"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"
Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.
"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"
baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27
Suara langkah Yani menggema di halaman saat ia mendekati pagar. Napasnya tersengal karena emosi. “Heh, Bu Mira!” suaranya lantang, menusuk udara siang yang mulai terik.
Tiga ibu-ibu itu menoleh bersamaan, ekspresi mereka kaget tapi cepat berubah sinis.
“Ada apa, Bu Yani?” tanya Bu Mira dengan nada setengah mengejek, sambil melipat kipasnya.
“Enggak senang anak saya bahagia? Gitu aja repot banget ngomongin di depan rumah orang!” sergah Yani, matanya menatap tajam satu per satu.
“Lho, siapa yang ngomongin? Kita cuma ngobrol biasa, kok,” sahut Bu Reni cepat.
“Ngobrol? Kalau ngobrol enggak perlu sebut nama anak saya, apalagi ngatain menantu saya ‘rebutan laki’. Kalian pikir saya tuli?”
Bu Mira berdiri, tangannya di pinggang. “Bu Yani, jangan main tuduh! Saya cuma ngomong fakta, semua orang juga tahu hubungan keluarga kalian ribet!”
“Mulutmu itu yang ribet! Anak saya, Cantika , enggak pernah rebut siapa pun! Ravanya aja yang maunya sama Tika, bukan sama Citra!” suara Yani meninggi, nadanya bergetar karena marah bercampur malu.
Bu Tari berdiri, ikut menyambar. “Ih, malah marah! Kalau memang enggak benar, kenapa tersinggung?”
“Karena kalian enggak tahu apa-apa tapi sok tahu!” balas Yani dengan mata berkaca. “Gimana aku enggak tersinggung kalau semua yang kalian katakan cuma fitnah?!”
Suasana memanas. Beberapa tetangga lain mulai mengintip dari balik jendela. Angin siang yang semula hangat kini seperti membawa bara.
“Bu Yani, kami enggak fitnah! Semua warga sini juga tau!” sindir Bu Mira. “Rava itu dulunya kesana kemari sama Citra, taunya malah resepsi sama Tika.”
“ya emang itu pilihan Rava kok mau maksa sama Citra!” sahut Yani.
“Hahaha, iya dah Rava maunya sama Tika. Tapi, lihat tuh Citra malah dapat Papanya!”
"Iya tuh. Lebih untung dapat papanya, ganteng, kaya... Lah, anaknya?"
"Heh! Rava juga bisa minta sama papanya..papanya malah dua."
"Ya itu, bukti kalau emang turunan enggak bener."
“Kurang ajar! Ngomongin orang seenaknya!” Yani menatap mereka satu-satu, napasnya berat. “Kalau kalian enggak bisa jaga mulut, saya enggak segan laporin ke Pak RT!”
Ia lalu berbalik dan masuk ke rumah, membanting pintu keras-keras. Di dalam, napasnya tersengal. "Dasar! Tetangga enggak ada ahlak semua!"
Di luar, ketiga tetangga itu masih saling pandang. Mereka lanjut mengobrol, tapi kali ini bukan gosipin tetangga.
Di rumah sakit, suasana kamar Rava sunyi. Hanya suara mesin infus dan detak jam dinding yang terdengar. Rava duduk bersandar di ranjang, tatapannya kosong mengarah ke luar jendela.
Cantika duduk di kursi di samping tempat tidur, matanya sembab. “Yang…” panggilnya pelan. “Kamu mau makan sedikit? Aku beliin bubur.”
Rava menggeleng tanpa menoleh. “Enggak usah.”
Cantika menggigit bibir. “Va jangan gitu. Kamu butuh makan, biar cepat sembuh.”
Tak ada jawaban. Hanya desah napas berat dari Rava. Wajahnya pucat, matanya suram, seolah pikirannya melayang ke tempat lain — ke seseorang lain.
Cantika tahu ke mana arah pikirannya. Hatinya perih. "Dia masih Citra," batinnya getir.
Pintu terbuka. Lani masuk dengan wajah lelah. Di belakangnya, suaminya — Fahri — tampak berusaha menahan kesal.
“Rava, Nak… bagaimana kondisimu?” tanya Lani, suaranya pelan tapi terdengar getir.
“Baik, Ma,” jawab Rava singkat.
Pak Fahri melirik Lani. “Aku ke kantor dulu. Jangan bikin masalah lagi.”
“Mas, jangan gitu dong, aku cuma—”
“Sudah, Lan,” potongnya tegas. “Kamu bikin malu di rumah sakit pagi tadi. Ini sama sekali enggak ada hubungannya dengan mereka, jadi jangan coba cari kambing hitam.”
Wajah Lani berubah merah. “Itu semua karena—”
“Cukup!” Suaminya menatap tajam, lalu berpaling pada Rava. “Kamu istirahat, ya. Jangan pikirin yang enggak penting.” Ia pun keluar tanpa menunggu jawaban.
Begitu pintu tertutup, Lani menghela napas panjang, lalu duduk di kursi. “Dasar laki-laki, gampang nyalahin istri. Padahal aku cuma mau bela kamu, Va.”
“Bela aku?” Rava menoleh perlahan. "Ada apa sih, Ma?"
"Va, Mama tau. Kamu begini karena sakit hati papamu malah nikah sama Citra. Entah apa yang mereka pikirkan. Mama yakin, perempuan licik itu pasti merencanakan sesuatu."
"Apa maksud Mama?"
"Dia nikah sama papamu pasti buat balas dendam sama kamu, Va. Lihat kan? Sekarang kamu bahkan sampai kecelakaan."
"Ma! Aku celaka karena aku sendiri. Kenapa mama malah nyalahin Citra?"
Wajah Lani memanas. “Kamu belain dia sekarang? Rava, dia itu penyebab kau kecelakaan!”
Rava memejamkan mata. “Ma, aku kecelakaan karena salahku sendiri. Aku yang nyetir ngawur. Enggak ada hubungannya sama Citra.”
Cantika menunduk, jemarinya menggenggam kuat ujung bajunya. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
"Jadi benar... dia masih peduli sama Citra. Padahal ada anaknya di perut ini," batinnya.
Lani berdiri, matanya tajam. “Rava, kamu bakalan tau nanti, dia bukan perempuan baik-baik. Dia cuma mau balas dendam sama kamu. Mama harus sadarkan Rama, dia juga terus belain perempuan itu!”
#####
Sementara itu, di luar rumah sakit, Rama dan Citra berjalan santai di trotoar, di bawah rindang pohon trembesi. Di tangan Citra, ada cone es krim cokelat.
"Pak Rama mau es krim?" tanya Citra karena mereka hanya beli satu es krim saja. Buat Citra.
"Enggak, buat kamu aja."
"Enggak enak kalau makan sendiri, Pak."
Rama tersenyum, melirik istrinya. Sebenarnya, dia tak begitu suka es krim, tapi tak dia sampaikan pada Citra.
"Ayolah, Pak," bujuk Citra sambil menyodorkan es krim ke arah Rama.
Akhirnya, Rama menyerah juga. Dia menjilat ujung es krim.
"Udah."
"Ih, dikit banget sih, Pak." Citra cemberut.
Rama hanya tersenyum tipis, lalu melempar pandangannya ke sekeliling Mal.
"Ayo, Pak. Lagi." Citra menyenggol lengan Rama, sampai lelaki itu menoleh. "Mmmm." sambil menyodorkan es krim.
Rama menatapnya sebentar, lalu menyerah. Ia menggigit ujung es krim, menahan dingin yang menusuk lidahnya.
"Udah, ya."
Citra tersenyum puas.
Mereka berjalan berdua, menatap taman Mal yang ramai anak-anak kecil. Citra memegang tangan Rama, kadang menggoda, kadang merengek minta gigitan es krim suaminya.
“Bapak makan pelan-pelan banget, nanti cair lho,” katanya sambil tertawa.
“Biar kamu bisa minta terus, ya?” Rama balas dengan senyum tipis.
Setelah es krim habis, mereka melipir ke kedai seblak.
“Seblak pedas level lima!” seru Citra penuh semangat. "Bapak?"
"Level satu saja."
"Ish ish, masak level satu?"
Rama tertawa kecil. “Aku enggak yakin lidahku kuat.”
“Tenang, nanti Citra tiupin,” ujarnya manja. Ia lalu berganti pada penjual, "Level satu, satu ya."
Beberapa menit kemudian, aroma pedas menggoda tercium. Citra langsung menyuap sendok pertama, lalu...
“Ha! Pedes banget!” serunya dengan mata berair. Ia berlari kecil mencari air mineral, membuat Rama tergelak keras.
“Katanya kuat level lima?”
“Ini kayak level neraka, Pak!”
Rama mengelus punggungnya sambil tertawa. “Makanya, jangan sok jago.”
Citra memanyunkan bibir, tapi akhirnya ikut tertawa. Dalam tawa itu, semua beban pagi tadi seolah mencair — hanya ada mereka berdua, di dunia kecil yang hangat.
Sore menjelang ketika mereka tiba di rumah. Aroma masakan tercium dari dapur. Bu Lilis, ibu Rama, sedang duduk di ruang tamu sambil menonton sinetron.
“Lho, kalian baru pulang?” tanyanya.
“Iya, Ma,” jawab Rama, menaruh kunci di meja.
"Dari mana? Kamu enggak kerja, Ram?"
"Sekali-kali libur, Ma. Mumpung ada yang nemenin," jawab Rama sambil melirik Citra. "Ma, Rava kecelakaan."
Wajah Bu Lilis langsung berubah. “Astaghfirullah… anak itu kenapa, Ram?”
“Katanya nyetir terlalu cepat. Tulang retak sama luka di kepala, tapi kata dokter enggak parah.”
“Ya Allah, semoga cepat sembuh,” ucap Bu Lilis tulus. “Anak itu terlalu banyak tingkah. Sudah bikin malu, ingkar janji, hamilin anak orang, sekarang malah kecelakaan padahal baru juga kemarin bikin acara resepsi. Jangan sampai mama dengar ada yang nyalahin Citra.”
Citra menunduk, saling lirik sama Rama.
"Kenapa wajah kalian begitu? Sudah ada yang nyalahin Citra ya?" Mata bu Lilis menyipit curiga. "Bilang siapa!?"
Citra bungkam, Rama juga.
"Udahlah, Ma. Enggak usah di bahas, enggak usah diperpanjang lagi."
"Lani ya? Dia yang salahin kalian?" tebak Bu Lilis. "Memang wanita itu, otaknya di dengkul."
"Ma...." Citra tersenyum mendengar ucapan mama mertuanya. Bisa-bisanya bilang otak di dengkul. "Tadi, Pak Rama juga udah belain Citra kok. Udah cukup. Lagian, yang penting kami bahagia."
Bu Lilis, mengelus kepala Citra. "Rasanya kayak punya anak perempuan kalau gini."
Citra tersenyum.
"Mama sendiri? Papa mana?"
Belum sempat Bu Lilis menjawab, pak Bram sudah muncul.
"Sudah, Ma. Lega rasanya," kata pria itu sambil memegangi perutnya. "Loh? Udah balik kalian?"
"Mama sama Papa mampir, papa bilang kebelet beol tadi, jadi kami berhenti di sini," jelas Bu Lilis.
Rama menggeleng pelan, "Mampir buat beol doang? Napa enggak di pom aja?"
"Enggak, di pom bayar," sahut pak Bram sambil terkekeh. Yang jelas itu hanya alasan.
Rama hanya bisa menggelengkan kepala.
"Ya sudah, Mama sama Papa pergi dulu ya," pamit Bu Lilis.
"Iya, ma.. hati-hati," dengan cepat Citra berdiri dan mencium tangan mertuanya.
"Nah, ini nih, yang mama suka. Lani dulu enggak ada cium-cium tangan gini sama Mama. Enggak ada hormat-hormatnya sama orang tua."
Setelah kedua orang tua Rama pergi, Rama langsung ke ruang kerjanya sambil bertelpon dengan orang kantor. Hanya tersisa Citra yang bengong mau ngapain.
"Mandi aja dululah, udah lengket juga badan," gumamnya.
Citra menyiram tubuhnya di bawah shower. Rasa lelahnya, sedihnya, kecewanya, biar luruh terbawa air. Setelah selesai mandi, dia membalut tubuhnya dengan handuk.
"Ah, aku lupa bawa baju ganti, mana baju kotor udah terlanjur lembab. Enggak papa kali ya pakai handuk dulu. Pak Rama kan pasti masih lama di ruang kerjanya."
Citra keluar dari kamar mandi. Mengintip sebentar, "Kosong. Aman."
Kaki menapaki kamar, ia membuka lemari, dan... Tak sengaja melihat bayangan dari balkon kamar. Matanya membulat melebar ada Rama di sana.
"Pa-pak... Rama..."
kalo dah ditinggal pegi..
gigit jari bakalan lani
klao kehilangan 2 suami
meninggal Juni 2012
😭😭