Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.
Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.
Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.
Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**
Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANTARA KEGELISAHAN DAN PERTEMUAN YANG MENDEBARKAN
Minggu sore, di kamar kos Ana.
Ana membanting pelan ponselnya ke atas kasur. Layar datar itu masih gelap, tidak ada notifikasi pesan WhatsApp, apalagi telepon dari pria yang beberapa jam lalu memujanya seolah ia adalah satu-satunya objek paling berharga di dunia.
"Sosiolog gila," rutuk Ana sambil menyandarkan punggungnya di kursi belajar. "Dia benar-benar mempraktekkan teori silent treatment atau apa?"
Pandangannya tertuju pada judul skripsinya di layar laptop: "Dinamika Kontrol Sosial dalam Komunitas Digital...". Bibir Ana mencebik sinis.
Ironis banget.
Dia sedang meneliti tentang bagaimana identitas dikonstruksi di dunia digital, sementara identitasnya sendiri dalam kehidupan nyata sedang berada di ambang ketidakpastian.
Apakah dia mahasiswi biasa baginya? Asisten? Kekasih? Atau hanya sekadar 'objek observasi' bagi sang dosen killer?
Ana teringat bagaimana jemari Adi yang panjang dan tangkas itu membolak-balik draf skripsinya dengan dingin di kampus, namun jemari yang sama pula yang sanggup menyulut api di sekujur tubuhnya tadi malam. Perbedaan peran yang dimainkan Adi begitu rapi hingga membuat Ana merasa frustrasi.
"Setidaknya tanya kek, 'Ana kamu sudah makan?' atau 'Revisinya lancar?'," gerutu Ana. "Ini boro-boro. Status cuma online, tapi nggak ada satu pesan pun yang dikirim ke aku. Huh. Sialan."
Rasa gengsi Ana setinggi langit. Ia adalah mahasiswi cerdas, peraih IPK nyaris sempurna, dan ia paling benci terlihat lemah atau mengemis perhatian. Namun, sebagai wanita yang baru saja menyerahkan "mahkota" pertamanya, ada bagian dari dirinya yang menuntut validasi. Ia butuh pengakuan bahwa apa yang terjadi bukan sekadar ledakan hormon akibat tekanan skripsi dan euforia kemenangan atas pencapaian nilai sempurna skripsinya.
Setelah berperang dengan batin selama satu jam, Ana akhirnya meraih ponselnya. Ia tidak akan bertanya "Kita ini apa?" karena itu terlalu klise dan murahan baginya. Ia memilih cara yang lebih taktis.
Ia mengambil foto tumpukan revisi skripsinya yang sudah selesai dicetak, lalu mengirimkannya ke WhatsApp Adi dengan pesan yang sangat profesional—setidaknya di permukaan.
Ana: Pak Adi, revisi final sudah selesai saya kerjakan. Sesuai arahan Bapak semalam... maksud saya, sesuai catatan di draf kemarin. Besok pagi saya serahkan ke ruangan Bapak untuk tanda tangan pengesahan agar saya bisa segera daftar yudisium.
Pesan terkirim. Centang biru muncul hampir seketika. Jantung Ana berdegup kencang. Ia menunggu balasan yang hangat, atau setidaknya sedikit godaan.
Namun, balasan Adi sangat jauh dari ekspektasi.
Pak Adi: Bagus. Setelah selesai kelas terakhir saya, jam 16.00 tepat di ruangan saya ya. Jangan telat. Masih ada beberapa poin di bab kesimpulan yang ingin saya diskusikan lagi.
Ana melempar ponselnya ke bantal dengan gemas. "Diskusikan lagi?! Itu sudah revisi kelima! Dia benar-benar mau membunuhku atau gimana?"
-
-
Esoknya....
Koridor lantai satu gedung Fakultas sore itu terasa sepi dari luar. Ana berdiri di depan pintu ruangan dosen yang kokoh, tangannya memeluk bundel revisi akhir skripsinya begitu erat. Jantungnya berdegup kencang, menciptakan irama ganjil yang memekakkan telinganya sendiri. Ini bukan sekedar penyerahan tugas akhir. Ini adalah pertemuan tatap muka pertama mereka setelah malam panas yang meluruhkan seluruh batas suci antara pendidik dan terdidik. Malam di mana gelar "Dosen" dan "Mahasiswa" luruh bersama pakaian yang terserak di lantai, menyisakan dua manusia yang terbakar gairah tanpa ampun.
Begitu Ana mendorong pintu, aroma pengharum ruangan yang bercampur dengan bau apek tumpukan kertas tua menyambutnya. Ruangan itu sedang ramai—pemandangan yang seharusnya normal, namun terasa mengancam bagi Ana. Beberapa dosen sedang asyik berdiskusi, suara tawa kecil terdengar di sudut lain, dan terlihat Adi sedang duduk di mejanya yang berada di ujung ruangan.
Adi tampak sangat angkuh di balik layar laptopnya. Kacamata minusnya bertengger di pangkal hidung, memberikan kesan intelektual yang dingin dan tak tersentuh. Kesan yang begitu tajam yang mengesankan bahwa Ia adalah sang Dosen Killer, pria yang ditakuti karena standar perfeksionisnya yang nyaris mustahil dicapai.
Ana bergerak menuju meja Adi.
"Permisi, Pak Adi... saya mau menyerahkan revisi pasca sidang," suara Ana sedikit bergetar, meski ia sudah berusaha sekuat tenaga mengontrol nadanya. Ia menjaga punggungnya tetap tegak, menjaga suaranya tetap datar, seolah-olah bibir yang sama tidak pernah merintih parau memanggil nama pria itu dalam gelap dua malam yang lalu.
Adi mendongak. Tatapannya tajam, dan dingin, tatapan khas sang dosen killer. "Taruh di sini, Ana. Saya cek sebentar."
Saat Ana melangkah mendekat, ia menyadari keberadaan Bu Myra yang duduk tepat di sebelah meja Adi. Dulu, setiap kali melihat kedekatan mereka, hati Ana seolah diremas oleh api cemburu yang membara. Namun sekarang, setelah tahu bahwa Myra hanyalah sepupu Adi, rasa cemburu itu berganti menjadi rasa mulas yang aneh. Melihat Myra tertawa kecil sambil menyenggol lengan Adi menciptakan kontras yang menyakitkan dengan rahasia yang Ana simpan sendiri.
"Eh, Ana! Selamat ya, sidangnya kemarin luar biasa," sapa Bu Myra ramah, senyumnya tulus tanpa beban. "Mas Adi ini kalau bimbingan emang galak, tapi hasilnya emang paten, kan? Skripsimu jadi salah satu yang terbaik tahun ini."
Ana tersenyum tipis, sebuah topeng kesopanan yang ia pasang dengan hati-hati. "Terima kasih, Bu Myra."
Adi hanya berdehem kecil sebagai tanggapan. Jemarinya yang panjang dan kuat mulai membolak-balik lembar demi lembar revisi Ana dengan ketelitian yang menyiksa. Ana berdiri mematung di sisi meja, namun matanya tak sengaja menangkap gerakan kecil di bawah meja. Pria itu perlahan merapikan posisi duduknya, menyesuaikan letak kakinya di balik celana kain formalnya. Ana tahu persis apa yang sedang disembunyikan pria itu. Ia tahu reaksi tubuh Adi saat ia berada di dekatnya. Godaan visual itu membuat Ana menggigit bibir bawahnya dengan keras agar tidak salah tingkah di depan dosen-dosen lain.
Tiba-tiba, suara nyaring Ibu Kajur (Ketua Jurusan) memecah keheningan yang menyesakkan itu. Beliau berjalan menghampiri meja Adi dengan wajah berseri-seri, memancarkan aura kepuasan seorang atasan.
"Nah, ini dia mahasiswi kebanggaan kita! Ana, skripsimu itu brilian. Analisanya tajam sekali," puji Ibu Kajur sambil menepuk bahu Ana dengan bangga. Beliau lalu menoleh ke arah Adi. "Pak Adi, kolaborasi kalian berdua ini fenomena lho di jurusan kita. Saya jarang lihat dosen pembimbing dan mahasiswa bisa se-klop ini sampai ke detail terkecil."
Ibu Kajur melanjutkan dengan nada penuh keyakinan, "Dari awal memang saya sudah ada feeling bagus soal ini. Saya yakin Pak Adi memang cocok untuk membimbing skripsi Ana. Dan... yang pasti saya yakin Ana mampu menghadapi Pak Adi yang perfeksionis ini. Dan terbukti kan hasilnya? Luar biasa."
Adi menutup bundel skripsi itu. Ia menatap Ibu Kajur dengan wajah datar tanpa dosa, wajah yang biasa ia gunakan saat menguji mahasiswa di ruang sidang.
"Ana memang mahasiswa yang... penurut, Bu. Dia cepat menangkap apa yang saya inginkan," jawab Adi sambil sekilas melirik ke arah Ana.
Kalimat 'apa yang saya inginkan' diucapkan Adi dengan penekanan halus, sebuah getaran bariton yang hanya bisa dipahami oleh saraf-saraf di tubuh Ana. Kilas balik malam itu menghantam Ana seketika; bagaimana Adi mendikte setiap gerakannya, bagaimana pria itu menuntut kepatuhan total di atas ranjang. Wajah Ana mendadak terasa panas membara, dan ia berharap lampu ruangan sedikit meredup agar rona merah di pipinya tidak terlihat.
"Begini saja, Pak Adi," lanjut Ibu Kajur antusias, seolah mendapat ilham besar. "Daripada Ana langsung menghilang nantinya setelah wisuda, bagaimana kalau Bapak angkat dia jadi Asisten Dosen? Dia bisa bantu Bapak penelitian atau pegang kelas praktikum. Dan kamu, Ana... kalau kamu mau, saya sendiri yang akan carikan link beasiswa S2 di kampus ini. Kita butuh bibit unggul sepertimu."
Ibu Kajur menambahkan dengan mata berbinar, "Ke depannya, setelah lulus S2, kamu punya kesempatan lanjut mengikuti seleksi untuk jadi dosen tetap di sini."
Suasana ruangan dosen yang tadinya bising oleh suara ketikan dan diskusi ringan, mendadak hening sejenak. Tawaran itu adalah impian bagi banyak mahasiswa, sebuah jalur cepat menuju karier akademis yang mapan. Bu Myra tersenyum lebar, sementara dosen-dosen lain mengangguk setuju, mengakui kompetensi Ana.
"Bagaimana, Pak Adi? Setuju?" tanya Ibu Kajur menuntut jawaban pasti.
Adi melepas kacamatanya perlahan, sebuah gestur yang bagi Ana tampak sangat intimidatif. Ia mengusap pangkal hidungnya, lalu menatap Ana dengan tatapan yang sangat dalam—tatapan yang kini tidak lagi dingin, melainkan penuh janji yang berbahaya, penuh dengan rencana-rencana yang tidak ada hubungannya dengan buku teks.
"Saya rasa itu ide yang bagus, Bu. Saya memang butuh asisten yang bisa mengerti mau saya, dan saya rasa Ana cukup kompeten," jawab Adi pelan. Suaranya rendah, seolah sedang membicarakan kontrak profesional yang kaku, namun matanya mengunci mata Ana dengan intensitas yang membuat lutut Ana mendadak lemas. "Bagaimana, Ana? Kamu siap bekerja di bawah pengawasan saya lebih lama lagi?"
Ana menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa kewarasannya. Ia melihat Adi yang kini kembali memakai kacamatanya, kembali bertransformasi menjadi sosok 'Dosen Killer' yang disegani. Namun, Ana bukan lagi mahasiswa polos yang hanya melihat kulit luarnya. Ia tahu rahasia besar yang tersembunyi di balik meja itu, ia tahu keliaran yang bisa dilepaskan pria ini saat pintu terkunci.
"Hm... tawaran yang menarik sih, Pak. Mungkin untuk tawaran sebagai Asdos dan beasiswa S2-nya bisa saya pertimbangkan. Tapi... untuk jadi dosen, sepertinya minat saya belum ke situ," jawab Ana tegas namun tetap sopan, mencoba menjaga martabatnya agar tidak terlihat terlalu "penurut" di depan orang lain.
Ibu Kajur mengangguk memahami posisi Ana yang mungkin masih ingin mengeksplorasi dunia kerja. "OK, Ana... kalau begitu jika sudah ada kepastian terkait beasiswa itu, nanti saya kirim detailnya ke Pak Adi ya. Kamu siapkan saja dulu segala persyaratannya, nanti bisa tanya ke Pak Adi apa saja yang perlu disiapkan."
"Baik Ibu, terima kasih banyak," jawab Ana dengan sopan.
"Bagus. Kalau begitu, Ana, bawa dokumen beasiswa ini ke ruangan penelitian saya di ujung lorong sekarang," perintah Adi sambil menyodorkan sebuah map plastik biru yang tampak berat. "Kebetulan ada mahasiswa lain yang akan bimbingan juga di sini, jadi ruangan ini akan berisik. Dan ada beberapa hal teknis soal beasiswa itu yang perlu saya jelaskan... secara privat."
Ibu Kajur dan Bu Myra tersenyum puas, merasa telah melakukan pekerjaan baik bagi masa depan mahasiswa mereka. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa 'bimbingan privat' yang dimaksud Adi adalah gerbang menuju babak baru permainan mereka yang lebih berani. Di lingkungan kampus yang kaku, penuh aturan, dan norma moral, Adi justru sedang merancang ruang bagi kegilaan mereka.
Ana pamit dengan suara lirih, berjalan keluar ruangan dengan detak jantung yang menggila. Setiap langkahnya di koridor terasa seperti menuju ke liang singa. Ia tahu apa yang menantinya di ujung lorong itu. Sementara itu, Adi mengikutinya beberapa menit kemudian. Pria itu berjalan dengan langkah tenang, wajahnya tetap datar dan dingin, namun di dalam kepalanya, ia sudah membayangkan bagaimana ia akan menyudutkan asisten dosen barunya itu di balik pintu ruang penelitian yang terkunci rapat.
Permainan siang hari ternyata jauh lebih memacu adrenalin daripada kegelapan malam, dan Ana tahu, ia tidak akan bisa melarikan diri dari bimbingan intensif sang dosen hari ini.
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
lanjut kak....🤭🙏👍