"Lu ngapain tidur di samping gue?"
Gimana jadinya, kalau tiba-tiba bos mu yang galak kebangun di samping kamu tidur? Nggak kebayang, kan? Mana malah disalahpahami sama warga dan dikira udah berbuat mesum. itulah yang terjadi sama Galuh. Seorang single Mom yang berjuang untuk bertahan hidup. Yuk baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
BAB 11: JARAK YANG PERLAHAN MEMUDAR
Ranu memejamkan mata sesaat.
Dadanya naik turun menahan gelisah. Dari balik pintu, suara isak Galuh terdengar semakin pelan, tapi justru itu membuatnya makin khawatir.
"Galuh," panggilnya lagi, berusaha menenangkan suaranya. "Kau masih sadar?"
"Iya..."
"Bagian mana yang sakit?"
"Kaki... sama leher... aku nggak bisa berdiri..."
Ranu mengusap wajahnya kasar.
"Aku masuk."
"Jangan!" suara Galuh langsung meninggi. "Aku belum pakai baju..."
"Aku tahu."
"Jangan masuk..."
"Kalau aku nggak masuk, siapa yang nolong kau?"
Galuh terdiam. Isaknya terdengar semakin lirih.
"Aku malu..."
"Aku lebih takut kau kenapa-kenapa."
Tak ada jawaban lagi.
Ranu menarik napas panjang sebelum perlahan membuka pintu kamar mandi.
Pandangannya sengaja diarahkan ke rak handuk lebih dulu. Tangannya cepat mengambil handuk paling besar, lalu mendekati Galuh tanpa banyak melihat ke arah lain.
Galuh terlentang di lantai dingin karena tubuhnya terlalu kaku digerakkan. Wajahnya memerah sangat malu, melebihi tubuhnya yang sakit.
Ranu langsung membentangkan handuk itu, menyelimutinya hingga seluruh tubuh wanita itu tertutup rapat.
"Sudah..." ucapnya pelan. "Pegang yang kuat."
Galuh menggigit bibir.
"Maaf..."
"Kenapa minta maaf?"
"Karena merepotkan..."
Ranu menggeleng.
"Jangan bicara."
Ia menyelipkan satu tangan di bawah lutut Galuh dan tangan satunya menopang punggungnya.
"Aah... Leherku..."
Galuh meringis begitu tubuhnya terangkat.
"Sakit?"
"Iya..."
"Maaf."
Ranu mengangkatnya hati-hati keluar dari kamar mandi.
Galuh refleks menyembunyikan wajah di dada Ranu karena malu luar biasa.
"Jangan lihat aku..."
"Aku sedang lihat jalan."
Ucapan datar itu justru membuat pipi Galuh semakin panas. Sesampainya di kamar, Ranu mendudukkan Galuh di tepi ranjang.
"Kau bisa pakai baju sendiri?"
Galuh mengangguk pelan.
"Bisa..."
"Aku keluar."
Ranu langsung membalikkan badan.
"Kalau sudah selesai, panggil aku."
"Iya..."
Ranu menutup pintu, lalu mengusap tengkuknya sendiri. Entah kenapa jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Beberapa menit kemudian suara Galuh terdengar.
"Sudah..."
Ranu kembali masuk. Galuh sudah mengenakan pakaian longgar, tetapi wajahnya masih merah padam.
"Kita ke rumah sakit."
"Nggak usah..."
"Kau nggak bisa berdiri."
"Aku cuma keseleo."
"Kalau tulangnya retak bagaimana?"
Galuh tak mampu membantah lagi.
Di ruang tamu, Arkan langsung menghampiri.
"Mama gimana?"
"Mama harus ke rumah sakit sebentar."
"Aku ikut."
Ranu mengusap kepala anak itu.
"Tidak. Kau tunggu di rumah sama Bi Inah."
"Tapi Arkan takut."
"Aku janji cepat pulang."
Arkan memeluk Galuh sebentar.
"Mama jangan sakit lama-lama ya."
Galuh tersenyum tipis.
"Iya, Sayang."
Ranu kembali menggendong Galuh menuju mobil. Sepanjang perjalanan, tak banyak kata terucap.
Galuh lebih banyak menatap ke depan, berharap rasa malunya ikut hilang bersama lampu-lampu kota yang mereka lewati. Sementara Ranu sesekali meliriknya.
"Kau pusing?"
"Enggak."
"Kalau sakit bilang."
"Hm."
Di rumah sakit, Dokter selesai memeriksa sekitar setengah jam kemudian.
"Hasilnya cukup baik," ujar dokter sambil tersenyum. "Tidak ada patah tulang. Hanya keseleo di pergelangan kaki dan otot leher tertarik akibat benturan."
Galuh menghela napas lega.
"Syukurlah."
"Tapi tetap harus istirahat beberapa hari. Jangan terlalu banyak berjalan."
Dokter memasangkan penyangga leher dan membalut kaki Galuh.
"Nanti obatnya diminum sesuai aturan."
"Baik, Dok."
Keluar dari ruang pemeriksaan, Galuh berjalan pelan sambil sedikit pincang. Ranu otomatis menopang lengannya.
"Aku bisa jalan."
"Aku tahu."
"Tapi..."
"Kalau jatuh lagi bagaimana?"
Galuh langsung diam. Di dalam mobil, suasana kembali hening. Beberapa kali Galuh mencuri pandang ke arah Ranu.
"Pak..."
"Hm?"
"Maaf..."
"Karena?"
"Tadi..."
"Yang di kamar mandi?"
Galuh langsung menutup wajah.
"Iya..."
Ranu justru tersenyum tipis.
"Aku tidak lihat apa-apa."
"Bohong."
"Aku memang sengaja tidak melihat."
Galuh makin malu hingga ingin memalingkan wajah, tapi tak bisa. "Uuuhh repot sekali kalau sakit leher begini," keluhnya dalam hati.
****
Sesampainya di rumah, Arkan sudah menunggu di depan pintu.
"Mama!"
Anak itu langsung memeluk Galuh hati-hati.
"Loh... Mama pakai ini?" tanyanya sambil menunjuk penyangga leher.
Galuh tertawa kecil.
"Ini biar leher Mama cepat sembuh."
"Lucu."
"Lucu?"
"Iya. Kayak robot."
Ranu terkekeh pelan. Arkan kemudian bertepuk tangan.
"Berarti besok Mama libur?"
"Iya."
"Hore!"
Galuh hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah putranya.
****
Pagi berikutnya. Galuh sudah bangun lebih dulu. Ia mencoba berdiri sambil menahan nyeri.
"hati-hati." Suara Ranu membuatnya menoleh.
"Aku mau kerja."
"Tidak."
"Aku masih sanggup."
"Kau bahkan jalan masih pincang."
"Kalau aku nggak masuk, pekerjaan..."
"Aku yang urus."
Galuh mengernyit.
"Tapi biasanya aku..."
"Galuh."
Nada suara Ranu membuatnya berhenti bicara.
"Istirahat."
Galuh mengembuskan napas.
"Baiklah."
"Nanti kalau sudah sembuh, baru kerja lagi."
"Iya."
****
Di kantor.
Baru satu jam bekerja, Ranu mulai merasa ada yang berbeda.
"Galuh."
Tak ada jawaban. Ia baru sadar meja di samping ruangannya kosong. Beberapa menit kemudian.
"Galuh, tolong siapkan..."
Kalimatnya menggantung. Keningnya berkerut sendiri. Saat rapat berlangsung pun kebiasaan itu terulang.
"Galuh, tampilkan laporan..."
Seluruh peserta rapat saling berpandangan. Ranu berhenti bicara.
"...Maaf."
Ia mengusap pelipisnya.
"Lanjutkan."
Setelah rapat selesai, Ranu masuk ke ruangannya dengan langkah berat. Ruangan terasa jauh lebih sunyi. Ia menyandarkan tubuh di kursi, lalu memejamkan mata.
Entah kenapa... Bayangan masa lalu kembali muncul. Wajah Ning. Senyumnya. Tatapan lembut wanita yang tak pernah seharusnya memenuhi pikirannya. Ranu membuka mata cepat.
"Tidak."
Ia mengambil ponsel. Namun yang muncul justru status WhatsApp Mamanya. Foto Anggun sedang tersenyum bersama Ning. Perut Ning kini sudah membuncit. Ranu menatap foto itu cukup lama. Dadanya terasa sesak.
"Itu bukan jalanku lagi..."
Ia langsung menutup ponsel dan memaksa dirinya kembali bekerja.
Sore hari. Begitu membuka pintu rumah, suara tawa Arkan langsung menyambutnya.
"Papa pulang!"
Ranu tersenyum tipis. Di ruang tengah, Galuh sedang duduk sambil membaca buku cerita untuk Arkan. Wajahnya tampak jauh lebih segar. Ranu mendekat.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Masih agak nyeri."
"Sudah minum obat?"
"Sudah."
Ranu mengangguk.
"Arkan."
"Iya, Pa?"
"Papa haus."
"Aku ambilin!"
Arkan langsung berlari menuju dapur.
"Astaga, Arkan!" seru Galuh spontan. "Jangan lari, nanti jatuh!"
Ranu tertawa kecil.
"Kau ternyata cerewet juga."
Galuh mendengus.
"Namanya juga anak kecil."
Ranu duduk di sampingnya.
"Masih malu?"
Galuh langsung menatapnya. "Apanya?"
"Yang tadi malam."
Wajah Galuh berubah merah dalam sekejap.
"Aku sudah bilang jangan dibahas."
"Kenapa?"
"Karena... karena memalukan."
"Aku sudah bilang tidak lihat."
"Bapak masih ingat juga."
"Kalau kau terus merah begitu, bagaimana aku bisa lupa?"
"Pak Ranu!"
Galuh memukul pelan lengan pria itu.
"Jangan ledek saya."
Ranu tersenyum.
"Lumayan lucu."
"Bapak..."
Galuh mendengus kesal sambil memalingkan wajah. Saat itulah Ranu memperhatikan wajah wanita itu beberapa saat. Tatapan mereka bertemu. Tak ada suara. Tak ada Arkan. Tak ada apa pun selain degup jantung yang tiba-tiba terasa begitu jelas. Tanpa sempat berpikir panjang, Ranu mengangkat dagu Galuh perlahan.
Galuh membelalakkan mata. "P-Pak..."
Ranu menunduk. Bibirnya menyentuh bibir Galuh...
eh malah bumer udah minta mantunya cepetan hamil, ayo di gas ranu jgan kelamaan 😂😂
double up