Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.
Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.
Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Bryan bertepuk tangan pelan, gema suaranya memantul di dinding lorong mansion yang lenggang.
“Silakan,” katanya sambil memberi isyarat ke arah ruang kerja besar di ujung lorong. “Aku sudah menunggu momen ini.”
Evans tidak langsung bergerak. Tangannya tetap di punggung Xerra, menuntunnya setengah langkah di belakangnya,posisi yang jelas ia dilindungi.
“Gerry. Ben,” ucap Evans singkat tanpa menoleh.
“Amankan lantai ini. Jangan ada kegaduhan”
“Kami di sini, Boss,” jawab Ben rendah.
Mereka melangkah masuk.
Ruang kerja Bryan luas, bernuansa gelap dengan jendela tinggi. Meja kayu hitam besar berdiri di tengah, dindingnya dipenuhi rak buku dan peta wilayah lama, bekas kekuasaan Gagak Hitam yang pernah direbut Evans.
Bryan menyandarkan tubuh di tepi meja.
“Kau mengambil wilayahku. Menghancurkan organisasiku. Dan sekarang...”
tatapannya meluncur ke Xerra, “kau juga mengambil sesuatu yang membuatku… tertarik.”
Evans berdiri tegak.
“Ucapkan satu kata lagi tentang istriku, dan pembicaraan ini selesai.”
Xerra menarik napas, lalu melangkah setengah langkah ke depan.
“Kalau kau ingin perang, jangan libatkan aku,” katanya tenang. “Aku bukan alat tawar-menawar.”
Bryan mengangkat alis, seolah terhibur.
“Berani.”
“Dia jujur,” potong Evans. “Berbeda denganmu.”
Keheningan menegang.
Bryan berjalan memutar meja,cukup dekat untuk memancing reaksi.
“Kau tahu kenapa penjagaanku longgar?” tanyanya ringan.
“Karena aku ingin kau masuk. Aku ingin melihat sejauh apa kau akan melindunginya.”
Evans tidak bergeming.
“Dan?”
“Dan kau datang sendiri,” Bryan tersenyum. “Itu berarti dia titik lemahmu.”
Xerra menoleh cepat.
“Aku bukan....”
“Tidak,” Evans menyela lembut, tanpa menatap Bryan. “Kau bukan titik lemah.”
Ia menatap Xerra sebentar, lalu kembali ke Bryan.
“Kau adalah alasanku.”
Bryan terdiam sesaat. Senyumnya menipis.
“Alasan yang berbahaya.”
Evans melangkah maju satu langkah.
“Kesepakatanmu apa.”
Bryan menimbang, lalu berkata pelan, nyaris bersahabat,
“Pergi dari wilayah barat. Biarkan aku membangun kembali. Sebagai gantinya.....”
tatapannya kembali ke Xerra, “aku menjamin keselamatannya. Sekarang dan seterusnya.”
Udara membeku.
Xerra menegang.
“Om”
“Tidak,” jawab Evans tegas. Satu kata, tanpa ragu.
“Wilayah barat tetap milikku. Dan kau.....”
ia menunjuk Bryan, “tidak akan pernah menyentuh hidupku lagi.”
Bryan terkekeh pendek.
“Kalau begitu, kau memaksaku.”
Evans mengangkat tangan. Seketika Gerry dan Ben muncul di ambang pintu, senjata terarah.
“Kesalahanmu,” kata Evans dingin, “adalah mengira aku akan bernegosiasi setelah kau menyentuh istriku.”
Bryan menatap pemandangan itu lama. Lalu, perlahan, ia menghela napas dan mengangkat kedua tangan,bukan menyerah, lebih seperti mengakui babak ini.
“Baik,” katanya. “Bab ini milikmu.”
Ia menoleh ke Xerra, suaranya turun.
“Pergilah. Tapi ingat dunia kita sempit. Kita akan bertemu lagi.”
Evans langsung menarik Xerra ke sisinya.
“Kita pergi.”
Saat mereka melangkah keluar, Bryan berseru pelan dari belakang,
“Evans....”
Evans berhenti setengah detik, tanpa menoleh.
“Jagalah dia,” lanjut Bryan. “Karena orang sepertimu… hanya benar-benar hancur saat kehilangan.”
Evans melanjutkan langkahnya.
Di lorong, Xerra menggenggam jas Evans erat.
“Om… maaf.”
Evans berhenti, menatapnya. Nada suaranya melembut, namun kokoh.
“Jangan minta maaf. Kau pulang bersamaku. Itu saja yang penting.”
Di luar mansion, malam London terasa lebih dingin.
Namun di balik pelukan protektif Evans, Xerra tahu
perang mungkin belum usai, tapi ia tidak lagi sendirian.
Mobil hitam itu melesat meninggalkan gerbang mansion Gagak Hitam. Lampu kota London membentang di kejauhan, berkilau seperti garis tipis di balik kaca jendela yang berembun.
Di kursi belakang, Xerra duduk diam. Tangannya masih menggenggam ujung jas Evans, seolah takut jika dilepaskan, semua ini akan terasa tidak nyata.
Evans memperhatikannya dari sudut mata.
“Kau gemetar,” katanya pelan.
Xerra menggeleng cepat. “Tidak… aku hanya masih kaget.”
Evans memberi isyarat halus pada sopir. Mobil melambat. Ia lalu melepas jasnya sendiri dan menyelimutkan bahu Xerra.
“Sudah selesai,” ucapnya rendah. “Tidak ada yang akan menyentuhmu lagi.”
Xerra menoleh, menatap wajah Evans yang tegang namun terkendali.
“Tadi… kalau aku benar-benar jadi syarat,” tanyanya ragu, “apa yang akan Om lakukan?”
Evans tidak langsung menjawab. Pandangannya lurus ke depan, rahangnya mengeras.
“Aku akan menghancurkan dunianya,” katanya akhirnya. “Tapi aku tidak akan menyerahkanmu.”
Jawaban itu membuat napas Xerra tercekat. Ia mencondongkan tubuh dan menyandarkan kepala di bahu Evans.
“Terima kasih… sudah menjemputku pulang.”
Evans mengangkat tangannya, mengusap punggung Xerra perlahan dengan gerakan kecil, penuh kendali, namun menenangkan.
“Aku berjanji,” katanya, “tidak ada lagi malam seperti ini untukmu.”
Mansion Pattinson menyambut mereka dengan cahaya hangat. Pintu besar terbuka, pelayan dan kepala keamanan berdiri siap wajah mereka jelas lega melihat Xerra kembali.
Begitu melangkah masuk, kaki Xerra melemas. Semua ketegangan yang ia tahan runtuh sekaligus.
Evans menangkapnya tepat waktu.
“Xerra.”
“Aku capek,” bisiknya, nyaris tak terdengar.
Tanpa berkata apa-apa, Evans menggendongnya. Tidak peduli pada tatapan siapa pun. Ia membawanya naik ke kamar utama,kamar yang kini sepenuhnya milik mereka.
Begitu pintu tertutup, Evans meletakkan Xerra perlahan di tepi ranjang.
“Kau aman di sini,” katanya, berjongkok di depannya. “Lihat aku.”
Xerra menatapnya, mata beningnya basah.
“Tadi aku takut,” akunya jujur. “Tapi… lebih takut memikirkan Om marah karena aku di culik.”
Evans tersenyum tipis,senyum yang sangat jarang, tapi nyata.
“Aku marah pada nya,” katanya. “Bukan padamu.”
Ia mengangkat wajah Xerra dengan dua jari, memastikan tatapan mereka sejajar.
“Mulai malam ini, keamananmu dilipatgandakan. Kampus, perjalanan, bahkan saat kau tidur.”
Xerra mengerutkan kening. “Aku tidak mau hidup seperti tahanan.”
“Kau bukan tahanan sayang,” jawab Evans lembut. “Kau hidup sebagai istriku.”
Ia berdiri, lalu melepas sarung pistolnya dan meletakkannya di laci gerakan simbolis, seolah berkata di ruangan ini, aku bukan mafia. Aku suami mu.
Xerra memperhatikan, dadanya terasa hangat.
“Om…” panggilnya pelan.
Evans menoleh.
“Terima kasih sudah datang sendiri,” lanjut Xerra. “Aku tahu itu berbahaya.”
Evans mendekat, duduk di sampingnya.
“Aku tidak akan membiarkan orang lain mengambil apa yang menjadi tanggung jawabku.”
Ia mencondongkan tubuh, kening mereka hampir bersentuhan.
“Dan kau… adalah tanggung jawab yang paling ingin kujaga.”
Xerra tersenyum kecil, air mata jatuh tanpa ia minta. Evans menyekanya dengan ibu jari, sangat hati-hati, seolah takut melukainya.
“Malam ini,” katanya pelan, “kau tidur. Aku di sini menjagamu”
Xerra mengangguk, tubuhnya benar-benar rileks.
Di luar, penjagaan diperketat.
Di dalam, di balik pintu kamar yang tertutup rapat
Evans Pattinson duduk di sisi ranjang, berjaga.
Bukan sebagai raja dunia gelap.
Tapi sebagai suami yang tidak akan membiarkan istrinya terluka lagi.
Evans yang sedang berdiri di sisi tempat tidur menoleh kaget, belum sempat berkata apa pun ketika tangan kecil itu menarik kerah kemejanya.
“Xerra”
Kalimat itu terputus.
Karena bibir Xerra telah menempel di bibirnya.
Bukan ragu.
Bukan ciuman malu-malu.
Hangat. Dalam. Penuh perasaan yang selama ini mereka tahan.
Evans membeku sepersekian detik bukan karena terkejut, tapi karena emosi yang menghantamnya terlalu kuat. Tangannya terangkat, lalu berhenti di pinggang Xerra, seakan memberi kesempatan terakhir jika gadis itu ingin mundur.
Namun Xerra justru memeluknya lebih erat.
“Aku di sini,” bisiknya lirih di sela napas mereka. “Bersamamu. Karena aku mau.”
Kalimat sederhana itu meruntuhkan sisa kendali Evans.
Ia membalas ciuman itu, lebih dalam, lebih protektif bukan hasrat liar, melainkan kebutuhan yang lahir dari rasa kehilangan, ketakutan, dan cinta yang nyaris direnggut darinya.
Evans menarik Xerra ke dalam pelukannya, dahinya menempel di dahi istrinya.
“Kau tidak perlu membuktikan apa pun,” ucapnya rendah. “Aku sudah tahu.”
Xerra menggeleng pelan, senyum kecil terbit di bibirnya.
“Ini bukan pembuktian,” katanya lembut. “Ini pilihanku.”
Lampu kamar diredupkan. Dunia di luar seolah menghilang.
Malam itu tidak dipenuhi kata-kata berlebihan hanya kehadiran, kepercayaan, dan kehangatan yang akhirnya saling menemukan tempatnya.
“Jangan pergi,” pintanya.
“Malam ini… temani aku.”
Tatapan Evans menggelap bukan oleh nafsu semata, tapi oleh keputusan.
Ia melepaskan Jam tangannya. Semua simbol dunia kerasnya.
Malam ini, ia hanya seorang pria yang ingin memastikan istrinya aman.
Evans berbaring di samping Xerra, memeluknya erat. Ciumannya turun perlahan bukan terburu-buru, bukan menuntut melainkan menenangkan, memastikan, mencintai.
Xerra menutup mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehadiran Evans.
Dalam detak jantung yang sama.
Dalam napas yang saling mencari.
Malam itu, mereka tidak sekadar saling memiliki.
Mereka saling menguatkan.
Menyembuhkan luka yang belum sempat berdarah.
Dan berjanji tanpa kata bahwa apa pun yang datang setelah ini, mereka akan menghadapinya bersama.
Karena malam itu, cinta mereka tidak lahir dari kemewahan…
melainkan dari rasa takut kehilangan yang nyaris menjadi nyata.