NovelToon NovelToon
Kapten Basket Itu Suamiku

Kapten Basket Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Perjodohan
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilazahra

Nikah muda? ✅
Nikah online? ✅

Satu kelas sama suami sendiri yang ternyata idola sekolah? Nah, yang ini di luar prediksi BMKG!


Satu tahun lalu, sebuah ijab kabul via video call mengikat takdir Ellea dengan seorang pria di kota. Tanpa cinta, tanpa tatap muka langsung.

Kini, Ellea harus menyusul sang suami ke kota setelah kepergian neneknya. Namun, saat tiba di sana, justru pria itu kabur dari rumah dan takdir membawa mereka untuk bertemu kembali di koridor sekolah.

Pria itu bernama Albiru, pria yang paling dielu-elukan, sang kapten tim basket yang dingin dan tak tersentuh, ternyata adalah pemilik cincin yang sama dengan yang melingkar di jari Ellea.

Bagaimana cara Ellea menyembunyikan rahasia besar ini di depan teman-teman barunya? Dan mampukah sang kapten basket mengenali istrinya sendiri yang bercadar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilazahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan dilepas! Kita sudah Sah

Langkah kaki Albiru melangkah terburu-buru, namun sosok Ellea sudah telanjur masuk ke dalam ruang kelas yang mulai kembali tenang setelah insiden di lapangan basket. Albiru mengusap wajahnya yang terasa kaku karena lebam, menekan ego dan rasa malu yang bergejolak hebat di dalam dada.

Ketika ia melangkah masuk menembus pintu kelas, pandangan matanya langsung terkunci pada barisan meja, di sana, Ellea sudah duduk dengan punggung tegak, menatap lurus ke arah buku paketnya yang terbuka, seolah-olah perdebatan tadi tak mempengaruhi dirinya. Namun, jemarinya yang meremas kuat ujung lembaran kertas buku mencerminkan badai emosi yang sedang ia sembunyikan.

Tanpa memedulikan kasak-kusuk dari murid-murid lain yang mulai memperbincangkan luka di wajahnya, Albiru melangkah lebar dan langsung menggeser kursi di sebelah Ellea, mendudukinya dengan helaan napas berat.

"Masih marah?" tanya Albiru, seraya mencondongkan sedikit tubuhnya ke arah Ellea.

Ellea tidak langsung menjawab. Ia membalik halaman bukunya dengan gerakan lambat, tanpa sekali pun melirik ke arah pria yang kini berstatus sebagai suaminya.

“Ellea!”

"Enggak," balas Ellea singkat, teramat datar hingga terdengar asing di telinga Albiru.

Mendengar jawaban yang begitu ketus, Albiru tahu betul bahwa kata 'enggak' dari seorang wanita terlebih dari Ellea yang biasanya selalu berbicara lembut adalah indikasi bahwa keadaan sedang sangat tidak baik-baik saja.

“Syukurlah, gue kira elo marah lagi?” goda Albiru.

“Untuk apa aku marah? Kak Al, bebas melakukan apa saja, jadi jangan terbebani dengan kehadiran El di sini.”

“Loh, kok gitu bicaranya?” goda Albiru lagi.

Namun, Ellea malah menjauhkan duduknya dengan kesal, sementara Albiru tersenyum.

"Wanita memang aneh," gumam Albiru perlahan.

Jam pelajaran kedua belum dimulai karena guru yang bersangkutan dikabarkan sedang menghadiri rapat darurat terkait insiden baku hantam tadi. Ini adalah kesempatan emas bagi Albiru untuk meluruskan segalanya sebelum situasi bergulir semakin liar.

"Ellea, pulang sekolah ... bisa kita berbicara berdua?" tanya Albiru serius, menatap lekat-lekat profil samping wajah istrinya yang terhalang selembar kain cadar hitam.

Ellea menghentikan gerakan penanya. Matanya terpejam sejenak, menata hatinya yang masih menyisakan rasa perih akibat kalimat kasar Albiru di koridor tadi. "Kenapa nggak di sini aja, Kak? Nggak ada yang perlu disembunyikan lagi, kan?"

"Nggak bisa. Ini soal ... pernikahan kita," ujar Albiru dengan nada yang sengaja direndahkan, memastikan tidak ada satu pun telinga murid lain yang menangkap kata sensitif tersebut.

Kata 'pernikahan' yang diucapkan oleh Albiru seketika membuat Ellea terdiam seribu bahasa. Ada rasa sesak yang mendadak merayap naik ke tenggorokannya. Entah apa yang akan dikatakan pria itu nanti saat mereka hanya berdua. Apakah Albiru akan meminta mengakhiri ikatan suci ini? Ataukah ia akan menegaskan batasan agar Ellea tidak lagi mencampuri urusannya dengan Sandra?

Ketakutan itu nyata. Jauh di dalam lubuk hatinya, Ellea menyadari satu hal yang teramat miris, ia takut kehilangan pria yang kerap kali menorehkan luka di hatinya ini.

"Ya sudah, pulang sekolah El tunggu di rumah," jawab Ellea akhirnya, mengalah karena tidak ingin memperpanjang perdebatan di area sekolah.

"Jangan di rumah. Di sana ada Bunda, nanti dia curiga dan ngira gue nyakitin elo lagi,” jelas Albiru cepat. Ia berpikir sejenak sebelum melanjutkan, "Kita ke taman kota di dekat sini, gimana?"

"Taman?" tanya Ellea, refleks menoleh menatap Albiru dengan gumpalan rasa gugup yang mendadak menyerang pertahanan dirinya.

Sepanjang hidupnya yang dihabiskan di lingkungan pesantren yang terjaga, Ellea belum pernah sekalipun duduk atau berbicara berdua dengan lawan jenis di ruang terbuka publik seperti taman kota. Membayangkan dirinya yang mengenakan pakaian tertutup harus duduk berdua dengan seorang pria di tempat umum membuat hatinya diliputi rasa tidak tenang.

"Ellea?" panggil Albiru lagi, menuntut jawaban karena melihat gadis itu justru melamun.

"Kak ... gimana kalau di rumah saja? Ellea takut kalau di luar nanti ada orang yang lihat, terus mereka salah paham," tutur Ellea, mencoba memberikan alasan yang masuk akal demi menutupi kegugupannya sendiri.

Albiru mendengus pelan, namun ia tidak bisa membantah ketakutan Ellea yang masuk akal. Menampilkan kedekatan mereka di ruang publik memang terlalu berisiko tinggi bagi rahasia mereka.

"Ya sudah, kalau gitu kita bicaranya di kamar saja," tukas Albiru enteng, tanpa beban.

Deg.

Mata abu-abu Ellea seketika membelalak sempurna di balik cadarnya. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.

"Hah? K-kamar?" ucap Ellea terbata-bata, wajahnya mendadak terasa panas di balik kain penutupnya.

"Iya, di kamar gue," balas Albiru santai, meskipun dalam hati ia juga merutuki pilihan katanya yang terdengar ambigu. "Masa di ruang tamu? Kalau Alisa atau Bunda tiba-tiba lewat dan dengar gimana? Kamar itu tempat paling aman buat bicara privat, Ellea. Jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Gue janji, nggak akan macam-macam.”

Ellea buru-buru memalingkan wajahnya kembali ke arah buku paket, menyembunyikan rona merah yang kini sudah menjalar hingga ke daun telinganya. "I-iya, El tahu," cicitnya pelan, mencoba fokus pada tulisan di hadapannya meskipun pikirannya sudah melayang entah ke mana.

Sementara itu, di barisan bangku depan, Sandra duduk dengan menyandangkan tubuhnya ke sandaran kursi. Matanya menyipit tajam, memperhatikan setiap gerak-gerik, bisikan demi bisikan, hingga perubahan gestur tubuh Ellea yang tampak salah tingkah di depan Albiru.

Sandra meremas pulpen di tangannya, meskipun kali ini ia memilih menahan diri dan tidak langsung melabrak seperti di tangga tadi, namun otaknya yang cerdas mulai mencium ada sesuatu yang tidak beres di antara dua orang itu.

"Ok, Al. Kali ini gue mengalah dan biarkan lo dekatin dia," gerutu Sandra dalam hati dengan senyuman miring yang sarat akan kelicikan. "Tapi gue kok nggak yakin ya kalau si cupu bercadar itu cuma sepupu lo? Sepupu macam apa yang bisa bikin seorang Albiru Samudra nekat baku hantam sama Andra dan bertingkah seposesif itu? Gue bakal cari tahu rahasia apa yang sebenarnya lo sembunyiin dari gue, Al."

Waktu berlalu laksana jam pasir yang berjalan lambat bagi Ellea. Sepanjang sisa jam pelajaran hingga bel pulang sekolah berbunyi nyaring pada pukul tiga sore, ia sama sekali tidak bisa fokus menerima materi dari guru. Pikirannya telanjur tersita oleh agenda pembicaraan darurat yang akan terjadi di kamar nanti.

Saat murid-murid lain mulai berhamburan keluar kelas dengan sorak-sorai gembira menyambut akhir pekan, Ellea justru membereskan buku-bukunya dengan gerakan yang teramat lambat. Di sampingnya, Albiru sudah menyampirkan tas ranselnya di satu bahu, berdiri tegap menunggunya tanpa berniat pergi duluan seperti biasanya.

"Ayo, pulang," ajak Albiru pendek.

Ellea mengangguk pelan, berjalan mengekor di belakang tubuh tegap Albiru menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi. Mereka sengaja menjaga jarak sekitar dua meter agar tidak memancing kecurigaan murid lain yang masih berada di area parkiran. Alisa sendiri sudah pulang lebih dulu membuat perjalanan kali ini terasa jauh lebih menegangkan bagi Ellea.

Setibanya di area parkiran motor yang mulai melonggar, Albiru langsung menyambar helm hitam miliknya dan helm cadangan yang sempat ditolak Ellea tadi pagi. Ia menaiki motor sport besarnya, lalu menghidupkan mesin yang langsung menderu halus.

Albiru menoleh, menyodorkan helm itu ke arah Ellea yang masih berdiri mematung di sisi motor. "Ayo naik!” titah Albiru.

Ellea menatap jok belakang motor yang cukup tinggi itu dengan ragu. Membayangkan dirinya harus duduk berdekatan di atas kendaraan roda dua dengan Albiru di lingkungan sekolah membuat hatinya mencelos tak tenang.

"El ... naik angkot saja, Kak," tolak Ellea halus, mundur satu langkah untuk memberi jarak.

"Ellea!" panggil Albiru dengan nada berat yang sarat akan penekanan, tidak menerima bantahan apa pun untuk kali ini. Sorot mata elangnya seolah mengunci pergerakan Ellea, memberi isyarat bahwa menolak sekarang hanya akan menarik perhatian murid-murid yang tersisa di parkiran.

Dengan berat hati dan perasaan campur aduk, Ellea akhirnya menerima helm tersebut. Setelah memasangnya dengan benar, ia terpaksa naik ke jok belakang motor Albiru. Namun, sebelum memosisikan duduknya dengan sempurna, Ellea buru-buru menaruh tas ransel miliknya yang cukup tebal di bagian tengah tepat di antara punggung Albiru dan dadanya sendiri sebagai pembatas fisik yang kentara.

Albiru melirik dari kaca spion, memperhatikan tas ransel yang mengganjal di antara mereka. Ia mengembuskan napas pendek, namun memilih untuk tidak memprotes kelakuan istrinya itu.

"Sudah siap?" tanya Albiru memastikan, tangannya sudah bersiap di atas tuas gas.

"Iya, Kak," sahut Ellea lirih dari balik cadarnya.

"Pegangan," titah Albiru santai.

Mendengar perintah itu, Ellea secara refleks menggerakkan kedua tangannya ke belakang tubuhnya sendiri, mencengkeram besi behel belakang motor dengan kuat demi menjaga keseimbangan. Tindakan refleks itu persis seperti yang ia lakukan saat terpaksa berboncengan dengan Andra hari kemarin.

Albiru kembali mengintip lewat spion. Dahinya mengernyit dalam saat melihat posisi duduk Ellea yang begitu kaku dan condong ke belakang, menyisakan jarak yang terlalu lebar dan berbahaya jika motor mendadak melaju.

"El, pegangan yang benar. Nanti kamu jatuh," tegur Albiru, suaranya sedikit ditinggikan agar terdengar di balik deru mesin.

"Sudah kok, Kak," balas Ellea setengah berteriak, meyakinkan bahwa cengkeramannya pada besi belakang motor sudah cukup kuat.

Albiru menundukkan kepalanya, melihat ke arah perut dan pinggangnya sendiri. Benar saja, tidak ada tanda-tanda sepasang lengan yang melingkar di sana. Hanya ada tas ransel tebal yang menjegal jarak mereka.

“Ya Tuhan, kenapa kau hadirkan wanita sepolos ini padaku?” batin Albiru menggerutu.

Tanpa aba-aba, Albiru melepaskan satu tangannya dari setang motor. Ia memutar sedikit tubuhnya ke belakang, lalu dengan gerakan cepat namun lembut, ia meraih kedua pergelangan tangan Ellea yang tengah mencengkeram besi behel.

Sret.

Albiru menarik tangan Ellea ke depan, membawa kedua lengan yang terbalut manset hitam itu untuk melingkar sempurna di pinggangnya. Sentuhan hangat yang tiba-tiba itu membuat Ellea terpekik kecil karena terkejut.

"Nah, ini baru namanya pegangan," ujar Albiru puas setelah memastikan jemari Ellea bertaut erat di bagian depan perutnya.

Tubuh Ellea seketika menegang, jantungnya berdebar begitu hebat hingga rasanya mau copot. Jarak di antara mereka mendadak terkikis habis, menyisakan kehangatan punggung Albiru yang dapat ia rasakan dengan sangat jelas.

"Tapi, Kak! Ini ...,” protes Ellea terbata-bata, mencoba menarik kembali tangannya karena merasa sungkan dan malu yang luar biasa jika ada pasang mata lain yang melihat keintiman mereka.

Albiru menarik tuas gasnya perlahan, membuat motor sport itu mulai bergerak membelah jalanan sekolah menuju jalan raya, dan reflek Ellea memeluknya erat.

“Kak, jangan kencang-kencang, Ellea takut!” protesnya.

Bersamaan dengan itu, seulas senyum tipis terukir di wajah Albiru saat ia menggumamkan kalimat yang seketika membungkam seluruh protes di dada istrinya.

"Makanya, kalau takut gak usah dilepas. Lagian kita sudah halal, nggak akan dosa," teriak Albiru menimpali, membiarkan kalimat mutlak itu keluar begitu saja.

1
Iped Suhendi
sangat bagus cerita nya.
Iped Suhendi
semangat ya nulis nya.Bagus banget cerita nya.Saya suka 😍
Aqilazahra: terima kasih Kak, sudah mampir. semoga suka ya
total 1 replies
Muharlita Muharlita
saya suka
Devan Davin
bgus skli
Aqilazahra: terima akak sudah mampir
total 1 replies
rattna
bagus
Aqilazahra: terima kasih kakak, sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!