Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.
Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.
Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.
Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.
Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Jalan-jalan
Zivanna meminum segelas air yang neneknya berikan. Setelah itu dia merasa lebih tenang meskipun detak jantungnya belum kembali normal.
Gadis itu kembali membaringkan tubuhnya. Dia tidak benar-benar berlari. Dia juga tidak benar-benar berteriak. Itu semua hanya terjadi di dalam mimpinya. Tetapi efek yang dia rasakan begitu nyata. Saat ini dia merasa tenaganya habis. Nafasnya masih ngos-ngosan dan tenggorokannya terasa kering dan serak. Bagiamana bisa?
"Sekarang jam berapa, Nek?" tanya Zivanna dengan wajah pucat.
"Ini baru jam tiga pagi. Tidur lagi, ya?" bujuk Minah.
"Nenek di sini saja temani aku."
"Iya, Nenek akan temani kamu." Minah langsung merebahkan tubuhnya di samping Zivanna. Dia prihatin melihat kondisi cucunya. Memang sebelumnya dia sudah diberi tahu kalau Zivanna sering mimpi buruk, tetapi dia tidak menyangka akan seburuk ini.
Zivanna memeluk lengan neneknya yang kini berbaring di sampingnya. Pikirannya menerawang mengingat mimpinya barusan. Dia ingin menanyakan soal gadis bernama Ayu yang baru saja muncul dalam mimpinya tetapi apa mungkin neneknya itu tahu?
Neneknya bukanlah tipe orang yang suka bergosip lagi pula dia juga bukan orang asli desa Suka Makmur. Kecil kemungkinan neneknya itu tahu soal Ayu selain fakta bahwa gadis itu adalah anak Ida, pegawainya.
"Nek, apa di sini ada yang jualan kue yang warnanya hijau, bentuknya mirip bunga lalu ada toping putih-putih di atasnya itu?" Akhirnya pertanyaan lain yang keluar dari bibir Zivanna.
"Apa maksudmu kue putu ayu?"
"Iya, mungkin," jawab Zivanna tidak yakin.
"Kenapa tiba-tiba ingin kue itu? Coba besok nenek suruh Rani membelinya di pasar."
Pagi harinya...
Minah menyuruh Rani pergi ke pasar untuk membeli kue putu ayu yang Zivanna inginkan.
Tidak sampai satu jam Rani sudah kembali sambil membawa satu tas kresek kecil berisi jajanan pasar.
"Ini putu ayu yang Non Ziva pesan. Sebenarnya kue buatan Ayu lebih enak, tapi dia sudah meninggal jadi aku belikan di tempat lain. Tapi ini rasanya tak kalah enak dari buatan Ayu," terang Rani antusias sambil meletakkan tas kresek yang dia bawa di atas meja. "Mamak juga membelikan kue-kue lainnya, siapa tahu Non Ziva doyan. Semuanya ada di dalam tas ini."
Zivanna menerima kue putu ayu dari Rani. Dia mengambil satu dari dalam plastik lalu hanya membolak-balik kue itu tanpa berniat untuk memakannya.
Sebenarnya tidak menginginkan kue itu. Dia meminta neneknya membelikan kue itu semata-mata hanya untuk memastikan sesuatu.
Rani memperhatikan tingkah Zivanna, demikian juga Minah yang terlihat begitu khawatir.
Wajah Zivanna masih terlihat pucat. Lingkaran hitam di sekitar matanya terlihat begitu jelas. Tadi dia juga tidak mau sarapan. Benar-benar mengkhawatirkan.
Tadi malam, ketika Minah mengajak Zivanna untuk melanjutkan tidur, gadis itu hanya pura-pura memejamkan matanya. Sementara Minah kembali terlelap, Zivanna membuka mata dan terjaga sampai sekarang.
"Non, nggak dimakan kuenya? Cuma dibolak balik saja?"
Zivanna seperti tidak mendengar pertanyaan Rani. Mata gadis itu terus tertuju pada kue berwarna hijau muda di tangannya. Hatinya berdesir. Ini benar kue yang ada di mimpinya.
"Zi, dimakan kuenya. Kamu pingin banget kan kue itu?"
"Eh... iya." Zivanna tampak ragu.
Minah menghampiri cucunya lalu membukakan mika yang membungkus kue itu. "Ini toping putih-putih yang kamu maksud berasal dari kelapa muda parut. Biasanya dicampur sedikit garam agar ada rasa gurih- gurihnya," terang Minah yang sudah menjiwai menjadi warga lokal. "Makanlah. Enak." Minah menyodorkan kue putu yang sudah dia buka kepada Zivanna.
Zivanna menerima kue itu lalu dengan ragu-ragu menggigitnya.
"Bagaimana? Enak kan, Non?" tanya Rani setelah Zivanna menyelesaikan gigitan pertamanya.
"Hmmm... Enak Mak." Zivanna tampak menikmati. Baru hendak menyuapkan kue itu lagi ke dalam mulutnya, tiba-tiba mata Zivanna berkaca-kaca lalu air mata menetes perlahan tanpa bisa dia tahan.
"Duh, kenapa lagi ini?!" Zivanna meletakkan lagi kue putunya lalu mengusap pipinya yang sudah basah. "Perasaan tadi nggak kena sinar matahari, nggak keluar rumah juga. Lalu kenapa seperti ini lagi?"
"Kita ke dokter saja, ya?"
"Memangnya di sini ada dokter spesialis mata, Nek?"
"Di puskesmas sepertinya ada, Non. Coba nanti Mamak ke rumah Ida. Anaknya bekerja di puskesmas, mungkin anaknya tahu," sahut Rani.
"Iya, Ran. Tolong kamu tanyakan ke anaknya Ida."
Sore harinya...
Rani sudah kembali dari rumah Ida. Dia langsung melapor ke majikannya.
"Katanya ada dokter spesialis mata, tapi cuma bertugas di hari Senin selain itu tidak ada."
"Oh... Ya sudah. Kalau begitu besok pagi kita bawa Zizi ke puskesmas."
Selesai Rani bicara, Zivanna muncul dari dalam rumah. "Mak, temani aku jalan-jalan, yuk. Bosan di rumah terus," ajaknya kepada Rani. Zivanna sengaja tidak mengajak neneknya karena khawatir reumatik neneknya kumat.
Rani menoleh kepada Minah, meminta persetujuan.
"Tapi seharian tadi kamu tidak makan, Zi. Nanti kalau lemas bagaimana? Kalau pingsan di jalan bagaimana?" Minah khawatir dengan kondisi cucunya. Apalagi Zivanna masih terlihat pucat.
"Aku nggak apa-apa. Nenek tenang saja."
"Ya sudah, tapi hati-hati, ya. Jangan jauh-jauh. Sana ambil sweater dulu, nanti kamu kedinginan."
"Oke. Sebentar ya, Mak." Zivanna kembali masuk ke dalam rumah. Matahari sudah tidak terlihat karena kabut yang mulai turun jadi Zivanna tidak perlu memakai kacamata anti UV nya.
"Kamu ikuti saja keinginannya selama itu tidak berbahaya. Aku merasa ada yang aneh dengan anak itu," titah Minah ketika Zivanna sedang bersiap-siap.
"Iya, Bu. Saya juga merasakannya."
"Tolong kamu awasi dia ya, Ran. Nanti kalau ada apa-apa beritahu aku."
"Ayo, Mak. Kita berangkat." Zivanna muncul memakai kulot panjang berbahan ringan dan sweater. "Pergi dulu, ya Nek," pamitnya.
Rani mengangguk kepada Minah lalu mengikuti Zivanna yang sudah berjalan lebih dulu seperti sudah memiliki tujuan pasti. "Mau jalan-jalan kemana, Non?" tanyanya.
"Nggak tahu, Mak. Asal jalan saja." Zivanna terus berjalan. "Rumah nenek sama rumah Ida itu masih satu desa atau beda?" tanyanya setelah beberapa saat.
"Masih satu desa, hanya beda RT. Bu Minah di wilayah RT 2 sementara Ida masuk wilayah RT 5," terang Rani sambil terus berjalan mengikuti kemana gadis itu melangkah.
Desa Suka Makmur adalah desa yang sangat luas. Terbentang dari utara hingga selatan dan terdiri dari lima RT yang terletak di kecamatan Suka Jaya.
Setelah berjalan cukup lama, Rani menghentikan langkahnya. "Non, kita mau kemana? Ini sudah terlalu jauh dari rumah. Ini juga sudah mulai gelap," ucapnya.
"Sebentar saja, Mak. Cuma ke depan situ." Zivanna terus melangkah.
Rani yang mengekor di belakangnya baru menyadari kalau mereka berdua sedang berada di jalan menuju arah rumah Ida. Tinggal belok kiri di depan, maka mereka sampai. "Apa Non Ziva mau ke rumah Ida lagi?" Rani penasaran.
"Tidak, Mak. Tiba-tiba aku pengen lihat perkebunan tebu."
"Memangnya Non Ziva tahu letaknya?"
"Iya, tahu. Di sebelah sana, kan?" tunjuknya jauh ke depan.
Rani mengernyit, mulai celingukan. "Darimana Non Ziva tau di sana ada perkebunan tebu?"