"Salahmu sendiri terus menggodaku, jangan salahkan aku kalau sampai hilang kendali dan melepas paksa pakaian mu"
~~Ares Reindart Darmaji~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fafacho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4.
“Non, non Flo bangun non” mbok Jah berusaha membangunkan Flo yang saat ini tidur di sofa ruang Tengah.
“Emhh,.apa sih mbok. Masih pagi jangan heboh” ucap Flo masih memejamkan matanya. Dia hanya mengolet saja di sofa itu, dan kini membelakangi mbok Jah.
“Non Flo kenapa bisa tidur di sini non, kenapa nggak tidur di kamar. Ayo bangun non, den Valen dan den Vicent hari ini mau pulang nanti kalau lihat non Flo disini mereka marah non” mbok Jah masih berusaha keras membangunkan Flo.
“cerewet banget sih mbok” dengan terpaksa Flo bangun, dia mendudukkan dirinya sambil menguap. Matanya masih cukup berat untuk terbuka.
“dua cecunguk itu mana berani marah denganku” ucapnya lagi sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Kepalanya saat ini masih begitu pusing.
Saat dia menyandarkan kepalanya sambil memejamkan matanya, tiba-tiba ia teringat dengan semalam dan lebih gilanya lagi ia menaruh tangan ajudan brengsek itu di dadanya.
“Argggh, gue gila” teriaknya tiba-tiba, Mbok Jah yang tadinya akan Kembali lagi kedapur berbalik dan menghampiri Flo khawatir.
“kenapa non? Non Flo kenapa?” tanya mbok Jah khawatir.
“Arghh,…bodoh, bodoh” bukannya menjawab Flo malah mengacak rambutnya frustasi.
“Non, non Flo kenapa non..” Mbok Jah semakin khawatir dia memegangi tangan Flo.
“Nggak pa-pa mbok,” Flo langsung berdiri dari duduknya.
“Dimana ajudan berangsek itu mbok?” tanya Flo menatap si mbok.
“A..ajundan siapa non..breng..brengsek, aju…”
“Ada apa kak, pagi-pagi heboh sampai depan” sebuah suara mengalihkan keduanya.
Mbok jah langsung memberi jarak, dia sedikit menunduk.
“Den Valen sudah pulang, mau makan apa den biar mbok siapkan?” ucap si mbok lirih.
“nggak usah mbok, saya belum laper. Tapi siapkan saja deng mbok, siapa tahu Vincent mau makan” ucap Valen, lalu dia menatap kakaknya yang seperti orang gila dengan rambut acak-acakan apalagi dengan pakaian yang begitu minim.
“Kakak habis mabuk?” tanya Valen dengan wajah seriusnya.
“Bukan urusanmu, ke kamarmu saja sono” jawab Flo ketus, lalu dia akan berjalan pergi tapi langkahnya terhenti saat ada yang berjalan mendekat dengan Langkah tegapnya. Flo perlahan mundur, membuah Valen heran dan melihat siapa yang di lihat kakaknya. Seorang pria asing yang berjalan mendekat dengan sebuah kertas di tangannya.
“Siapa dia mbok?” tanya Valen
“Ajudan barun den, ajudan pribadi yang bakal ngawal non Flo” jawab si mbok.
“Kalau begitu mbok pamit ke dapur dulu den” ucap Mbok Jah, ia pamit pergi kedapur menyipakan sarapan.
Flo yang tadi tampak Garang, bahkan terkesan emosi saat mengingat semalam. Langsung menunduk. Entah mengapa rasa malu menghinggapi dirinya. Valen yang tak biasanya melihat kakaknya aneh begitu menatap heran. Lalu dia menatap kearah pria yang dia kata ajudan baru di rumahnya.
“Maaf mengganggu,” ucap Ares menatap kearah Valen yang berdiri di sebelahnya.
“Iya nggak pa-pa, ajudan baru bang?” tanya Valen pada Ares.
“Iya” jawab Ares singkat. Lalu dia menatap Flo yang seperti tak berani melihat kearahnya.
Flo sendiri masih menunduk, dia bergelut dengan pikirannya sendiri.
“Gue kenapa? Kenapa gue malu sendiri. Bodoh..” setelah berperang dengan isi kepalanya sendiri Flo mendongak dan matanya tepat berhadapan dengan mata Ares yang menatapnya.
“Mau apa lo?” tanya Flo berusaha memberanikan dirinya.
Ares tak segera menjawab, dia lalu menatap kearah Valen.
“Bisa tinggalkan kita berdua,” pintanya pada Valen.
“Bisa bang, silahkan” meskipun penasaran tapi Valen tetap pergi. Dia meninggalkan sang kakak dengan ajudan baru keluarga mereka.
“Mau apa kau? Ketagihan meremas PYD ku? Mau lagi?” ucap Flo frontal, dia mendekatkan dirinya pada Ares.
“Ternyata kau ingat ulahmu semalam,” sinis Ares.
“Kau salah besar bilang saya ketagihan, punyamu sama sekali tidak menantang saya. Baca ini, ini aturan untukmu nona. Jadi tolong patuhi aturan ini, saya permisi” Ucap Ares lagi, menarik tangan Flo dan menaruh kertas yang ia bawa di telapak tangan Flo.
Setelah itu Ares melenggang pergi meninggalkan Flo yang sedikit kaget dengan tanggapan Ares barusan.
“Hah, apa? Lo bilang punya gue nggak menantang lo. Woy,..” teriak Flo merasa kesal. Dia berjalan cepat menyusul Ares dengan mengepal kertas di tangannya. Tapi sebelum ia benar-benar mengejar Ares langkahnya di hadang oleh Vincent yang baru saja masuk.
“mau kemana kak dengan pakaian begini , masuk” tukas Vincent sambil melihat pakaian kakaknya yang begitu seksi.
“Minggir kau,” Flo mendorong Vincent agar minggir tapi adiknya itu tidak bergeming dan malah masih di tempatnya.
“Lo tuli ya, gue bilang minggir” tukas Flo menatap tajam sang adik.
“Aku nggak akan minggir kakak, kakak sadar nggak sih di luar banyak para lelaki. Mau keluar dengan pakaian begini, kak Flo mau semakin jadi bahan omongan kalau kakak Perempuan nggak benar, di depan pagar sana juga banyak wartawan. Kak Flo mau jadi trending lagi, dan papa ngamuk”
“Brengsek kalian, muak gue lama-lama dirumah ini” dengan kesal Flo berjalan pergi, dia tak jadi keluar. Ia Kembali masuk kedalam dengan kertas tadi yang masih di tangannya.
…………
“Aturan bodoh macam apa ini?” kesal Flo tak terima dengan aturan yang ia baca di kertas yang diberikan oleh Ares tadi.
“1. Dilarang keluar rumah tanpa izin,
“2. Tidak boleh mengundang tamu tanpa konfirmasi
“3. Dilarang mengkonsumsi Alkohol di dalam rumah
‘4. Wajib mengikuti sarapan Bersama keluarga
“5. Dilarang memakai pakaian menantang di luar kamar,
“Cihhh dia memberiku aturan seperti bocah, dia pikir dia siapa. Baru dua hari disini sudah songong” cibir Flo
“sebentar kenapa nomor lima, hahaha ketahuan kau. Dilarang memakai pakaian menantang di luar kamar, cihh kau tertantang tua. Kau tadi bilang tidak tertantang sama sekali tapi di aturanmu jelas kau tertantang. Kau tidak bisa menipuku tuan Ares” sinis Flo, dia merasa menang. Walaupun kata itu tak menunjukkan kebenaran tapi ada makna tersirat. Tak mungkin pria itu tidak tertantang semalam, kalau tidak tertantang tak mungkin ada aturan ini di kertas, pikir Flo
“Oke tua, kalau kau terus melarangku apapun. Maka godaanku akan semakin besar Ares Mahendra,” gumam Flo dengan senyum miring yang Nampak di wajahnya.
“Tunggu apa yang akan aku lakukan kapten Ares,” ucap Flo, dia lalu merobek-robek kertas yang ia pegang itu dan berjalan ke balkon kamarnya.
Menghamburkan kertas yang sudah ia robek itu ke udara.
“ARES MAHENDRA TUNGGU APA YANG KU LAKUKAN NANTI” teriak Flo di balkon kamarnya itu.
***
kok pas di mall kemaren Ares g negur si Farah kan mereka sempet ketemu Thor??
😄😄😄
hehehehhe...
lanjut ya
hahhahaha
kita tunggu kegilaan apa yg bakal kalau lakukan flo???
lanjut lagi donk....
mama tiri berusaha JD peri atau penyihir nih🤔🤔🤔