NovelToon NovelToon
Hasrat Terlarang Istri Yang Diceraikan

Hasrat Terlarang Istri Yang Diceraikan

Status: tamat
Genre:Berondong / One Night Stand / Selingkuh / Cerai / Romansa / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:22k
Nilai: 5
Nama Author: Dark Vanilla

"perceraian ini hanya sementara Eve?" itulah yang Mason Zanella katakan padanya untuk menjaga nama baiknya demi mencalonkan diri sebagai gubernur untuk negara bagian Penssylvania.

Everly yang memiliki ayah seorang pembunuh dan Ibu seorang pecandu obat terlarang tidak punya pilihan lain selain menyetujui ide itu.

Untuk kedua kalinya ia kembali berkorban dalam pernikahannya. Namun ditengah perpisahan sementara itu, hadir seorang pemuda yang lebih muda 7 tahun darinya bernama Christopher J.V yang mengejar dan terang-terangan menyukainya sejak cinta satu malam terjadi di antara mereka. Bahkan meski pemuda itu mengetahui Everly adalah istri orang dia tetap mengejarnya, menggodanya hingga keduanya jatuh di dalam hubungan yang lebih intim, saling mengobati kesakitannya tanpa tahu bahwa rahasia masing-masing dari mereka semakin terkuak ke permukaan. Everly mencintai Chris namun Mason adalah rumah pertama baginya. Apakah Everly akan kembali pada Mason? atau lebih memilih Christopher

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dark Vanilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HTIYD

Setelah kedatangan Mason dan Lilly Anne, Everly kembali ke aktivitasnya seperti biasa. Sibuk dengan kehidupan sebagai seorang mahasiswa di awal usia tiga puluhnya. Masa yang tak pernah ia bayangkan akan ditempuhnya setelah menjadi istri Mason Zanela, karena pria itu tak pernah mendukung impiannya.

Selain itu setelah apa yang dikatakan Mason pada pertemuan mereka kemarin, Everly jadi menyadari suatu hal. Bahwa hubungannya dengan Christopher tidak memiliki kesempatan.

Tidak. Sejak awal bahkan itu mustahil. Seperti yang ia pikirkan sebelumnya, kehadiran Christopher di tengah permasalahan pernikahannya tampak seperti pelarian kecil yang hanya akan menambah persoalan lain yang lebih rumit. Maka dari itu kini, sekali lagi Everly berusaha menghindari Christopher. Mengusahakan semaksimal mungkin untuk tidak berpapasan dengan pria yang sudah membuat hatinya terombang-ambing akhir-akhir ini. Everly tak ingin memancing masalah baru antara dirinya dengan Mason.

Siang itu Everly mengikuti kelas seperti biasa. Serius mendengarkan penjelasan Professor Berg ketika seseorang tiba-tiba duduk di sisinya.

“Hai… apa sudah mulai dari tadi?” Seorang wanita berambut keriting panjang, berkulit tan, dengan outfit serba hitam dengan sentuhan ghotic, bertanya padanya. Everly agak kaget melihat anting piercing di tengah hidung dan satu lagi ujung alisnya. Eksentrik.

Everly tersenyum ramah. “Sekitar 10 menit lalu,” ucapnya sedikit menggeser duduknya membagi ruang untuk si wanita berkulit tan.

“Syukurlah tidak terlalu telat. Aku baru bangun. Kepalaku masih pusing karena terlalu banyak tidur.” Bisiknya lagi tanpa ditanya. Lantas everly hanya tersenyum menanggapinya.

“Aku baru pertama kali melihatmu. Aku

Forestina Lawson, by the way. Panggil saja Forest.” Wanita itu mengulurkan tangan memperkenalkan diri.

‘Forest? Persis seperti penampilannya, rimbun, gelap dan cantik’ batin Everly.

“Everly Collins,” balasnya singkat. Tersenyum simpul kemudian kembali berkonsentrasi pada penjelasan profesor Berg.

“Aku selalu mengantuk saat dosen ini menjelaskan.” Forest berbisik tanpa mengalihkan perhatiannya dari profesor. “Maksudku, tidak kah dia tau, jika caranya mengajar itu membuatku mengantuk?” Erangnya kemudian menguap.

Everly akui, suara profesor Berg terkadang jelas dan terkadang terdengar menggumam. Tetapi bagi Everly tidak terlalu mengganggu dan dia masih bisa mengikuti nya dengan nyaman.

“Well, kurasa bukan dia masalahnya, tapi aku.” Wanita itu mengakui sendiri sambil terkikik pelan. “Itulah mengapa aku mengulang kelas ini.”

Everly mengangkat alisnya menanggapi.

“Dari program studi apa?” tanya Forest lagi.

“Craft and design. Kau?” Everly bertanya balik.

“Seni patung.”

Mereka saat ini tengah berada di kelas wajib yang harus diambil oleh semua mahasiswa jurusan seni.

“Btw.... i like your style. Elegan dan dewasa," pujinya pada penampilan Everly. "Berapa umurmu?” bisiknya kembali, benar-benar tak membiarkan Everly berkonsentrasi.

“tahun ini 30 tahun.”

“Apa? Wah, minat belajarmu tinggi sekali ya.”

“Begitulah,” balas Everly sekenanya.

“Maaf kalau aku lancang. Kenapa baru melanjutkan kuliah?”

“Karena baru punya waktu," jawab Everly singkat.

Wanita itu mengangguk-anggukan kepala, dengan mulut membulat. Berusaha berkonsentrasi kembali.

“Oh shit, aku melupakan ipadku. aku tidak membawa apapun di tasku. Sialan, Forest pelupa!”

“Aku akan mengirimkan notes-ku padamu nanti. Aku mengirimkannya setelah kelas selesai.”

“Oh kau baik sekali, terima kasih.”

...***...

Everly mulai membereskan buku-bukunya setelah profesor Berg meninggalkan kelas. Lalu mengirim notes-nya pada Forest seperti yang ia katakan tadi.

“Everly, sebagai ucapan terimakasih karena sudah membantuku, bagaimana kalau ikut kumpul-kumpul bersama aku dan teman-temanku. Kau bisa menambah kenalan di sana”

“Oh eum…” Untuk sesaat Everly ragu. Bagaimana kalau Forest malah mengajaknya ke perkumpulan aneh.

“Please…akan menyenangkan jika ketambahan orang lagi.” Rayu Forest penuh harap.

“Tapi masih ada satu kelas lagi yang harus aku ikuti.”

“Begitu juga denganku. hubungi aku saja jika kelasmu sudah usai. Bagaimana?”

Akhirnya Everly mengangguk setuju.

“Yeay! ini nomorku.” Forest menyodorkan kode QR lantas dipindai oleh Everly, dan begitulah teman kuliah pertama Everly tercipta.

...***...

Hari menjelang malam ketika Everly mengikuti Forest ke sebuah bar untuk berkumpul. Awalnya, ia mengira ini adalah perkumpulan yang aneh, tetapi ternyata mereka adalah sekelompok mahasiswa seni. Beberapa berpenampilan nyentrik seperti Forest, sementara yang lain tampil lebih kasual.

Mereka menyenangkan dan ramah. Sesekali memuji Everly yang tak tampak gap umurnya dari para muda-mudi itu. Ini pengalaman pertama bagi Everly berteman dengan sekelompok anak muda yang penuh energi

Tanpa sadar, ia ikut larut dalam obrolan ringan seputar kehidupan kampus. Namun, ketika ia tertawa menanggapi lelucon dari teman satu mejanya, pandangannya tanpa sengaja tertuju ke pintu masuk bar.

Tawanya langsung meredup.

Sosok jangkung yang begitu familiar itu berdiri di ambang pintu. Sosok yang mati-matian ia hindari dalam Beberapa hari terakhir.

Itu adalah Christopher yang digelayuti wanita jelita dengan penampilan bak model papan atas. Pun tatapan mereka terpaut untuk sesaat. Sampai-sampai Forest yang duduk di sebelahnya ikut menoleh ke tempat mata Everly tertuju.

“Ahh… itu Christopher J.V. Jurusan bisnis, Idola kampus." Forest mulai bercerita. "Tampan sekali, kan?”

Everly meneguk sodanya. Cepat-cepat melengos dari mata intens sang pria yang kini berjalan ke arahnya. Semakin dekat semakin jantung Everly berdetak tak karuan.

“Tapi kuberitahu ya, Jangan coba-coba dekati dia. Penjaganya banyak dan seram-seram. Terutama yang disisinya itu," bisik Forest. Sementara Everly membuang muka menghindari Christopher yang melewatinya.

“Saline Ruess, alumni universitas ini. Mereka berpacaran cukup lama,"

Everly masih merasakan tatapan tajam pria itu menusuk punggungnya ketika mereka duduk di sisi lain bar tak jauh dari tempat Everly dan teman-temannya duduk.

"tapi apa kau tau? Saline itu sebenarnya akan menikah. Tapi dia rela meninggalkan pernikahannya karena tak bisa move on dari christopher.”

Christopher duduk bersandar dengan kaki terbuka lebar, sementara Saline duduk menempel pada tubuhnya.

“Kedengarannya pria itu cukup bermasalah.” Bisik Everly, mengalihkan pikirannya dari Christopher dan perempuan yang sedikit menganggu hatinya.

“Yah begitulah kelebihan orang jika terlalu tampan," Forest terkekeh. Diikuti Everly.

Everly memilih mengabaikannya dan kembali fokus pada permainan yang kini dimainkan teman-temannya di atas meja.

Sementara di sisi lain Christopher dengan matanya yang menggelap masih memandangi punggung Everly dengan rahang terkatup rapat.

Dalam hatinya mempertanyakan sikap Everly yang tiba-tiba berubah. Setelah berhari-hari menolak membuka pintu untuknya. sekarang wanita itu bahkan menolak menyapanya. Sialnya menanyakan lewat telepon pun Christopher tak bisa karena tak punya nomor wanita itu. Menyebalkan.

Saline Ruess yang sedari tadi berusaha menarik perhatian Christopher mulai menyadari, tingkah pria itu.

“Apa yang kau tatap?” tanya Saline ikut mengarahkan mata ke sesuatu yang menarik atensi pria yang di sukainya itu.

“Ck, sudah cepat katakan. Aku sudah ikut kau sampai kesini. Kau mau apa sebenarnya? Bukankah sudah kubilang berhenti mencariku?” Bagi Saline tak ada keramahan sama sekali dalam suara pria itu.

“Christopher, secepat itukah kau melupakan aku.” mata sayunya bergetar.

“Saline, kau yang memutuskan aku, ingat? Lagipula kau sudah akan menikah. Kembalilah kepada calon suamimu. Tidakkah kau kasihan padanya?"

“Aku sudah mencoba Chris, tapi aku tidak bisa. Ternyata aku tidak bisa melupakanmu, aku tersiksa.”

Drama wanita itu membuat Christopher jengah.

Dari pada mendengarkan Saline, ia lebih tertarik pada Everly yang enggan menoleh padanya. Jangankan menoleh. Melirik saja pun tidak.

“Chris.”

“Hmm.”

“Ayo kembali padaku.”

“Hmm?”

“Kembalilah padaku.”

“Tidak.” tegasnya tanpa menatap Saline. Malah meraih gelas wiskinya kemudian meneguknya seteguk.

“Kenapa?”

“Aku tidak tertarik dengan penghianat."

“Tapi Chris… aku—

Drrrtt

Ponsel saline bergetar. Saat Chris melirik pada benda di tangan Saline sekilas, ada tanda love di nama pemanggil itu.

Christopher tertawa dalam hati. “Wanita sialan!” umpat batinya.

“A-aku angkat telepon sebentar.” Katanya menjauh dari tempat Christopher.

Chris tak peduli. Kembali memperhatikan everly yang tertawa-tawa di tengah kerumunan orang. Tak bisa melepas manik mata dari sosoknya yang tampak cantik layaknya dewasa muda yang seumuran dengan sekitarnya.

Saat laki-laki yang duduk di hadapan Everly pergi entah kemana, Christopher berdiri membawa gelasnya menghampiri meja Everly.

Duduk di sana tanpa permisi. Tak peduli dengan pandangan aneh orang lain.

“Hai…lama tak jumpa—” dia menyorot Everly intens. Tapi pertanyaan itu jelas bukan ditujukan untuk Everly karena kemudian pria itu memalingkan muka kepada Forest. "Forestina Lawson." katanya dengan sudut bibir terangkat.

Everly sadar Chris tengah menggodanya.

“Hmm… kau yang tak pernah mau bergabung dengan kami, brengsek! Sombong sekali," umpat Forest blak-blakan.

Terkekeh Christopher berujar, “Maafkan aku. Lain kali akan aku sisihkan waktu untuk kumpul-kumpul bersama kalian."

Beralih perhatian kepada Everly yang berusaha mengabaikan kehadirannya. “Dan, sepertinya kau merekrut anggota baru ya?”

“Jangan coba-coba, Chris. Aku tak mau ada pertumpahan darah disini.”

"Apa maksudmu Forest, apa saja yang sudah kau ceritakan padanya?" ujarnya pelan dengan suara rendahnya. Christopher masih tak melepas tatapannya dari sosok yang meng-ghosting dirinya akhir-akhir ini

"Tentang tingkah playboymu, dan anjing pejagamu yang galak-galak."

“Dia mahasiswa baru, Forest. Jangan menakut-nakutinya dengan cerita mengada-ada. Aku bukan Playboy, merekalah yang mengejarku. Aku setia pada orang yang kusukai."

"Kau membuatku mual, Christopher." Dengus Forest jengah, sedikit banyak Forest mengenal orang seperti apa Christopher itu. "Lebih baik kau kembali ke tempatmu sebelum kekasih galakmu kembali."

"Tidak, sebelum aku mendapatkan nomor wanita cantik disebelahmu."

Tersenyum memesona Christopher mengulurkan ponselnya.

Everly termangu. Memandang ponsel pria itu, enggan merespon.

"Eve berikan saja, dia tidak akan pergi dari tempat ini sebelum mendapat apa yang dia mau. Tinggal kau blok saja setelah itu," desak Forest, mengabaikan decakan lidah Christopher padanya.

Everly kesal pada pria yang menggodanya lewat mata menjengkelkannya itu.

Sekali lagi Christopher menggoyangkan ponselnya diiringi kerlingan nakal, ketika Everly tak merespon.

Hingga akhirnya Everly menyerah, merebut kasar ponsel Christopher dan mengetik nomornya sambil merengut.

"Sialan!" jika sudah punya pacar, mengapa pria ini menggodanya?

1
Agus Tina
Thor season 2 ya aku tunggu ...
Agus Tina
ceritanya bagus, kenapa yg like sedikit ...
Agus Tina
Haaaah ... rumit sekali cintà kalian
Agus Tina
Tn. Patrick, anda sungguh ķejam dan tidak berperasaan ... hanya demi selingkuhan anda mengorbankan perasaan anak2 anda ... sekarang nikmatilah akibat dari hal itu ... semangat thor. Kutunggu selalu kelanjutannya ...
Agus Tina
Rumit sekali hidupmu Eve? Jika memang benar hamil bagaimana dengan Mason? Apakaj ia mau menerima anak dala. kandunganmu seperti kamu yg menerima anak hasil perselingkuhannya?
Agus Tina
Kutunggu kelanjutanny athor, jangan digantung lagi ya ... sakiit ....
Heran cerita bagus, penukisan juga bagus, kenapa yg like sedikit. Semangat thor ....
Agus Tina
Akhirnya ... aku tunggu lama sekali .... sangat thor ... eve juga
Agus Tina
Thor kenapa belum up juga? Kutunģgu upnya
Agus Tina
Thor kenapa lama sekali tidak up ... aku menunggumu ...
Agus Tina
Ya Tuhan Everly ...
Susanti
nah ini yang bikin gedeg ayo cristoper buktikan kau layak untuk evely
Agus Tina
Oh Everly ... tidak apa2 ... jika memang itu satu2nya jalan untuk membersigkan nama keluargamu lakukanlah Eve .. dan semoga Mason benar2 menepati janjinta ... atau kalau othor bersedia membuat cerita seperti mauku 😏biarlah semuanya terbongkar sebelum Everly dan Madon kembali bersatu ... /Angry/
Agus Tina
Waduuh senakin memperkuat dugaan kalaubkematian ibu chris melibatkan suami dan kekasih gelapnya. Semangat thor ... kutunggu selalu up nya.
Vanilabutter
nggak tau kenapa, dari kemarin yang lolos review hanya chapter 53 , chap 54 masih nyangkut. Padhl chap tidak mengandung cabe. /Frown/
Agus Tina
Menjauhlah untuk sementara Evely, sembuhkan lukamu .. percayalah Cristipher juga terluka sama sepertimu ...
Susanti
kenapa sertiap ada masalah harus lari ke mabuk /Scowl/
Vanilabutter: karena begitulah budaya barat, kita budaya timur gak relate /Smile/
total 1 replies
Agus Tina
Kasihan Everly ... aku harap tabir kematian ibu Cris cepat terbuka biar semua menjdi jelas. Kalau memang ayah Everly bersalah biarkan ia peegi dan mengobati kembali luka yg datang padanya. Tapi kalau ini hanya sekedar konspirasi biarkan mereka bahagia san berikan balasan pada orang2 yg sudah begitu kejam membuat Eve menderita sekian lama ....
Safa Almira
suka
Agus Tina
Aku bingung ... up thor
Agus Tina
Aah ... semakin rumit. Lanjut up thor ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!