NovelToon NovelToon
Duo Joker

Duo Joker

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Dosen / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:748.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ichageul

Dipa dan Gilang membuat resah tetua di keluarganya, karena sampai sekarang masih berstatus jomblo. Mereka pun berinisiatif untuk mencarikan jodoh yang tepat untuk keduanya.

Ternyata perjalanan mencarikan jodoh untuk kedua pria itu tidak semudah membalik telapak tangan.Butuh trik khusus dan rencana matang agar keduanya bisa mendapatkan jodoh sesuai keinginan masing-masing.

Seperti apakah jodoh yang akan menjadi pendamping hidup mereka? Sanggupkah calon jodoh mereka menghadapi tingkah keduanya yang ajaib dan terkadang membuat malu sampai ke ubun-ubun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Raja Gombal

Setelah tiga hari berada di Bali, Keira membawa semua anggota turnya yang berasal dari Pakistan beserta Dipa dan Fahril menuju Lombok. Mereka akan melanjutkan wisata menjelajahi pulau Lombok yang terkenal dengan julukan Pulau Seribu Masjid. Bukan tanpa alasan Lombok mendapat julukan ini. Di antaranya adalah, mayoritas penduduk di Pulau Lombok beragama Islam, banyaknya masjid di setiap desa dan tempat wisata halal terbaik di dunia.

Untuk penerbangan menuju Lombok, mereka kembali menggunakan maskapai penerbangan Sitinktink. Dan Poonam meminta duduk bersama dengan Keira. Tentu saja wanita itu ada maksud terselubung. Pertama, agar bukan Fahril yang duduk bersama Keira. Kedua, nantinya dia akan mengoper kursinya pada Dipa.

Satu per satu turis asal Pakistan itu memasuki pesawat. Poonam sudah duduk di kursi yang dipesan Keira. Fahril cukup kecewa karena Keira tidak duduk bersamanya. Sialnya, yang menjadi teman duduknya adalah Dipa. Sebenarnya Dipa juga malas duduk bersama Fahril, namun begitu mendengar rencana Poonam, dia mengikut saja.

Pesawat yang mereka tumpangi perlahan mulai meninggalkan landasan. Setelah pesawat mengudara dengan sempurna, Poonam melepas sabuk pengaman. Wanita itu berdiri lalu menuju kursi yang ditempati Dipa. Pria itu duduk di depan kursi yang ditempati Keira dan Poonam.

“Dipa, apa kamu mau bertukar kursi denganku?” tanya Poonam seraya melemparkan senyum manisnya.

“Kenapa? Jangan bilang kamu ingin duduk dengannya.”

Dipa memperlihatkan wajah kecewanya ketika Poonam meminta bertukar kursi dengannya. Fahril hanya memutar bola matanya saja. Dia yakin sekali kalau dalam hatinya Dipa bersorak karena bisa duduk bersama Keira.

“Maafkan aku, sayang. Tapi aku ingin duduk dengannya,” Poonam menunjuk Fahril.

“Apa kamu sudah bosan padaku?”

“Kamu sudah menemaniku selama di Bali. Untuk di Lombok, aku ingin dengannya. Tidak apa-apa ya, sayang.”

“Baiklah. Asal kamu bahagia.”

Dipa bangkit dari duduknya. Tangan Fahril langsung menahan Dipa kemudian pria itu menggelengkan kepalanya. Tapi Dipa sama sekali tidak peduli. Dia mengambil tas ranselnya lalu berpindah duduk ke belakang. Poonam segera mendudukkan diri di samping Fahril. Dia langsung memeluk lengan pria itu.

Fahril hanya bisa menghela nafas panjang saja ketika Poonam mulai bermanja dengannya. Keira sudah menceritakan kisah hidup wanita itu padanya, karenanya dia tidak berani berbuat kasar pada Poonam dan membiarkan saja wanita itu memonopoli dirinya. Fahril sendiri sudah tidak memiliki ibu sejak usia 10 tahun. Ayahnya sudah menikah lagi, namun dirinya tidak terlalu dekat dengan mama tirinya. Dia mensugesti dirinya kalau Poonam adalah mamanya yang sudah tiada. Dengan begitu dia bisa menemani wanita itu dengan lapang dada.

“Kenapa kamu senang sekali menggangguku,” ceplos Keira ketika Dipa mendudukkan diri di sampingnya.

“Mulutmu bilang begitu, tapi wajahmu terlihat senang,” balas Dipa santai.

“Cih..”

Keira hanya berdecih saja. Namun dalam hatinya memang senang Dipa duduk bersamanya. Sebenarnya dia sudah menduga ketika Poonam meminta duduk bersamanya, pasti dia akan meminta berpindah duduk. Tapi duduk bersama Dipa lebih baik daripada bersama Fahril. Sejak Dipa mengatakan kalau Fahril menyukainya, wanita itu jadi bingung harus bersikap bagaimana pada sahabatnya itu.

“Selama di Lombok, kita akan kemana saja?” tanya Dipa.

“Pantai Senggigi, Pantai Tanjung Aan dan sekitarnya, Gili Nanggu, Gili Sudak, Gili Kedis, Air Terjun Sendang Gile dan Air Terjun Tiu Kelep.”

“Semuanya lokasi yang bagus.”

“Kamu sudah ke sana?”

“Sudah. Tapi di kunjunganku kali ini, aku yakin tempat-tempat itu pasti jauh lebih indah.”

“Kenapa?”

“Karena ada kamu.”

“Kenapa mulutmu isinya gombalan semua?”

“Karena kamu sudah mengaktifkan sisi romantisku,” jawab Dipa sambil mengedipkan matanya.

Keira memilih mengakhiri pembicaraan. Dia pura-pura memejamkan matanya. Matanya kembali terbuka ketika telinganya mendengar sebuah lagu. Dipa menempelkan earphone Bluetooth ke telinga wanita itu. Sebuah lagu Sepenuh Hati yang dipopulerkan lagi oleh Roni Parulian. Tanpa sadar Dipa pun ikut bernyanyi.

“Bukan matahari bila tak menyinari, bukan kuntum bunga bila tak mewangi, dan bukanlah cinta bila tidak sepenuh hati.”

Diam-diam Keira mengulum senyumnya begitu mendengar suara merdu Dipa. Walau tidak mau mengakui, perlahan namun pasti, Dipa sudah berhasil memenuhi hati dan pikiran Keira sedikit demi sedikit.

🌵🌵🌵

Pukul sembilan pagi, rombongan tur sudah sampai di Lombok. Mereka memang langsung berangkat ke bandara setelah sarapan. Perjalanan dari Bali ke Lombok hanya memakan waktu empat puluh menit, karenanya mereka sudah tiba di Lombok saat hari masih pagi. Semua rombongan langsung dibawa ke hotel. Mereka hanya menaruh barang saja dan langsung melanjutkan kegiatan.

Di hari pertama di Lombok, rombongan tur akan mengunjungi Pantai Tanjung Aan. Pantai Tanjung Aan adalah salah satu pantai paling asri di Pulau Lombok. Pantai ini berhadapan langsung dengan Samudera Hindia dan dikelilingi oleh bukit Merese. Ombak di pantai ini juga tidak terlalu besar, jadi pengunjung bisa berenang, berselancar dan snorkeling.

Begitu sampai di pantai, mereka langsung berpencar melakukan kegiatan masing-masing. Keira menunjuk di mana titik kumpul mereka tiga jam lagi. setelah bermain di pantai, dia akan mengajak rombongan mengunjungi Bukit Merese.

Poonam memilih berjalan-jalan di sekitar pantai. Sedari tadi dia tidak melepaskan Fahril dari genggamannya. Dia benar-benar memonopoli waktu pria itu. Sama seperti Dipa, Fahril juga pria yang ramah dan selalu bersikap baik padanya. Poonam sempat merasa tak enak hati karena Fahril begitu baik padanya. Tapi dia sudah terlanjur berjanji pada Dipa. Lagi pula menurutnya Keira memang lebih cocok bersama Dipa.

“Fahril, apa kamu tidak kesal padaku?” tanya Poonam ketika keduanya sedang menyusuri pantai sambil bertelanjang kaki.

“Kenapa aku harus kesal?”

“Karena aku, kamu jadi tidak bisa berduaan dengan Keira.”

“Aku masih punya kesempatan bertemu dengan Keira. Kami bekerja di satu kantor. Kami juga teman kuliah. Dia dua tahun di bawahku. Tapi kami berteman baik sejak jaman kuliah.”

“Kamu menyukai Keira, kan?”

Fahril mengusap tengkuknya. Dia malu juga ternyata Poonam menyadari perasaannya. Jika Poonam saja sudah tahu, lalu bagaimana dengan Keira?

“Kamu sudah lama menyukainya?”

“Iya. Sejak kami kuliah.”

“Berarti sudah cukup lama. Kenapa kamu tidak mengutarakan perasaanmu?”

“Entahlah, terlalu banyak yang aku pertimbangkan. Aku hanya memberinya perhatian lebih dan berharap dia menyadarinya.”

“Percuma saja kamu melakukan banyak hal kalau kamu tidak mengatakan isi hatimu. Perempuan itu butuh kepastian. Kenapa kamu tidak mencoba mengutarakan perasaanmu?”

“Kamu benar. Mungkin setelah tur ini berakhir, aku akan mengatakan perasaanku padanya.”

“Tapi sekarang kamu punya saingan.”

“Maksudmu Dipa?”

“Iya. Dia juga menyukai Keira. Aku dengar ayah mereka berteman.”

“Jangan-jangan kamu mendekatiku karena ingin memberi kesempatan pada Dipa untuk mendekati Keira?”

Mata Fahril memicing melihat pada Poonam. Wanita itu tidak bisa menahan tawanya. Dia mengangkat dua jarinya sambil mengatakan sorry. Bukannya marah, Fahril justru tertawa. Sebenarnya sejak di Bali, dia sudah curiga pada Poonam.

“Kenapa kamu membantunya? Kenapa tidak membantuku?”

“Karena dia baik dan menyenangkan.”

“Maksudmu aku tidak baik dan tidak menyenangkan?”

“Bukan begitu. Tapi aku lebih dulu mengenalnya.”

“Aku ingin bersaing dengan adil untuk mendapatkan Keira. Bisakah kamu bersikap netral?”

“Ehm.. baiklah.”

Senyum terbit di wajah Fahril. Poonam ternyata teman bicara yang baik. Mereka melanjutkan kembali kegiatan berjalan-jalan. Fahril mulai menceritakan tentang keluarganya. Kerinduannya pada almarhumah mamanya dan hubungannya yang kurang harmonis dengan mama tirinya. Berbincang dengan Poonam seperti berbicara dengan ibunya sendiri dan membuat Fahril bisa mengatakan apa pun padanya.

Ketika Poonam dan Fahril masih berjalan-jalan, Dipa dan Keira masih berada di tempat yang dijadikan titik kumpul. Beberapa kali Dipa mengabadikan pemandangan indah Pantai Tanjung Aan dengan kamera ponselnya. Dia melihat Keira yang berdiri tak jauh darinya. Kacamata hitam bertengger di hidung mancung Keira.

“Kei.. kamu mau kemana?”

“Aku mau di sini saja.”

“Ayolah, kita berjalan-jalan.”

“Aku sudah sering ke sini. Semua tempat di pantai ini sudah kujelajahi.”

“Bagaimana kalau kita ke Batu Payung?”

Tanpa menunggu jawaban Keira, Dipa menarik tangan wanita itu. Mereka berjalan menuju tempat penyewaan perahu. Batu Payung terletak di sebelah timur Pantai Tanjung Aan. Untuk sampai ke sana, mereka harus menggunakan perahu. Bayu Payung sendiri terkenal karena ada sebuah batu besar berdiri tinggi yang terbentuk secara alami. Banyak orang yang mengunjungi Batu Payung karena keindahannya.

Dipa menyewa perahu motor untuk membawa mereka ke Batu Payung. Sebenarnya mereka bisa saja menempuh dengan berjalan kaki, hanya saja memakan waktu cukup lama, hampir satu jam lamanya. Belum lagi medannya cukup sulit. Karenanya banyak yang menggunakan perahu untuk sampai ke sana. Mereka hanya menempuh perjalanan selama lima belas menit saja.

Sesampainya di sana, sudah ada pengunjung yang sedang berfoto dengan Batu Payung sebagai latarnya. Keindahan Batu Payung ini memang sudah terkenal. Keindahan Batu Payung mulai terkenal setelah menjadi masuk dalam iklan salah satu produsen rokok. Dipa mengajak Keira untuk berfoto. Dia meminta tolong pada salah seorang pengunjung untuk mengambil gambar mereka.

“Kei.. bergaya ya.”

“Ck.. aku bukan foto model.”

“Anggap aja kita lagi foto pre wedding.”

🌵🌵🌵

Berat nih saingan Dipa😂

1
P_nR
keren pake banget 😘
tetap semangat dan terus berkarya 😘
Aura azzahwa
akaaiii,,,,lanjjuuutt biankaa🤣💪
Mama lilik Lilik
ceritanya luar biasa bagus banget, walaupun ad typo nya karena kita maklum KK nya pasti lelah hayati, terimakasih KK cerita nya selalu bikin ketawa,nangis sendirian,karena memang benar² bagus,ttp semangat berkarya, terimakasih 🙏
ida wati
iya mak sangat2 berkesan banget, kayak gak rela aja kalo ada part mereka pergi spt tetua kelurga Ramadhan /Sob//Sob//Sob/
ida wati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 puas banget akoh 🤣
ida wati
🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati
wapres jomblo melepaskan masa jabatan 🤣🤣🤣
ida wati
koplak 🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati
mamvus 🤣🤣🤣🤣
ida wati
wkwkwk
ida wati
asli mulut si Gilang minta dilakban
ida wati
aya2 waeee syaithon dipanggil ate /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ida wati
timpuk napa wakilin gw 🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati
wkwkwkkw 🤣🤣🤣
ida wati
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ida wati
prettt 🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati
emang kudu di CT Scan kayaknya kepala si Gilang 😄
ida wati
somflak semuaaaa 🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!