Hidup Syakila hancur ketika orangtua angkatnya memaksa dia untuk mengakui anak haram yang dilahirkan oleh kakak angkatnya sebagai anaknya. Syakila juga dipaksa mengakui bahwa dia hamil di luar nikah dengan seorang pria liar karena mabuk. Detik itu juga, Syakila menjadi sasaran bully-an semua penduduk kota. Pendidikan dan pekerjaan bahkan harus hilang karena dianggap mencoreng nama baik instansi pendidikan maupun restoran tempatnya bekerja. Saat semua orang memandang jijik pada Syakila, tiba-tiba, Dewa datang sebagai penyelamat. Dia bersikeras menikahi Syakila hanya demi membalas dendam pada Nania, kakak angkat Syakila yang merupakan mantan pacarnya. Sejak menikah, Syakila tak pernah diperlakukan dengan baik. Hingga suatu hari, Syakila akhirnya menyadari jika pernikahan mereka hanya pernikahan palsu. Syakila hanya alat bagi Dewa untuk membuat Nania kembali. Ketika cinta Dewa dan Nania bersatu lagi, Syakila memutuskan untuk pergi dengan cara yang tak pernah Dewa sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Babak baru (Dia, Zara)
"Zara!!"
Gadis dengan rambut bergelombang itu sontak menoleh. Sinar matanya yang cerah, bagai sebuah pelangi yang mampu meneduhkan hati siapapun yang melihatnya.
Selang yang ia gunakan untuk menyiram bunga-bunga di halaman segera ia letakkan. Setengah berlari, dia menuju ke arah gerbang untuk menyambut tetangga yang selama satu bulan ini sudah banyak membantunya.
"Ada apa, Bibi Sally?" tanya gadis itu kepada wanita berumur 51 tahun tersebut.
"Kamu bilang, kamu ingin mencari pekerjaan, kan?" Bibi Sally balik bertanya.
"Ya," angguk gadis itu. "Aku memang sedang mencari pekerjaan. Apa Bibi bisa membantuku?"
Bibi Sally mengangguk. Dia menarik tangan Zara menuju ke halaman rumah lalu duduk dibangku panjang yang berada di bawah sebuah pohon maple.
"Begini... Keponakan Bibi baru saja mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai pelayan di rumah salah satu konglomerat terkemuka di negara ini. Dan, kepala pelayan di sana meminta tolong padanya untuk segera mencarikan pengganti. Dia bertanya pada Bibi, apa Bibi bersedia. Tapi, kamu tahu sendiri kalau Bibi sangat sibuk mengurus perkebunan dan anak-anak, kan? Oleh sebab itu, Bibi pikir, sebaiknya kamu saja yang mengambil pekerjaan ini."
Bibi Sally menggenggam tangan Zara sambil tersenyum. "Zara,bagaimana menurutmu? Walaupun hanya seorang pelayan, tapi gajinya sangat tinggi. Bibi jamin, kehidupanmu pasti akan sangat stabil jika menerima pekerjaan ini."
Zara. Ya, itu nama baru Syakila. Nama lama sudah ia kubur bersama dengan kenangan pahit masa lalu. Dia tak ingin mengingat semua hal yang dulu lagi.Sekarang, di negara asing ini, dia memulai kehidupannya sendiri.
Tanpa orangtua angkat yang selalu menekan, tanpa kakak angkat yang selalu menjebak, dan tanpa laki-laki yang hanya bisa terus menyakiti dan menipunya.
"Tapi, Bibi... Apa aku bisa diterima?" tanya Zara sedikit tak percaya diri. Dia hanya pendatang. Meski, tak ada kendala dalam hal bahasa, namun tetap saja dia merasa ragu dengan kemampuan dirinya.
"Tentu saja," angguk Bibi Sally yakin. "Kamu gadis yang baik dan jujur. Bibi yakin, pekerjaan ini akan sangat cocok dengan kamu."
Zara tersenyum. Dia harus mengambil pekerjaan ini. Sudah satu bulan dia berada di negara ini dan dirinya hampir tidak memiliki pemasukan yang tetap.
Sesekali, dia hanya akan mengamen di jalanan kota untuk mengisi waktu senggang. Kadang pula, dia ikut Bibi Sally untuk memanen anggur di perkebunan perempuan paruh baya itu.
Tapi, tetap saja. Uang itu hanya cukup untuk menjamin hidupnya sehari-hari. Sementara, untuk tabungan masa depan, dia tak memiliki jaminan apapun.
"Baiklah, Bibi. Aku mau. Terimakasih banyak," ucap Zara dengan tulus.
Jadi pelayan pun tak apa. Yang penting, gajinya tinggi, sesuai perkataan Bibi Sally.
Keesokan harinya, Zara berangkat menuju ke alamat yang diberikan oleh Bibi Sally. Pertama kali sampai, Zara sampai melongo melihat bangunan di hadapannya.
Tidak.
Ini bukan rumah tapi istana.
Dari pintu gerbang sampai ke pintu rumah saja, Zara harus berjalan hampir tiga ratus meter.
"Aku lelah sekali," keluh Zara dengan napas tersengal-sengal.
Rupanya, didepan pintu rumah, sudah banyak pelamar lain yang berkumpul. Tapi, anehnya... semua pelamar yang hadir adalah perempuan muda dengan dandanan yang sangat cantik dan mencolok. Hanya dirinya saja yang datang dengan rok span berwarna hitam serta kemeja putih serta riasan yang nyaris tidak terlihat.
"Apa aku salah kostum?" gumam Zara bermonolog. "Tapi, bukannya hanya aku satu-satunya yang akan melamar jadi pelayan hari ini? Tapi, kenapa antriannya malah sepanjang ini?" lanjutnya keheranan.
Tak mau terjebak kebingungan terlalu lama, Zara memberanikan diri untuk mendekat pada seorang perempuan paruh baya berpakaian pelayan yang sedang berdiri didepan pintu.
"Permisi! Saya kemari untuk melamar sebagai..."
"Antri!" potong perempuan paruh baya itu dengan tegas. "Jangan seenaknya menyerobot antrian. Yang ingin menjadi kandidat bukan hanya kamu. Mereka juga," tunjuknya pada gadis-gadis cantik yang berbaris di belakang Zara.
Gadis itu tampak nyengir. Jujur saja, baru kali ini dia melihat banyak perempuan yang ingin melamar jadi pelayan namun dengan dandanan yang sangat heboh dan mewah.
Dibenak Zara, mereka tidak terlihat seperti orang yang akan melamar jadi pelayan. Tampang mereka jauh lebih terlihat seperti Nona dari keluarga kaya.
"Antrian ke 24, Nona Casey Stoner," teriak seorang pria tua dengan kepala botak dan janggut yang sudah putih semua.
Seorang perempuan dengan gaun ketat berwarna hijau segera melangkah masuk dengan percaya diri. Akan tetapi, belum sampai sepuluh menit, dia sudah terteriak histeris kemudian berlari keluar sambil menangis.
"Aku tidak mau menyerahkan nyawa pada orang gila seperti dia. Tidak akan pernah," teriaknya.
Perempuan berpakaian pelayan yang tadi berbicara dengan Zara tampak menggeleng pelan. Kemudian, antrian selanjutnya disebut kembali.
Namun, lima perempuan terakhir sebelum Zara, semuanya sama seperti si Nona urutan ke-24.
Mereka lari terbirit-birit karena ketakutan sambil menangis histeris.
"Sebenarnya, apa yang ada didalam?" gumam Zara kebingungan. "Jangan-jangan, pekerjaannya disuruh kasih makan singa dan buaya?" lanjutnya bermonolog.
Kalau memang benar, pekerjaannya adalah memberi makan hewan buas, bukankah lebih baik jika dirinya mundur saja?
Ya, itu pasti lebih bagus. Dia sudah mati sekali. Kalau harus mati untuk yang kedua kali, seharusnya Zara mati dalam keadaan bahagia. Bukan malah jadi santapan hewan-hewan buas.
Diam-diam, Zara mulai berbalik. Dia ingin kabur sesegera mungkin.
"Hei,tunggu!" tahan perempuan paruh baya itu. "Kamu mau kemana?"
"Pu-pulang," jawab Zara terbata. Tatapan perempuan itu terlihat tajam sekali. Jujur, Zara sedikit takut.
"Kamu belum ditolak. Kenapa malah langsung menyerah?"
"Sebaiknya, saya pergi saja. Mungkin, saya tidak cocok dengan pekerjaan ini."
"Kalau belum dicoba, tidak akan tahu," timpal perempuan paruh baya itu seraya mendorong Zara masuk ke dalam rumah.
"Aku..."
"Antrian ke-30?" tegur pria tua dengan kepala botak itu.
Sepertinya, dia memiliki kedudukan cukup tinggi di rumah besar itu.
"Sa-saya..."
"Ternyata masih ada, ya?" seru seorang wanita dengan penampilan seperti Nyonya bangsawan yang muncul dari dalam.
"Sepertinya, Nona ini belum mendaftarkan dirinya secara resmi, Nyonya."
Pria tua itu berkata dengan sopan kepada wanita tersebut.
"Siapa namamu, Sayang?" tanya wanita itu kepada Zara.
"Zara," jawab Zara singkat.
"Kamu... dari keluarga mana?"
Zara tersenyum kecut. Ternyata, jadi seorang pelayan pun, harus tahu dari keluarga mana.
"Saya... yatim-piatu sejak kecil. Jadi, saya tidak memiliki keluarga," jawabnya dengan tenggorokan yang sedikit tercekat.
Nyonya kaya itu tertegun sejenak. Namun, sepersekian detik berikutnya, dia kembali tersenyum dengan ramah.
"Tidak apa-apa. Pendaftaran ini memang terbuka untuk siapa saja. Tidak terkecuali, untuk kamu."
"Tapi, saya..."
"Sekarang, kamu bisa langsung naik ke lantai dua! Lakukan tugasmu!"
Dahi Zara sedikit terlipat. Tugas? Tugas apa? Jangan-jangan, memang benar, jika dirinya harus memberi makan binatang buas?
"Sa-saya..."
Nyonya kaya itu menepuk-nepuk bahu Zara secara perlahan. "Naiklah! Tidak apa-apa."
Zara meneguk ludahnya dengan susah payah. Tangga yang membentang dihadapannya bagai sebuah jembatan yang akan membawanya memasuki dunia baru.
Kepalanya mendongak ke atas. Sebenarnya, apa yang menunggunya diatas sana?