Setelah bertahun-tahun pasca kelahiran pangeran dan putri bungsu, mereka tetap berusaha mencari pelaku pembunuh sang ratu. Hidup atau mati! Mereka ingin pelakunya tertangkap dan di hukum gantung!Dapatkah para pangeran dan putri menangkap pelakunya?
*update setiap Minggu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mailani muadzimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dongeng itu Nyata
"Yang Mulia Putra Mahkota, kita sudah berhasil keluar dari Lembah Sunyi. Bertahanlah, Yang Mulia." ucap Jay pada Zayden yang masih pingsan.
Adab bagi seluruh ksatria, dayang, dan pelayan yang ada di Kerajaan Dandelion untuk tetap mengabarkan apapun pada Raja dan anak keturunannya, terutama yang mereka layani. Itulah mengapa Jay tetap mengajak Zayden bicara meski dia sedang pingsan.
"Kita harus membawa Yang Mulia Putra Mahkota ke penginapan, tidak baik untuk kesehatannya jika kita bermalam dengan tenda di ruang terbuka." ucap Calix.
"Benar, kita juga harus memanggil dokter." sahut Dev.
***
Sayup-sayup Zayden mendengar suara orang yang sedang bicara. Dia mengerjap-ngerjap. Hal pertama yang Zayden rasakan adalah pening. Pandangannya buram, namun lama kelamaan dia bisa melihat dengan jelas.
"Ah, Yang Mulia Putra Mahkota! Syukurlah anda sudah sadar," ucap Frey sambil tersenyum.
Zayden memegang kepalanya yang sakit. Dia meringis pelan.
"Yang Mulia, anda harus meminum ini setelah sadar. Ini ramuan yang dibuatkan dokter," ucap Calix buru-buru sambil menyodorkan secangkir ramuan yang terbuat dari daun teh hijau, madu, dan bunga sakura.
Aroma daun teh dan bunga sakura menguar saat Zayden memegang cangkir itu. Dia meminumnya seteguk dua teguk.
"Dimana kita?" tanya Zayden dengan suara yang serak.
"Kita sedang berada di Penginapan Lebah Madu di Desa Madu, Yang Mulia." jawab Jay.
"Kita beruntung karena pamannya Dev adalah petani persik, jadi kita bisa mendapatkan informasi tentang penginapan desa ini dengan mudah, Yang Mulia." sahut Jhonn.
"Sampaikan terima kasihku pada Dev dan pamannya. Dimana Dev sekarang?" ucap Zayden masih dengan suaranya yang serak.
"Dia sedang membuatkan jus buah persik agar Yang Mulia bisa meminumnya setelah sadar," jawab Jay.
"Oh, berapa lama aku pingsan?" tanya Zayden.
"Terhitung sampai saat ini, anda sudah pingsan selama empat jam, Yang Mulia." jawab Jay lagi.
"Empat jam?!" ulang Zayden kaget.
"Bisa-bisanya aku pingsan selama itu hanya karena melihat monster burung memakan usus sapi! Ini benar-benar memalukan..." keluh Zayden di dalam pikirannya. Wajah Zayden memerah.
"Benar, Yang Mulia. Dokter bilang anda mengalami kelelahan berat dan dehidrasi, untuk itulah kami meminta agar anda diinfus saja," jelas Calix.
Zayden baru sadar kalau tangannya diinfus. Sejak tadi dia terlalu fokus mengatasi pening.
"Tapi Yang Mulia, kenapa wajah anda merah begini? Apakah anda kena demam?" tanya Frey yang sejak tadi duduk di samping kasur yang dibaringi Zayden.
Frey menyentuh kening Zayden, tapi dia tidak mendapati suhu tubuh Zayden panas.
"Aku tidak apa-apa, Frey. Mungkin ini karena udara di dalam kamar ini terasa panas," jawab Zayden sembarang. Mana mungkin dia jujur dan bilang penyebab dia muntah dan pingsan karena syok melihat monster burung memakan usus sapi.
"Ah, benar. Seharusnya jendelanya dibuka saja," ucap Frey sambil beranjak membuka jendela.
Zayden menghela napas lega. Beruntung dia tidak ketahuan.
"Apakah anda mau sarapan langsung, Yang Mulia?" tanya Calix.
"Nanti saja. Kepalaku masih pusing, aku mau istirahat sebentar lagi." jawab Zayden lemah.
"Baik, Yang Mulia. Saya akan minta pada Dev agar membuat sup," ucap Calix.
"Ya. Bangunkan aku kalau supnya sudah jadi," ucap Zayden sambil memejamkan matanya.
Calix sudah tahu maksud kalimat Zayden tentang istirahat. Selain benar-benar butuh tidur karena sakit kepala, kata "istirahat" juga berarti dia tidak bisa makan makanan lain selain sup. Zayden biasa begini kalau dia sedang tidak enak badan, karena itulah Calix sudah paham betul.
***
Sementara itu, Raja Finn baru saja mengirimkan surat untuk Ezra, Liam, Arka, dan Arsha yang berada di istana. Ini sudah hari kedua sejak Raja Finn mencari keberadaan Bukit Harapan untuk mendapatkan Bunga Bulan. Saat ini Raja Finn sungguhan telah berada di bukit yang selama ini hanya dongeng itu. Portal pos surat menghilang dari hadapan Raja Finn tepat setelah surat itu masuk ke dalamnya.
"Bukit ini benar-benar indah," gumam Raja Finn sambil memetik satu Bunga Bulan, lalu memindahkannya ke pot kecil.
Tidak mudah perjalanan Raja Finn untuk sampai ke bukit ini. Selama perjalanan, Raja Finn dan ksatria yang dibawanya memang tidak diserang oleh assassin atau bertemu monster atau juga penyihir hitam.
Sebelumnya, kuda yang ditunggangi Raja Finn dan dua ksatria sempat mogok jalan. Belum lagi mereka juga dihadapkan dengan hujan es saat berada di Hutan Bayangan. Bukan manusia yang jadi penghalang perjalanan mereka, melainkan alam. Ucapan Dokter Cedric tentang ketulusan niat seseorang yang mencari bukit itu sungguh nyata.
"Baginda, apakah bukit itu sungguhan ada?" tanya Xen, salah satu Ksatria Biru yang dibawa Raja Finn.
"Jika Cedric bilang ada, artinya Bukit Harapan benar-benar ada. Tugas kalian hanya mempercayainya. Kita tidak akan bisa menemukan bukit itu jika salah satu dari kalian meragukannya. Jangan ada yang merasa angkuh dan meremehkan keberadaan bukit itu kalau kalian masih sayang dengan leher kalian." ucap Raja Finn tajam.
"Baik, Baginda." jawab enam ksatria itu serentak.
"Maaf Baginda, selanjutnya kita ke arah mana?" tanya Grey.
"Menurutku kita sebaiknya masuk lebih dalam ke Hutan Bayangan," jawab Raja Finn santai, dia bertukar posisi dengan Grey dan memimpin jalan.
"Apakah anda yakin, Baginda?" tanya Grey.
Pasalnya, semakin dalam kalian masuk ke Hutan Bayangan, maka semakin gelap juga lah tempatnya, dan semakin ekstrim cuacanya. Di dalam Hutan Bayangan memang tidak ada monster, tapi cuaca di sana benar-benar ekstrim.
"Iya. Aku merasa kita akan menemukan Bukit Harapan jika masuk lebih dalam. Cepat nyalakan perisai jingga kalian, kita tidak tahu cuaca macam apa yang akan kita lewati selanjutnya." ucap Raja Finn yakin.
"Baik, Baginda." jawab ksatria serentak.
Tiba-tiba angin berembus kencang sekali. Kuda-kuda yang mereka naiki mulai gelisah dan merasa tidak nyaman. Sejauh ini, belum pernah ada kuda yang masuk ke dalam Hutan Bayangan. Hewan-hewan yang ada di sana kebanyakan hanyalah amfibi yang tidak berbahaya.
"Tuk! Tuk! Tak! Tak!"
Bongkahan es seukuran kepalan tangan orang dewasa berjatuhan dari langit dan menabrak perisai jingga yang dipakai oleh rombongan Raja Finn. Ini hujan es ekstrim. Angin semakin kencang, mustahil bagi rombongan Raja Finn untuk melanjutkan perjalanan.
"Kita akan berteduh sementara di gua itu! Berbahaya kalau melanjutkan perjalanan karena pandangan buram." titah Raja Finn sambil menunjuk gua yang hanya berjarak lima meter dari mereka.
Lalu, sambil mengikuti langkah Raja Finn, para ksatria pun berjalan ke gua itu. Di sana mereka menyalakan api unggun dan memakan perbekalan.
"Kira-kira berapa lama badai ini akan berlangsung?" tanya Raja Finn didalam pikirannya.
"Aegis, bisakah kau selidiki apa yang ada setelah wilayah hujan es ini?" sambung Raja Finn melalui telepati.
"Tentu, Finn. Aku adalah pelindung suci, jadi aku tidak akan terkena potongan es itu. Saat ini memang aku lah yang paling tepat untuk melakukan penyelidikan." jawab Aegis.
"Bagus. Segera kabarkan padaku kalau kau melihat bukit itu," ucap Raja Finn.
Aegis mengangguk, dengan mode menghilang, dia melesat cepat di tengah badai.
***
tapi curiga deh, kayak ada plot twist gitu dari kematian Jeanette
-Ezra
kurang nyiksa apalagi ? ayolah, thor... kasih napas dikit buat liam /Sob/
zayden kecil ternyata udah melewati kejadian seperti itu, dia dewasa karena keadaan /Sob/ dan lagi, udah jago berpedang di usia 16? itu jenius banget. aku kayaknya usia 16 masih sibuk mikir tugas sekolah /Sob/
btw zayden badas banget, kepribadiannya beneran mencerminkan seorang putra mahkota /Proud/
lanjutkan, thor!