NovelToon NovelToon
Nikah Paksa Tapi Mau

Nikah Paksa Tapi Mau

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Alda Putri Anggara kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil dan tumbuh di bawah asuhan paman dan bibi yang serakah, menguasai seluruh harta warisan orang tuanya. Di rumah sendiri, Alda diperlakukan seperti pembantu, ditindas oleh sepupunya, Sinta, yang selalu iri karena kecantikan dan kepintaran Alda. Hidupnya hanya dipenuhi hinaan, kerja keras, dan kesepian hingga suatu hari kecelakaan tragis merenggut nyawanya untuk beberapa menit. Alda mati suri, namun jiwa seorang konglomerat wanita cerdas dan tangguh bernama Aurora masuk ke tubuhnya. Sejak saat itu, Alda bukan lagi gadis lemah. Ia menjadi berani, tajam, dan tak mudah diinjak.

Ketika pamannya menjodohkannya dengan Arsen pewaris perusahaan besar yang lumpuh dan berhati dingin hidup Alda berubah drastis. Bukannya tunduk, ia justru menaklukkan hati sang suami, membongkar kebusukan keluarganya, dan membalas semua ketidakadilan dengan cerdas, lucu, dan penuh kejutan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 - Hadiah dari Langit – Bagian 2

Enam tahun kemudian.

Rumah keluarga Lin-Varmond kini tak hanya ramai oleh tawa dua anak kecil, tapi juga oleh suara musik piano, aroma masakan rumahan, dan percakapan yang mengisi setiap sudut.

Arsenio kini berusia sebelas tahun, dan Arlena lima tahun — dua dunia kecil yang membuat setiap hari keluarga itu penuh warna.

Pagi di Rumah Lin-Varmond

“Papa! Mama! Lihat! Lihat aku bisa main lagu baru!”

Arsenio berteriak dari ruang musik, jemarinya menekan tuts piano dengan semangat. Nada-nadanya belum sepenuhnya sempurna, tapi semangatnya menular.

Arsen datang dengan rambut masih berantakan dan dasi kerja yang belum terpasang. “Wah, ini lagu apa, Nak?”

Arsenio menegakkan badan dengan bangga. “Lagu untuk Mama. Aku bikin sendiri!”

Alda yang baru keluar dari dapur membawa nampan berisi roti panggang. Ia tertawa, menaruh nampan di meja, lalu mendekati anaknya.

“Untuk Mama? Boleh Mama denger?”

Arsenio menatapnya dengan serius, lalu mulai menekan tuts pelan-pelan. Lagu sederhana itu hanya terdiri dari beberapa nada pendek, tapi di setiap nadanya, ada sesuatu yang tulus.

Arlena, yang sedang duduk di lantai sambil memeluk boneka kelincinya, ikut bersenandung tanpa nada.

“Ini laguuu cinta! Ini laguuu Mamaaa!”

Arsen terkekeh. “Nah, tuh. Penonton setia sudah kasih judul.”

Setelah lagu berakhir, Alda menepuk tangan anaknya. “Terima kasih, Sayang. Lagu kamu indah sekali.”

Ia menatap suaminya sekilas, lalu berbisik, “Kayaknya bakat musiknya nurun dari kamu, Mas.”

Arsen mengangkat alis pura-pura bingung. “Dari aku? Yang gak bisa bedain antara nada tinggi dan tetangga nyanyi?”

Alda tertawa, mencubit lengannya ringan. “Iya, iya, mungkin dari aku deh.”

Mereka tertawa, sementara Arlena berlari ke arah piano, menekan sembarang tuts. “Aku juga mau bikin lagu buat Papa!”

“Wah, papa senang banget!” kata Arsen sambil memeluk putrinya. “Judulnya apa, nih?”

Arlena berpikir sebentar. “Judulnya… ‘Papa bau kopi’!”

Arsen pura-pura kaget. “Apa?!”

Seluruh rumah pun pecah oleh tawa.

----+

Sore itu, angin lembut membawa aroma tanah basah setelah hujan.

Arsen dan Alda duduk di bangku taman, seperti dulu hanya kali ini, dua anak mereka bermain bola sambil tertawa keras.

“Kak Arsenio!” seru Arlena, “bola jangan ditendang tinggi-tinggi!”

“Tapi aku mau latihan jadi striker!” balas sang kakak.

Bola melambung dan, tentu saja, jatuh tepat ke pangkuan ayah mereka.

“Papa! Lemparin, dong!”

Arsen berdiri, mengambil ancang-ancang, lalu melempar bola itu pelan. Tapi arah lemparannya melenceng jauh.

Arsenio menatapnya geli. “Papa tuh, kayaknya gak pernah bisa jadi atlet, deh.”

Alda menahan tawa. “Padahal dulu katanya atlet kampus, ya, Mas?”

Arsen memasang muka dramatis. “Hei, dulu aku masih muda, masih penuh tenaga!”

Alda menggoda, “Sekarang penuh kopi.”

Keduanya saling pandang, lalu tertawa bersamaan. Anak-anak ikut tertawa tanpa paham sepenuhnya kenapa, tapi tawa mereka menyatu, membuat sore itu terasa sempurna.

 

Malam itu, setelah anak-anak tidur, Arsen dan Alda duduk di balkon lantai dua. Langit cerah penuh bintang.

“Mas,” kata Alda pelan, “aku kadang suka mikir… kita beruntung banget, ya?”

Arsen menatap langit sejenak, lalu memandang istrinya. “Iya. Tapi bukan cuma beruntung. Kita kerja keras buat sampai di sini, kan?”

Alda mengangguk pelan. “Dulu, aku sering ngerasa dunia terlalu kejam. Tapi sekarang… aku sadar, Tuhan selalu punya cara paling lembut buat nyembuhin luka.”

Arsen mengulurkan tangan, menggenggam tangan istrinya erat. “Kamu tahu, Alda? Dulu aku pikir cinta cuma soal punya seseorang. Tapi ternyata cinta itu soal tumbuh bareng. Nyembuhin bareng. Jatuh dan bangkit bareng.”

Alda menatapnya dengan mata berair. “Dan kita masih di sini. Masih bareng.”

Arsen tersenyum. “Sampai nanti. Bahkan kalau rambut kita udah putih semua.”

Alda menyandarkan kepala di bahunya. “Kalau gitu… semoga nanti, pas kita tua, kamu tetap ingat cara nyeduh kopi buat aku.”

Arsen terkekeh. “Deal. Tapi kamu juga jangan lupa cara nyium aku tiap pagi.”

Alda menepuk pundaknya lembut. “Hmm… kalau itu, mungkin aku gak akan pernah lupa.”

Malam itu mereka hanya duduk dalam diam, menikmati suara jangkrik dan angin yang menepuk lembut daun pohon. Tak ada kata besar, tak ada janji mewah — hanya kehadiran yang nyata, dan cinta yang tak pernah pudar.

...****************...

Beberapa Tahun Kemudian

Arsenio remaja, tinggi dan mirip ayahnya. Arlena, gadis kecil yang kini berusia sembilan tahun, duduk di pangkuan Alda sambil membaca buku.

Arsen masuk ke ruang keluarga membawa kamera. “Ayo, foto keluarga!”

“Papa! Aku belum sisiran!” seru Arlena panik.

Arsen tertawa. “Justru itu lucunya! Nanti kamu lihat waktu besar, kamu bakal bilang: ‘Papa, kenapa aku kayak singa kecil?’”

“Papa jahat!” seru Arlena, pura-pura marah.

Arsen mendekat, mencium pipinya. “Papa cinta singa kecil papa.”

Klik. Suara kamera terdengar.

Gambar itu kelak menjadi foto favorit keluarga Arsen memeluk Alda, Arsenio berdiri di belakang sambil tertawa, dan Arlena menatap kamera dengan rambut berantakan tapi senyum selebar langit.

Di bawah foto itu, Alda menulis dengan spidol emas:

“Cinta bukan tentang menemukan kebahagiaan, tapi menciptakannya setiap hari.”

Bertahun-tahun kemudian, ketika rumah itu sudah mulai sunyi karena anak-anak tumbuh dan pergi mengejar dunia mereka, Arsen dan Alda tetap duduk di taman yang sama.

“Mas,” kata Alda sambil menatap langit sore, “ingat gak… dulu kita sering takut kehilangan?”

Arsen tersenyum, menggenggam tangannya. “Sekarang aku tahu, cinta sejati bukan tentang siapa yang datang lebih dulu… tapi siapa yang tetap tinggal sampai akhir.”

Alda tersenyum, menatap bunga mawar yang baru mekar di taman.

Ia menatap suaminya, dan dengan suara lembut berbisik,

“Hadiah dari langit itu… bukan cuma anak-anak kita, Mas. Tapi kesempatan buat ngerasain cinta yang begini.”

Arsen menatapnya, tersenyum pelan. “Dan aku akan terus bersyukur… karena hadiah itu datang lewat kamu.”

Angin sore berhembus lembut.

Di langit, matahari tenggelam perlahan — dan di hati mereka, tak ada lagi ruang untuk luka.

Hanya cinta.

Yang tumbuh.

Yang hidup.

Yang abadi.

Tamat

...Alda ...

...“Cinta bukan datang untuk menyelamatkan, tapi untuk menemani kita belajar menjadi lebih kuat.”...

...“Aku pernah takut kehilangan segalanya, sampai akhirnya aku sadar yang benar-benar penting bukan apa yang hilang, tapi siapa yang tetap bertahan.”...

...“Rumah bukan tempat, tapi hati yang mau tinggal meski dunia berubah.”...

...Arsen...

...“Cinta yang sejati bukan diukur dari berapa kali kita bilang ‘aku cinta kamu’, tapi dari berapa kali kita memilih untuk tetap tinggal meski keadaan tak sempurna.”...

...“Aku mungkin bukan suami yang paling hebat, tapi aku ingin jadi alasan kenapa kamu tetap tersenyum di hari paling sulitmu.”...

...“Bahagia itu sederhana melihat orang yang kamu cintai tertawa karena kamu.”...

“Maaf bila dalam setiap kalimat masih terselip salah kata, dalam setiap adegan masih ada kurang rasa. Aku hanya ingin menulis dengan hati tentang cinta yang sederhana, tentang keluarga yang tak sempurna tapi saling berpegangan.”

“Cerita ini kutulis bukan untuk mengajari, tapi untuk mengingatkan: bahwa hidup kadang berat, tapi selalu ada cahaya kecil di ujung jalan asal kita mau percaya.”

“Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Jika kisah ini sempat membuatmu tersenyum, terharu, atau merasa hangat meski sejenak maka setiap kata yang kutulis sudah menemukan rumahnya.”

Salam dari Author

♥️

...Inda...

1
echa purin
👍🏻
Merry Marmut
seru thor
Dewiendahsetiowati
terima kasih untuk ceritanya dan ditunggu karya selanjutnya thor
Lydia
Terima kasih Author atas ceritanya 🙏
Nisa
So sweet thooor
Ilfa Yarni
Thor ceritamu kan ada yg baru lg tuh judulnya apa aku blom klik soalnya
Ilfa Yarni
aaaa habis ceritanya tp aku suka cinta yg sederhana tp setia sampe akhir
Rohmi Yatun
makasih tjor.. ditunggu karya selanjutnya🌹🌹🌹
Alyanceyoumee: Assalamualaikum. Thor permisi, ikut promo ya.🙏

Hai Kak, Baca juga di novel ku yang berjudul "TABIR SEORANG ISTRI"_on going, atau "PARTING SMILE"_The End, Biar lebih mudah boleh langsung klik profil ku ya, Terimakasih 🙏
total 1 replies
Cindy
lanjut kak
Ilfa Yarni
bagus karya mu Thor ceritanya ga lgsg ending ceritanya seperti hidup didunia nyata
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
Cindy
lanjut kak
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
Ilfa Yarni
satu persatu kebahagiaan mereka kembali
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
Cindy
lanjut kak
Ilfa Yarni
past ayah arsen mengannggsp kematian istrinya krn salah arsen mknya dia pergi dan skr setelah sadar dia kembali
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
Ilfa Yarni
cinta dan kebersamaan yg dtg dr luka itu akan kuat dan tak tergoyahkan senang ya klo suami istri saling mencintai dan saling setia rmh tangga rasanya bahagia banget
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!