NovelToon NovelToon
Upstage My Heart

Upstage My Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen / Romansa / Showbiz / Slice of Life / Cintapertama
Popularitas:489
Nilai: 5
Nama Author: meongming

Kisah Lyla, seorang make-up artist muda yang menjalin hubungan diam-diam dengan Noah, aktor teater berbakat. Ketika Noah direkrut oleh agensi besar dan menjadi aktor profesional, mereka terpaksa berpisah dengan janji manis untuk bertemu kembali. Namun, penantian Lyla berubah menjadi luka Noah menghilang tanpa kabar. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi. Lyla yang telah meninggalkan mimpinya sebagai make-up artist, justru terseret kembali ke dunia itu dunia tempat Noah berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 : Teringat Kamu

Paginya, pelajaran pertama Matematika Suara kapur dan penjelasan guru jadi satu, membentuk irama yang… terlalu menenangkan.

Lyla duduk di bangkunya, dagu bertumpu di tangan, matanya setengah terpejam Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah.

Kalau rumus ini dikalikan dengan...” Suara gurunya mulai terdengar jauh, yang ada di kepala Lyla hanya satu nama.

Noah.

Ia tersenyum tanpa sadar, lalu buru-buru menutup mulutnya dengan tangan ketika temannya di sebelahnya menatap heran.

“Lyla, kamu kenapa senyum-senyum sendiri?” bisik temannya.

“Eh? Nggak, nggak apa-apa!” jawab Lyla cepat.

Gurunya menatap ke arah mereka dari depan kelas. "Lyla, tolong jawab soal nomor tiga.”

Lyla langsung menegakkan badan, panik total "A–ah… nomor tiga, ya? Itu… uh…”

Semua mata tertuju padanya Lyla berkedip cepat, lalu menatap papan tulis dengan pandangan kosong.

“Dua… tambah… tiga?”

Seluruh kelas tertawa kecil guru hanya menghela napas "Kamu kayaknya masih di dunia mimpi, ya, Lyla.”

Lyla menunduk malu, menutup wajah dengan buku catatan dari sela-sela rambutnya, kalung bintang itu berkilau lembut, seolah ikut tersenyum bersamanya.

Bel istirahat berbunyi nyaring , Lyla langsung menghela napas lega, menutup buku matematika dengan ekspresi letih.

Di kantin, suasana ramai seperti biasa. Lyla berjalan sambil membawa nampan kecil, mencari tempat duduk kosong.

“Lyla!” suara familiar terdengar.

Noah melambaikan tangan.

Lyla mendekat pelan, duduk di depannya.

“Kamu nggak latihan hari ini?”

“Belum, nanti sore,” jawab Noah santai. “Kamu kelihatan ngantuk banget, ya?”

Lyla mengerucutkan bibirnya. “Matematika pagi-pagi tuh... kejam."

Noah tertawa pelan. “Tapi kamu tetap semangat, kan?”

“...hmm, setengah,” jawabnya jujur sambil menatap jus di depannya.

Noah lalu memperhatikan kalung di leher Lyla . “Itu... kamu pakai juga, ya?"

Lyla spontan memegangnya, pipinya merona. “Ah... iya, soalnya... lucu aja bentuknya.”

Noah tersenyum, matanya lembut. “Cocok, kok. Kayak yang aku bayangin.”

Lyla buru-buru menunduk, menyibukkan diri dengan sedotan jusnya yang nyaris habis sementara Noah cuma terkekeh pelan, menatap gadis di depannya yang wajahnya makin merah.

*

Sore itu. Lyla baru saja keluar dari gerbang sekolah saat seseorang melambai dari seberang jalan.

“Noah?”

Cowok itu berdiri dengan senyum tipis di wajahnya. “Hari ini aku nggak ada kelas tambahan. Boleh kan, nganter kamu ke tempat les?”

Lyla sempat bengong. “Eh? Oh—iya… boleh kok.”

mereka berjalan berdampingan di trotoar. Angin sore bertiup pelan, meniup ujung rambut Lyla.

“Noah, kamu nggak capek? Udah latihan dari pagi, kan?”

“Lumayan. Tapi lihat kamu aja rasanya hilang capeknya,” jawabnya santai.

Lyla langsung menoleh cepat. “Jangan bercanda, ah…”

Noah tertawa kecil. “Nggak bercanda, kok.”

Sesampainya di depan gedung les, Lyla menatap Noah ragu. “Kamu… nggak apa-apa nunggu di luar?”

Noah mengangkat bahu. “Santai. Aku tunggu aja. Biar nanti bisa pulang bareng.”

Lyla tersenyum kecil , "Terima kasih, Noah.”

“Udah dibilang jangan makasih terus,” katanya sambil mengacak pelan rambut Lyla.

Lyla menunduk cepat, berusaha menutupi wajahnya yang makin panas. Tapi senyum di bibirnya nggak bisa disembunyikan lagi.

**

Ruangan les terasa hening bagi Lyla pikirannya sudah jauh ke Noah yang menunggunya di bawah, tiga puluh menit kemudian begitu guru menutup buku, Lyla langsung berdiri.

"Baik, sampai besok, anak-anak,” kata gurunya.

Tapi Lyla sudah setengah berlari keluar kelas seperti kilatan petir kecil, Begitu tiba di tangga depan gedung les, langkahnya melambat, Di sana, Noah duduk di anak tangga bawah, kepala bersandar di lutut, tampak seperti sedang tertidur.

Lyla terdiam sejenak senyum kecil muncul di bibirnya. " Dia beneran nungguin aku... dari tadi?''

Perlahan, ia melangkah mendekat. Suara sepatunya pelan tak ingin membangunkan, begitu berdiri di depan Noah, cowok itu mengangkat kepala.

“Oh, udah selesai?” suaranya serak sedikit, seperti baru bangun.

“I-iya! Maaf ya, nunggu lama?”

Noah menguap kecil sambil berdiri, lalu menepuk-nepuk lututnya. “Nggak kok. Aku cuma... hampir tidur aja.”

Noah tersenyum lebar, membuat Lyla semakin menunduk dalam-dalam.

“Yuk, pulang?” katanya.

Lyla mengangguk, tapi sebelum berjalan, Noah sempat menatapnya sebentar.

“Eh, rambut kamu agak berantakan,” katanya, lalu dengan santai merapikannya pakai tangan.

Lyla membeku, wajahnya langsung memanas seperti habis disiram teh panas.

“No-Noah!”

Noah terkekeh. “Udah rapi, kok. Ayo jalan.”

Mereka berjalan berdampingan keluar dari gedung les. Udara terasa sejuk setelah hujan. Jalanan masih basah, lampu-lampu toko memantul di genangan air seperti bintang kecil di jalan.Tanpa banyak bicara, Noah melangkah lebih dekat. Tangannya perlahan turun… sampai akhirnya menyentuh jemari Lyla.

Lyla langsung menoleh, mata membulat kecil “No-Noah…” suaranya nyaris seperti bisikan.

Noah hanya menatap ke depan, seolah santai banget. “Biar nggak kepleset,” katanya ringan, tapi ujung bibirnya tersenyum kecil.

Lyla diam. Wajahnya memanas sampai telinganya pun ikut merah tapi genggaman itu… hangat. Nyaman sekali beberapa langkah kemudian, Lyla justru menggenggam balik lebih erat.

“Noah…” katanya pelan, “Audisi kemarin… apa udah ada kabar?.”

Noah menoleh sedikit, matanya lembut. “belum"

Lyla tersenyum, " Jangan khawatir, aku yakin kamu pasti lolos!"

Noah menoleh. Tersenyum, " kenapa kamu yakin banget?"

" Karena kamu memang berbakat" Jawab Lyla penuh yakin.

Noah terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. “Kalau kamu yang bilang gitu… aku jadi percaya diri.”

Lyla tersenyum

Noah melirik Lyla yang berjalan pelan di sampingnya.

“Kamu tahu nggak, Lyla… waktu aku di ruang audisi, aku sempat kepikiran kamu.”

Lyla langsung menoleh, matanya membesar.

“Hah? K-kepikiran aku?”

“Iya,” Noah tersenyum kecil. “Kayak… aku harus ngelakuin yang terbaik biar kamu bangga.”

Langkah Lyla terhenti sebentar. Ia menatap ujung sepatunya, lalu tersenyum tipis.

“Aku udah bangga, kok. Bahkan sebelum kamu audisi.”

Noah terdiam, tapi senyumnya makin hangat. Ia menatap Lyla sebentar, lalu menunduk lagi, berusaha menahan tawa kecil yang muncul tanpa sadar.

**

Bus berhenti di halte dekat jalan menuju rumah Lyla. “Aku duluan yah,” katanya pelan sambil berdiri.

Tiba-tiba

Noah ikut berdiri, lalu mengikuti turun bersamanya begitu kakinya menginjak jalan, Lyla langsung menatap Noah bingung.

“Kamu… ngapain ikut turun?”

Noah nyengir kecil, kedua tangannya masuk ke saku celana “Aku mau antar kamu sampai rumah.”

“Hah? J-jangan!”

Wajah Lyla langsung memerah. Ia melambai-lambaikan tangannya panikn“Nanti kalau Ayahku lihat gimana?”

Noah malah tertawa kecil. “Yaudah, nggak sampai depan rumah. Sampai jalan menuju rumahmu aja.”

Lyla terdiam. Ingin menolak, tapi… hatinya nggak bisa.

“Ugh… yaudah, tapi cuma sampai ujung situ,” katanya pelan sambil menunjuk belokan kecil di depan.

Mereka berjalan berdampingan, langkahnya pelan. Jalanan sepi, hanya suara serangga malam dan angin yang berhembus lembut.

Noah melirik Lyla sebentar. “Tiap kali aku jalan sama kamu, rasanya waktu cepet banget.”

Lyla menunduk cepat-cepat. “N-noah… suka ngomong kayak gitu tuh…”

Noah tertawa, lalu menatap langit. “Hehe, tapi serius. Aku seneng hari ini bisa nganter kamu lagi.”

Lyla hanya tersenyum kecil. “Aku juga…”

Sampai di belokan, Lyla berhenti. “Sampai sini aja, ya.”

Noah mengangguk. “Oke. Hati-hati, ya, Lyla.”

Ia menatapnya sebentar, lalu tersenyum. senyum yang selalu bikin jantung Lyla berdebar.

Lyla menunduk, melambaikan tangan kecil sebelum berbalik pulang. Tapi beberapa langkah kemudian, dia tersenyum lebar tanpa sadar “Dia beneran nganter…” gumamnya, sambil memegang dada sendiri yang berdetak kencang.

Noah berdiri di tempat, memperhatikan punggung Lyla yang makin menjauh, senyum tipis muncul di wajahnya ada perasaan lega dan sayang yang diam-diam.

Begitu Lyla benar-benar hilang di tikungan, Noah menghela napas pelan “Dasar… selalu aja bikin aku pengen ngelihat lebih lama,” Gunamnya pelan.

1
StellaY
semangat terus thor💪
meongming: yesss💪💪
total 1 replies
StellaY
uwu banget😍😍
meongming: seneng ada yang suka 🤩 makasih dukungan mu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!