NovelToon NovelToon
Karma Datang Dalam Wujudmu

Karma Datang Dalam Wujudmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta pada Pandangan Pertama / Teman lama bertemu kembali / Office Romance
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: diamora_

Cayra Astagina, sudah terlalu sering patah hati. Setiap hubungan yang ia jalani selalu berakhir dengan diselingkuhi.
Saat ia hampir menyerah pada cinta, seorang peramal mengatakan bahwa Cayra sedang menerima karma dari masa lalunya karena pernah meninggalkan seorang cowok kutu buku saat SMA tanpa penjelasan.

Cayra tidak percaya, sampai semesta mempertemukan mereka kembali.

Cowok itu kini bukan lagi si kutu buku pemalu. Ia kembali sebagai tetangga barunya, klien terpenting di kantor Cayra, dan seseorang yang perlahan membuka kembali rahasia yang dulu ia sembunyikan.

Takdir memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Dan Cayra sadar bahwa karma tidak selalu datang untuk menghukum.
Kadang, karma hadir dalam wujud seseorang yang menunggu jawaban yang tak pernah ia dapatkan.

Kisah tentang kesempatan kedua, kejujuran yang tertunda, dan cinta yang menolak untuk hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamora_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Awal yang Tak Pernah Benar-Benar Usai

Bukan kembang api, bukan pelangi, cinta pertama hanya datang diam-diam, lalu tinggal selamanya.

...Happy Reading!...

...*****...

Pernah dengar lagu yang bilang hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga? Entah kenapa, lirik itu terdengar dramatis... tapi juga menggelitik. Soalnya, aku belum pernah merasakannya.

Lucunya, semua ini datang lagi di pikiranku hanya karena satu tatapan yang sama di ruang meeting tadi pagi.

Cinta. Satu kata, berjuta makna. Tapi buatku, artinya masih misteri. Bahkan sekarang, saat aku hampir masuk SMA, tepatnya sebulan lagi, aku masih belum punya jawabannya.

What is love?

Pertanyaan itu terus muncul di kepalaku setiap kali melihat orang lain berpasangan. Apakah cinta butuh alasan? Apakah cinta datang karena pilihan, atau sekadar rasa yang tumbuh diam-diam?

Kalau ditanya tentang cinta pertama, aku pasti bingung. Karena sejauh ini, belum pernah ada cinta yang membuat jantungku berdebar... selain cinta pada Ayah, tentu saja.

Hari-hariku biasanya hanya diisi sekolah dan menggambar. Itu hobiku. Dunia kecilku. Setiap sore, aku suka pergi ke taman kota, membawa buku sketsa dan pensil. Duduk diam, memperhatikan sekeliling, lalu menggambar apa pun yang menarik. Terkadang juga ada beberapa anak yang menyuruhku untuk menggambar mereka.

Saking sibuknya di dunia sendiri, jatuh cinta tak pernah masuk dalam daftar pikiranku.

Tapi jauh di dalam hati, aku penasaran. Penasaran bagaimana rasanya jatuh cinta. Penasaran bagaimana rasanya, ketika dunia berubah hanya karena satu tatapan.

Lalu suatu hari, segalanya berubah.

Waktu itu aku baru selesai menggambar dan sedang membereskan barang. Suara benturan keras tiba-tiba terdengar.

Bruk.

Aku menoleh. Beberapa orang mulai mengerumuni pinggir jalan. Penasaran, aku ikut mendekat. Di sana, kulihat seorang nenek dan anak lelaki berkacamata terduduk di aspal. Bajunya berantakan, sikunya berdarah, celananya kotor.

Tapi yang membuatku berhenti adalah... caranya menatap sang nenek. Panik, tapi tulus.

"Nek, apa nenek baik-baik saja? Perlu ke rumah sakit?"

"Nggak usah. Nenek baik-baik saja. Kamu sendiri gimana?"

"Aku baik. Yang penting nenek nggak apa-apa."

Ternyata mereka bukan keluarga. Bocah kecil berbaju lusuh menghampiri dan memanggil sang nenek. Saat itu aku baru sadar, lelaki berkacamata itu hanya orang asing yang nekat menolong.

Ketika semua orang mulai bubar dan nenek itu pergi bersama cucunya, aku masih diam di tempat. Mataku mengikuti lelaki itu yang sedang memungut bukunya yang jatuh.

Entah dari mana datangnya rasa ini, tapi aku tak bisa memalingkan pandangan.

Keesokan harinya, aku kembali ke taman. Kupikir pertemuan kemarin hanyalah selipan semesta. Tapi ternyata... dia muncul lagi. Kali ini membantu seorang kakek menyeberang jalan.

Aku hanya bisa mengamati dari kejauhan. Dia sungguh... berbeda. Bukan sekadar pintar. Tapi baik. Sederhana. Tidak banyak bicara, tapi tindakannya berbicara banyak.

Sejak hari itu, tujuanku ke taman berubah. Bukan hanya mencari inspirasi gambar. Tapi juga... mencari dia. Lelaki berkacamata yang perlahan menyusup ke setiap halaman sketsaku.

Aku mulai menggambarnya. Saat ia duduk membaca buku. Saat tangannya menyodorkan uang kepada anak kecil yang berjualan. Saat langkahnya mendahului siapa pun untuk membantu.

Apa ini cinta?

Tiga hari berturut-turut aku datang ke taman, tapi dia tak muncul. Rasanya seperti menggambar langit tanpa warna. Lengkap... tapi hampa. Bahkan semangat menggambarku ikut menghilang. Aku hanya duduk diam, menatap halaman kosong.

Besok aku masuk SMA. Sekolah favorit di kota ini. Isinya anak-anak orang berada. Aku sendiri bisa masuk karena Mama adalah guru di sana.

Seharusnya aku senang. Tapi pagi itu, hatiku tidak sepenuhnya utuh.

Saat baris upacara, topiku terjatuh. Aku panik. Baru sadar saat seseorang mengulurkan topi itu ke arahku. Tangannya tenang. Suaranya pelan.

"Apa ini topimu?"

Aku menatapnya. Waktu berhenti. Suara di sekeliling menghilang. Hanya ada dia. Dan detak jantungku yang entah kenapa, mulai tak beraturan.

Itu dia. Lelaki berkacamata yang kucari-cari.

"Terima kasih..." ucapku, hampir tak percaya.

Dia hanya mengangguk lalu melangkah kembali ke barisan. Aku terpaku. Ini nyata?

Ternyata kami satu sekolah. Satu angkatan.

Sayangnya, tidak satu kelas. Dia di IPA 1, kelas favorit. Aku di IPA 3. Tapi tidak apa-apa. Yang penting, aku masih bisa melihatnya. Masih bisa mengaguminya dari jauh.

Namanya Saka. Katanya anak pintar. Namanya beredar lewat bisik-bisik antar siswa. Termasuk bisik-bisik yang sengaja kudengar saat pura-pura minum di kantin lebih lama dari biasanya.

Saat bersama teman baruku, Zira dan Vey, aku pura-pura sibuk. Padahal mataku diam-diam mencari sosok itu. Aku memperhatikannya di perpustakaan. Di taman belakang sekolah. Di kelas IPA 1 yang sepi saat istirahat.

Iya... aku seperti penguntit.

Tapi bukankah cinta pertama memang selalu penuh kegilaan kecil?

Cinta pertamaku tidak datang dengan pelangi atau lagu romantis.

Ia datang dalam bentuk seorang lelaki berkacamata. Dengan keberanian, kebaikan, dan senyum yang terlalu tulus untuk dilupakan.

Sekarang, aku baru sadar. Cinta tidak selalu datang dengan kembang api. Kadang cinta hanya butuh satu momen. Satu pandangan. Satu rasa yang tumbuh pelan-pelan, diam-diam... dan tak pernah bisa dijelaskan.

Kalau ini bukan cinta, lalu apa?

Kadang aku berpikir, mungkin dari situlah semuanya dimulai.

Aku pikir kisah itu sudah selesai di taman kota. Tapi ternyata... baru saja dimulai.

Dari satu momen di taman kota. Dari satu topi yang terjatuh. Dan dari satu tatapan yang tak sempat kusadari, tapi menyusup dalam ingatan.

Aku tidak tahu kapan perasaan itu berubah. Tapi yang jelas...sejak hari itu, aku berhenti bertanya apa itu cinta.

Karena aku sudah merasakannya.

Dan bodohnya, aku memilih pergi...sebelum sempat memilikinya.

Mungkin begitu cara cinta pertama bekerja. Diam-diam tumbuh. Diam-diam tinggal. Tapi tak pernah benar-benar pergi.

Kalau waktu bisa kuputar, mungkin aku akan tetap menatapnya sedikit lebih lama. Cinta pertama memang bukan selalu untuk dimiliki… tapi kenangannya, tidak pernah benar-benar melepaskanmu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!