"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Aroma Rahasia dan Kilat Kecemburuan
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden sutra di kamar utama penthouse. Viona terbangun dengan rasa hampa yang langsung menyergap dadanya begitu mendapati sisi ranjang di sebelahnya sudah dingin dan kosong. Arkan sudah pergi. Pria itu selalu seperti hantu; datang membawa badai gairah di malam hari, lalu lenyap sebelum embun pagi menguap, meninggalkan Viona dengan sisa rasa sakit dan aroma tubuhnya yang tertinggal di bantal.
Viona menghela napas panjang, menatap langitlangit kamar yang tinggi. Dia tidak boleh membiarkan dirinya larut dalam kesedihan. Hidup ganda ini harus terus berjalan. Di malam hari, dia adalah wanita simpanan rahasia dari CEO Mahendra Group. Namun di siang hari, dia harus kembali menjadi Viona yang biasa seorang pegawai administrasi di sebuah perusahaan logistik kelas menengah yang berjuang demi menghidupi ibunya.
Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian kerja yang sangat sederhana jauh dari kesan mewah yang biasa Arkan tuntut saat mereka berdua Viona bergegas keluar. Dia sengaja tidak menyentuh sarapan mewah yang sudah disiapkan oleh pelayan pribadi kiriman Arkan. Menikmati fasilitas itu terlalu sering hanya akan membuatnya lupa daratan dan lupa akan batasan kontrak mereka.
Suasana kantor tempat Viona bekerja siang itu cukup riuh. Di kubikelnya yang sempit, Viona sibuk memeriksa laporan manifes barang ketika sebuah bayangan tinggi tibaearth menghalangi cahaya lampu di atas kepalanya.
"Viona, kau melamun lagi?"
Viona tersentak dan mendongak. Di hadapannya berdiri Rendy, supervisor divisinya sekaligus pria yang sudah menjadi sahabat dekatnya sejak masa kuliah. Rendy tersenyum hangat, menyodorkan segelas es kopi susu kesukaan Viona. Pria itu selalu tahu bagaimana cara mencairkan ketegangan Viona.
"Ah, Kak Rendy. Maaf, aku hanya sedikit kelelahan," ujar Viona sambil menerima kopi itu dengan senyum sungkan.
Rendy menarik kursi kosong di dekat kubikel Viona lalu duduk di sana. Tatapannya berubah khawatir saat mengamati wajah Viona yang sedikit pucat dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya. "Beberapa minggu terakhir ini kau selalu kelihatan lelah, Vio. Kalau ada masalah keuangan atau... soal ibumu di rumah sakit, kau bisa cerita padaku. Kau tahu kan aku selalu ada untukmu?"
Katakata tulus Rendy justru membuat dada Viona terasa sesak. 'Jika kau tahu apa yang kulakukan setiap malam untuk membayar biaya rumah sakit itu, Kak, kau pasti akan membenciku,' jerit Viona dalam hati.
"Semua sudah aman, Kak. Ibuku sudah mendapatkan perawatan terbaik sekarang," jawab Viona, mencoba tersenyum senatural mungkin. Dia meremas cangkir kopi plastiknya, menyembunyikan getar di tangannya.
Rendy menghela napas lega, namun tangannya tibatiba terulur untuk merapikan seuntai rambut Viona yang jatuh menutupi wajahnya. "Baguslah kalau begitu. Tapi jangan lupakan kesehatanmu sendiri. Nanti malam, mau makan malam bersamaku? Ada kedai ramen baru di dekat sini."
Viona terpaku. Ajakan itu terdengar sangat normal bagi sepasang sahabat, namun status kontraknya dengan Arkan seketika terbayang seperti alarm bahaya di kepalanya. Dia harus berada di penthouse sebelum pukul delapan malam.
Sebelum Viona sempat menyusun kalimat penolakan yang halus, suasana di lantai kantor mereka mendadak berubah tegang. Suara langkah kaki yang tegas dan berwibawa terdengar dari arah pintu masuk utama, diikuti oleh bisikbisik panik dari para staf dan jajaran direksi yang tibatiba membungkuk hormat.
Viona menoleh ke arah sumber keributan, dan jantungnya serasa merosot ke lambung.
Arkan Mahendra berjalan masuk ke dalam area kantor logistik yang relatif kecil itu.
Pria itu mengenakan setelan jas tiga potong berwarna abuabu gelap yang dipotong sempurna, memancarkan aura dominasi mutlak yang langsung membekukan atmosfer ruangan. Di belakangnya, beberapa petinggi perusahaan logistik tempat Viona bekerja tampak mengekor dengan wajah pucat dan peluh dingin, sibuk menjelaskan sesuatu yang diabaikan oleh Arkan.
Mahendra Group baru saja mengakuisisi saham mayoritas perusahaan logistik ini minggu lalu—sebuah fakta yang baru Viona sadari dengan mengerikan saat ini.
Mata elang Arkan menyapu ruangan dengan dingin, mengabaikan semua tundukan hormat di sekitarnya. Dan dalam hitungan detik, tatapan tajam itu langsung terkunci pada kubikel sudut tempat Viona berada. Lebih tepatnya, tatapan Arkan tertuju pada tangan Rendy yang masih berada di dekat wajah Viona, serta kedekatan posisi duduk mereka berdua.
Viona bisa melihat dengan jelas bagaimana rahang tegas Arkan mengeras seketika. Kilat kemarahan dan posesif yang pekat mendadak menyala di manik mata hitam pria itu. Atmosfer di sekitar Arkan mendadak turun drastis menjadi sangat dingin dan mengintimidasi.
"Tuan Mahendra, ini adalah divisi administrasi utama kami..." Direktur Utama perusahaan mencoba menjelaskan, namun Arkan mengangkat satu tangannya, menghentikan kalimat sang direktur tanpa menoleh sedikit pun.
Arkan melangkah mendekat ke arah kubikel Viona. Setiap ketukan sepatunya di atas lantai ubin terasa seperti vonis mati bagi Viona. Gadis itu berdiri dengan tubuh gemetar, sementara Rendy yang merasakan aura permusuhan insting langsung ikut berdiri di samping Viona, mencoba bersikap protektif tanpa tahu siapa pria raksasa di hadapannya ini.
Arkan berhenti tepat di depan kubikel. Jarak mereka hanya terpisah sekat meja tipis. Bau parfum maskulin bercampur palo santo yang sangat familier bagi Viona semalam, kini menguar di udara kantor yang pengap, mengklaim wilayah kekuasaannya.
"Jadi, begini cara karyawan di sini menghabiskan jam kerja mereka?" suara bariton Arkan terdengar sangat rendah, tenang, namun menyimpan ancaman yang sangat nyata. Matanya menatap tajam ke arah Rendy, seolah ingin menguliti pria itu hiduphidup.
Rendy memberanikan diri angkat bicara. "Maaf, Tuan. Saya hanya sedang memastikan staf saya dalam kondisi baik untuk bekerja."
Arkan mendengus sinis, sebuah tawa meremehkan yang membuat semua orang di ruangan itu menahan napas ketakutan. "Memastikan kondisi? Atau menggunakan jam kerja untuk urusan pribadi yang murahan?"
Wajah Rendy memerah mendengar sindiran kasar itu, namun sebelum dia sempat membalas, Viona dengan cepat memotong. Dia tahu betul betapa kejamnya Arkan jika sedang murka; pria ini bisa menghancurkan masa depan Rendy dalam sekejap mata.
"Maafkan kami, Tuan Mahendra. Ini salah saya. Saya yang kurang sehat sehingga mengganggu waktu Supervisor Rendy. Ini tidak akan terulang lagi," ucap Viona sambil menundukkan kepalanya dalamdalam, menolak untuk menatap mata Arkan. Suaranya bergetar menahan takut sekaligus malu karena menjadi pusat perhatian seluruh kantor.
Melihat Viona yang membela pria lain di depannya dan menyebut pria itu dengan nada hormat, ego dan kecemburuan Arkan benarbenar terbakar. Rahangnya mengatup rapat hingga uraturat di lehernya menegang. Pria posesif itu tidak tahan melihat wanita miliknya berinteraksi sedekat itu dengan pria lain, apalagi di tempat yang tidak bisa dia kendalikan sepenuhnya.
Arkan mendekatkan tubuhnya ke arah sekat meja, menatap ubunubun Viona yang masih menunduk.
"Pastikan pekerjaanmu selesai dengan benar, Karyawan Viona," bisik Arkan dengan penekanan yang amat dalam pada namanya, sebuah pesan tersirat yang hanya dipahami oleh mereka berdua. "Karena aku tidak suka barang yang sudah kubayar mahal... rusak atau tidak berguna karena kelalaian penggunanya."
Kalimat itu bagaikan tamparan keras di wajah Viona di hadapan rekanrekan kerjanya, meskipun mereka tidak memahami arti sebenarnya dari kata 'dibayar mahal'. Air mata Viona merebak di pelupuk mata, namun dia sekuat tenaga menahannya agar tidak jatuh.
Arkan berbalik dengan kasar, memutar tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan ruangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi kepada direksi. Rombongan petinggi itu langsung berlarian mengekor di belakangnya dengan panik.
Setelah pintu kaca besar itu tertutup, seluruh lantai kantor mengembuskan napas lega yang serentak, namun bisikbisik gosip langsung menyebar bagai virus. Semua mata kini tertuju pada Viona.
Rendy menyentuh bahu Viona yang gemetar. "Vio, kau tidak apaapa? Pria itu... dia keterlaluan. Kenapa dia harus sekasar itu padamu?"
Viona perlahan melepaskan tangan Rendy dari bahunya. Dia menggeleng lemah tanpa mengangkat wajahnya yang sudah basah oleh satu tetes air mata yang lolos. "Aku tidak apaapa, Kak. Tolong... biarkan aku sendiri dulu."
Viona tahu, malam ini penthouse lantai tiga puluh enam tidak akan lagi menjadi tempat yang tenang. Singa yang sedang cemburu itu telah terbangun, dan dialah yang harus menghadapi amukannya nanti malam.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.