Xarena yang seorang anggota tingkat 1 di sebuah kelompok mafia harus terbunuh karna ledakan sebuah bom saat melakukan misi,namun bukannya meninggal,Xarena justru bertransmigrasi ke tubuh gadis yang memiliki nama dan wajah yang sangat mirip dengannya
" siapa sebenarnya gadis yang tubuhnya kini aku tempati..."
" kemana dia.... "
" dan kenapa wajah dan nama kita hampir sama..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risma Reyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Kehebohan sudah terjadi di mansion Abraham pagi-pagi sekali,tapi bukan seperti yang terjadi di kediaman Sutomo,yang ini bersumber dari teriakan Diana yang berulang-ulang kali mencoba membangunkan Serafin dari tidurnya yang terlalu lelap.
" Sera...." teriak Diana nyaring hingga membuat hampir seluruh penghuni mansion Abraham berjingkat kaget karna mendengarnya.
"apa kak Sera masih pingsan yah,padahal nyo...eh tante Diana teriaknya udah kayak komandan pasukan tapi dia masih anteng banget gak ada suaranya,apa jangan-jangan dia....." gumam Xarena yang sudah sedari tadi bersiap di dalam kamarnya.
Saat ini seluruh inti Abraham tengah berkumpul di depan kamar Serafin,mereka sangat tau tabiat dari Diana yang tidak akan memulai sarapan sebelum seluruh anggota berkumpul termasuk Serafin dan Xarena yang saat ini tengah menginap di mansion Abraham.
Sementara itu,Xarena yang juga merasa penasaran dengan keadaan Serafin segera bergegas keluar menuju kamar wanita itu yang hanya berjarak 2 ruangan dari tempat peristirahatannya , kini ia bisa melihat 4 anggota keluarga Abraham yang tengah berkumpul di depan pintu kamar Serafin.
Diana yang terus bersaha mengetuk pintu dan memanggil-manggil nama Serafin,dan 3 orang lainnya yang menunggu dengan sabar di belakang Diana,sungguh pemandangan yang menurut Xarena sedikit menggelikan mengingat reputasi keluarga Abraham yamg begitu di segani di dunia luar.
" pft....ternyata seberapapun hebatnya tuan Darius dan tuan muda Daniel Abraham,tetaplah nyonya Diana Abraham lah penguasa yang sesungguhnya di mansion ini " gumam Xarena pelan.
" selamat pagi semuanya " sapa Xarena sopan.
Ke empat orang itupun menoleh berbarengan setelah mendengar sapaan dari Xarena,entah kenapa wajah Daniel,Daniella dan Darius berbinar bahagia melihat .kedatangan Xarena,mungkin karna mereka berpikir sarapan akan bisa segera di mulai karna anggotanya sudah hampir lengkap,toh hanya kurang satu orang saja bukankah tidak apa-apa pikir mereka.
" Xarena sudah datang ma...apa kita boleh memulai sarapannya sekarang ..?" tanya Daniella.
" maaf tante,Xarena terlambat sampai membuat semuanya harus menunggu seperti ini" ucap Xarena sopan.
" tidak,kau tidak perlu minta maaf,bukankah wajar kalau terlambat itu karna kau harus mengganti perban di lukamu dulu bukan " sahut Daniel.
" apa...perban...apa kau terluka nak,maaf tante tidak tahu,yasudah bagaimana jika kita mulai sarapan sekarang " ucap Diana yang akhirnya luluh karna Xarena.
" saya baik-baik saja tante,daripada saya mungkin yang perlu kita periksa keadaanya itu adalah kak Sera..." ujar Xarena mencoba mencari cara untuk meriksa keadaan Serafin.
Xarena sangat yakin kalau kemarin malam ia hanya menggunakan sedikit tenaganya untuk memukul Serafin,tapi kekhawatiran seketika muncul di benaknya saat mendengar jika Serafin belum juga bangun walaupun Diana sudah beberapa kali meneriakinya.
" yasudah biar aku saja yang memeriksa " ucap Daniella seraya mengambil ancang-ancang hendak mendobrak pintu kamar Serafin.
Xarena dan Daniel yang melihat tingkah Daniella,tentu saja berusaha memeberi kode pada gadis tersebut untuk tidak melanjutkan niatnya,mereka sama-sama tahu kalau pintu kamar Serafin tidak terkunci jadi jika mendobraknya maka bisa melukai diri Daniella sendiri.
Dan akhirnya pintu itu terlepas dari engselnya karna kekuatan tendangan dari Daniella tapi tentu saja Daniella juga ikut terjatuh bersamaan dengan pintu itu.
" bukankah kau terlalu bersemangat tadi,aku dan Xarena sudah berusaha memberi kode padamu jika pintunya tak terkunci,tapi kau malah tak muu menggubrisnya " gerutu Daniel pelan seraya memberi pertolongan pada saudari kembarnya itu.
" seharusnya kalian berdua mencegahku bukan malah memberi kode,kita mafia kak,bukan pramuka " balas Daniella.
Karna kecelakaan kecil itu,alhasil semua perhatian sejenak tertuju pada Daniella namun Xarena yang sempat melirik pada Serafin menyadari kalau wanita tersebut menggeliat lalu tertidur kembali.
"syukurlah,kupikir dia pingsan,ternyata beneran tertidur"ucap batin Xarena.
" lihat de mah....padahal kita udah seribut ini tapi kak Sera sama sekali tidak terpengaruh dan tetap tidur " protes Daniella.
" mungkin dia mimpi jadi princess aurora " celetuk Darius tiba-tiba.
" oh...maksud papa kalau Serafin itu putri aurora mama itu maleficentnya.." ketus Diana.
"berarti mama nenek sihir dong" tambah Daniel yang malah semakin memperkeruh suasana.
" Daniel" hardik Darius,Diana dan Daniella bersamaan.
Hati Xarena menghangat melihat kehebohan keluarga kecil yang ada di hadapannya saat ini,mungkin di luar mereka terlihat dingin dan tak tersentuh tapi sebenarnya mereka tetaplah manusia pada umumnya,yang terkadang bisa salah,bisa sedih,bahkan bisa ngelawak juga.
" ehmmm...mungkin harus pangeran yang membangunkan putri tidurnya tante " celetuk Xarena tiba-tiba.
Spontan semua mata kini tertuju pada Daniel,hingga membuat pria itu menghela nafas panjang karna tau walaupun ia tak mau semua orang pasti akan tetap memaksanya..
" ok pangeran Daniel,cepat bangunkan dia,maaf kita harus duluan karna kita sudah sangat lapar" ucap Darius seraya mendorong sang anak ke arah dimana ranjang Serafin berada.
Merasa masih ada kesempatan menghindar,Daniel mencoba mencari pertolongan pada sang mama namun tatapan mata Diana padanya seolah mengisyaratkan kalau wanita itu mendukung penuh usul sang papa,begitupun dengan Xarena dan Daniella,bukannya menolong mereka malah dengan semangat mengingatkan Daniel tentang rencana yang mereka susun tadi malam,untuk pura-pura tertarik pada Serafin.
Akhirnya drama pagi itu berakhir dengan Daniel yang menyiram Serafin dengan dalih ia seperti melihat asap di atas ranjang wanita itu,namun bukannya marah,Serafin justru tersenyum bahagia meskipun harus menghadapi omelan maut Diana yang sudah siap menantinya.
Saat ini Daniel dan Xarena tengah dalam perjalanan menuju mansion Bagaskara,sebenarnya Xarena sudah menolak tawaran untuk di antar oleh Daniel dan lebih memilih di jemput supir pribadinya,namun Daniel tetap bersikeras untuk mengantarnya.
Waktu sudah menunjukan pukul 08.30 pagi,jalanan masih sangat padat karna saat ini masih hari kerja,tidak ada percakapan di antara mereka karna sepanjang jalan Xarena hanya diam dengan pandangan menghadap ke jendela.
''kau kenapa..." tanya Daniel pada gadis di sampingnya itu.
" hanya sedang memikirkan sesuatu " jawab Xarena.
Daniel tersenyum tipis,seolah bisa menebak apa yang tengah mengganggu pikiran Xarena.
" bukankah kau sendiri yang mengusulkan untuk aku berpura-pura tertarik pada Serafin,tidak perlu sampai terlalu di pikirkan seperti itu "
Xarena mengehembuskan nafas kasar
" masalahnya...."
" tidak apa-apa wajar kalau kau merasa cemburu,bagaimanapun kenyataannya memang Serafin begitu tertarik padaku,tapi tenang saja aku tidak akan pernah menyukainya " potong Daniel.
" bukan begitu....masalahnya aku sama sekali tidak terpikirkan soal kau dan kak Sera" ucap Xarena sambil tersenyum dengan senyum yang di paksakan,benar-benar ia paksakan.
" kenapa kau tidak bilang dari tadi " gerutu Daniel.
" bukankah kau yang asyik berasumsi sendiri dan tidak membiarkan aku menjelaskan " balas Xarena tak mau kalah.
" dasar kejam " gumam Daniel pelan namun masih bisa di dengar oleh Xarena.
Gadis itu memilih untuk tidak menggubris apa yang di ucapkan Daniel, sampai akhirnya mereka tiba di pertigaan jalan yang hanya berjarak 1 kilo dari mansion Bagaskara,Xarena merasa ada yang aneh dengan 2 mobil yang awalnya terparkir di pinggir jalan tiba-tiba saja bergerak mengikuti mobil mereka.
" sepertinya ada yang menyambut kita " ucap Xarena seolah sudah tahu apa yang selanjutnya akan terjadi.
" aku akan segera menghubungi anggotaku yang sedang berjaga di mansion untuk bergerak ke lokasi kita,sepertinya mereka sengaja menggiring kita ke tempat yang mereka mau " ucap Daniel yang merasa 2 mobil itu seperti tengah sengaja menghalangi laju mobilnya dan mengarahkannya menuju jalan lain.
" sepertinya jumlah mereka sekitar 10 orang "
" apapun yang terjadi tetaplah di dalam mobil,mengerti.....aku masih bisa mengatasi ini sendiri tenang saja"
" tapi aku yakin sasaran mereka yang sebenarnya adalah aku"
" mereka tidak akan bisa menyentuhmu selama ada aku" ucap Daniel dengan aura mendominasi khas mafia miliknya.