NovelToon NovelToon
Menang 50 Miliar, Pulang Kampung dan Rebahan

Menang 50 Miliar, Pulang Kampung dan Rebahan

Status: tamat
Genre:Kontras Takdir / Bertani / Romansa pedesaan / Tamat
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Ayu Lestari tidak pernah bermimpi menjadi miliarder. Sebagai chef muda di hotel bintang lima Jakarta, hidupnya sudah cukup sibuk — memasak rendang untuk tamu-tamu kaya sambil merindukan kampung halaman di Sumatera Barat yang sudah lama ia tinggalkan.

Tapi takdir punya rencana lain. Undian berhadiah dari sebuah bank nasional menghadiahkannya 50 miliar rupiah. Jumlah yang bisa membeli apartemen mewah, mobil sport, dan kehidupan glamor seumur hidup.

Ayu memilih pulang kampung.

Di Nagari Sungai Tanang, ia merenovasi rumah gadang peninggalan keluarga, membuka Restoran Padang dengan resep warisan ibunya, dan memulai channel TikTok yang tak disangka-sangka viral. Nenek Sari yang gila belanja online dan Datuk Harun yang pendiam menyambutnya dengan tangan terbuka — bersama seekor Golden Retriever, dua anjing lain, dan tujuh ekor kucing.

Lalu datanglah Raka Pratama.

Pria Jawa berkacamata ini memesan homestay Ayu untuk "mencari inspirasi menulis." Kenyataannya? Ia sedang melarikan diri dari keluarga yang berantakan — ayah yang menikah lagi, ibu tiri yang manipulatif, dan luka masa kecil yang tak pernah sembuh. Di NovelMe, ia dikenal sebagai KentangGila, penulis novel romantis dengan jutaan pembaca. Di dunia nyata, ia bahkan tidak berani memesan makanan sendiri.

Ayu yang blak-blakan bertemu Raka yang pemalu. Chef yang jago masak bertemu pria yang bisa membakar air. Pewaris tradisi Minangkabau bertemu anak Jakarta yang tidak tahu cara makan dengan tangan.

Tapi di balik perbedaan mereka, ada kesamaan yang lebih dalam: dua orang yang kehilangan orang tua terlalu cepat, dan sedang belajar bahwa "rumah" bukan soal alamat — tapi soal siapa yang menunggumu di depan pintu.

Antara sawah hijau, aroma rendang, dan pertengkaran soal siapa yang cuci piring malam ini — cinta tumbuh pelan-pelan. Dan kali ini, Ayu tidak perlu undian untuk tahu bahwa ia sudah menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9

Pertemuan Pertama

Bandara Internasional Minangkabau siang itu lebih ramai daripada yang Ayu perkirakan.

Ia berdiri di area kedatangan sambil memegang ponsel, sesekali melihat papan informasi penerbangan. Pesawat dari Jakarta sudah mendarat lima belas menit lalu. Orang-orang mulai keluar membawa koper, tas ransel, kardus oleh-oleh, dan wajah lelah yang khas setelah duduk terlalu lama di pesawat.

Ayu mengirim pesan.

`Kak Raka, saya sudah di area kedatangan. Saya pakai kemeja putih dan hijab krem.`

Balasan datang cepat.

`Saya baru ambil koper. Saya pakai kemeja biru tua, kacamata, koper abu-abu.`

Ayu membaca pesan itu, lalu mengangkat wajah.

Beberapa detik kemudian, ia melihatnya.

Seorang laki-laki tinggi keluar dari kerumunan dengan langkah agak hati-hati, seolah belum terbiasa dengan arah bandara itu. Tubuhnya ramping, bahunya sedikit membungkuk karena tas ransel hitam di punggung. Kemeja biru tuanya digulung sampai siku. Kacamata berbingkai tipis bertengger di wajahnya. Rambutnya rapi, tapi beberapa helai jatuh ke dahi.

Ia bukan tipe laki-laki yang langsung menarik perhatian seluruh ruangan.

Tapi ketika matanya bergerak mencari seseorang, lalu berhenti pada Ayu, ada sesuatu yang mendadak tenang di tengah keramaian.

Ayu mengangkat tangan kecil.

Laki-laki itu mendekat. Dari dekat, ia lebih tinggi dari perkiraan. Wajahnya bersih, tidak terlalu banyak ekspresi, tapi matanya hangat.

"Mbak Ayu?" tanyanya.

"Iya." Ayu tersenyum, otomatis mengambil nada ramah yang biasa ia pakai untuk tamu. "Selamat datang, Kak."

Kata itu keluar ringan.

Kak.

Raka Pratama berkedip sekali.

Sejak semalam ia sudah melihat foto homestay, restoran, dan beberapa video Ayu di TikTok. Ia tahu pemilik tempat itu masih muda. Ia tahu suaranya di video terdengar cerah ketika menjelaskan bumbu rendang. Ia tahu wajahnya manis dari potongan singkat saat ia tertawa bersama Nenek Sari.

Tetap saja, melihatnya langsung berbeda.

Di depan Raka, Ayu berdiri dengan kemeja putih sederhana, hijab krem, dan senyum yang membuat bandara terasa tidak terlalu asing. Kulitnya sawo matang, matanya hidup, dan suaranya ketika memanggilnya `Kak` membuat dada Raka berdetak satu hitungan lebih cepat.

Ia buru-buru menunduk sedikit. "Terima kasih sudah menjemput. Maaf merepotkan."

"Tidak merepotkan. Saya sekalian belanja bahan di Padang." Ayu menunjuk koper abu-abunya. "Boleh saya bantu?"

"Jangan, Mbak. Biar saya sendiri."

"Tamu yang sopan biasanya bilang begitu. Tapi kalau nanti di rumah saya minta bantu angkat karung beras, jangan menolak juga."

Raka terdiam setengah detik, lalu tertawa pelan. Tawanya pendek, seperti orang yang jarang tertawa di tempat umum tapi tidak bisa menahan diri.

"Kalau karung beras, saya usahakan."

"Usahakan saja cukup."

Mereka berjalan menuju area parkir. Ayu melangkah dengan percaya diri, hafal arah. Raka mengikuti di sampingnya sambil memperhatikan sekeliling. Udara Padang lebih panas daripada Jakarta, tapi tidak seberat yang ia bayangkan. Di luar, suara sopir travel memanggil penumpang, roda koper bergesek di lantai, dan aroma kopi dari kios kecil bercampur dengan bau hujan yang baru reda.

Mobil Ayu adalah Honda HR-V putih yang bersih. Raka sempat berhenti sebentar ketika melihatnya.

"Kenapa?" tanya Ayu.

"Tidak apa-apa. Saya cuma... homestay owner-nya ternyata lebih siap dari bayangan saya."

"Itu pujian atau cara halus bilang saya kelihatan bukan orang kampung?"

Raka langsung panik kecil. "Bukan begitu. Maksud saya, dari videonya tempat Mbak Ayu terlihat sangat rapi. Sekarang mobilnya juga rapi. Jadi... konsisten."

Ayu menatapnya dua detik, lalu tertawa.

"Kak Raka ini kalau gugup, kalimatnya jadi panjang, ya?"

Raka membuka pintu belakang untuk memasukkan koper. Telinganya terasa panas. "Sepertinya begitu."

Dalam perjalanan keluar dari area bandara, Ayu menyalakan AC dan memeriksa rute. Ia sudah menyiapkan air mineral di cup holder.

"Minum dulu, Kak. Perjalanan ke Sungai Tanang sekitar dua jam. Kalau macet atau hujan, bisa lebih."

"Terima kasih." Raka mengambil botol itu. "Saya baru pertama kali ke Sumatera Barat."

"Berani juga langsung booking sebulan."

"Saya juga baru sadar setelah bayar."

"Lho?"

Raka tersenyum canggung. "Saya melihat video rumah gadang Mbak Ayu jam dua pagi. Saat itu saya sudah tiga minggu tidak bisa menulis bab penting. Saya pikir, mungkin saya butuh tempat yang jauh dari Jakarta. Lalu ada kamar kosong. Saya booking sebelum sempat berpikir terlalu panjang."

"Impulsif, tapi dengan tanda baca rapi."

Raka menoleh. "Tanda baca?"

"Chat Kak Raka rapi sekali. Bahkan titiknya sopan."

Untuk kedua kalinya hari itu, Raka tertawa.

Ayu menyukai suara itu. Tidak keras, tidak dibuat-buat. Seperti pintu yang dibuka sedikit setelah lama tertutup.

Jalan menuju Bukittinggi mulai menanjak. Ayu mengemudi dengan tenang. Sesekali ia menunjukkan sesuatu di luar jendela: sawah yang baru ditanami, warung sate yang enak, titik jalan yang sering berkabut, dan bukit yang kalau cuaca cerah terlihat seperti lukisan.

Raka mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

Tidak seperti sebagian tamu yang sibuk membandingkan semuanya dengan Jakarta, Raka tidak mengeluh ketika sinyal turun, tidak bertanya kenapa jalannya berkelok, tidak membuat komentar sok tahu tentang orang Sumatera. Ia hanya sesekali bertanya.

"Rumah gadang itu masih dipakai keluarga besar?"

"Iya. Kami renovasi tapi tetap jaga bentuk adatnya."

"Mbak Ayu Minang?"

"Iya. Lahir di sini, besar di sini sampai umur sepuluh. Setelah orang tua meninggal, Nenek dan Datuk yang membesarkan saya. Habis sekolah, saya merantau ke Jakarta."

Raka menoleh pelan. "Maaf. Saya tidak tahu soal orang tua Mbak."

"Tidak apa-apa." Ayu tetap melihat jalan, tapi suaranya melunak. "Sudah lama."

Raka tidak langsung berkata `yang sabar` atau kalimat hiburan kosong lain. Ia hanya diam beberapa detik, memberi ruang.

Ayu menyadarinya.

"Kak Raka sendiri kenapa memilih menulis? Dengan latar hukum, bukannya bisa kerja kantor?"

Raka tersenyum tipis. "Saya lulusan S2 Hukum. Sempat magang di kantor hukum, sempat juga ikut beberapa proyek riset. Tapi menulis membuat saya bisa bernapas."

"Novel?"

"Iya. Novel online. Di NovelMe dan Wattpad. Kebanyakan genre aksi dan misteri, tapi akhir-akhir ini saya ingin menulis sesuatu yang lebih tenang."

"Makanya kabur ke rumah gadang?"

"Kabur terdengar tidak bertanggung jawab."

"Lalu?"

"Mencari inspirasi dengan cara yang agak mendadak."

"Itu nama formal dari kabur."

Raka menunduk sambil tersenyum. "Baiklah. Mungkin sedikit kabur."

Percakapan mengalir lebih mudah daripada dugaan Ayu. Ia biasanya menjaga jarak dengan tamu, ramah secukupnya, profesional seperlunya. Namun Raka punya cara bicara yang membuat orang tidak merasa diserbu. Ia tidak banyak bertanya tentang hal pribadi, tapi ketika Ayu bercerita, ia mendengar.

Di tengah perjalanan, hujan turun tipis. Kaca depan dipenuhi titik air. Ayu menyalakan wiper pelan. Raka menatap pemandangan sawah yang berkabut dan bukit yang mulai tertutup putih.

"Ini yang saya cari," katanya tiba-tiba.

"Hujan?"

"Sunyi yang tidak kosong."

Ayu meliriknya sebentar. "Kalimat penulis."

"Maaf."

"Tidak perlu minta maaf. Bagus, kok."

Raka terdiam. Pujian singkat itu membuatnya lebih gugup daripada kritik panjang editor.

Menjelang sore, mobil memasuki Nagari Sungai Tanang. Jalan lebih kecil, udara lebih dingin. Anak-anak bersepeda di pinggir jalan. Beberapa ibu menjemur kerupuk. Dari kejauhan, atap gonjong rumah gadang keluarga Ayu mulai terlihat di antara pepohonan.

"Itu rumahnya," kata Ayu.

Raka duduk lebih tegak.

Mobil berbelok masuk ke halaman. Luna langsung berlari dari teras, ekornya bergerak liar. Raja berdiri di dekat gerbang, menilai tamu baru. Angin menggiring dua ayam menjauh dari ban mobil. Di teras, Nenek Sari muncul dengan senyum lebar, sementara Datuk Harun berdiri sedikit di belakangnya.

Raka turun perlahan.

Luna sudah sampai lebih dulu, duduk di depan Raka dengan ekor menyapu tanah. Ayu segera memegang kalungnya.

"Luna, pelan. Tamu baru."

Raka berjongkok hati-hati. "Halo, Luna."

Begitu tangannya menyentuh kepala Luna, anjing itu langsung menempelkan dagu di lututnya seolah mereka sudah kenal lama. Raka tertawa kecil, kali ini lebih lepas. Ketegangan di bahunya turun sedikit.

"Dia menerima Kak Raka," kata Ayu.

"Saya merasa sedang diwawancarai."

"Belum. Raja yang wawancara."

Raka melirik German Shepherd di dekat gerbang. Raja tidak menggonggong, hanya menatapnya lurus. Raka otomatis menegakkan badan.

Dari teras, Nenek Sari memanggil, "Nak Raka, selamat datang. Capek perjalanan? Nanti minum dulu."

Raka cepat-cepat menunduk sopan. "Terima kasih, Nek. Maaf merepotkan."

"Kalau sudah sampai sini, jangan bicara merepotkan dulu. Di rumah ini, tamu lapar itu yang merepotkan."

Ayu melihat Raka menahan senyum, dan anehnya, ia senang melihat laki-laki itu langsung masuk ke ritme rumah mereka.

Ia tidak langsung bicara.

Di depannya, rumah gadang berdiri dengan atap gonjong yang gagah, kayu tua yang sudah dipoles ulang, lampu hangat di teras, dan ruang makan restoran yang menghadap sawah. Di belakangnya, bukit hijau berselimut kabut. Aroma rendang dan Teh Talua samar-samar keluar dari dapur. Seekor kucing berbulu tebal duduk di tangga, menatapnya seperti sedang menilai apakah ia layak menginap.

Selama bertahun-tahun di Jakarta, Raka sering membayangkan tempat seperti ini ketika kepalanya terlalu penuh. Tempat di mana orang bisa bangun mendengar ayam, bukan klakson. Tempat di mana makan malam bukan pesanan aplikasi yang datang dingin. Tempat di mana menulis tidak terasa seperti mengejar deadline sambil menahan sesak.

Ia menelan ludah.

Ayu berdiri di sampingnya, memperhatikan perubahan wajahnya.

"Kenapa, Kak? Capek?"

Raka menggeleng pelan.

"Ini..." Ia berhenti, mencari kata yang tidak terdengar berlebihan, tapi gagal. "Ini persis seperti yang selalu kuimpikan."

Ayu tidak langsung menjawab.

Entah kenapa, kalimat itu membuat halaman rumahnya terasa sedikit berbeda.

1
Iwan Youngsu
pengarang urg sungai tanang yoo..wak asli anak sungai tang,dima sungai tanang nyo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!