak pelacur
👍
dan bukan grup penggemar kelompok bnyinyir 🥺
coba dari awal Lo sikapnya biasa saja bila ga suka ha usah menghina atau berbuat
jahat ya sekarang Lo bermasud baik tetapi
sahabat lonsudah menghinanya,,,orang kota katanya sopan santun lah ini brandal cewek. sundel bolong lebih kampungan
matre dan . menjijikan Nadia tukang velap celup mirip teh sarinande,,,preeeettt,,🥺