Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.
Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.
Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.
sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 Bunga
Siangnya, tanpa keraguan aku pamit untuk pulang dari kebun karet lebih dulu. Dengan seribu alasan mengenai jamur yang aku pelihara di gudang, aku tinggalkan bapak demi kembali mencari Raka.
Langkahku terasa ringan, meski hati masih penuh beban. Aku berjalan cepat melewati jalan setapak yang basah oleh sisa embun siang, menahan degup jantung yang semakin kencang.
Di balik alasan tentang jamur di gudang, sebenarnya ada satu tujuan yang lebih mendesak. Aku ingin memastikan Raka tidak benar-benar menjauh seperti bayangan yang hilang ditelan kabut.
Setiap tikungan desa terasa asing tanpa kehadirannya. Motor tuanya tidak lagi terdengar, senyum sederhana itu tidak lagi muncul.
Namun kali ini aku tidak ingin hanya menunggu kebetulan. Aku ingin mencarinya, meski harus menembus sepi yang diciptakan semesta.
Bayangan Pak Wiryo dan kisah Siska kembali menempel di benak. Kata-kata yang tak pernah terucap bisa menjadi kutukan seumur hidup. Aku tidak ingin menanggung penyesalan yang sama.
Dengan langkah yang semakin mantap, aku berbisik dalam hati, "Raka, aku harus bicara. Sebelum semuanya terlambat."
Langkahku terhenti. Di tengah jalan setapak yang lengket oleh tanah basah, sosok itu muncul begitu saja Marcel.
Aku membeku, seakan semesta sengaja mempermainkan nasibku. Bayangan yang selama ini hanya hadir di dalam ingatan, kini berdiri nyata di hadapanku.
Senyumnya masih sama, senyum yang dulu membuatku terguncang, senyum yang menghantui setiap malam ketika aku menutup mata.
"Mir..." suaranya pelan, tapi cukup untuk membuat dadaku bergetar.
Aku menelan ludah, jemariku meremas pisau sadap yang masih kubawa. Antara ingin berlari dan ingin tetap berdiri, tubuhku kaku.
Bayangan Raka berkelebat di benak, punggungnya yang menjauh, tatapannya yang kosong. Lalu kini Marcel, hadir kembali, seakan menawarkan untuk membuka luka lama.
Aku menunduk, suara nyaris tenggelam oleh desir angin siang. "Kenapa sekarang, Marcel?"
Marcel melangkah mendekat, matanya penuh penyesalan. "Aku tahu aku salah. Terlalu ramah, terlalu bodoh sampai bikin kamu ngerasa nggak nyaman. Aku-,"
Aku memotong cepat, nada datar. "Itu sudah lewat, El. Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi."
Marcel terdiam, matanya mencari-cari jawaban di wajahku. Tapi aku tetap melangkah, melewatinya seperti melewati batu besar di tengah jalan. kehadirannya menutup pandangan, dan aku hanya fokus pada satu tujuan, menemukan Raka.
Aku melangkah melewati Marcel, menunduk agar tatapannya tak lagi membuat luluh. Namun baru beberapa langkah, jemari kasar itu meraih pergelangan tanganku. Sentuhannya membuatku terhenti, seakan bumi menahan langkahku.
"Mir, tunggu..." suaranya bergetar, bukan lagi sekadar ramah, melainkan penuh kegelisahan.
Aku menoleh singkat, tatapanku dingin. "Lepas, El. Kita udah gak ada urusan, kamu bukan siapa-siapa."
Marcel menggenggam lebih erat, matanya memohon. "Kasih aku kesempatan. Seenggaknya, dengerin aku dulu, Mir."
Aku menarik tanganku, berusaha melepaskan diri. "Oh!? Kamu mau bicara? kalau begitu dengan orang lain saja. Aku cuma bayangan, ingat? Jadi sekarang biarkan aku lewat."
Marcel terdiam, wajahnya menegang, seakan kata-kataku menampar lebih keras daripada usaha melepaskan genggamannya.
Riuh kecil dari sekitar lenyap, menyisakan hanya dua sosok yang berdiri di jalan sempit itu, aku yang ingin melanjutkan pencarian, dan Marcel yang menahan masa lalu agar tak benar-benar hilang.
Aku menatap lurus ke depan, ke arah jalan yang membawa ke Raka. "Tangan aku sakit, lepas sekarang atau..." aku melirik pisau sadap di genggaman tanganku yang kain.
Tapi tangan Marcel justru mencengkram semakin erat. Tatapannya penuh kegelisahan, seakan ia takut kehilangan kesempatan terakhir untuk bicara.
"Mir, dengar aku dulu…"
Suaranya bergetar, "Aku tahu, aku bajingan, yang tega bikin kamu jadi yang kedua. Tapi aku mohon, kasih aku kesempatan. Aku mau perbaiki semuanya."
Aku menoleh singkat, dingin. "Terus kamu pikir dengan bicara sekarang semuanya bisa berubah?"
Marcel menghela napas panjang, matanya memohon. "Aku mau kamu tahu, aku salah, karena aku bikin kamu merasa nggak layak dicintai terang-terangan."
Aku terdiam, terik mentari siang semakin panas di sekeliling kami. Suara Marcel bergema, tapi hatiku masih tertambat pada Raka yang kucari.
Marcel menunduk, suaranya lirih. "Kalau aku bisa, ayo kembali ke kota. Kita mulai semua nya sama-sama, seperti dulu."
Coba menenangkan hati dengan menggigit bibir yang gemetar, aku lanjut mengatakan sebuah deklarasi rasa yang indah, kepada Marcel. Kalimat yang mewakili segala perasaanku selama ini.
"Aku lihat kamu, usahamu, lelahmu, bahkan keinginanmu untuk jadi lebih baik. Semua itu nyata, dan semuanya berarti."
Aku tersenyum sinis, menatap matanya langsung dengan tatapan kecewa. Lalu dengan nada yang berat aku melanjutkan.
"Tapi... tidak bisa aku pungkiri kalau dulu, kamu cuma anggap aku sebagai bunga ranjang. Jadi maaf, aku nggak bisa."
Sudahlah aku lelah berfikir, jadi jangan salahkan acuh menjadi solusi. Mari Kita lihat apa lagi yang aku hentikan, demi mencegah cinta kepada Marcel di lain waktu.
Sekarang, meski akhirnya Marcel melepaskan genggaman tangannya dariku dan membiarkan aku berlari aku yakin, ini bukan usaha terakhirnya.