Rhaella Delyth adalah seorang gadis cantik dengan kepribadian dingin dan ekspresi wajah yang selalu datar. Meskipun berasal dari keluarga terpandang, kehidupan yang ia jalani jauh dari kata bahagia. Kehadirannya di dunia tidak pernah diharapkan, membuatnya tumbuh dengan hati yang keras dan kesulitan untuk mempercayai orang lain.
Sementara itu, Gabriel adalah seorang pemuda tampan dan berkarisma yang lahir di lingkungan keluarga kaya dan berpengaruh. Di balik pesonanya, ia memiliki sifat dingin, tak mudah didekati, serta sisi kejam yang tidak banyak diketahui orang.
Bagaimana kisah pertemuan mereka bermula? Ikuti perjalanan mereka dalam cerita ini, yang penuh dengan intrik dan adegan penuh ketegangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
"Terus kamu mau pesen apa sayang?" Tanya Rhaella pada Gabriel, Gabriel sudah tersenyum senang mendengar panggilan Rhaella untuknya. Dan pelayan yang melihat senyum Gabriel dibuat tak bergeming karena wajah Gabriel semakin terlihat tampan.
"Yang ini aja kaya punya kamu sayang" jawab Gabriel.
"Mbak pesen yang ini dua sama ini dan ini juga yah buat pacar saya" ucap Rhaella pada pelayan tersebut lalu tersenyum manis pada pelayan itu namun faktanya Rhaella seolah mengejek dan memberi tahu bahwa Gabriel sudah ada yang punya yaitu dirinya. Gabriel sendiri tak bisa menyembunyikan senyuman manisnya karena mendengar Rhaella menyebut dirinya pacar.
"Baik, mohon di tunggu pesanannya" ucap pelayan tersebut di angguki oleh Gabriel dan Rhaella kemudian pergi meninggalkan meja Gabriel dan Rhaella, kemudian setelah pelayan itu pergi Rhaella langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar kembali dan itu sadari oleh Gabriel.
"Sayang?" Panggil Gabriel, Rhaella pun menoleh.
"Hm"
"Sayang?"
"Hm"
"Sayang?" Panggilan Gabriel ketiga kalinya membuat Rhaella membuang nafasnya kasar.
"Iya" jawab datar Rhaella.
"Kita nikah yuk" ajak Gabriel menikah seolah mengajaknya pergi ke pasar malam. Rhaella kembali ternganga melihat wajah datar Gabriel tapi berbicara serius.
"Ppfftt.. omongan sama muka lo nggak sinkron tahu" Rhaella menahan tawanya melihat wajah datar Gabriel. Gabriel sendiri mengkerutkan keningnya bingung melihat Rhaella tertawa.
"Kenapa?" Tanya Gabriel bingung.
"Lo ngajak nikah tapi muka sama nada bicara lo masih datar begitu, ngga bisa sedikit berekspresi gitu?" Ucap Rhaella seolah tidak sadar akan dirinya sendiri yang dingin dan juga datar.
"ngga bisa, emang udah begini dari sananya sayang" ucap datar Gabriel yang sudah membuat Rhaella terkekeh kecil, merasa lucu dengan kelakuan Gabriel, padahal Gabriel berbicara serius.
"Gue serius Rha" ucap Gabriel.
"Iya iya"
"Iya apa?, Iya lo mau nikah sama gue sekarang?" Tanya Gabriel.
"Iya nanti kalau udah lulus bukan sekarang, udah diem tuh makanan udah datang" jawab Rhaella menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum senang mendengar jawaban Rhaella.
"iya sayang"
Pelayan itu pun menyimpan makanan di atas meja satu persatu lalu ingin kembali membawa pesanan yang lainnya, namun saat berjalan ternyata pelayan tersebut tidak sengaja menabrak seseorang sehingga membuat orang itu melotot dan murka karena bajunya sudah kotor oleh minuman.
"KALAU JALAN ITU YANG BENAR, APA KAMU NGGA LIHAT SAYA YANG SEDANG BERJALAN HA" Suara keras orang itu membuat pengunjung restoran melihat ke arah sumber suara.
"Maaf Bu, tapi tadi ibu yang tabrak saya, karena ibu berjalan sambil memencet handphone" jawab jujur pelayan itu takut-takut pada orang di depannya.
"KURANG AJAR, JADI KAMU SALAHKAN SAYA IYA? KAMU SUDAH MENGOTORI BAJU SAYA, KAMU BAHKAN TIDAK MAMPU MEMBAYANGKAN BERAPA HARGA BAJU SAYA YANG KAMU KOTORI INI" Teriak kembali orang itu.
"MANA ATASAN KAMU, SAYA AKAN KASIH TAHU INΙ ΚΕ ATASAN KAMU SUPAYA KAMU DI PECAT SEKARANG JUGA" ucap kembali orang itu dengan suara kerasnya.
"Jangan bu, saya minta maaf, saya yang salah" jawab cepat pelayan itu panik.
"Maaf Bu, ada apa ini?" Ucap seorang pria yang baru saja datang menengahi pertengkaran mereka.
"Apa kamu atasannya?" Tanya wanita itu pada pria yang baru saja datang.
"Iya saya atasannya Bu, apa ada kesalahan dari pegawai kami?" Tanya sopan pria itu.
"Kebetulan sekali kamu ada di sini, lihat baju saya kotor karena ulah pegawai kamu ini, saya mau kamu hukum dia atau pecat saja sekalian" ucap wanita itu kesal pada pelayan yang sudah menangis karena takut di pecat.
"Maafkan atas ketidaknyamanan anda, saya akan menindaklanjuti laporan ini. Sekali lagi kami mohon maaf, sebagai kompensasinya kami akan menggratiskan ibu selama 2 hari makan di restoran kami" ucap sang atasan pada wanita di depannya.
"Baiklah kalau begitu"
"Boleh saya tahu nama ibu siapa, agar saat ibu datang pegawai saya yang lain tahu"
"Alane Blaze" jawab wanita itu.
"Baiklah ibu Alane, sekali lagi maafkan atas ketidaknyamanannya, saya permisi" ucap kembali pria tersebut lalu pergi membawa serta pelayan itu.
Yah wanita yang di tabrak oleh pelayan tadi adalah Alane, ibu dari Daena. Rhaella yang menyaksikan kejadian tadi hanya menonton dan sesekali melihat ke arah pertengkaran itu, begitu pun dengan Gabriel.
"Kenal?" Tanya Gabriel pada Rhaella.
"Hmm"
"Siapa?"
"Nyokapnya Daena" jawab Rhaella, dan di angguki oleh Gabriel. ' pantas saja sekilas wajahnya memang terlihat mirip' Batin Gabriel berbicara.
Mereka pun menyelesaikan makannya tanpa ada obrolan lagi, dan kemudian mereka pun langsung pergi menuju tempat yang Rhaella beri tahu. Setelah hampir empat puluh menit berkendara mereka pun sampai di tempat yang Rhaella beri tahu.
Gabriel melihat ada sebuah rumah yang terlihat cukup sederhana dan seperti terbengkalai karena posisinya yang lumayan jauh dari rumah-rumah sekitar. Rhaella dan Gabriel pun kemudian turun dari mobil dan berjalan menuju rumah tersebut.
Saat sudah sampai di depan pintu, terdengar suara seperti kayu yang jatuh, Rhaella dan Gabriel pun saling pandang seolah mengerti, Gabriel yang memiliki kepekaan tinggi pun langsung membawa Rhaella untuk berada di belakangnya dan tepat setelah itu seseorang pun keluar menggunakan pistol di tangannya. Rhaella melihat lelaki itu dan mengenalinya, yah lelaki itu adalah pembunuh bayaran tempo itu saat di rumah sakit.
"Hai paman kita bertemu lagi" ucap Rhaella tiba-tiba dari belakang Gabriel pada lelaki di depannya. Lelaki di depannya pun mengkerutkan keningnya seraya mengingat dimana dia pernah bertemu dengan gadis muda ini.
"Siapa kamu, kenapa kamu bisa ada disini?" Tanya lelaki itu didepannya, Gabriel masih diam menyimak meskipun dia ingin sekali bertanya pada Rhaella.
"Saya yang waktu di rumah sakit, paman ingat sekita tiga hari yang lalu" ucap Rhaella d seketika lelaki itu pun mengingat gadis muda di depannya ini. Lalu dia menatap tajam ke arah Rhaella.
"Apa kau mengikuti ku gadis kecil hingga kau tau keberadaan ku sekarang?"
"Tentu saja"
"Aku tahu kau datang kesini pasti ingin membebaskan Lanai iya kan?" Selidik lelaki itu pada Rhaella.
"Tidak juga, aku kesini ingin berunding dengan paman, sepertinya paman sedang mengincar seseorang"
"Dari mana kamu tahu?"
"Itu tidak penting, bisakah kita bicara sekarang?" Ucapnya pada lelaki itu, lelaki itu dengan ragu menganggukkan kepalanya namun matanya melirik ke arah Gabriel, Rhaella tahu maksud pandangan itu.
"Dia akan ikut" ucap Rhaella datar.
"Tapi sebenarnya apa saya boleh melihat Lanai?" Tanya Rhaella pada lelaki itu.
"Apa kau bisa dipercaya gadis muda?"
"Musuh kita sama" ucap Rhaella yang langsung menjawab pertanyaan lelaki di depannya.
"Baiklah, ikut saya" lalu laki-laki itu pun berjalan lebih dulu di ikuti oleh Rhaella dan Gabriel di belakang. Mereka pun sampai di ruangan yang terlihat seperti gudang dan terlihat ada seorang perempuan yang di ikat dan di lakban mulutnya.
Perempuan itu mendongak karena mendengar suara langkah kaki lebih dari satu orang. Dia pun menggerakkan badannya ingin melepaskan diri.
"Hhmm... hhmmm... hmmm" teriak orang itu dengan mulut yang terlakban. Kemudian laki-laki itu membuka penutup mulut perempuan itu agar Rhaella bisa melihat jelas wajah luna.
"Aarggh" erangan sakit perempuan itu saat lakban di buka kasar oleh lelaki itu.
"KEPARAT, LEPASKAN SAYA SIALAN, SIAPA KALIAN SEMUA HA, LEPASKAN SAYA" Teriak Lanai pada mereka yang ada di ruangan itu.
Rhaella masih diam, menatap intens pada wajah luna yang baru saja dia temui, sekilas wajahnya seperti mirip dengan seseorang, tapi apakah itu mungkin.