"Saya menyukai kamu, Maura. Tapi, saya sadar bahwa perbedaan umur kita terlalu jauh."
Pengakuan Setya membuat Maura mengernyitkan dahi. Mengapa dirinya ini seolah menjadi pilihan pria dewasa dihadapannya?
"Saya bukan pilihan, Pak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biby Jean, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 22 - Bisik-bisik Koridor
Maura menyadari bahwa ada bisik-bisik tidak sedap tentang dirinya yang dikarenakan penunjukkan dirinya untuk kembali mendampingi manusia paling dingin dan tak tersentuh. Dan itu terbukti dengan radar gosip salah satu rekan dosennya, Bu Rina.
“Bu Maura, selamat pagi!” Bu Rina menghampiri meja Maura dengan langkah riang, tapi matanya yang tajam langsung memindai setiap inci meja Maura.
“Wah, segar sekali wajahnya hari ini. Padahal kemarin sore saya lihat Bu Maura pulang terburu-buru. Katanya ada urusan mendesak?”
Maura tersenyum profesional, tipe senyum yang ia gunakan untuk menghadapi mahasiswa yang minta perbaikan nilai tanpa alasan jelas.
“Hanya urusan keluarga, Bu Rina,” ya tentu saja berbohong, karena jika kejujuran yang terlontar, sudah bisa dipastikan kehebohan yang akan memenuhi ruangan dosen ini.
“Oh, saya kira,” Bu Rina merendahkan suaranya, ikut duduk di kursi sebelah meja Maura.
“Tahu tidak, Bu? Berita bahwa Ibu menjadi pendamping Pak Setya sudah tersebar sampai ke gedung rektorat. Banyak dosen senior yang... yah, Ibu tahu sendiri, sedikit iri.”
Maura menghentikan gerakan penanya di atas kertas. Dugaan Maura benar bahwa ini yang menjadi topik akan bisik-bisik yang tadi dirasakannya saat melewati koridor gedung.
“Saya hanya menjalankan instruksi Pak Hamdani, Bu. Kalau boleh memilih, saya lebih suka fokus mengajar,” Maura jujur, karena menjadi pendamping Setya hanya akan menambah beban kerjanya dan menguras energi.
“Tentu, tentu,” Bu Rina manggut-manggut, meski raut wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan total.
“Tapi Pak Setya itu jarang sekali, bahkan setahu saya tidak pernah meminta orang yang sama dua kali. Beruntung sekali, Bu Maura.”
Tidak! Kalau boleh Maura akan dengan lantang mengatakan hal tersebut pada Bu Rina.
“Mungkin karena saya tidak mencoba mendekatinya, Bu. Saya hanya menjalankan perintah untuk memberikan undangan dan menemani saja,” Maura menjawab sambil susah payah menelan ludah.
“Nah! Itu dia!” Bu Rina memukul meja dengan pelan, “justru itu yang menarik buat pria seperti beliau. Semakin dijauhi, semakin merasa tertantang. Hati-hati, Bu Maura. Pria seperti Pak Setya Pradana itu kalau sudah menetapkan target, dia tidak akan berhenti sampai target itu menyerah.”
Kalimat Bu Rina bagaikan petir di siang bolong. Target? Maura tidak ingin menjadi target siapa pun, apalagi target dari seorang pria yang menganggap hidup adalah sekumpulan angka dan variabel yang harus tunduk pada kehendaknya.
Saat Bu Rina akhirnya pergi, Maura merogoh ponselnya. Ada satu pesan masuk dari ‘Pria Menyebalkan’.
Setya: Bagaimana scarf-nya? Saya harap warnanya tidak membuatmu merasa ingin bersembunyi di balik buku.
Maura mendesis kesal dan memutuskan untuk tidak membalas. Maura ingin menunjukkan bahwa aturan main nomor satu, jangan menghindar dari panggilannya hanya berlaku jika ia sedang bertugas nantinya, bukan di jam kerja seperti ini. Namun, hanya butuh dua menit sampai ponselnya bergetar lagi.
Setya: Sepuluh detik berlalu tanpa jawaban. Apakah saya harus mengirim sekretaris saya ke ruanganmu untuk memastikan kamu membalas pesan saya?
Maura memejamkan mata, menahan diri agar tidak melempar ponselnya ke tempat sampah.
Maura: Scarf-nya bagus. Dan saya sedang bekerja, Pak Setya. Tolong hargai waktu saya sebagai dosen, bukan sebagai bawahan Bapak.
Setya: Saya menghargai profesionalisme. Itu sebabnya saya mengirim pesan, bukan menelepon.
Setya Pradana. Benar-benar pria menyebalkan yang seenaknya sendiri. Kalau sudah begini, Maura sangat menyesal telah memulai itu dengan pertemuan awal mereka kala itu.
“Pria menyebalkan,” gumam Maura yang ternyata sedikit di dengar oleh rekannya.
“Bu Maura bicara apa?” Bu Rina menyipit.
“Oh tidak, Bu. Ini teman saya menyebalkan karena mengirimkan foto absurd,” kilah Maura.
Maura bersumpah akan membuat pria itu semakin murka dan enggan untuk berurusan dengannya lagi setelah acara anniversary kampus 2 minggu lagi.
Hari-hari berikutnya, hidup si dosen muda mendadak berubah menjadi pusaran jadwal yang didikte oleh panitia anniversary dan tentu saja, standar tinggi yang diminta kampus untuk menyambut seorang Setya Pradana.
Alih-alih hanya mendampingi saat hari-H, Maura justru ditarik ke dalam pusaran persiapan teknis yang melelahkan. Pak Hamdani seolah memberikan lampu hijau bagi siapa pun untuk memakai tenaga Maura demi memastikan kenyamanan donatur utama mereka.
“Bu Maura, ini daftar menu untuk jamuan VVIP. Pak Setya meminta opsi diet khusus, tolong dikonsultasikan langsung ya,” ucap salah satu staf humas sambil menyerahkan map tebal.
Belum sempat Maura menjawab, staf lain datang.
“Bu Maura, tata letak panggung dan arah datang tamu VVIP perlu dipastikan. Pak Setya ingin denahnya dikirim sore ini juga.”
Maura benar-benar di dorong untuk menyiapkan yang terbaik agar Setya Pradana nyaman selama acara seharian. Bahkan, para mahasiswa yang sedang rempong dengan acara juga turut menarik Maura di dalamnya.
“Bu Maura, katanya ada Pak Setya datang ya, Bu?” tanya mahasiswi centil.
“Iya,” tidak lupa dengan senyuman yang membawa kehebohan bagi para mahasiswi lainnya.
"Bu Maura, beneran Pak Setya setampan di televisi?" tanya lagi seorang mahasiswi tingkat dua dengan mata berbinar.
"Beliau itu donatur, bukan artis. Fokus ke persiapan kalian agar cepat selesai dan pulang," jawab Maura tegas.
Percuma. Mereka semua masih terus memberikan pertanyaan yang membuat Maura muak dan hanya menyajikan senyum profesional saja.
“Haahhh,” hela panjang nafas Maura setelah akhirnya bisa duduk setelah berjam-jam turut serta mengamati dan ditarik ke sana-kemari.
“Capek ya, Bu?” tanya seorang dosen lelaki, Pak Dimas.
“Iya, Pak Dimas,” lelah sekali rasanya.
Bahkan kini, Maura memejamkan matanya sejenak guna mengistirahatkan otak serta badannya. Dimas menatap itu, pemandangan yang selalu membuat para dosen pria berbisik-bisik akan manisnya dosen muda ini.
Menjadi salah satu dosen di kampus terbaik saja sudah luar biasa, apalagi begitu mengetahui ada rekan baru yang datang dengan senyuman manis dan tubuh mungil itu. Dimas mengenal Maura jauh sebelum perempuan itu menjadi dosen, saat Maura masih menjadi mahasiswi s2 di kampus ini juga.
“Pulang saja, Bu. Biar yang lain yang menyelesaikannya,” ucap Dimas yang menatap wajah Maura yang mulai membuka mata dan menegakkan punggungnya.
“Apa boleh, Pak?”
Meski sudah menjadi dosen, tapi ada bagian dalam dirinya yang masih segan untuk pulang lebih dulu. Mungkin karena Maura adalah seorang alumni yang membuatnya harus turut serta dan menunggu semua orang selesai terlebih dahulu.
“Tidak masalah. Memangnya kenapa? Lagi pula di sini banyak yang membantu, Bu. Tubuh seseorang juga ada batasnya. Saya lihat seminggu-an ini Bu Maura tidak berhenti mengurus semuanya, padahal bukan panitianya,” senyum Dimas begitu manis.
Maura menatapnya dan balas tersenyum lalu menatap sekitar dan melihat banyak orang yang masih melakukan persiapan.
“Rasanya aneh kalau saya pulang lebih dulu. Padahal dulu saat masih menjadi mahasiswi saya curang dengan pulang lebih awal,” ada tawa lirih di akhir kalimat yang membuat Dimas turut serta.