Ketika semesta selalu mempertemukan takdir keduanya. Ambar dan Zayn tak bisa mengelak untuk tidak saling terikat.
Takdir dan Rasa. Dua hal yang bisa mengikat dalam sebuah perbedaan. Tapi, jika rasa cinta itu tertuju untuk orang yang salah, bisakah sebuah takdir akan membawa rasa cinta pada orang yang tepat?
Takdir Zayn dan Ambar berada dalam sebuah dilema yang tak berkesudahan. Keduanya terikat takdir tapi dengan rasa yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Putri761, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musibah
"Astagfirullah hal adzim...." seketika Ambar mematikan telpon dari Bram, jantungnya terasa berdenyut -denyut tak menentu setelah mendengar jika Gendis sepupunya saat ini sedang kritis.
Disambarnya tas yang tergeletak di atas meja belajar dan dengan langkah terburu dia menuruni tangga dan akan pergi ke rumah sakit.
"Mbak, mau kemana?" sapaan salah satu teman kosnya tidak lagi dia hiraukan. Rasa cemas membuat Ambar tak lagi bisa bersikap seperti biasanya.
Motor matic yang dikendarainya pun langsung meluncur menuju rumah sakit di mana Gendis dirawat.
"Ya Allah, lindungilah selalu Mbak Gendis." Dalam perjalanan menuju rumah sakit batinnya terus saja berdoa untuk sepupunya.
Bagaimana pun Gendis adalah kerabatnya, ada sebuah naluri rasa sayang yang memang sudah terpatri sejak kecil dalam jiwanya.
Setelah memarkir motor, Ambar berlari kecil menelusuri koridor rumah sakit. Gadis itu melupakan jika ada jadwal kuliah pagi setelah mendapatkan kabar dari Bram.
"Bugh...." tubuh kurus Ambar hampir saja terpental saat menabrak sosok yang lebih tinggi dan keras ketika berbelok di sebuah tikungan. Untung tangan kekar itu langsung menangkap dan menahan tubuh olengnya hingga tidak sampai terjatuh di lantai.
"Maaf..." ucap Ambar masih dengan rasa panik ketika melepaskan diri dari tangan berotot itu.
"Hati-hati, Mbar!" suara khas Zayn Bagaskara menambah volume rasa terkejutnya. Lagi-lagi dia bertemu dengan lelaki yang sedang dia hindari.
"Maaf...!" lirih Ambar dengan berusaha menerobos Zayn. Tapi, sekali lagi lelaki itu takkan membuat Ambar lepas begitu saja. Beberapa kali dia menghadang tubuh Ambar itu dengan gesitnya.
"Aku terburu-buru, Mas!" sela Ambar mulai kesal.
"Ada apa? Kenapa pagi-pagi sekali ada di rumah sakit?" tanya Zayn. Ambar menyipitkan mata, dia seolah tak percaya dengan pertanyaan Zayn, sementara pria itu sendiri sepagi ini sudah berkunjung ke rumah sakit.
"Bukankah, Mas Zayn maha tahu, selalu tahu apapun tentang Mbak Gendis." jawab Ambar, entah kenapa dia merasa cemburu pada Gendis padahal dia sendiri tahu bagaimana Bram dan sepupunya itu saling mencintai.
Terdengar helaan nafas Panjang dari sosok lelaki yang kini menatapnya jengah. Zayn merasa Ambar selalu saja membuat benteng yang terlalu tinggi dengannya.
"Sumpah aku tidak tahu. Aku ke sini hanya untuk bertemu teman." jujur Zayn dengan menunjukkan beberapa stap map yang berisi sebuah perjanjian kerja sama yang harus dia pelajari.
Tanpa sadar lelaki berwajah bule itu selalu saja berusaha menahan Ambar setiap kali bertemu, tapi rasa gengsinya memang membuat sebuah batasan yang terlihat mencolok.
"Mbak Gendis kritis, dia keguguran." lirih Ambar, seketika membuat Zayn tersentak kaget.
Lelaki itu hanya mematung, hingga Ambar mengambil kesempatan itu untuk melewatinya.
"Tunggu, Mbar!" tak butuh waktu lama, Zayn pun kembali mensejajarkan langkahnya dengan Ambar saat akan memasuki ruangan Gendis.
Suasana rumah sakit memang sedikit lenggang dan sepi. Hingga putaran knop pintu terdengar jelas membuat Bram yang duduk di sebelah istrinya sudah menyambut kedua tamunya itu dengan
"Mas..." panggilan Ambar menggantung saat melihat beberapa alat medis yang menempel ditubuh Gendis.
Meskipun sudah tahu saudaranya kritis, tetap saja saat melihat langsung wajah pucat itu membuat gadis itu hampir kehilangan keseimbangan.
"Tenang, Mbar!" ujar Zayn dengan merangkul dan menopang tubuh kecil Ambar.
"Bagaimana ini bisa terjadi Mas Bram?" Sungguh Ambar sangat menyayangkan kondisi Gendis saat ini. kehilangan janin dan kini berada di titik antara hidup dan mati karena sebuah pendarahan hebat.
"Aku tidak tahu, seseorang menelponku jika Gendis di bawa kerumah sakit akibat pendarahan ." jawab Bram dengan singkat.
Suasana hening sejenak. Ambar sibuk mengirim pesan pada kedua orang tuanya jika Gendis sedang di rawat di rumah sakit tanpa menceritakan secara detail kondisi sepupunya itu.
"Lihatlah rekaman ini!" suara Zayn membuat Ambar dan Bram terkesiap.
Mendengar jika posisi Gendis saat kecelakaan itu tidak di rumah membuat Zayn menjadi curiga dia sempat menghubungi orang kepercayaannya untuk mencari tahu kronologi kejadian naas itu.
Lelaki yang mengundang atensi dua orang yang kini berjalan mendekat ke arahnya. Zayn baru saja mendapatkan informasi dari orang yang dia percaya dan kini dia pun menunjukkan sebuah rekaman yang baru saja dia terima pada Ambar dan Bram.
"Kurang ajar! Dasar iblis..." seketika wajah Bram menjadi merah pada kala melihat Seruni, mantan kekasihnya keluar dari gang itu dengan tergesa.
Bram yakin jika kondisi istrinya ada hubungannya dengan mantan kekasihnya yang keluar terburu-buru dari gang di mana Gendis mengalami kecelakaan.
"Biasakan kamu membantuku untuk membuatkan laporan di kantor kepolisian?" ujar Bram, terdengar seperti sebuah permintaan.
"Tentu saja, biarkan Ambar yang membuat laporan, aku akan menemaninya." jawab Zayn.
Mereka pun bergegas pergi menuju rumah sakit.
"Ikut mobilku saja!" pinta Zayn.
"Nggak, kita ketemu di kantor polisi saja!" tolak Ambar yang kemudian di susul dengan desahan berat Zayn.
Lelaki itu tak habis pikir dengan jalan pikiran Ambar hingga satu mobil dengannya saja begitu enggan.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk menunggumu!" lanjut Zayn saat mereka melangkah menunggu parkiran.
"Menggunakan motor akan jauh lebih cepat dengan situasi jalan yang ramai seperti ini." jawab Ambar membuat Zayn menoleh dan tersenyum sinis.
Keduanya kembali melangkah bersama, tapi lelaki bertubuh tinggi itu tidak berhenti di parkiran mobil. Dia justru terus berjalan mengikuti langkah Ambar hingga berhenti di dekat sepeda motor Ambar.
"Kenapa Mas Zayn mengikutiku. Bukankah aku sudah bilang, aku tidak akan terlambat!" ujar Ambar sambil mengambil kunci yang ada di dalam tasnya.
"Dan aku tidak ingin kamu menunggu karena macetnya jalan saat ini." sanggah Zayn kemudian mengambil kunci motor yang ada ditangan Ambar.
Entah kenapa semakin gadis itu menghindar, dia semakin tak kuasa untuk menjauh. Padahal sudah dia niatkan untuk berhenti mendekati Ambar. Tapi, sikap Ambar seolah
memprovokasi sifat arogannya.
"Ayo naik!" titah Zayn setelah menaiki motor dan menghidupkan mesinnya.
Ambar hanya terpaku melihat lelaki di depannya duduk di atas motornya. Benar-benar terlihat aneh, apalagi kaki panjangnya seolah terpaksa ditekuk.
"Mbar, hanya akan menatapku?" pertanyaan Zayn kemudian membuyarkan lamunan Ambar. Melawan, lelaki arogan itu memang tidak ada gunanya.
Dengan malas Ambar pun membonceng di belakang Zayn. Duduk sedekat ini dengan pria bukan muhrim memang membuat Ambar tidak nyaman, padahal dirinya bukanlah ahli agama.
Motor matic jadul itu membuat keduanya seger meluncur. Entah sadar atau tidak keduanya tak mampu mengendalikan keadaan seperti apa yang sudah kedua niatkan.
Sesekali Zayn tersenyum tipis saat berada dalam perjalanan , sementara Ambar masih dengan gejolak pikirannya sendiri. Gadis yang terus saja terdiam itu merasa takdirnya terjerat dengan sang cassanova