Squel novel lanjutan dari BUDAK CINTA.
Bagi yang belum membaca di karya ku sebelumnya silahkan mampir dulu ya !!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MICHELLA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
" A,apa, aku boleh membalasnya? dikening mu, ya di kening mu. " Ucapnya kemudian dengan salah tingkah.
Irgy, kau sungguh menggemaskan. Apakah harus ijin dulu untuk membalas kecupan ku, kita ini sudah suami istri.
Ah, ingin sekali ku mengatakan hal ini. Tapi aku tak ingin terlihat terlalu agresif.
" Bo,boleh. " Jawab ku singkat. Astaga, kenapa aku jadi ikutan salah tingkah?
Cup !!!
Dia mengecup keningku dengan sangat singkat, tapi sentuhan bibirnya yang begitu lembut di terasa di keningku sangat membuatmu bergidik. Hingga rasanya melayang-layang tinggi di awan.
Hello Fanny, ada apa dengan mu? Sebahagia itu kau mendapat kecupan manisnya di kening mu? Hahaha,
Diam-diam hatiku menertawai sikap ku ini, bagaimana tidak? entah ini perasaan bahagia atau hanya gemas sesaat. Rasanya aku ingin teriak menahan rasa malu di hadapan nya.
" Oh, jadi seperti ini rasanya mencium dan di cium? hahaha, rasanya aneh. " Ucapnya tiba-tiba.
" Irgy, jujur pada ku. Apa kau sungguh belum pernah melakukannya sebelum nya? " aku menatapnya dengan tajam kali ini, aku masih tidak percaya jika dia memang selugu itu. Karena mengingat sikapnya yang selalu menggoda dan mengerjaiku dari awal kita bertemu, sangat tidak memungkinkan jika nyatanya dia sepolos itu.
" Kenapa? gak percaya? jika aku sudah berpengalaman banyak dari ini semua, semulai tadi berada di kamar ini kau sudah ku telan habis. " Jawab nya tegas tanpa ragu.
" Hey, kau. " Jawab ku meninggikan nada bicaraku.
" Haah, akhirnya aku bisa tidur nyenyak setelah ini. Kau juga tidur lah, besok kita akan pulang kerumah ku dulu. Lalu pergi ke apartemen ku, kau harus tau tempat tinggal suamimu juga. " Jawab nya sembari merebahkan tubuhnya di hadapan ku.
" Jadi, selama ini kau tinggal di apartemen? bukan dirumah mu? rumah sebesar itu apa kau tidak menyayangkannya? "
" Dirumah itu bukan hanya papa mama dan adik ku yang tinggal, tapi ada lagi kakak ku yang ke 3 tinggal disana. "
" Ah, jadi kau bukan anak pertama di keluarga mu? "
" Aku masih mempunyai tiga kakak sekaligus. Dua kakak perempuan, dan satu laki-laki. Papa ku menikahi mama dengan status duda. Istri pertama papa meninggal karena mengidap penyakit kangker, kemudian lahirlah aku dan adik ku saat papa menikah dengan mama. Dan semua kakak-kakak ku sudah menikah, yang lainnya ikut tinggal bersama suami mereka. Hanya kakak lelaki ku yang ikut tinggal dirumah itu, besok kau akan mengetahuinya.
" Lalu kenapa kau tinggal di apartemen? " Tanya ku penasaran.
" Lulus dari SMA aku lebih tertarik bekerja, aku ingin mandiri. Bahkan aku tidak tertarik untuk kuliah, percuma menyandang gelar sarjana jika masih susah mencari pekerjaan nantinya. Dengan susah payah aku berhasil, hingga memiliki sebuah apartemen pribadi. Hehe, hebat kan suamimu ini? "
" Cih, sombong. Eh tapi kau bilang masih karyawan magang bukan? tapi kok? "
Irgy seperti kebingungan mendengar ucapan ku ini, dan lagi-lagi dia berhasil mencari-cari alasan dengan banyak hal. Dan hampir semalaman suntuk, malam pertama pernikahan kami terlewati hanya dengan berbincang banyak hal. Saling memceritakan masa kecil dan banyak lainnya lagi dari sisi kehidupan kita masing-masing.
Akhirnya aku sedikit tahu kehidupan Irgy yang sebenarnya, dia memang laki-laki idaman sih. Sepertinya dia memang orang yang selalu tenang, lugu, polos, tapi pekerja keras banget. Wah, aku sangat beruntung bisa menjadi istrinya. Tapi aku masih kesal, dia belum memberitahuku pekerjaan dia apa. Bagaimana jika dia ternyata sungguh karyawan magang di sebuah perusahaan???
Perlahan aku mulai mengantuk, dan tertidur begitu saja di samping Irgy yang lebih dulu tertidur. Sepertinya dia sangat lelah, sama sepertiku. Rasanya aku ingin sekali tidur di waktu yang cukup lama sampai rasa lelah dan kantuk ku menghilang.
Tiba waktu pagi, ketika ponsel Irgy terus bergetar. Dia menerima sebuah panggilan, yang sayup ku dengar suaranya yang sengaja dia pelankan di samping ku. Aku berpura-pura tertidur dan menyimak dengan siapa dia berbicara di telepon.
" ***Papa, berhenti menggoda Irgy. Pagi-pagi begini menelpon ku hanya untuk menanyakan hal yang membuatku malu begitu. "
" Belum pa, kami belum melakukan apa-apa semalam. Kami hanya berbincang hampir semalaman suntuk, lalu Irgy ketiduran lebih dulu. "
" Iya iya pa, tenang lah. Jangan terlalu buru-buru ah, akan ada saatnya aku dan istriku melakukannya. ya sudah aku tutup telepon nya dulu. Aduh iya pa, iya***. "
Jleb !
Kata-katanya yang terakhir, apa maksudnya? akan melakukannya dengan ku? Apakah yang di maksudnya itu, kewajiban seharusnya suami istri? Aduuuh, aku belum siap. Aku malu, dia masih begitu polos. Bagaimana aku akan membiarkan dia melakukan kewajibannya dengan ku, sedangkan aku?
Kyaaaaaa, jujur ini seperti baru pertama saja untuk ku setelah lama aku tidak lagi melakukan hal gila dalam ****. Aku berteriak dalam hati.
Kemudian dengan setengah mata terbuka sedikit aku memperhatikan apa yang akan dia lakukan padaku yang kini tertidur di sebelahnya, aduh posisiku ini juga sangat dekat. Sepertinya semalam aku sudah sangat mengantuk sehingga tertidur begitu saja di sebelahnya.
Eh, tunggu. Dia mau ngapain? Kenapa wajahnya semakin dekat dengan wajah ku? hey, hey. . . Aku terus meronta, berbicara dalam hati tanpa henti dan terus berusaha terlihat masih tertidur pulas.
Cup !!!
Dia mengecup keningku.
Aaaaaarght, apa ini? apa dia sudah berani menyentuh ku dengan kecupan saat ini?
" Bangun lah, aku tau kau berpura-pura tidur dan mendengar semua perbincangan ku dengan papa barusan. "
What? Aaaaakh, malunya. Kenapa dia begitu peka, sehingga mengetahui kejahilanku daritadi. Dengan cepat aku membuka mata dan beranjak dari tidurku, duduk di hadapannya, menatapnya dengan tajam. Kemudian tersenyum nyengir cengengesan membalas tatapan ku.
" Pagi, istriku. " Ucapnya kemudian.
Dug dug dug dug dug. . .
Aaaaaarght, jantungku berdebar semakin kencang mendengar ucapannya itu. Aku sudah gila, pasti aku sudah gila.
" Pa, pagi juga. " Jawab ku singkat dengan salah tingkah. Kembali dia mendekatkan wajahnya padaku perlahan, membuatku semakin gugup berusaha menjauh perlahan dari nya.
" Bersihkan dulu kotoran di matamu itu, "
Apa? ko,kotoran di mataku? Aaaaaaaarght, apaan sih? dia mendekatkan wajahnya padaku hanya untuk bilang hal itu? ini memalukan, ini memalukaaan. Dasar bocah, tidak bisakah kau bersikap romantis dulu sebagai suami pagi ini hah? aku menggerutu dalam hati sembari menutupi wajahku dengan kedua tangan ku.
Tuhan, aku sangat malu. Benarkah banyak kotoran di kedua mataku? aah, ini memalukan sekali. Ini hari pertamaku menjadi istri bocah menyebalkan ini. Kenapa jadi begini sih?
" Hahaha, aku bercanda. Hey, aku hanya mengerjaimu. Jangan menutupi wajahmu begitu, hahaha. "
" Dasar kau bocaaaaah, ini tidak lucu. " Jawab ku dengan nada marah kemudian berpaling darinya hendak turun dari ranjang. Dengan sigap Irgy ikut berdiri dan beranjak dari posisi duduknya itu, dan di tariknya lenganku untuk menghadapnya.
" Maafkan aku, jangan marah. " Ucapnya dengan tatap serius padaku. Aku terdiam sesaat, dia begitu takut aku marah padanya.
" Kau membuatku malu, ini hari pertama ku menjadi seorang istri. Jadi aku tidak ingin terlihat buruk di hadapan suami ku, " Jawab ku dengan menundukkan wajah di hadapannya.
Tanpa berkata apapun lagi, dia memeluk ku. Tubuh ku ini terasa terbenam dalam dekapan tubuhnya yang kekar ini, aku jadi merasa seperti anak kecil di dekap oleh ayah nya. Tubuhnya begitu hangat dan nyaman.
" Bagiku, kau lebih cantik ketika baru bangun tidur. Cantikmu lebih natural dan alami, " Ucapnya dengan lembut di telingaku.
Entah bagaimana perasaan ku pagi ini dalam pelukan hangat nya ini, aku hanya ingin terus berada dalam dekapannya seperti ini. Ini sangat nyaman, sangat nyaman.
🌹Halo semua, selamat weekend untuk hari ini. Semoga menyenangkan hari-hari kalian, semangat selalu ya. Jangan lupa like dan vote yang banyak untuk ku. Makasiiih 💋🌹
Tapi aku salut dengan cinta kalian yang abadi meski hingga akhir tetap tak bisa bersatu.
Aku rindu dengan cerita ini, aku datang lagi.
Masih, sama, aku selalu terbawa suasana.
Sedih, Kevin, Irgi, Amar, aku merindukan kalian.