Aisya harus menelan pil pahit, dua tahun pernikahan, ia belum dikaruniai keturunan. Hal ini membuat mertuanya murka dan memaksa suaminya menjatuhkan talak.
Dianggap mandul dan tak berguna, Aisya dicampakkan tanpa belas kasihan, meninggalkan luka yang menganga di hatinya.
Saat sedang mencoba menyembuhkan diri dari pengkhianatan, Aisya dipertemukan dengan Kaisar.
Penampilan Kaisar jauh dari kata rapi, rambut gondrong, jaket kulit lusuh, dan tatapan liar. Mirip preman jalanan yang tampak awur-awuran.
Sejak pandangan pertama, Kaisar jatuh cinta pada Aisya. Ia terpesona dan bertekad ingin menjadikan Aisya miliknya, memberikan semua yang gagal diberikan mantan suaminya.
Tapi, mampukah Kaisar meluluhkan hati Aisya yang sudah terlanjur hancur dan tertutup rapat? Atau apakah status dan cintanya yang tulus akan ditolak mentah-mentah oleh trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Siang itu, suasana di dalam rumah Marni terasa seperti di dalam mall mewah. Bagaimana tidak, di atas meja ruang tamu yang biasanya hanya berisi toples kerupuk, kini berjejer tas kulit bermerek, beberapa kotak perhiasan emas, dan bungkusan makanan dari restoran bintang lima yang aromanya memenuhi ruangan.
Rima duduk dengan anggun di sofa, jemarinya yang lentik dengan cat kuku merah menyala sedang membuka sebuah kotak berisi kalung berlian.
"Tante, coba lihat ini. Kurasa warna emas putih ini sangat cocok dengan kulit Tante yang masih kencang," ucap Rima dengan suara semanis madu.
Marni hampir saja melompat dari kursinya. Matanya berbinar, tangannya yang kasar gemetar saat menyentuh perhiasan itu.
"Ya ampun, Rima, ini beneran buat Tante? Ini mahal sekali lho?"
Rima tertawa kecil, nada suaranya terdengar sangat merendahkan namun dibungkus dengan keramahan palsu.
"Ah, ini nggak seberapa, Tante. Untuk calon ibu mertuaku, apa sih yang tidak? Ayahku bilang, wanita hebat seperti Tante harusnya memakai barang yang berkelas, bukan daster diskonan."
Marni langsung memakai kalung itu di depan cermin kecil di ruang tamu. Ia mematut dirinya dengan bangga.
"Memang benar kamu, Rima. Kamu jauh berbeda dengan Aisya. Dia itu... duh, boro-boro kasih emas, belikan daster baru buat dirinya sendiri saja harus tunggu uang sisa belanja dari Hendra."
Rima menyeringai, ia mulai melancarkan serangan intinya. Ia mendekat, memegang pundak Marni dengan akrab.
"Tante, aku sungguh kasihan melihat Tante. Harusnya di usia sekarang, Tante itu tinggal menikmati hidup. Jalan-jalan ke luar negeri, belanja di mall tanpa lihat label harga, dan yang paling penting menggendong cucu yang tampan dan cantik."
Mendengar kata cucu, wajah Marni langsung berubah muram.
"Itu dia, Rima! Itu luka paling besar di hati Tante. Dua tahun mereka nikah, rahim si Aisya itu seperti tanah kering, tidak menghasilkan apa-apa! Tante malu sama tetangga."
"Nah, itu dia masalahnya, Tante," sahut Rima dengan nada prihatin yang dibuat-buat. "Apa Tante tidak takut kalau sebenarnya Aisya itu memang tidak subur? Atau jangan-jangan dia sengaja menahan diri karena sebenarnya dia punya pria lain di luar sana?"
"Apa?! Pria lain?!" Marni membelalak.
"Tante tahu kan, di pasar banyak preman. Aku sering dengar kabar kalau ada pelayan atau kurir yang sering menggoda wanita-wanita yang kelihatannya polos seperti Aisya. Apalagi Mas Hendra sibuk kerja, siapa yang tahu apa yang dilakukan Aisya di luar rumah?" Rima mengembuskan racunnya
dengan sangat halus.
Marni menggebrak meja. "Benar! Pantas saja akhir-akhir ini dia sering pulang terlambat dari pasar. Alasannya antre angkot, tapi jangan-jangan dia asyik berduaan!"
Rima membuka ponselnya, menunjukkan beberapa katalog liburan mewah ke Eropa.
"Tante, kalau mas Hendra menikah denganku, Ayahku sudah janji akan memberikan jabatan Manajer Area untuk mas Hendra bulan depan. Gajinya akan naik tiga kali lipat. Tante mau ikut kami liburan ke Paris?"
Marni menelan ludah. Bayangan dirinya memakai baju bulu-bulu di menara Eiffel langsung memenuhi kepalanya.
"Paris? Ibu-ibu pengajian pasti akan mati iri kalau Tante ke sana!"
"Tentu saja bisa, Tante. Tapi syaratnya cuma satu..." Rima menjeda kalimatnya, menatap Marni dengan tatapan tajam. "Mas Hendra harus bebas dari beban. Mas Hendra tidak bisa naik jabatan kalau reputasinya buruk karena punya istri yang dituduh berselingkuh dengan preman pasar. Tante harus bantu aku."
Marni mengangguk cepat, seolah tersihir oleh kilauan berlian di lehernya.
"Kamu tenang saja, Rima. Tante akan pastikan Hendra segera sadar. Tante akan buat hidup Aisya di rumah ini seperti di neraka sampai dia sendiri yang minta cerai! Lagi pula, siapa yang tahan kalau dituduh selingkuh terus-menerus?"
"Bagus, Tante. Oh iya, ini ada uang saku sedikit untuk Tante jajan sore ini," Rima menyelipkan amplop tebal berisi uang tunai ke tangan Marni.
"Duh, Rima... kamu benar-benar malaikat! Tidak salah Tante pilih kamu jadi calon menantu," puji Marni sambil menciumi amplop itu.
Tepat saat itu, terdengar suara pintu belakang terbuka. Aisya masuk dengan wajah kelelahan, menenteng kantong plastik berisi sayuran murahan. Ia tertegun melihat tumpukan barang mewah di ruang tamu dan keberadaan Rima.
"Eh, sudah pulang kamu, tukang selingkuh?" sapa Marni dengan nada ketus yang luar biasa.
Aisya mengerutkan kening. "Selingkuh? Apa maksud Ibu? Dan ini barang siapa, Bu?"
Rima berdiri, menatap Aisya dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan menghina.
"Ini barang yang aku belikan untuk Tante Marni, Aisya. Kenapa? Kamu iri? Oh, maaf ya, mungkin kamu lebih suka barang pemberian teman pria kamu yang di pasar itu ya?"
"Maksud Mbak Rima apa? Saya tidak punya teman pria di pasar," jawab Aisya dengan suara bergetar.
"Alah, jangan sok suci!" bentak Marni sambil berdiri. "Sudah untung ada Rima yang baik hati kasih Ibu kemewahan begini, kamu malah datang bawa bau keringat pasar! Cepat masuk ke dapur! Dan ingat, jangan berani-berani sentuh barang pemberian Rima ini dengan tangan kotor kamu itu!"
Aisya berjalan menuju dapur dengan hati yang hancur. Di belakangnya, ia masih bisa mendengar tawa Rima dan Marni yang sedang asyik merencanakan cara untuk menunjukkan bukti perselingkuhannya kepada Hendra malam nanti.
Rima melirik ke arah dapur dengan senyum kemenangan yang keji.
"Sedikit lagi, Aisya. Setelah ini, bukan cuma rumah ini yang akan menolakmu, tapi juga suamimu," batin Rima puas.
apa Sarah nama tengah belakang atau samping 🤣