Rezza pria tampan dan mempunyai kehidupan cukup mapan sejak lahir dengan terpaksa harus menerima perjodohan dari ibunya dengan seorang wanita yang bernama Artiya sepupu dari kekasihnya sendiri,yang menurut Rezza wanita itu sama sekali tidak menarik dilihat dari segi manapun juga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon triy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIYA PERGI
Tiya memutuskan pergi ke kota J,tempat kelahiran almarhum ayahnya.
Disana Tiya masih mempunyai kerabat yaitu kedua orang tua almarhum ayahnya.
Sudah lama Tiya tidak bertemu dengah mbah kakung dan mbah utinya,jadi Tiya ingin tinggal bersama mereka dikampung.
Tiya bertemu dengan mereka hanya setahun sekali diwaktu lebaran saja saat Tiya mengunjungi mereka,dulu sewaktu kedua orang tua Tiya meninggal,kakung dan utinya Tiya meminyanya tinggal bersama mereka.
Namun sebab Tiya tak mau berpindah sekolah dia memilih ikut dengan bude pakdenya.
Disepanjang perjalanan pikiran Tiya menerawang mengingat nasib pernikahannya, dan airmatanyapun tak berhenti mengalir.
Sedangkan di kota M,
Rezza masih berusaha menghubungi Tiya tapi handponenya tetap tidak bisa dihubungi.
Kemudian Rezza menghubungi mbok Sugi,
"halo assalamualaikum mbok"
"waalaikumsalam mas bagus,kapan pulangnya?"
"belum tau mbok,Tiya udah pulang mbok?"
"sudah mas....."
sebelum mbok Sugi menyelesaikan perkataanya, Rezzapun menyela,sangking senangnya mendengar istrinya telah pulang,
"alhamdulillah...",Rezza mengucap syukur dan merasa lega,
"sekarang dia dimana mbok?"
"sudah pergi lagi mas"
"pergi????" pergi kemana mbok?"tanya Rezza kalut,
"tadi pamitan sama mbok mas,ndak bilang mau pergi kemana "
mendengar perkataan mbok Sugi tentang kepergian Tiya,suasana hati Rezzapun seketika berubah, dadanya terasa sesak,seketika otak Rezzapun menjadi blank,dan diapun terdiam untuk beberapa saat.
"mas bagus, tadi sebelum pergi mbak Tiya ada nitip surat buat ibu"
"mbak Tiya keliatan sedih banget mas",
"matanya mbok lihat bengkak,kayake kebanyakan nangis",
"apa ada masalah to mas bagus?"tanya mbok Sugi sedih,
"kemaren sebelum pada pergi,semua masih baek baek aja to le..cah bagus?"ucap mbok Sugi lagi,dan menahan sebak,
butiran butiran bening terjatuh dari mata Rezza yang kuyu sebab kelelahan, dan diapun menutupi tangisnya dengan tangan kiri sambil memijit mijit kedua pelipisnya yang terasa pening,
hatinya terasa remuk mendengar istrinya telah pergi meninggalkannya.
Rezz merasa sesak, hingga dadanya terasa ingin meledak,rasa bersalah semakin menghantui hati dan pikirannya.
"le...cah bagus?" ucap mbok Sugi lembut,seolah dia tau apa yang sekarang Rezza rasakan.
"iya mbok" jawab Rezza lemah, lalu menghela nafas berat,
"ya sudah mbok", "Rezza usahakan segera pulang"
"iyo,mas bagus" lalu mbok Sugipun menutup telponnya.
Rezza sungguh bingung harus melakukan apa,ingin rasanya dia segera terbang pulang kekotanya untuk mencari istri tercintanya.
Namun,disisi lain ibunya masih harus mendapat perawatan dirumah sakit dimana beliau masih terkulai lemah diatas ranjang pasien.
Kepala Rezza semakin berdenyut denyut terasa sangat berat,lalu Rezza menyandarkan kepalanya disofa,badannya terasa lunglai sebab dari kemarin perut Rezza belum terisi apa apa.
Pak Jono yang melihat keadaan Rezzapun merasa iba,dan diapun memberanikan diri untuk menasehatinya,
"maaf mas",
"dari kemaren malem mas Rezza saya lihat belum makan apa apa lho mas",
"mas Rezza harus jaga kesehatan",
"mas Rezzakan masih harus njaga ibu",
"kalo nggak makan,takutnya mas Rezza juga ikutan sakit",
"nanti ndak tambah repot to mas", "kita juga nggak bisa cepet pulang jadinya"
mendengar nasehat dari pak Jonopun Rezza menghela nafas panjang lalu berkara "makasih ya pak,udang ngingetin Rezza"
"Rezza keluar cari makan dulu"
"pak Jono mau pesan apa?"
"bapak tadi udah makan mas,yang penting perut mas Rezza mesti diisi dulu biar nggak lemes"
"trus pikiran mas Rezza juga nggak buntu,jadi jernih,"nasehat pak Jono,
"iya pak,makasih ya pak"
Rezzapun keluar dari kamar rawat inap bu Sanusi.
setelah mendengar suara pintu tertutup dan Rezza keluar, bu Sanusi yang sedari tadi berpura pura tidurpun memanggil pak Jono dengan melambai lambaikan tangannya.
"ada apa pak?"tanya bu Sanusi lemah masih terbaring dikasur pasien.
"kasihan mas Rezza bu,dari semalem belum makan apa apa"
"mas Rezza terlihat stres berat,belum pernah saya lihat mas Rezza seperti sekarang ini bu"ucap pak Jono,
bu Sanusipun terdiam mendengar perkataan dari pak Jono,dari sudut hati terdalamnya bu Sanusi sebagai seorang ibu merasa sangat tidak tega dengan anak bungsunya itu.
Tapi disisi lain bu Sanusi masih merasa sangat kecewa dengan perbuatan putranya,yang menurut bu Sanusi hal itu sangatlah keterlaluan.
Dikantin rumah sakit,Rezza hanya memesan susu hangat,dia sama sekali tak berselera makan,Rezza pergi kekantin sebab dia menghargai nasehat dari pak Jono.
Bagi Rezza pak Jono dan mbok Sugi adalah keluarganya,Rezza tak pernah menganggap mereka sebagai pekerja dirumahnya.
Walopun bu Sanusi adalah termasuk orang yang kaya raya,beliau selalu mengajarkan pada anak anaknya tentang sopan santun terhadap orang yang lebih tua,menghargai sesama, tidak membeda bedakan orang lain sebab setatus sosialnya ,dan beliau juga mengajarkan tentang pola hidup sederhana tidak berlebih lebihan kepada kedua anaknya.
Beliau selalu mengingatkan pada anak anaknya bahwa harta hanyalah titipan,semua yang ada didunia ini hanyalah titipan dari yang maha kuasa.
Itulah sebabnya dulu bu Sanusi ngotot menjodohkan Rezza dengan Tiya ya lugu dan terkesan sederhana,karna bu Sanusi takut jika Rezza nekat menikahi Amel maka Rezza tidak akan bahagia menikahi gadis yang hanya memikirkan tentang harta dunia saja dan tak mau hidup susah.
Bu Sanusi memang tipe ibu ibu yang sangat cerewet terhadap anak anaknya, namun bu Sanusi adalah seorang ibu yang penuh dengan cinta kasih terhadap siapapun terlebih kepada anak anaknya,
Rezza maupun Ana selalu tetap menghormati dan menyayangi ibu mereka, dan merekapun menyadari semua yang dilakukan oleh ibunya adalah demi kebaikan mereka berdua.
Rezza maupun Ana tak pernah membantah perintah dari ibunya,jika mereka memiliki pemikiran yang berbeda dengan ibu mereka,maka mereka akan mencari cara bagaimana supaya ibunya bisa menerima pendapat mereka tanpa membuat ibunya merasa tersinggung.
Tiga hari telah berlalu,bu Sanusi sudah diperbolehkan pulang,Rezza belum mengatakan pada ibunya jika Tiya telah pergi dari rumah dan Rezzapun belum ngenjelaskan pada ibunya mengenai pernikahannya dengan Amel.
Bu Sanusi ngotot ingin segera kembali kekota S melalui pak Jono.Rezzapun tak bisa mencegah kemauan dari ibunya sebab Rezza sangat hafal dengan sifat ibunya yang keras kepala, dan saat inipun ibunya masih mendiamkannya,Rezzapun tak mau menambah masalah dengan ibunya.
Rezza berencana menjemput pak Sudiman setelah ia sampai dikota S nanti untuk kerumanya dan mengundang Roni pula,supaya pak Sudiman dan Roni bisa menjelaskan tentang pernikahannya dengan Amel.
Sedangkan Tiya telah tinggal dengan kakung dan utinya dikota J selama tiga hari ini,Tiya tak menceritakan masalah rumah tangganya kepada kakung dan utinya,agar kedua orang tua itu tidak merasa risau.
Tiya hanya beralasan merindukan mereka berdua sehingga Tiya ingin tinggal lama dengan kakung dan utinya.
Semenjak hari pertama Tiya sampai dikediaman kakung dan utinya,Tiya memang merasa kurang sehat.
Tiya mengira itu hanyalah sebab dia terlalu kecapeean dan pola makannya yang kurang teratur sehingga asam lambunggnyapun menjadi naik,dan kepalanya terasa pusing.
Setiap Tiya mencium aroma makanan ataupun Roma yang menyengat, Tiyapun langsung lari kekamar mandi untuk mengeluarkan semua isi perutnya.
Melihat kondisi Tiya yang tak kunjung membaik,kakung dan untinyapun merasa cemas, lalu utinya membawa Tiya kepuskesmas yang berada dikampung sebelah,mereka pergi dengan menaiki angkot desa.
Setelah sampai dipuskesmas Tiya dan utinyapun harus menunggu antriyan untuk dipanggil oleh petugas kesehatan,setelah beberapa saat nama Tiyapun dipanggil dan diminta masuk keruang perawatan.
Dokter memeriksa keadaan Tiya, kemudian Tiyapun diminta masuk keruang kebidanan,Tiya merasa heran dengan arahan dari dokter tersebut,namun Tiyapun melakukan apa yang diarahkan oleh dokter tadi.
Diruang kebidanan Tiya diminta kekamar mandi untuk mengambil air seninya,Tiyapun semakin bingung dengan permintaan dari bidan tersebut.Setelah selesai Tiyapun menyerahkan air seninya kepada bidan yang memeriksanya tadi.
Kemudian setelah beberapa saat menunggu hasilnya, bidan itu mengatakan "selamat bu Artiya anda hamil,sekarang janin anda berusia 5 minggu dihitung dari terakhir anda datang bulan".
Tiya sangat terkejut dengan apa yang bidan itu katakan barusan,Tiya merasa sangat bahagia dan terharu dengan kabar tersebut,antara percaya dan tidak percaya Tiyapun mengucap syukur kepada sang pencipta.
Dalam hati Tiyapun berkata "mas kita akan punya bayi,sekarang dia tumbuh dalam kandunganku mas",
air mata Tiyapun mengalir mengingat masalah yang sedang dihadapinya, disaat Tiya sedang merasa sedih Allah telah memberikan kebahagiaan yang tiada tara kepadanya,berkali kali Tiyapun mengucap syukur kepada sang pencipta.
Sesudah mengisi formulir data diri Tiyapun keluar dengan wajah bahagia dan mengatakan kabar gembira itu pada kakung dan utinya,dan mereka pun merasa bahagia sebab sebentar lagi akan dipanggil mbah uyut.
Rezza,bu Sanusi dan pak Jono telah sampai dikota S setelah magrib, setelah turun dari mobil,Rezza langsung menghubungi pak Sudiman dan Roni sahabatnya,dia mengundang mereka supaya datang kerumahnya esok hari,untuk membantu Rezza menjelaskan kepada bu Sanusi tentang pernikahannya dengan Amel.
Sedangkan bu Sanusi buru buru masuk kedalam rumah,ia ingin segera menemui mantunya yang sudah ia rindukan.
"yu...Tiya ning ngendi kok ora ketok kie?"(kak Tiya kemana kok nggak kelihatan?)
mbok Sugipun gelagepan tak bisa mwnjawab pertanyaan dari bu Sanusi,dia hanya berkata " sekedap njih bu"(sebentar ya bu).
lalu mbok Sugi mengambil sebuah surat dari dalam saku roknya dan menyerahkannya pada bu Sanusi "ini ada titipan dari mbak Tiya bu"
"surat opo iki yu"(surat apa ini kak?)
"dari mbak Tiya untuk ibu",ucap mbok Sugi sopan namun merasa cemas.
dengan penasaran bu Sanusi membuka surat itu lalu membacanya.
Dalam surat itu Tiya meminta maaf kepada ibu mertuanya sebab dia pergi tanpa berpamitan langsung kepada beliau,Tiyapun mengucapkan terimakasih sebab bu Sanusi sudah menyayanginya seperti putrinya sendiri,Tiya juga memberikan selamat kepada bu Sanusi sebab sebentar lagi beliau akan mendapatkan cucu dari Rezza dan Amel.
Saat membaca surat dari dari Tiya,air mata bu Sanusipun tak henti hentinya mengalir,lalu diapun bertanya pada mbok Sugi "kapan Tiya perginya yu?"
"sudah tiga hari yang lalu bu" jawab mbok Sugi dengan sopan.
Lalu mbok Sugipun menceritakan bahwa Tiya berpamitan padanya untuk menyusul bu Sanusi tanpa sepengetahuan bu Sanusi,sebab Tiya ingin memastikan keadaan bu Sanusi baik baik saja sampai tujuannya.
Mendengar cerita dari mbok Sugi,bu Sanusipun menghela nafas panjang lalu menghembuskannya,iapun mengusap air matanya yang tak berhenti mengalir.
"jadi Tiya sudah Tau semuanya"ucap bu Sanusi penuh sedih dan sesal,
dengan wajah yang sulit dibaca, bu Sanusipun masuk kedalam kamarnya tanpa berkata sepatah katapun.
Rezza yang sedari tadi masih sibuk menelpon diluarpun masuk kedalam rumah,
"mbok ibu sudah istirahat?" tanyanya pada mbok Sugi,
"sudah mas bagus"
"tadi setelah mbaca surat dari mbak Tiya..",mbok Sugi belum juga menyelesaikan perkataanya, Rezza sudah memotongnya "aapaa?"
"kenapa suratnya dikasih keibu sih mbok?" tanya Rezza penuh kecewa,
"lho...lha emang surat itu untuk ibu to mas?" jawab mbok Sugi tak mengerti dengan maksud Rezza,
"ibu itu..,habis dirawat dirumah sakit tiga hari kemaren,
mbok!" jelas Rezza,
"mangkaya nggak bisa langsung pulang","beliau nggak boleh kecapeekan sama nggak boleh terlalu banyak pikiran dulu!" lanjut Rezza,
"ooo...yo mbok nggak tau to mas"
"wong embok nggak ada yang ngasih tau kalo ibu habis mondok dirumah sakit" jawab mbok Sugi merasa bersalah.
"ya sudah,Rezza tak kekamar ibu dulu ya mbok" ucap Rezza sopan tanpa menyalahkan mbok Sugi,
Rezzapun mengetuk pintu kamar ibunya,kemudian membukanya.
Dengan pelan Rezza duduk disamping kaki ibunya lalu memijitnya dengan lembut sambil berkata,
"ibu Rezza minta maaf ya bu,Rezza sudah salah sama ibu",
bu Sanusi memilih berpura pura tidur mendengar ucapan permintaan maaf dari putranya tersebut,
"ibu Rezza tau ibu sangat kecewa dengan kelakuan Rezza"
"Rezza minta maaf ya bu",
"besuk siang,pak Sudiman dengan Roni akan datang kesini",
"mereka yang akan menjelaskan semuanya pada ibu",
"dan setelah semuanya jelas,Rezza harap ibu bisa mengerti dengan keputusan Rezza ya bu"
mendengar perkataan dari Rezza,bu Sanusipun merasa penasaran ternyata pak Sudiman dan Ronipun sudah tau tentang pernikahan Rezza.
Namun bu Sanusi masih tetap memilih diam tak mau bertanya ataupun meminta penjelasan pada Rezza.
Melihat ibunya yang masih menyimpan kekecewaan padanya,dan masih berkeras hati mendiamkannya,Rezzapun mengalah dan berpamitan untuk keluar dari kamar ibunya.
Kemudian Rezza langsung naik kekamarnya ingin beristirahat sambil memikirkan bagaimana mencari Tiya besuk,Rezza sangat merasa lelah,namun pikirannya tak bisa tenang sebelum menemukan Tiya dan membawanya kembali kepelukkannya.
Didalam kamar hati Rezza terasa perih,mendapati istrinya tak disana,kamar itu terasa sangat dingin tak sehangat biasanya,Rezza terbayang kenangannya bersama dengan Tiya dikamar itu.
Dibukanya almari tempat Tiya menyimpan pakaian dan barang barang milik Tiya,disana masih tergantung baju baju Tiya yang dibelikan oleh Rezza dulu,
ternyata Tiya hanya membawa baju baju yang dibawanya sebelum Tiya menikah dengan Rezza,hati Rezza terasa teriris dan dalam hatinyapun berkata,
" bahkan setelah kamu pergi,kamu tak sudi membawa barang pemberianku sayang?"
"begitu kecewanyakah kamu padaku sayang?"
"kenapa kamu tak mau menungguku kembali ?", "dan meminta penjelasan dariku sayang?",
"kenapa...?"
"kenapa kamu pergi tinggalin aku?",
"padahal kamu sudah berjanji tidak akan pergi dariku,meski apapun yang akan terjadi?" rintih hati Rezza dalam kesedihannya.
"maafkan aku sayang",
"maafkan aku", ucap Rezza dalam tangis pilunya,lalu iapun mengambil sehelai baju milik istrinya dan memeruknya erat,seolah olah yang dipeluknya adalah Tiya istrinya.