Bagaimana jika kamu menyukai adik tirimu sendiri? Itulah yang di rasakan oleh Renzo pemuda tampan yang begitu menggilai adik tirinya yang begitu manis dan polos.
"Keluar selangkah lagi, besok kamu gak akan bisa berjalan lagi. Baby!"
Renzo mengendus leher adik tirinya yang sudah menangis ketakutan.
"No, Abang jangan lakuin itu ...,"
tangisan, permohonan adik tirinya begitu candu bagi Renzo, dirinya akan semakin dominan jika adik tirinya menangis memohon ampun di bawahnya!
"You're driving me crazy darling!"
. . .
"ini salah, kita saudara, kita tidak boleh seperti ini!"
Menghadapi fantasi gila Abang tirinya membuat Nazila hampir hilang arah, hidupnya merasa tidak tenang!
baca dulu 10 bab 😁 biar tau alurnya 🤓🥀🙃💐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _yan08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter. 27
Tak sampai di situ Nazila kembali di bully oleh anak kelas lain yang tujuannya sama, memang tidak masuk akal bully anak orang cuma karena dekat dengan orang terkenal seperti Leo contohnya.
"Lo itu masih kecil, gak usah kegagalan deketin cowok orang sana sini!" sinis seorang gadis berambut sebahu.
"Kecil-kecil dah jadi l*nte aja kau ini!" sahut yang lainnya, kali ini mereka berjumlah lima orang. "Kita telat buat bully kau anak kecil, keduluan si Chelsea kita!" lanjutnya.
"Udah cabut aja, besok kita bully dia, gak seru kalo udah kek gini!"
Pada akhirnya mereka pergi, meninggalkan Nazila yang sudah membiru dengan badan bergetar. "Sakit, dingin ...." Gumamnya bergetar hebat di tambah rasa nyeri di perut bawahnya yang semakin hebat, darah yang sempat berhenti mengalir kini kembali merembes keluar.
Di sisi lain Liana panik dengan kepergian Nazila, tetapi dirinya sempat berpikir mungkin Nazila pergi dengan seseorang dan kembali dengan keadaan berantakan, kali ini dirinya begitu cemas sehingga pergi berlari menyusul ke toilet meskipun dirinya berpikir lagi pasti anak itu tidak ada di sana.
"Udah deh yang penting gue udah periksa, bodo'amat kalo gak ketemu!" kesalnya dengan napas tersengal-sengal sehabis berlari.
Liana membuka pintu toilet alangkah terkejutnya dirinya saat melihat Nazila bersandar dengan keadaan yang sangat mengenaskan, dengan spontan dirinya berteriak sehingga menarik perhatian para pengunjung toilet laki-laki.
"Lia bantuin Zila, ini sakit," ucapnya dengan nada terbata-bata tak mampu berbicara lancar tubuhnya serasa remuk redam.
"Tolong, siapapun di luar tolong!" teriak Liana memeluk Nazila yang sudah terkulai lemas, matanya tak sengaja melihat gumpalan daging yang sangat kecil itu, tetapi dirinya terlanjur panik.
"Kenapa woy?!" panik para anak laki-laki yang kebetulan berada di depan toilet lalu membuka pintunya, mereka berenam cukup terkenal. "Ini kenapa bisa kek gini?" tanyanya melihat keadaan Nazila.
"Gak tau, aku juga lihatnya udah kek gini, ayo tolong bantu bawa," tangis Liana menyerahkan tubuh Nazila untuk di angkat oleh keenam lelaki itu.
Mereka menjadi pusat perhatian karena keluar dari dalam toilet perempuan di tambah dengan keadaan Nazila yang sudah pingsan tak berdaya.
"Minggir woy! Jangan ngehalangin jalan, darurat ini!" teriak mereka menyuruh para siswa dan siswi di lorong koridor atas untuk minggir.
Sedangkan di sisi lain para anggota KKN tengah berkumpul di ruangan yang di sediakan khusus untuk mereka dengan Liam yang asik menscroll Instagram untuk melihat yang bening-bening butuh asupan dia. Sehingga dirinya tak sengaja melihat video yang baru saja di posting masih nol penonton menunjukkan seseorang yang sedangkan menggendong seorang gadis dengan kaki berlumuran darah.
"Bjir ini di sekolah kita, wih siapa yang pingsan?" pekik Liam menarik perhatian mereka berempat. Liam dengan segera masuk ke grup chat untuk mencari informasi.
+62832**** ⁹'³⁴
Siapa sih yang pingsan, plis Jawa?
+62831**** ⁹'³⁵
Gak bisa bang gue Palembang
+62803**** ⁹'³⁹
Katanya itu anak kelas 10 IPS B ya?
+62836**** ⁹'⁴²
Iya, kok bisa pingsan gitu, mana ada darahnya lagi
+62568**** ⁹'⁴⁶
Gue duga sih itu pasti habis di bully, you now lah sama sekolah kita
+62768**** ⁹'⁴⁸
Itu kalo gak salah namanya Nazila anak kelas 10 IPS B di konfirmasi dari pihak guru dia mengalami perundungan sehingga pingsan di tempat, kejadian di ketahui lewat cctv sekolah yang menampilkan delapan siswi perempuan melakukan perundungan secara berkelompok.
+62337**** ⁹'⁵⁰
Kejam amat cok, ꈍᴗꈍ
+62890**** ⁹'⁵¹
Hati-hati besok Lo yang di bully
"Ren, gawat Ren, adek Lo kena bully dia pingsan di toilet anjir!" pekik Liam berlari menyusuri koridor yang sedikit ramai.
Lorenzo yang mendengar itu seketika mengubah atmosfer bumi saking dinginnya, siapa orang yang berani mengganggu gadisnya? Apa orang itu ingin mencari mati?
Di dalam UKS anak PMR menyimpulkan bahwa darah yang keluar dari selan*kangan Nazila adalah darah haid yang mengalami pendarahan mungkin akibat benturan keras. Karena dokter sekolah tidak masuk jadi mereka yang membantu menangani Nazila yang kini masih pingsan.
Liana menangis menunggu Nazila sadar, kejam sekali orang yang membully temannya ini dia tidak menyangka sekolah yang di tempatinya ini ada hal semacam ini! Mendengar konfirmasi dari pihak sekolah barusan membuatnya terkejut.
"Keluar!" desis Lorenzo masuk ke dalam UKS mengusir mereka yang ada di sana.
Liana yang berada di pojokan menyerngit bingung ada apa dengan para KKN ini ada hubungan apa dia dengan temannya. "Kakak mau ngapain?" tanya Liana menatap penuh selidik pada Lorenzo, Veroza dan Liam, Damian dan Zex mereka tidak ikut.
"Gue bilang keluar!" desisnya menatap tajam Liana yang sedikit ketakutan.
"Jawab dulu, kalian ma--"
"Udah ya cantik kita keluar aja!" Lerai Liam menarik kasar lengan Liana yang sedikit memberontak.
.
.
Saat jam pelajaran Lorenzo membawa pergi Nazila dari sekolah menuju rumah sakit sebab saat bangun Nazila hanya menangis bergumam 'sakit jadi Lorenzo memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit, masalah kali ini biarkan saja daddynya tau dia tinggal mengurus sisanya saja.
"Apa pasien tengah mengandung?" tanya seorang dokter wanita menatap Lorenzo.
Lorenzo menyerngit bingung? Bagaimana bisa? Dirinya selalu memberikan obat pencegah kehamilan untuk gadisnya, apa gadisnya tidak meminumnya?
"Maksud dokter, adik saya hamil?" tanya Lorenzo pura-pura memastikan.
"Jadi anda kakaknya?" tanya dokter itu dan di jawab anggukan oleh Lorenzo. "Jadi begini dari hasil pemeriksaan yang saya lakukan bahwa adik anda mengalami keguguran, maka dari itu menyebabkan adik anda pendarahan hebat," jelas dokter itu, sedikit penasaran apa pasien yang dia rawat korban pemerkosaan dan keluarganya tidak tau?
Lorenzo mengangguk. "Jika orang tua saya datang dan bertanya hal yang lainnya saya minta anda jangan memberitahukan hal ini, saya tidak mau orang tua saya kepikiran!" beritahu Lorenzo.
"Bukankah bagus jika orang tua kalian tau dan kasus ini bisa di bawa ke jalur hukum? Saya melihat adik anda masih di bawah umur jadi tidak mungkin adik anda sudah menikah." Sahut dokter wanita itu.
Tetapi tak menutup kemungkinan bahwa anak jaman sekarang kecil atau tidaknya jika mereka mau mereka bisa melakukannya, sesimpel itu.
Lorenzo menutup matanya sebentar sebelum amarahnya meledak di tempat. "Denger, lo itu cuma seorang dokter jadi gak usah ikut campur urusan pasien anda! Anda bekerja di sini untuk melayani para pasien bukan untuk ikut campur masalah keluarga saya!" geram Lorenzo menatap tajam dokter wanita di depannya ini. "Saya peringatkan ada dengan cara baik-baik jadi turuti atau saya rusak karir anda!" ancamnya tak main-main membuat dokter wanita itu sedikit takut, lebih baik dia memilih aman manusia di jaman sekarang nekat, tersinggung dikit pindah alam sudah.
Selepas kepergian dokter wanita barusan dirinya langsung menelpon seseorang untuk membersihkan area toilet tempat pembullyan gadisnya, dia ingin menghilangkan gumpalan daging merah yang sialnya itu adalah anaknya. "Sp*rma gue udah jadi aja!" senyumnya tetapi langsung luntur seketika.
Dirinya masuk dan mendapati sang gadis tengah menangis memegang perut bagian bawahnya. “Masih nyeri?” tanyanya penuh dengan kelembutan.
“Sebenarnya apa yang terjadi Abang, kenapa perut Zila sesakit ini?” tanya Nazila begitu lirih.
“Mungkin efek nyeri haid sayang, nanti Abang tanyain sama dokter, jangan nangis lagi.”
Nazila mengangguk, dia suka abangnya yang lembut dan perhatian seperti ini, tidak pemaksa dan pemarah jika ada hal yang tak disukainya. “Abang, Zila mau cerita, tadi se–”
Cup.
“Istirahat sayang, Abang gak mau kamu kecapean, sebentar lagi mommy bakalan datang.”
Nazila mengangguk lemah, tubuhnya juga merasa tak enak yang ada hanya nyeri di pinggangnya, huh seperti tua renta saja.