NovelToon NovelToon
Jadikan Aku Pelabuhan Terakhirmu

Jadikan Aku Pelabuhan Terakhirmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berondong / Aliansi Pernikahan
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal Kisah

Lampu kristal yang menggantung di langit-langit ballroom hotel bintang lima itu membiaskan cahaya keemasan, memantul di atas deretan piring porselen dan hiasan bunga lili putih yang segar. Aroma kemewahan menyeruak, bercampur dengan wangi parfum mahal para tamu undangan kelas atas.

Di atas panggung kecil yang didekorasi dengan gaya minimalis elegan, Devina Maharani tampak seperti dewi. Gaun kebaya modern berwarna champagne yang melekat di tubuhnya bertabur payet yang berkilau setiap kali ia bergerak. Sebagai celebrity chef nomor satu di negeri ini, ia terbiasa dengan sorot lampu kamera, namun hari ini, binar di matanya bukan karena lensa media, melainkan karena cinta.

Di hadapannya, Aris Wicaksana berdiri tegap. Setelan jas rancangan desainer ternama membungkus tubuh atletisnya dengan sempurna. Senyumnya tenang, jenis senyum yang membuat Devina yakin bahwa pria ini adalah pelabuhan terakhirnya.

"Devina Maharani," suara Aris menggema melalui mikrofon, rendah dan penuh wibawa. "Maukah kamu mengizinkanku untuk terus menjaga hatimu, selamanya?"

Pak Pamuji menyeka sudut matanya yang basah dengan sapu tangan, sementara Bu Ines menggenggam tangan suaminya erat. Napasnya tersengal oleh haru yang membuncah. Putri tunggal mereka, yang selama ini hanya sibuk di dapur dan layar televisi, akhirnya menemukan pendamping yang sepadan—seorang pengusaha dekorasi sukses yang terlihat begitu memuja putrinya.

"Ya, aku mau," jawab Devina lirih, suaranya bergetar oleh kebahagiaan.

Tepat saat Aris hendak menyematkan cincin berlian ke jari manis Devina, pintu ganda kayu jati di ujung ruangan terbanting terbuka dengan dentuman keras yang memekakkan telinga.

****

Seluruh mata tertuju ke arah pintu. Musik latar yang lembut mendadak mati, digantikan oleh kesunyian yang mencekam.

Seorang wanita berlari menerobos barisan kursi tamu. Penampilannya sangat kontras dengan kemegahan ruangan itu. Ia mengenakan gamis lusuh dengan kerudung instan yang sudah miring dan acak-acakan, seolah ia baru saja melintasi badai. Wajahnya sembap, matanya merah, dan napasnya memburu seperti binatang buruan.

"Hentikan! Hentikan acara ini sekarang juga!" teriak wanita itu. Suaranya melengking, membelah keheningan yang kaku.

Aris mematung. Wajahnya yang semula cerah mendadak pucat pasi, seperti seluruh darah di tubuhnya tersedot habis ke bumi. Cincin di tangannya gemetar.

"Aris! Kamu laki-laki biadab!" teriak wanita itu lagi sambil terus mendekat ke arah panggung. Petugas keamanan mencoba mencegatnya, namun ia meronta dengan kekuatan yang lahir dari keputusasaan. "Lepaskan aku! Aku istrinya! Aku istri sah Aris Wicaksana!"

Dunia seolah berhenti berputar bagi Devina. Kalimat itu menghujam jantungnya lebih tajam dari pisau dapur manapun yang pernah ia pegang. Ia menoleh perlahan ke arah Aris, mencari bantahan, mencari tawa remeh yang mengatakan bahwa ini hanya lelucon. Namun, ia hanya menemukan ketakutan yang pengecut di mata pria itu.

"Salsa? Bagaimana kamu bisa..." Aris berbisik gagap, suaranya hampir tak terdengar, namun cukup untuk menghancurkan seluruh sisa harga diri Devina.

Wanita itu, Salsabila Tamimi, berhasil mencapai kaki panggung. Ia melemparkan sebuah buku kecil nikah ke arah kaki Devina.

"Lihat itu, Mbak Chef yang terhormat!" Salsa berteriak di depan wajah Devina, air matanya kini mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. "Lihat nama siapa yang tertulis di sana! Kami menikah tiga tahun lalu di kampung. Dia meninggalkan aku dan anak kami tanpa kabar demi mengejar kemewahan ini! Dia bilang dia pergi merantau untuk kerja dekorasi, ternyata dia malah mendekorasi kebohongan denganmu!"

****

Devina merasakan telinganya berdenging hebat. Ribuan pasang mata tamu undangan kini menatapnya dengan campuran rasa kasihan dan cemooh. Kilatan lampu flash dari ponsel-ponsel yang merekam kejadian itu terasa seperti petir yang menyambar-nyambar penglihatannya.

"Aris..." Devina bersuara, suaranya serak dan nyaris hilang. "Katakan kalau dia bohong. Katakan padaku sekarang."

Aris hanya menunduk. Tangannya yang tadi begitu hangat kini terasa sedingin es. "Dev, maaf... aku bisa jelaskan..."

Maaf. Kata itu adalah konfirmasi dari neraka.

Dada Devina sesak. Oksigen seolah lenyap dari ruangan itu. Ia merasa lantai yang ia pijak bergoyang hebat. Bayangan tentang pernikahan impian, tentang membangun rumah tangga, tentang anak-anak yang akan mereka miliki, semuanya hancur berkeping-keping menjadi debu di depan matanya sendiri.

"Kamu... membohongiku?" bisik Devina sebelum pandangannya mengabur. Warna-warna di sekelilingnya menyatu menjadi hitam pekat. Kesadarannya hilang tepat sebelum tubuhnya menghantam lantai panggung.

"DEVINAAA!" jerit Bu Ines histeris.

****

Suasana berubah menjadi kekacauan total. Bu Ines berlari secepat kilat, mengabaikan kain kebayanya yang membatasi langkah, dan langsung merengkuh kepala putrinya yang sudah tak sadarkan diri.

"Anakku! Devina, bangun sayang!" Bu Ines menepuk-nepuk pipi putrinya dengan tangan gemetar. Wajahnya yang semula anggun kini berubah menjadi topeng kemurkaan.

Ia mendongak, menatap Aris yang masih berdiri mematung seperti patung. Dengan tenaga yang tersisa, Bu Ines bangkit dan melayangkan tamparan keras ke pipi Aris. PLAK!

"Laki-laki iblis!" maki Bu Ines dengan suara menggelegar, wajahnya merah padam hingga urat-urat di lehernya menonjol. "Kamu anggap apa putriku?! Kamu anggap apa keluarga kami?! Berani-beraninya kamu membawa sampah busukmu ke rumah kami dan menipu kami semua!"

Pak Pamuji menyusul, mencoba menenangkan istrinya namun matanya sendiri menatap Aris dengan kebencian yang mendalam. "Pergi kamu, Aris. Sebelum saya lupa bahwa saya adalah orang tua yang beradab. Pergi!"

Salsabila bersimpuh di lantai, menangis meraung-raung meratapi nasibnya yang dikhianati, sementara para tamu mulai berbisik-bisik riuh. Wartawan yang berhasil menyelinap masuk mulai mengarahkan kamera mereka, menangkap momen kehancuran sang celebrity chef.

Di tengah lampu-lampu dekorasi yang masih menyala indah, acara pertunangan itu berubah menjadi pemakaman bagi kehormatan dan cinta seorang Devina Maharani. Kebahagiaan yang ia bangun dengan penuh rasa, rupanya hanyalah hidangan basi yang dibungkus dengan kemasan mewah.

****

Ruangan VIP Dressing Room yang tadinya menjadi saksi bisu tawa riang Devina saat mematut diri di depan cermin, kini berubah menjadi ruang isolasi yang mencekam. Bau minyak kayu putih dan aroma bunga yang layu bersatu, menciptakan atmosfer yang menyesakkan dada.

Di sudut ruangan, Bu Ines tampak seperti singa betina yang terluka. Rambut sanggulnya yang rapi kini sedikit berantakan, dan kebaya mahalnya yang berpayet kristal naik turun seiring dengan napasnya yang memburu. Telunjuknya menuding ke arah pintu yang tertutup, seolah-olah Aris masih berdiri di sana.

"Laki-laki biadab! Penipu! Bajingan tengik!" Suara Bu Ines melengking, bergetar hebat karena amarah yang mencapai ubun-ubun. "Dia pikir putriku ini mainan? Dia pikir keluarga kita ini tempat sampah untuk kebohongannya?!"

Pak Pamuji memegang kedua bahu istrinya, mencoba memberikan kekuatan yang ia sendiri pun hampir kehilangan. "Ines, cukup... tenang dulu. Pikirkan tekanan darahmu, pikirkan Devina."

"Tenang?! Bagaimana aku bisa tenang, Pamuji!" Bu Ines menghempaskan tangan suaminya. Wajahnya merah padam, air mata kemarahan mengalir merusak riasan wajahnya. "Dia sudah menginjak-injak harga diri kita di depan kolega, di depan media! Devina... anakku yang malang... dia memberikan hatinya pada iblis berkulit manusia!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!